BERBAGI
Prasasti Dinoyo 2 (C) laurentiadewi.com)
Prasasti Dinoyo 2 (C) laurentiadewi.com)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Sebagai daerah yang pernah makmur dengan Dinasti Dinoyo-nya, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang tentu menyimpan banyak peninggalan bersejarah, yang salah satunya berupa prasasti alias tulisan catatan sejarah yang dipahatkan pada sebuah batu. Selain Prasasti Dinoyo, selanjutnya ditemukan pula Prasasti Dinoyo 2 yang isinya bercerita tentang petak sawah yang dihibahkan.

Prasasti Dinoyo 2 yang disebut juga Prasasti Dang Hyang Guru Candik ini ditemukan di sebelah timur pertigaan Jalan Gajayana dan Jalan MT Haryono, Kelurahan Dinoyo, pada tahun 1984. Prasasti ini ditemukan ketika ada orang yang membuat galian di tepi jalan. Karena menghalangi galian, batu prasasti ini sempat hendak dihancurkan.

Prasasti Dinoyo II ditulis pada batu andesit abu-abu kehitaman dengan permukaan yang rata di kedua sisi, yang panjangnya 75 cm, lebarnya 57 cm dan tebalnya 30 cm. Terdapat pahatan huruf Jawa Kuno dan berbahasa Jawa Kuno pula. Pahatan tulisannya terdiri dari 16 baris. Saat ini prasasti tersebut tersimpan rapi di Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa di Kota Malang.

Prasasti Dinoyo 2 memuat dua pertanggalan. Pertama, memuat tanggal 8 paro terang hari WA U WR bulan Magha tahun 773 Saka, yang bertepatan dengan tanggal 15 Januari 851 M. Sementara yang kedua terdapat tanggal 8 paro gelap hari MA U A bulan Srawana tahun 820 Saka, bertepatan dengan tanggal 2 Juli 898 M.

Berikut ini alih aksara Prasasti Dinoyo 2.
1. //*//śri…// swasti śaka warṣātīta 773 māśa māgha was umanis wrhaspa
2. ti dhakṣiṇastha tithi a(…)mi śuklapakṣa tatkāla daŋ hwan natha ta saŋ hiwil ri hujuŋ manusuk sima sawaḥ kāliliran ri daŋ hyaŋ guru
3. caṇdik. sawaḥ tapak (…….) tatra sākṣī wadwā saŋ pamgět dila(……………) tuhāan saŋ airpaku tuhā
4. n niŋ manapal saŋ nawa a(……n) sa(..)ma satulyan tuhan ni kabhalan tuhān ni wadwā rare saŋ gārasaḥ. Wa
5. huta saŋ paŋhuñjaṅan manha(…) sa(…)ndi raman madwal ī raman
6. kandal lawan nana tha(……………….) anuŋ sākṣī simānusuk //
7. //swasti śaka warṣātīta 8(2). māsa śrawana tithi astami kresnapaksa wara mawulu umanis āditya āgneya
8. stha tatkāla daŋ hwan a(..)śa ri hujuŋ maweḥ susukkan tapak salawan tatra sāksi wadwā pamgě
9. t anuŋ milu manusuk kanaya(..) rake manayu(..) mahandana rake pamrattan tuhān wadwā rare saŋ paṅu
10. ran tuha ni kalula hawikan tuhān ni lampuran rake kalimunnan citralekha saŋ kresna. paŋhuñjaṅa
11. n ma(..) wa ni(…) wan(..)laŋ wu(..)da lawan wahuta anuŋ winkas wkas. (..)ti raman srasti
12. maŋhambin (..) tuha sa(….)nu kahyunnan s(i) sumul tuha wanwa drahna sāksi
13. saŋ wataŋ kras wel-wel rama ni(……)tih tuha (…….) rikala (…..)jar dama
14. n pu dipa wariga si malat panurattan daŋ mpu hyaŋ wrati ka(….)ri la(…)man
15. maṅgala ni (ra)man waŋlus daŋ(…) surawa wa(..) tkan raman
16. kandal // dhirastu //

