BERBAGI
Lokasi Punden Mbah Tugu di Kampung Celaket (C) M DWI NOVIANTO
Lokasi Punden Mbah Tugu di Kampung Celaket (C) M DWI NOVIANTO
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Kampung Celaket yang ada di Jalan Jaksa Agung Suprapto Gang IIB, RT.005/RW.003, Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang memiliki tempat keramat bernama Punden Mbah Tugu. Tempat keramat ini bukanlah sebuah makam sang pembabat alas, melainkan sekumpulan artefak peninggalan leluhur yang dikeramatkan dan dihormati.

Untuk mencarinya, lokasi punden tersebut cukup rumit, karena letaknya di antara pemukiman padat Kampung Celaket. Jalan menuju lokasi punden pun harus melalui gang-gang sempit berkelok-kelok. Bahkan, sebelum tahun 2016 sama sekali tidak tersedia papan penunjuk jalan menuju ke lokasi punden ini. Ketika bertanya ke warga pun tidak banyak dari mereka yang mengetahuinya.

Dikutip dari laman Aremamedia.com, Waluyo Widodo (51), mantan Ketua RT 05 dan sekaligus sebagai juru pelihara (jupel) Punden Mbah Tugu yang rumahnya dekat dengan lokasi punden menuturkan bahwa kumpulan artefak itu berasal dari halaman belakang Sekolah Corjesu yang puluhan tahun silam diangkut ke Kampung Celaket menggunakan cikar (pedati). Sebelum dibangun cungkup, dengan dana sumbangan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Jawa Timur sekitar tahun 2010 lalu, artefak tersebut tergeletak begitu saja di bawah pohon kemuning besar yang di bawahnya terdapat kentongan. Kini, pohon kemuning itu pun telah mati dan kayunya disimpan Waluyo di belakang pot-pot tanaman di halaman punden.

Sebelum diberi lampu oleh Waluyo, lokasi punden tersebut selalu gelap ketika malam hari. Bahkan, warga setempat menganggap lokasi punden tersebut angker, sehingga mereka ketakutan setiap melintas di jalan tempat punden itu berada. Karena dianggap angker, tak sedikit penggiat seni jaranan yang menjadikan tempat ini sebagai petren. Beberapa warga pun juga kerap menyampaikan hajatnya di punden ini.

Menurut Waluyo, halaman Punden Mbah Tugu awalnya juga mencangkup areal rumah-rumah warga yang ada di depannya. Menurut cerita sesepuh Kampung Celaket, tanah punden ini milik Corjesu. Namun, setelah dikonfirmasi oleh Waluyo didampingi pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang dan BPCB Trowulan, pihak Corjesu membantahnya. Sesuai dengan catatan kepemilikan aset Corjesu, tidak tercantum keterangan kepemilikan atas tanah Punden Mbah Tugu.

Mungkin banyak yang penasaran tentang siapakah Mbah Tugu ini. Dalam buku “Malang Tempoe Doeloe, Djilid Satoe”, yang diterbitkan tahun 2006, pada halaman 18-20, dalam salah satu bab yang berjudul “Pundèn”, salah satu tim penulis, Hedy Yulianto, menceritakan pengalamannya saat menelusuri keberadaan Punden Mbah Tugu. Ia bertemu dengan salah sorang narasumber bernama Mbah Rimi, 80 tahun.

Menurut cerita Mbah Rimi, yang disebut Punden Mbah Tugu itu sebenarnya adalah tiga buah batu (artefak). Pertama, bentuknya seperti meja, yang kedua seperti tempat peci, dan yang ketiga seperti atap rumah.

Dulu, menurut cerita bapak Mbah Rimi, ketiga artefak itu terletak di kawasan Sekolah Kesusteran Ursulin, yang sekarang menjadi Corjesu. Karena kawasan biara itu hendak dibangun oleh Belanda, maka ketiga artefak tersebut dipindahkan. Hanya saja, tak seorang pun yang mampu memindahkannya. Sampai akhirnya, datanglah dua ‘orang pintar’ yang mau memindahkannya dengan banyak persyaratan yang akhirnya sanggup dipenuhi oleh pihak sekolah.

