BERBAGI
Rudy Satrio Lelono (C) MALANGTODAY
Rudy Satrio Lelono (C) MALANGTODAY
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Kota Malang banyak melahirkan seniman lokal yang terus menciptakan karya-karyanya. Namun tak banyak yang terkenal sebagai seniman serba bisa. Satu dari yang tak banyak itu adalah Rudy Satrio Lelono yang baru saja menghembuskan napas terakhirnya, 22 Maret 2019.

Lahir di Bareng, Kota Malang pada 14 Juli 1963, Rudy Satrio kecil mengenyam pendidikan dasar di SD dan SMP Madiwiyata, sebelum melanjutkan ke SMA Negeri 3 Malang. Setelah lulus, Rudy berkuliah S1 di Universitas Negeri Malang (UM) mengambil jurusan Sastra angkatan 1982.

Kemampuannya dalam bidang sastra ditunjukkan Rudy Satrio ketika menciptakan lirik lagu legendaris Singa-singa Bola yang dinyanyikan band Arema Voice. Hingga kini, lagu yang dibuat tahun 1990-an tersebut masih sering diputar di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang saat Arema FC berlaga. Karena diputar di saat pemain memasuki lapangan untuk melakukan pemanasan jelang kick off pertandingan, dipastikan lagu tersebut menggugah semangat para pemain Arema maupun Aremania berkat liriknya.

Tak hanya itu, Rudy Satrio juga dinilai turut membidani lahirnya Arema Voice. Sang vokalis, Wahyoe GV bahkan menceritakan bahwa sebagian besar lagu mereka di album pertama merupakan karya Rudy. Termasuk pula lagu berjudul Tegar yang juga kerap dinyanyikan Aremania usai pertandingan.

Kecintaannya pada Arema juga ditunjukkan Rudy Satrio melalui perannya dalam merancang logo pertama klub yang lahir lada 11 Agustus 1987 tersebut. Logo singa mengepal berwarna biru itu yang dipakai Arema di kompetisi Galatama mulai musim 1987. Kala itu Rudy menggambarnya sendiri menggunakan pensil sebelum ditebali spidol bersama salah seorang pendiri klub, Lucky Acub Zaenal. Setelah itu, logo dengan goresan tangan itu di-retouch menggunakan komputer. Dalam membuat logo tersebut, Rudy menyertakan pula filosofi khusus yang tersirat maupun tersurat.

Tak heran jika Rudy Satrio kemudian didapuk manajemen Arema FC sebagai orang yang merancang filosofi logo baru yang dipakai klub kebanggaan Arek Malang itu sejak tahun 2017.

Rudy Satrio juga pernah berkarya di bidang perfilman pada akhir tahun 1980 silam. Ia menjadi asisten sutradara Dedi Setiadi, salah seorang maestro film kala itu. Mereka membuat sebuah serial yang ditayangkan di TVRI. Serial yang bercerita tentang seorang difabel yang mencari sekolah itu kebanyakan mengambil lokasi syuting di Malang dan sudah tayang sekitar 50 episode.

Dedikasi Rudy Satrio di bidang jurnalistik juga ada. Tercatat, pria yang akrab disapa Sam Idur itu pernah berkarya di radio KDS 8 Malang pada tahun 1980-an. Di sana ia juga sempat membuat cerita yang melegenda dan disukai para pendengar.

Masih di dunia jurnalistik, bersama Prof. Dr. Djoko Saryono dan Fajar Murwantoro, Rudy Satrio pernah membuat tabloid digital pada tahun 1999-2000. Tabloid digital yang waktu itu berkantor di Jalan Banten tersebut dinamai Malangvoice. Memang, karya bersama mereka ini cuma seumur jagung, tapi sempat menjadi rujukan warga Malang terkait informasi perkembangan Malang Raya, termasuk isu sosial dan budayanya.

Rudy Satrio mencoba membangkitkan kembali nama Malangvoice pada pertengahan tahun 2015. Kali ini formatnya bukan lagi tabloid digital, melainkan media online, dengan tagline Asli Gak Ngawur!

Di Malangvoice pula Rudy Satrio terus berkarya melalui rubrik spesial Paitun Gundul. Sam Idur menuliskan sikap kritisnya terhadap kebijakan pemerintah. Melalui tokoh Paitun Gundul yang memakai bahasa khas Malang, walikan, ia mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai tidak pro-rakyat.

Selain sebagai sastrawan, seniman dan bekerja di media, Rudy Satrio juga salah seorang penggagas event tahunan Malang Tempoe Doeloe (MTD). Sebagai seniman tentu ia ingin melestarikan budaya Malang agar tetap dipahami oleh generasi mendatang.

Rudy Satrio pun dikenal sebagai seorang pendidik. Ia tercatat sebagai salah seorang dosen di Program Studi Ilmu Komunikasi (Ilkom) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebelumnya bapak dua anak ini pun sempat mengajar di Politeknik Negeri Malang (Polinema).

Beberapa waktu sebelum meninggal pun Rudy Satrio masih konsisten berjuang di bidang seni dan budaya. Ia membentuk Dewan Kebudayaan Malang (DKM) dan terpilih sebagai ketua formatur. Dibentuk pula Komite Kebudayaan Kota Malang (K3M) demi berdirinya DKM.

Melalui akun facebook pribadinya, Rudy Satrio juga kerap menginspirasi. Meski bukan seorang kiai, hampir setiap hari ia ‘berdakwah’ dengan caranya sendiri, yakni mengunggah status berisi nukilan terjemahan hadits.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.