BERBAGI
Makam Mbah Bodo di Desa Jatiguwi (C) SUMBERPUCUNG17
Makam Mbah Bodo di Desa Jatiguwi (C) SUMBERPUCUNG17
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Terdapat wisata religi berupa Makam Mbah Bodo di Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Makam itu diyakini sebagai makam seorang komandan perang dari Kerajaan Mataram yang gugur saat menaklukkan pemberontakan kerajaan-kerajaan bawahan di Brang Wetan (Malang, Pasuruan, Lumajang).

Letak Makam Mbah Bodo ini mudah dicari, karena berada di tepi Jalan Raya Malang-Blitar. Makam ini dipayungi bangunan sederhana berbentuk joglo dengan ukuran 5x5x5 meter. Pada bagian depannya terdapat halaman yang berpaving.

Bagi warga Desa Jatiguwi, nama Mbah Bodo sudah tak asing lagi, meskipun terdapat beberapa versi cerita mengenai jatidiri Mbah Bodo itu sendiri. Sebuah kisah menyebutkan bahwa Mbah Bodo adalah Ki Joko Bodo, yang merupakan seorang komandan perang dari Kerajaan Mataram. Ia adalah orang kepercayaan Tumenggung Surontani yang kala itu menjabat sebagai senopati dan ditugasi untuk menumpas pemberontakan kerajaan-kerajaan kecil di Brang Wetan (Malang, Pasuruan dan Lumajang) semenjak Sultan Agung dinobatkan sebagai raja pada 1613 M. Kala itu, Brang Wetan dipimpin oleh Panji Pulangjiwo.

Tumenggung Surontani langsung menduduki daerah Malang sebagai Adipati dengan basis pemerintahannya di Mentaraman (nama dusun di Desa Jatiguwi dan Desa Ngebruk), sedangkan Panji Pulangjiwo bermarkas di Kepanjian (Desa Kepanjen). Keduanya saling berebut pengaruh dan merasa lebih berkuasa atas Brang Wetan, hingga terjadi peperangan pada tahun 1614 yang melibatkan pasukan kedua pemimpin tersebut. Pada awalnya Kerajaan Mataram dipimpin oleh Ki Joko Bodo, sedangkan Brang Wetan dipimpin istri Panji Pulangjiwo, Proboretno.

Dalam suatu pertempuran, Ki Joko Bodo berhasil menjebak Proboretno di suatu tempat, sehingga pasukannya terjepit tak dapat bergerak di sebuah daerah bernama Cengkeg (sekarang dusun di Desa Sumberpucung). Ia pun kemudian terbunuh di tangan pasukan Ki Joko Bodo. Mendengar kematian istrinya, Panji Pulangjiwo pun marah dan bertekad melakukan balas dendam.

Dalam sebuah pertempuran di Jatikerto (Bedali Kulon), Panji Pulangjiwo akhirnya mampu mengalahkan pasukan Kerajaan Mataram. Ki Joko Bodo menjadi salah satu korban yang terbunuh bersama beberapa prajuritnya. Jasadnya kemudian dimakamkan di Desa Jatiguwi yang hingga kini dikeramatkan oleh warga setempat.

Pada hari-hari tertentu, seperti malam 1 Suro, warga kerap mengunjungi makam ini. Bahkan, tak hanya warga sekitar, melainkan dari berbagai penjuru daerah. Mereka melakukan ziarah dan mendoakan arwah yang ada di Makam Mbah Bodo. Bahkan, ada tradisi, ketika warga Desa Jatiguwi memiliki hajatan besar seperti bersih desa atau apapun selalu mengadakan kenduri (selamatan) di lokasi makam tersebut. Maksudnya untuk meminta keselamatan dan hajatannya diberi kelancaran oleh Tuhan YME. Warga setempat kerap menyebutnya pamit menyang kang mbaurekso/bedah krawang desa atau artinya minta ijin secara spiritual kepada Mbah Bodo.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.