Dalam buku yang sama, Mbah Rimi juga bercerita, kira-kira 70 tahun yang lalu ketika ia masih kecil (belum genap berusia 10 tahun), di depan Punden Mbah Tugu masih sering diadakan upacara selamatan Bersih Desa. Ia sering diajak bapaknya menghadiri acara selamatan tersebut. Menurutnya, semua orang tampak membawa makanan, jajan pasar, buah-buahan, kembang dan kemenyan. Khusus tumpengnya dibawa sendiri oleh Bu Sugiono, istri Pak Lurah. Pak Sugiono sebagai lurah pun memulai acara, dan warga yang hadir saat itu segera duduk membentuk lingkaran.

Pada saat giliran melakukan doa, Pak Sugiono memerintahkan bapak Mbah Rimi untuk memimpin doa memohon keselamatan kepada Tuhan dan meminta restu kepada para leluhur. Sementara warga yang tadinya duduk melingkar, posisinya berubah menghadap ke arah punden ketika mendengar doa dibacakan. Doa dalam rangka bersih desa ini dilakukan dengan tujuan supaya kampung mereka luput dari marabahaya dan diberikan rezeki.

Sepuluh tahun setelah penerbitan buku “Malang Tempoe Doeloe”, tepatnya 16 Mei 2016, sekelompok mahasiswa IKIP Budi Utomo Malang (IBU), melakukan “Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Potensi (PMBP)” yang setara dengan istilah “Kuliah Kerja Nyata (KKN)”. Salah satu program mereka adalah pemasangan papan penunjuk arah dan banner informasi di Punden Mbah Tugu.

Pemasangan papan penunjuk arah dan banner informasi itu sesuai dengan keresahan Waluyo selaku jupel punden. Pria tersebut sudah sering kali melobi dinas atau instansi terkait untuk pengadaan sarana informasi untuk Punden Mbah Tugu, namun selalu gagal. Akhirnya mahasiswa IBU yang sanggup memenuhinya, tepatnya pada 21 Juni 2016.

Artefak di Punden Mbah Tugu ini ternyata sudah tercatat dalam salah satu catatan kepurbakalaan Belanda yang dimuat dalam “Oudheidkundig Verslag (O.V.)”, tahun 1923, pada halaman 173, oleh seorang Kontrolir Belanda di Malang bernama E.W. Maurenbrecher pada saat penginventarisasi tinggalan-tinggalan cagar budaya di wilayah Malang. Maurenbrecher menginventaris punden ini ketika masih berada di posisi semula di belakang Zusters Ursulinenschool (Sekolah Kesusteran Ursulin yang sekarang Sekolah Corjesu) dengan nomor inventaris 2250.

Sementara sejarawan, M. Dwi Cahyono dalam bukunya yang berjudul “Wanwacarita Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang”, terbitan Disbudpar, tahun 2013, pada halaman 135, menyebutkan bahwa artefak-artefak yang ditemukan selain tugu batu, ditemukan pula lumpang batu dari monolith tanpa ditarah, benda menyerupai miniatur rumah dari batu andesit, batu lempeng, dan sisa punden berundak. Situs ini sering dinyatakan sebagai artefak zaman prasejarah dari masa bercocok tanam. Namun, menurutnya, pentarikhannya pada zaman prasejarah perlu dicermati kembali, karena bukan tidak mungkin asalnya justru dari akhir masa Hindu-Buddha (zaman Neomegalitikum).

Selain itu, masih menurut Dwi dalam artikelnya yang berjudul “Perhelatan Budaya Kampung Tua Celaket” yang disampaikan pada ‘Orasi Budaya Kampung Festival Kampung Celaket Ke-3’, pada 5-7 Juni 2015, di halaman sekolah Corjesu juga pernah ditemukan sebuah periuk berisi lembaran-lembaran tipis emas (swarnapatra) bertulis nama-nama dewata Hindu. Dwi menyayangkan, pada tahun 1928 artefak dari masa Hindu-Buddha ini direlokasi ke Museum Batavia (kini bernama Museum Nasional di Jakarta).

