BERBAGI
Empat mahasiswa FTP UB yang menciptakan Nabu (C) prasetya.ub.ac.id
Empat mahasiswa FTP UB yang menciptakan Nabu (C) prasetya.ub.ac.id
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Empat mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) Malang baru saja menciptakan beras analog. Dengan kandungan gizinya lebih lengkap daripada beras biasa, beras yang diberi nama Nabu ini diharapkan mampu mengatasi kelaparan dan malnutrisi.

Keempat mahasiswa FTP UB itu adalah Alfisah Nur Annisa A, Widya Nur Habiba, Annisa Aurora Kartika, dan Joko Tri Rubiyanto. Mereka menciptakan Nabu dengan tujuan agar bisa dikonsumsi sebagai bahan pangan pokok pengganti beras pada umumnya. Selain itu, keberadaan beras analog ini dapat menjadi solusi untuk mengurangi beras impor.

“Selain itu, beras analog ini dapat mengatasi kelaparan dan malnutrisi seperti yang dialami oleh Suku Asmat di Papua beberapa waktu lalu,” kata Widya seperti dilansir Antara.

Di bawah arahan dosen pembimbing Dr Aji Sutrisno, keempatnya berupaya keras menciptakan beras analog yang diklaim memiliki kandungan nutrisi lebih bagus dari beras pada umumnya. Kandungan gizi beras tersebut diyakini juga lebih tinggi daripada beras biasa. Selain itu, beras ciptaan mereka juga memiliki kadar glikemik indeks yang rendah, sehingga dapat mencegah penyakit diabetes.

“Kami menamai beras ini Nabu sebagai brand karena produk ini merupakan alternatif nasi berbahan dasar sagu sehingga nama nabu menjadi mudah diingat,” imbuh Widya.

Beras Nabu ini bahan bakunya terbuat dari bahan pangan lokal yang mudah ditemukan di Indonesia dan mudah tumbuh dalam kondisi ekstrim. Proses pembuatan beras analog ini juga mudah. Tinggal mencampurkan bahan yang terdiri dari jagung, sagu dan umbi porang sebelumnya di buat tepung, dengan berbagai perbandingan. Kemudian, bahan-bahan itu dikukus, dibentuk dan dikeringkan hingga berbentuk bulir beras.

Dengan beras Nabu ini, keempat mahasiswa FTP UB itu sukses menjadi yang terbaik pada ajang kompetisi ilmiah The International Union of Food Science and Technology (IUFoST) Product Development Competition 2018. Ajang tersebut berlangsung di CIDCO Exhibition Centre, Mumbai India 23-27 Oktober 2018. Bahkan, tak hanya satu medali saja yang dibawa pulang ke tanah air, mereka berhasil memenangi tiga dari total lima award yang diperebutkan, yaitu Best Oral Presentation, Best Commercial Content serta Best Overall Project.

IUFoST Product Development Competition 2018 sendiri merupakan kompetisi ilmiah dua tahunan tingkat dunia di bidang pengembangan produk pangan. Pada ajang tersebut, mereka mampu menyingkirkan tiga ribu kontestan dari 74 negara. Keempat mahasiswa UB itu maju sebagai finalis bersama lima tim lainnya dari Selandia Baru, China, Singapura, Kolombia, dan India. Dua penghargaan lainnya, yakni Best Scientific Content dan Best Display, dimenangkan oleh perwakilan Selandia Baru.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.