BERBAGI
Jafro Megawanto meraih dua medali emas dan satu medali perunggu di Asian Games 2018 (C) ANTARA/INASGOC
Jafro Megawanto meraih dua medali emas dan satu medali perunggu di Asian Games 2018 (C) ANTARA/INASGOC
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Atlet paralayang andalan Indonesia di Asian Games 2018, Jafro Megawanto menjadi atlet penerima bonus medali terbanyak dari pemerintah Republik Indonesia. Atlet kelahiran Kota Batu itu mendapatkannya berkat prestasi dua medali emas dan satu medali perunggu yang didapat di tiga nomor yang dipertandingkan.

Medali emas pertama didapat Jafro di nomor akurasi tunggal putra, sedangkan satu medali emas lagi diraih dari nomor beregu putra bersama dua atlet Kota Batu lainnya, Roni Pratama, Joni Effendi, dengan dua atlet lainnya, yakni Aris Apriansyah (Banten), dan Hening Paradigma (Jawa Tengah). Medali perunggu juga diraihnya bersama kelompok yang sama, kali ini di nomor lintas alam beregu putra.

Total, Jafro mendapatkan bonus medali dari pemerintah RI sebesar 2,4 miliar rupiah. Rinciannya, 1,5 miliar rupiah dari medali emas kategori perorangan, 750 juta rupiah dari medali emas kategori beregu dan 150 juta rupiah dari medali perunggu kategori beregu.

Bonus itu sudah diserahkan langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Minggu (2/9/2018). Presiden Jokowi memberikannya dalam bentuk saldo di buku tabungan rekening masing-masing atlet peraih medali dalam acara Silaturahim Presiden Republik Indonesia dengan para Atlet dan Pelatih Nasional Peraih Medali pada Asian Games XVIII Tahun 2018.

Dilansir dari Kompas, perjalanan Jafro mewujudkan mimpinya meraih medali emas di Asian Games 2018 ternyata tak mulus dan tanpa terjal. Jalan berliku itu dimulai saat ia masih berusia 13 tahun. Sebelum menjadi atlet profesional, Jafro yang tinggal sekitar 500 meter dari lokasi pendaratan paralayang, bekerja sambilan sebagai tukang lipat parasut. Waktu itu Jafro cuma mendapat bayaran sekitar 5000 rupiah.

Jafro berasal dari keluarga yang sederhana, karena orang tuanya adalah petani di Batu. Namun, keinginannya menjadi atlet cukup kuat. Terutama ketika mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan klub ‘Ayo Kita Kemon’. Sebelumnya, Jafro memang tak paham apapun soal paralayang. Waktu itu ia hanya bermodalkan nyali dan motivasi untuk bisa menjadi atlet paralayang profesional. Keinginan kuat itu membuatnya mantap menekuni olahraga ekstrim ini.

Sebenarnya, tekadnya menjadi atlet paralayang profesional sempat tidak disetujui oleh orang tuanya. Biaya latihan yang tidak sedikit merupakan alasan utama bapak-ibunya tak menyetujui keinginan tersebut. Meski sempat diminta untuk berhenti latihan, tekadnya yang kuat untuk menjadi seorang atlet membuat masalah biaya itu tak menghalangi Jafro berprestasi.

Medali emas pertamanya diraih di ajang Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat saat membela kontingen Jawa Timur. Selang satu tahun, Jafro melangkah ke level internasional untuk pertama kalinya. Ia pun meraih peringkat kedua di Piala Dunia Paralayang Akurasi (PGAWC) di Kanada pada 2017. Di tahun 2018 prestasinya semakin meningkat, terbukti Jafro menjadi juara di Piala Dunia Paralayang Akurasi di Kazakhstan. Sejak 1 Agustus 2018, posisi Jafro pun masuk ke peringkat kelima dunia untuk nomor ketepatan mendarat tunggal putra.

Atlet berusia 22 tahun itu sudah memiliki berbagai rencana untuk memanfaatkan uang bonusnya tersebut. Rencananya, pertama Jafro Megawanto akan menyisihkan sebagian bonus untuk beramal. Selebihnya, uang bonus itu diberikan kepada keluarga dan tak lupa teman-teman satu timnya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.