BERBAGI
Tradisi tedhak siten atau turun tanah di mana secara simbolis bayi diperkenalkan untuk pertama kalinya ke lingkungannya. (Foto: AengAeng)
Tradisi tedhak siten atau turun tanah di mana secara simbolis bayi diperkenalkan untuk pertama kalinya ke lingkungannya. (Foto: AengAeng)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Tedhak siten adalah salah satu tradisi pada masyarakat Jawa terhadap bayi. Kita masih mudah menjumpai tradisi ini di berbagai wilayah di Jawa Timur, begitu juga di Malang.

Tedhak siten sendiri berasal dari kata ‘tedhak‘ yang berarti ‘ngidek‘ atau ‘menginjak’, dan ‘siten‘ yang berarti ‘tanah’. Maka dari itu, banyak yang menyebut tradisi ini sebagai ritual mudhun lemah atau turun tanah. Sebagian masyarakat Jawa juga menyebutnya dengan istilah mitoni yang berasal dari kata ‘pitu‘ atau ‘tujuh’ karena upacara ini biasanya dilaksanakan pada saat bayi berusia tujuh bulan.

Tedhak siten sendiri adalah simbol rasa syukur orang tua dan keluarga kepada Yang Maha Kuasa karena telah dititipi buah hati, sekaligus menjadi simbol pengenalan bayi untuk pertama kalinya terhadap lingkungan sekitarnya. Selain itu, masyarakat Jawa juga percaya bahwa tradisi ini berisi semua harapan dan arahan dalam hidup si bayi kelak.

Upacara ini juga pernah dilakukan di Candi Jago, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang yang dipimpin oleh Ki Suryo, seorang budayawan Jawa. Karena pada umumnya dilakukan di rumah dengan mengundang tetangga dan kerabat, pelaksanaan tedhak siten di sebuah situs budaya yang jadi tempat wisata menyorot perhatian khalayak, terutama wisatawan.

Adapun rangkaian dalam upacara tedhak siten yang perlu dilalui bayiPertama, bayi dipanjatkan tangga yang terbuat dari tebu dengan didampingi orang tuanya. Tebu memiliki akronim ‘anteping kalbu‘ atau ‘ketetapan hati’ dalam menjalani kehidupan. Sementara tangga dimaknai sebagai simbol kehidupan, jika tidak sesuai alur -yaitu berjalan lurus ke atas- maka kelak akan roboh.

Kedua, bayi melalui proses ‘napaki jadah‘ atau berjalan di atas jenang yang terbuat dari ketan yang terbagi atas tujuh warna. Ketujuhnya antara lain warna hitam, ungu, biru, hijau, merah, kuning, dan putih. Napaki jadah menyimbolkan hidup berawal dari yang gelap dan berakhir dengan terang.

Selanjutnya adalah si bayi dimasukkan dalam kurungan ayam yang diibaratkan sebagai simbol dunia. Di dalam kurungan tersebut berisi aneka macam barang seperti alat musik, buku, uang, alat dapur, dan lain sebaginya. Bayi harus memilih satu dari sekian banyak benda yang diletakkan dalam kurungan. Masyarakat Jawa percaya bahwa benda yang dipilih untuk pertama kalinya oleh si bayi menggambarkan masa depannya jika sudah dewasa, misalnya jika si bayi memilih alat dapur maka kelak di masa depan ia akan pandai memasak, jika memilih uang maka ia akan menjadi seorang yang kaya raya -atau justru sangat menyukai uang. Benda-benda dalam kurungan menjadi semacam penuntun bagi bayi dalam memilih pekerjaan nanti.

Setelah  itu, bayi juga harus memilih gambar tokoh wayang yang dipercaya dapat membentuk karakternya ketika dewasa. Ada yang percaya bahwa anak zaman sekarang tidak punya arah karena dahulunya tidak melalui proses tedhak siten yang dianggap sangat penting.

Lalu, bayi yang mengikuti prosesi ini dimandikan dengan air dari tujuh sumber. Jika di Malang, orang tua bayi biasanya mengambil air dari Sumber Awan, Sumber Nagan, Watu Gede, Wendit, Candi Kidal, Candi Jago, dan Sumber Jenon. Mengapa bayi dimandikan dengan air dari tujuh sumber yang berbeda? Karena, pitu atau tujuh sumber mengandung makna pitulungan atau pertolongan. Setiap sumber memiliki warna, rasa, dan khasiat sendiri.

Selanjutnya, si bayi ditempatkan dalam tikar yang sudah diberi uang koin dan beras kuning. Beras adalah simbol dari rezeki dan kehidupan yang bermakna dalam mencari panguripan (penghidupan) dan upo (beras atau butiran nasi) jangan sampai terperdaya dengan urusan duniawi. Sedangkan uang koin harus diberikan oleh si bayi pada orang lain yang hadir sebagai simbol untuk berbagi kepada sesama atau sedekah.

Terakhir, bayi kemudian dikumpulkan dengan anak-anak sebayanya yang juga hadir sebagai lambang dari hidup bersosialisasi. Ini juga menekankan bahwa dalam adat masyarakat Jawa, hidup bersama dan menjalin hubungan dengan orang lain menjadi hal yang penting.

Sumber: Budaya Jawa

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.