BERBAGI
Kegiatan Seminar Kebudayaan yang diadakan BEM FIB UB. (Foto: Riska Suci Rahmawati)
Kegiatan Seminar Kebudayaan yang diadakan BEM FIB UB. (Foto: Riska Suci Rahmawati)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya (BEM FIB UB) menggelar kembali program tahunan Nidayaku. Salah satu kegiatan dalam rangkaian acara tersebut adalah Seminar Kebudayaan yang diselenggarakan pada Sabtu (1/12). Melalui seminar ini, BEM FIB UB mengajak mahasiswa yang hadir untuk berpikir lebih kritis.

Seminar yang dimulai pukul 13.30 WIB ini mengusung tema “Pola Pikir Kritis dalam Kebudayaan”. Adapun dua pembicara utama yang mengisi acara yaitu Nindyo Budi Kumoro, M.A (selaku dosen Antropologi di Fakultas Ilmu Budaya) dan Aji Prasetyo (seniman dan komikus). Sesuai dengan bidangnya masing-masing, keduanya memberikan materi tentang kritik sosial dan budaya.

Nindyo menguraikan sejarah kemunculan pola pikir kritis yang menjadi kunci dari ilmu pengetahuan. Menurutnya, ilmu pengetahuan dapat berkembang sedemikian rupa hingga saat ini karena adanya dialektika atau perdebatan yang terus menerus mengkritisi konsep-konsep atau teori sebelumnya.

“Kritik lahir dari modernisme atau abad pencerahan yang ditandai dengan populernya istilah cogito ergo sum yang berarti ‘aku berpikir, maka aku ada’. Pada masa ini, para pemikir-pemikir kritis Eropa lahir untuk merevisi berbagai hal termasuk otoritas keagamaan dan pemerintahan. Implikasi dari kelahiran pemikir-pemikir kritis ini adalah terjadinya revolusi industri yang menyebabkan perubahan sosial secara global.”

Akan tetapi, imbuhnya, modernisme yang pada saat itu dinilai sebagai solusi juga tidak terlepas dari kritik. Tak bisa dipungkiri bahwa munculnya Perang Dunia I dan II juga tidak terlepas dari modernisme, sehingga dapat dikatakan bahwa modernisme justru menciptakan kesenjangan sosial yang luar biasa. Kritik terhadap modernisme selanjutnya dikenal dengan post-modernisme.

“Dialektika dan pola pikir kritis memang sangat dibutuhkan dalam membangun paradigma pengetahuan. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan kemudian, bagaimana cara kita menyampaikan pemikiran kritis kita?”

Pria yang menuntaskan studi magister (S2) di Universitas Gadjah Mada tersebut kemudian menambahkan bahwa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan argumen atau kritik. Salah satunya adalah tidak mengkritik seseorang atau kelompok tanpa alasan, mengklaim bahwa orang lain salah tanpa memaparkan data atau alasan yang menunjukkan kesalahan mereka. Lalu, bentuk kritik yang perlu dihindari juga adalah menyerang personality atau latar belakang seseorang yang tidak ada kaitannya dengan isu yang dikritik, seperti latar belakang agama, suku, ras, dan lainnya.

Singkatnya, kita dapat melontarkan kritik pada kelompok tertentu dengan disertai argumen dan solusi. Inilah yang membedakan antara kritis dengan menghujat yang bertujuan untuk menjatuhkan lawan.

Selanjutnya, Aji Prasetyo menyampaikan bahwa salah satu media untuk mengkritik adalah seni. Kritik tak harus disampaikan secara terbuka dan menyorot perhatian banyak orang, tetapi bisa juga dituangkan dalam bentuk karya sastra, seni musik, seni lukis, hingga komik.

“Dulu, di masa kerajaan, rakyat yang ingin menyampaikan kritik kepada raja salah satunya melalui kesenian. Misalnya, kesenian Reog Ponorogo. Konon, kesenian ini lahir akibat raja yang mengabaikan rakyatnya setelah mendapatkan hadiah selir yaitu seorang Putri Kerajaan Champa. Dalam Reog Ponorogo kita mengenal adanya Singo Barong yaitu topeng kepala singa dengan ukuran besar yang di atasnya berhias merak dan ditunggangi penari perempuan. Ini menyimbolkan raja yang ditunggangi oleh seorang perempuan sehingga lupa pada rakyatnya.”

Pesan penting lain yang disampaikan oleh Aji adalah seorang seniman pun tidak bisa serta merta menyampaikan kritik berdasarkan ketidaksukaan pribadi. Idealnya, sebelum mengkritik sesuatu melalui karya-karyanya, seniman juga harus melakukan penelitian atau riset terlebih dahulu. Pengumpulan data juga sangat penting dilakukan agar kritik yang disampaikan melalui karyanya tidak asal-asalan.

“Jika ingin menyampaikan kritik, maka gali informasi dan data terlebih dahulu agar lebih akurat,” pungkasnya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.