BERBAGI
Warga Oro-oro Ombo Punya Tradisi Halal Bihalal di Jalanan (C) MALANG POST
Warga Oro-oro Ombo Punya Tradisi Halal Bihalal di Jalanan (C) MALANG POST
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Warga RW.06 Kelurahan Oro-oro Ombo, Kecamatan Klojen, Kota Malang punya tradisi sendiri untuk melakukan prosesi bermaafan di Hari Lebaran. Sejak lama, tiap tahun ke tahun, mereka mengadakan momen halal bihalal di jalanan usai salat Idul Fitri.

Setelah melaksanakan salat Idul Fitri, warga setempat tidak pulang ke rumah masing-masing. Mereka terlebih dahulu melakukan prosesi bersalam-salaman. Warga berkumpul di ujung barat Jalan Raya Brigjen Slamet Riyadi membentuk dua barisan panjang dan saling berhadapan, menghadap ke utara dan selatan. Formasinya, anak-anak berada di ujung barat sebelah utara jalan, diikuti para wanita di sisi timur, menghadap ke utara dan selatan. Sementara para pria dewasa di sisi selatan jalan, berjajar dari timur ke ujung barat.

Warga yang tinggal di sekitar kawasan Jembatan Pelor, Oro-oro Dowo ini bersiap membentuk barisan sekitar 20 menit. Seorang pejabat RW memberikan aba-aba menggunakan pengeras suara dari masjid di seberang tempat mereka melakoni salat Idul Fitri tadi. Setelah disampaikan susunan acara, hingga laporan pengumpulan zakat untuk warga kurang mampu dan anak yatim piatu, komando untuk bersalam-salaman dan bermaafan pun diberikan. Dimulai dari barisan anak-anak yang diminta berjalan terlebih dahulu menuju barisan wanita/ibu-ibu, lanjut ke pria/bapak-bapak, hingga semua saling bersalaman.

Menariknya, mereka bersalam-salaman dan bermaafan di tengah arus lalu lintas kendaraan yang masih berlalu-lalang di Jalan Brigjen Slamet Riyadi. Separuh ruas jalan mereka pakai untuk prosesi khas Lebaran tersebut, tepatnya di sisi utara. Sementara kendaraan yang melintas diarahkan menggunakan lajur sebelah selatan. Karena jalan ini merupakan jalan yang searah, arus lalu lintas lebih mudah diatur.

Menariknya, tak hanya diikuti umat Islam yang merayakan Hari Raya Idul Fitri saja, kegiatan ini juga melibatkan warga non-muslim. Mereka yang tidak merayakan Lebaran turut memberikan sumbangan konsumsi dan juga tenaga. Merekalah yang berjaga di luar masjid ketika salat Idul Fitri dilaksanakan, bahkan ikut bergadang pada saat malam takbiran.

Kabarnya, tradisi ini sudah mereka lakukan sejak tahun 1990-an. Warga setempat ingin terus melestarikan tradisi ini. Berdasarkan sejarahnya, tradisi halal bihalal di jalanan ini dimulai ketika RW.06 dipimpin oleh seorang dosen Universitas Brawijaya Malang. Dialah yang diklaim sebagai orang yang pertama kali mengajak warga setempat untuk membiasakan diri bersilaturahmi bersama. Alasannya sederhana, karena usai salat Idul Fitri bersama di masjid biasanya warganya masih lengkap. Karenanya, ia meminta warga berkumpul terlebih dahulu, membuat barisan yang panjang, lalu bersalam-salaman dan bermaafan.

Meski sudah menggelar halal bihalal di jalanan, setelah itu biasanya warga juga masih tetap saling berkunjung ke rumah tetangga. Setiap rumah biasanya juga sudah menyiapkan sejumlah galak gampil alias angpau untuk anak-anak. Selain itu, warga RW.06 juga mengadakan kegiatan santunan kepada anak yatim di hari pertama Lebaran. Uang itu didapat dari hasil urunan warga setempat.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.