Sejarawan lainnya, Suwardono, dalam bukunya yang berjudul “Kepurbakalaan di kota Malang Koleksi Prasasti dan Arca”, terbitan Disbudpar, tahun 2011, halaman 85, menjelaskan bahwa menhir yang ada di Punden Mbah Tugu berbentuk menyerupai ‘Phallus’ (alat kelamin laki-laki) dan terbuat dari batu andesit dengan ukuran tinggi 88 cm, panjang 37 cm, dan lebar 30 cm dengan nomor inventaris kepurbakalaan 158. Menurut Soekmono, arekolog senior Universitas Indonesia (UI), dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia I”, tahun 1973, halaman 72, menhir adalah sebuah tugu atau tiang batu yang didirikan sebagai tanda peringatan dan melambangkan arwah nenek moyang, sehingga menjadi benda pujaan.

Secara etimologi dalam buku “Sejarah Nasional Indonesia Jilid I, Edisi Pemutahiran”, tahun 2010, pada halaman 501, dikatakan bahwa menhir berasal dari bahasa Breton (Prancis Utara), “men” berarti ‘batu’ dan “hir” yang berarti ‘tegak/berdiri’. Lalu, kedua sejarawan Malang, Suwardono (2011) dan M. Dwi Cahyono (2013) dalam masing-masing bukunya sepakat bahwa karena berbentuk Phallus dapat dikatakan gaya menhir yang demikian berasal dari masa akhir Majapahit (Neomegalitikum). Masyarakat kembali kepada kepercayaan asli karena pudarnya pengaruh Hindu-Buddha dan belum tersebar luasnya agama Islam.

Selain menhir, artefak lain dalam Punden Mbah Tugu berupa lempeng batu yang berfungsi sebagai “Dolmen”. Menurut arkeolog senior Soekmono (1973:72) dalam bukunya yang sudah disebut sebelumnya, dolmen adalah meja batu sederhana untuk menjadi tempat menaruh sesajen guna keperluan pemujaan kepada nenek moyang. Dikutip dari buku “Sejarah Nasional Indonesia Jilid I, Edisi Pemutahiran”, tahun 2010, pada halaman 498, dolmen juga berasal dari bahasa Breton (Prancis Utara) yaitu “dol” berarti ‘meja’, dan “men” yang berarti ‘batu’. Suwardono (2011:86) juga dalam bukunya yang sudah disebut sebelumnya mendeskripsikan, benda berbentuk batu pipih ini terbuat dari batu andesit dan memiliki ukuran panjang 92 cm, lebar 68 cm, serta tebal 07-10 cm sedangkan nomor inventaris kepurbakalaannya adalah 159.

Artefak terakhir dalam Punden Mbah Tugu berbentuk replika atap rumah. Suwardono (2011:86) dalam bukunya, menyebutnya waruga, yaitu tutup peti dari batu untuk menanam mayat, seperti fungsi Waruga yang terdapat di daerah Sulawesi. Meski demikian, Suwardono sedikit meragukan benda yang mirip waruga itu juga memiliki fungsi yang sama sebagai tutup peti untuk menyimpan mayat. Sebab, bentuk batunya padat dan tidak berongga. Ia pun menduga benda ini menaungi sesuatu benda yang ditanam di dalam tanah, dan sebagai atap naungannya adalah batu mirip waruga ini.

M. Dwi Cahyono (2013:135) dalam bukunya memiliki pendapat lain. Menurutnya benda yang mirip atap rumah itu bukanlah waruga, melainkan sebuah “miniatur lumbung batu” guna pemujaan kepada dewi kesuburan yaitu Dewi “Sri”.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.