Berikut terjemahannya.
1. //*/ semoga bahagia//selamat tahun saka telah berjalan 773, bulan magha, hari Was (paringkelan 6 hari), Umanis (pasaran 5 hari), Kamis (pekan 7 hari),
2. kedudukan planet di selatan, tanggal 8 śuklapakṣa, pada waktu itu dang hwan sang penderma yaitu sang hiwil dari hujung membatasi sima (berupa) sawah yang diwariskan kepada dang hyang guru
3. candik. Sawah ( telah) diteliti(…..…) (dengan) saksi dalam hal ini (yaitu) wadwa (dari) sang pamget (bernama) dila, tuhan sang air paku, tuha
4. n dari manapal (bernama) sang nawa, a(………..)n (bernama) sa(..)ma, bersama-sama dengan tuhan di kabhalan, tuhan dari wadwarare (bernama) sang garasah, wa
5. huta (dari) sang panghunjangan, mangha(mbin) (bernama) sa(……) mpu(………) sa(………….)ndi raman (yang) berdagang pada raman
6. kandal dengan berbagai tha(……) (itulah) yang menjadi saksi dalam membatasi sima//
7. //Selamat tahun saka telah berjalan 82(0) bulan srawana, tanggal 8 śuklapakṣa, hari Mawulu (paringkelan), Umanis, Ahad, kedudukan planet di tenggara.
8. pada waktu itu dang hwan (bernama) a(…)sa dari hujung memberikan (kembali) sawah (untuk) dijadikan sima (dan) diteliti bersama dengan saksi dalam hal ini(yaitu) wadwa pamge
9. t. (juga saksi) yang ikut membatasi (sima) adalah kanayakan, (yaitu) rake manayu(ti) (bernama) mahandana, rake pamrattan, tuhan wadwarare, sang pangu
10. ran19, tuha dari kalula (bernama) hawikan, tuhan dari lampuran, rake kalimunnan, citralekha (bernama) sang kresna, panghunjanga
11. n (……) manwa di (…….) wan(..) langwu (..) dengan wahuta yang winkas wkas, (pa)tih (dari) raman srasti,
12. manghambin (..) tuha sa(…..)nu (dari) kahyunnan (bernama) si sumul, tuha wanwa (bernama) drahma, (juga) saksi
13. sang watang kras (bernama) wel-wel ayahnya (…….), (pa)tih (dari) tuha (….) pada waktu itu (……), (paru)jar (dari) dama
14. n (bernama) pu dipa, wariga (bernama) si malat, panurattan (dari) dang mpu hyang wrati, ka(..)ri la(….)man
15. manggala dari raman wanglus dang(……..) surawa, hulu wa( ), demikian (pula) tetua desa
16. kandal// semoga selalu diberkahi//.

Dari tulisan tersebut, Prasasti Dinoyo 2 diketahui berisi tentang penetapan status tanah sawah yang dihibahkan pada tahun 851 M oleh dang Hwan Sang Hiwil dari Hujung, untuk kelangsungan pertapaan Dang Hyang Guru Candik. Namun, selang beberapa tahun, sawah tersebut ternyata dijual oleh para tetua Desa Kandal. Kemudian, pada tahun 898 M, tanah tersebut dibeli kembali dari kepala Desa Kandal dan status sawah tersebut dikembalikan seperti semula, yaitu sebagai hibah untuk kelangsungan pertapaan yang bersangkutan. Namun, tidak diketahui di daerah mana sawah yang telah dihibahkan dan di mana lokasi pertapaan Dang Hyang Guru Candik tersebut.

Prasasti ini juga menyebutkan Tuhan ni Kabhalan, yang artinya ‘pejabat di Kabhalan’. Nama Kabhalan sendiri juga tercantum di Prasasti Pamotoh 1198 M, Prasasti Waringin Pitu 1447 M, serta Pararaton, yang tertulis ‘Kabalan’. Di Kota Malang, tepatnya di daerah Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, terdapat sebuah dukuh kuno yang masih ada hingga saat ini bernama Kabalon.

Di tempat lain juga disebutkan kata ‘Kahyunnan’, namun tidak jelas yang dimaksud ini nama suatu jabatan atau nama tempat. Nama ini sebenarnya sempat muncul pula di dalam Prasasti Gulung-gulung 929 M dan Prasasti Kahyunan 1161 M sebagai nama desa.

Sementara, Hujung merupakan sebuah wilayah kerakaian di Malang yang diduga sebagai Dukuh Ngujung yang letaknya di wilayah Singosari sekarang.

Dinoyo, yang merupakan tempat diketemukannya Prasasti Dinoyo 2, diidentifikasi dahulunya merupakan pusat pemerintahan wilayah watak Kerajaan Kanuruhan. Jika mengacu pada tempat penemuan prasasti ini, dan jika nama Kandal yang dimaksud dalam prasasti tersebut dapat dihubungkan sebagai Dukuh Kendalsari yang sekarang terletak di Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru (di sebelah timur Dinoyo), maka tentunya tanah sawah yang dihibahkan tersebut letaknya tidak jauh dari batu prasastinya. Sedangkan, orang yang mengeluarkan prasasti tersebut tentu adalah seorang penggembala yang terhormat yang asalnya dari Hujung.

Sumber:
Monografi Sejarah Kota Malang
Mengenal Koleksi Benda Cagar Budaya di Kota Malang
Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok
hurahura.wordpress.com

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.