BERBAGI
Punden Mojorejo, Lokasi Awal Prasasti Sangguran (C) BATIKIMONO
Punden Mojorejo, Lokasi Awal Prasasti Sangguran (C) BATIKIMONO
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Punden Mojorejo merupakan sebuah peninggalan kuno di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Sejarawan, Suwardono, menduga punden tersebut merupakan lokasi awal Prasasti Sangguran yang saat ini berada di Skotlandia.

Dugaan kuat Suwardono mengacu pada literatur yang ditulis sejarawan Belanda, NJ Krom dan JLA Brandes. Untuk membuktikan dugaannya, ia menelusurinya berdasarkan tulisan tersebut.

Kondisi punden tersebut saat ini kurang terawat dan memprihatinkan. Lokasinya berada di areal persawahan milik penduduk setempat. Punden tersebut berupa bongkaran batu besar yang berserakan. Tampak jelas lokasi tanahnya rata seperti bekas ditempati bangunan besar di atasnya. Untuk menandai, dipasanglah papan tulisan Punden Mojorejo sebagai cagar budaya di sisi selatan punden. Sementara, pohon besar berdiri tegak menjulang di sebelah bongkaran bebatuan ini.

Suwardono meyakini bahwa Punden Mojorejo merupakan lokasi awal Prasasti Sangguran setelah membaca transkrip terjemahan prasasti tersebut yang ditulis lengkap pada tahun 1913 dan diterbitkan oleh NJ Krom dan Brandes dalam Oud-Javaansche Oorkonde, VBG, LX.

Dalam literatur tersebut, Prasasti Sangguran menyebutkan nama dua desa, Sangguran dan Mananjung. Transkripnya berisi tentang pemberian hak istimewa bagi Desa Sangguran untuk dibebaskan dari pajak, dan Desa Sangguran penghasilannya diberikan untuk memelihara tempat suci di Desa Mananjung yang ditempati para pandai besi. Nama Raja Dyah Wawa dan Mpu Sindok juga disebutkan di dalam prasasti tersebut.

Berbekal literatur tersebut, Suwardono kemudian mencari keberadaan Desa Mananjung yang di dalamnya ada tempat suci. Dalam artikel yang ditulis NJ Krom’s berjudul “De Herkomst van den Minto-Steen” (BKI 73) yang diterbitkan tahun 1917, dituliskan catatan jurnal yang dibuat oleh Kolonel Adams saat berkunjung ke Malang dan Antang (Ngantang) pada bulan Juni 1814.

Adams mendeskripsikan bahwa ada “reruntuhan pura Hindu di sekitar paruh perjalanan antara Malang dan Batu”. Sementara, kalimat berikutnya berbunyi “satu prasasti batu besar yang ditemukan Mackenzie di sekitarnya (neighbourhood) dan dikirimkannya oleh Lord Minto”.

Suwardono mencari lokasi Desa Mananjung, yang lokasinya di sekitar Batu dan memiliki bekas pura Hindu. Ia menduga, candi yang dimaksud adalah Candi Songgoriti. Dalam artikel yang ditulis Suwardono, “Korelasi Candi Songgoriti dengan Prasasti Sangguran Tahun 928 M”, Songgoriti berasal dari kata dasar ‘sanggha’ yang berarti kelompok, rombongan, kumpulan (Zoetmulder, 2004:1020; Mardiwarsito, 1986:507), dan ‘riti’ yang artinya logam sebangsa perunggu, kuningan (Zoetmulder, 204:953).

Kesimpulannya, nama Songgoriti diartikannya sebagai timbunan logam. Hingga kini, di daerah sekitar Songgoriti masih dijumpai nama-nama tempat seperti Kemasan (tempat pengrajin emas) dan Pandesari (pusat pandai logam). Dugaan Suwardono bahwa Songgoriti dahulunya merupakan sebuah tempat perkumpulan atau tempat adanya suatu usaha pembuatan barang-barang dari logam semakin menguat. Dalam perkembangannya, Songgoriti menjadi sebuah desa/kelurahan bernama Songgokerto.

Setelah itu, Suwardono melacak di manakah Desa Sangguran kini. Berdasarkan laporan Kolonel Adams, NJ Krom menyimpulkan bahwa Minto Stone, nama populer dari Prasasti Sangguran, berasal dari Desa Ngandat. Di desa tersebut pada abad ke-19 dilaporkan terdapat sisa-sisa pura. Suwardono coba menyamakan arti Sangguran dengan Ngandar/Kandat. Dalam Bahasa Jawa, keduanya memiliki makna yang sama. Sangguran artinya menganggur, dan Ngandat atinya berhenti.

Catatan Kolonel Adams tahun 1814 juga menyebutkan Ngandat sebagai wilayah ditemukannya prasasti tersebut, di mana terdapat puing-puing candi yang diduga menjadi tempat asal prasasti. Jika mengutip transkrip secara lengkap, pada tahun 1913, disebutkan bahwa batu prasasti tersebut berasal dari daerah Malang, yang menurut NJ Krom berasal dari Desa Ngandat atas dasar laporan-laporan kolonel Adams sekitar tahun 1814. Nama Ngandat itulah yang diduga kuat berkembang menjadi Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, sekarang ini, sedangkan Ngandat saat ini menjadi nama sebuah dukuh di desa tersebut.

Foto: Muhammad Aminuddin/detikcom

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.