BERBAGI
Lokasi asli Prasasti Katiden I (C) KEKUNOAN
Lokasi asli Prasasti Katiden I (C) KEKUNOAN
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Prasasti Katiden I dikeluarkan pada zaman Kerajaan Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan Wikramawarddhana atau Bhra Hyang Wisesa (1389-1429 M). Secara garis besar, isi prasasti itu menegaskan perintah sang kakek, Sri Wijayarajasa, untuk mencintai lingkungan di wilayah Katiden, yang kini merupakan nama desa di wilayah Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Secara fisik, Prasasti Katiden I dituliskan pada suatu lempeng tembaga yang berukuran 35,7 cm x 9,7 cm. Prasasti ini menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Ada lima baris pada bagian depan, dan satu baris pada bagian belakangnya. Pada prasasti ini tertulis penanggalan bulan kesembilan atau bulan Caitra tahun 1314 Saka. Menurut perhitungan L. Ch. Damais jatuh antara tanggal 24 Maret dan 22 April 1392 M.

Prasasti yang kini menjadi koleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris E65 itu untuk pertama kalinya dialihaksarakan dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda oleh W.F. Stutterheim dalam JBG 1937 (Stutterheim 1937b). Lalu, dibaca kembali oleh Boechari dan Wibowo dan ditulis dalam Prasasti Koleksi Museum Nasional (1985).

Berikut ini hasil alih aksara Prasasti Katiden I.

1a.
1. //iku wruhane si para same saluraḥ katiḍen. makaṅūni para waddhaṇa ring lumpang. ye
2. n andikaninong . dene si para same ri katiḍen. i rehane wnangṅā hanumbaka buro
3. n tan dosaha yen amaṅan tanĕm tuwuhe hawalĕra sabhumī ri katiḍen hi ṅong
4. hamagĕhakĕn handikanira sira sang mokta ri kŗttabhuwana wnang hanumbaka yen amanan tanĕ
5. m tuwuhe. sawarṇnani buron tan dosaha. karājamūdra yen wus kawaca kagughona

1.b.
1. dene si para same ri katiḍen pihagĕmane. titi ka 9. śaka. 1314. //0//

2. Terjemahan
1a.
1. Itu supaya diketahui penduduk di kelurahan Katiḍen, demikian pula para waddhana di Lumpang.
2. Demikian perintahku kepada penduduk di Katiḍen. Oleh karena diperbolehkan menombak (binatang) buruan
3. (dan) tidak (merupakan suatu) dosa jika (binatang tersebut) memakan tanaman larangan yang tumbuh di seluruh bumi Katiḍen. Aku
4. meneguhkan perintahnya yang moksa di Kŗttabhuwana (yang berbunyi: penduduk Katiḍen dan para waddhana di Lumpang) diperbolehkan menombak (binatang buruan) jika (binatang tersebut) memakan tanaman.
5. (yang) tumbuh. (menombak) berbagai macam (binatang) buruan bukan (merupakan suatu) dosa. Keputusan raja jika telah dibaca dipatuhi hendaknya

1.b.
1. oleh penduduk di Katiḍen (dan) dipegang teguh. (Keputusan ini dikeluarkan pada) bulan ke-9 tahun Śaka 1314.

Dalam Prasasti Katiden sebenarnya tidak disebutkan nama raja. Prasasti ini hanya menyebutkan sira sang moksa ri krttabhuwana (ia yang meninggal di Krttabhuwana). Toko itu diketahui adalah Raden Kudamerta yang menjadi raja bawahan Kerajaan Majapahit di wilayah Wengker. Ia pun dikenal sebagai Bhre Parameśwara yang berkedudukan di Pamotan dengan nama abhiseka Srī Wijayarajasa. Dalam Prasasti Kusmala (1272 Saka atau 14 Desember 1350 M), ia bergelar Paduka Bhatara Matahun Sri Wijayarajasantawikramottunggadewa.

Srī Wijayarajasa yang juga dikenal sebagai Bhre Wengker menikah dengan Tribhuwanottunggadewi (Bhre Kahuripan) yang bernama Rajadewi Maharajasa (Bhre Daha). Pasangan ini memiliki anak perempuan yang menjadi Bhre Lasem I, yaitu Rajasaduhitendudewi. Sementara dari istrinya yang lain, Sri Wijayarajasa mempunyai anak yang bernama Paduka Sori, yang kemudian menjadi permaisuri raja Hayam Wuruk. Fakta ini membuat sosok Sri Wijayarajasa bisa dibilang masih merupakan keluarga dekat raja, yaitu sebagai paman sekaligus mertua dari raja Hayam Wuruk. Srī Wijayarajasa meninggal pada tahun 1310 Saka (1388 M) dan didharmakan di Manar yang dikenal juga dengan sebutan Wisnubhawanapura.

Wikramawarddhana (Kusumawarddhani) atau Bhra Hyang Wiśesa (1389-1429 M) yang merupakan cucu Sri Wijayarajasa mengeluarkan Prasasti Katiden I sebagai peneguhan kembali apa yang telah dikukuhkan kakeknya.

Dari prasasti ini diketahui jika Sri Wijayarajasa selaku Bhre Wengker merupakan sosok yang sangat memperhatikan lingkungan. Prasasti itu menjelaskan maklumat Sri Wijayarajasa yang memperbolehkan warga Katidan membunuh binatang yang memakan tanamannya. Meski Sri Wijayarajasa sudah meninggal, perintahnya itu masih ditaati oleh penduduk di wilayah Katiden ketika sang cucu berkuasa. Kecintaannya pada lingkungan juga ditunjukkan Sri Wijayarajasa ketika mengajak para pembesar lainnya untuk memperhatikan lingkungan dan mencintai rakyat, seperti yang diceritakan Nagarakretagama.

Sumber:
1. Prasasti Katiden – Titi Surti Nastiti
2. Dari Pura Kanjuruhan Menuju Kabupaten Malang – Habib Mustopo
3. Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok – Suwardono

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.