BERBAGI
Cerita Gerilya di Malang Selatan dan Semeru Selatan (C) MALANGVOICE
Cerita Gerilya di Malang Selatan dan Semeru Selatan (C) MALANGVOICE
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Daerah Malang Selatan dan Semeru Selatan merupakan kawasan yang sangat strategis untuk melakukan perjuangan dengan cara bergerilya. Dua daerah tersebut bahkan dijadikan markas pasukan pejuang Indonesia di masa memperjuangkan kemerdekaan.

Daerah Semeru Selatan merupakan wilayah di kaki Gunung Semeru dengan hutan-hutannya yang lebat, tanahnya berbukit, dan berlereng. Di samping itu, banyak terdapat ceruk-ceruk yang dalam dan curam. Di sekitarnya dialiri sungai dari mata air Gunung Semeru. Kedudukan daerah tersebut di sebelah timur dibatasi daerah status quo (Kali Glidik) daerah Kabupaten Lumajang. Sedangkan sebelah barat mencapai jalan raya jurusan Malang, meliputi juga kawasan jalan menuju jurusan Gunung Kawi dan Sungai Lesti, dimulai dari Malang Timur mengalir ke selatan sampai Sungai Brantas di daerah Kepanjen.

Dilihat dari segi perhubungan, tempat itu sangat penting dan strategis untuk kepentingan siasat militer karena jalan raya sudah tersedia dari jurusan Surabaya sampai ke pantai selatan, terutama jalan perhubungan dalam daerah perkebunan Semeru Selatan.

Wilayah Malang Selatan dan Semeru Selatan merupakan wilayah yang menjadi tujuan berbagai pasukan melakukan hijrah dari daerah-daerah kantong di wilayah Karesidenan Malang dan Besuki. Secara otomatis, TNI terkurung dalam suatu kawasan. Hal itu terutama dengan diberlakukannya garis van Mook.

Dengan kondisi semacam itu sudah dapat diperkirakan bagaimana siasat musuh menghadapi TNI di Malang Selatan dan Semeru Selatan, antara lain sebagai berikut.

1. Musuh akan memperkuat daerah Sumber Urip yang sesungguhnya merupakan kunci perhubungan dari daerah Lumajang dan Semeru Selatan.
2. Pasukan musuh akan mengadakan serangan ke daerah Turen dan Sedayu dari jurusan Bululawang serta akan menyerang Talok dari jurusan Tumpang.
3. Musuh akan mempertahankan daerah Poncokusumo sebagai pangkalan persiapan untuk mengadakan operasi ke Dampit.
4. Memperkuat garis pertahanan Talok-sedayu-Gondanglegi-Kepanjen-Wlingi sebagai garis utama untuk mengurung TNI di daerah pantai selatan.

Di samping itu, musuh akan memperkuat pertahanan di garis Poncokusumo-Wajak-Dampit-Sumber Urip untuk menekan TNI serta menguasai garis pertahanan Lumajang-Ampelgading-Dampit untuk menguasai Semeru Selatan. Tetapi maksud tersebut tidak pernah menjadi kenyataan. Sebelum mereka melakukan tahap penyerangan ke daerah Malang Selatan dan Semeru Selatan, pasukan TNI telah mendahului dengan melakukan wingate action memasuki daerah-daerah kantong yang telah mereka tinggalkan.

Serbuan-serbuan terhadap kedudukan musuh, termasuk pos-pos mereka yang tedepan, banyak dilakukan oleh TNI PGI (Pasukan Gerilya Istimewa) dan PUS 18 (Pasukan Untung Suropati 18). Daerah Semeru Selatan sebenarnya menjadi bagian dari TNI SWK III dengan komandan Mayor Mochlas Rowie. Adapaun PGI dan PUS 18 secara organik tidak di bawah Komando Brigade IV.

Dengan demikian, perjuangan yang berlangsung di wilayah Malang Selatan dan Semeru Selatan dilakukan oleh kesatuan TNI. Adanya koordinasi yang baik dari segenap unsur di Malang Selatan dan Semeru Selatan menyebabkan Belanda tidak pernah berhasil menguasai daerah tersebut. Sebaliknya, selain dapat menghancurkan lawan, TNI berhasil membina seluruh rakyat.

Dalam hal ini, TNI di Malang Selatan dan Semeru Selatan secara umum berhasil mengganggu hubungan komunikasi lawan. Alhasil, pemerintah bentukan Belanda (Recomba) tidak pernah menjadi kenyataan. Selain itu, Belanda mengalami kehancuran materil maupun moril.

Sebelum agresi militer Belanda pada 19 Desember 1948, pasukan-pasukan di Malang didislokasikan sebagai berikut. Pertama, MG I (Mobil Gerilya I) yang dipimpin oleh Mayor Hamid Rusdi yang meliputi wilayah Kabupaten Malang dan Pasuruan minus daerah Republik. Kedua, MG II (Mobil Gerilya II) yang dipimpin oleh Mayor Wijono, daerahnya meliputi Probolinggo, Lumajang minus daerah Republik. Ketiga, MG III (Mobil Gerilya III) yang dipimpin oleh Mayor Mochlas Rowie dengan wilayah di belakang (selatan status quo).

Indikasi bahwa pasukan Belanda akan melakukan agresi militer kedua tampak dari situasi garis status quo. Kira-kira seminggu sebelumnya tampak perubahan-perubahan pada pos Belanda yang cukup mencolok, yaitu penjagaan lebih diperketat. Di samping itu, kegiatan patroli musuh terasa menghilang.

Pada saat agresi militer Belanda berlangsung, di markas hanya ada Mayor Wijono. Staf Brigade Kapten Abdoel Kahar beserta perwira-perwira lainnya tidak ada di tempat (ternyata sudah mulai melaksanakan wingate action menuju daerah Lumajang) serta sebagian yang lain ke daerah Kediri. Saat itu pada hari sabtu, kondisi wilayah dalam keadaan hujan lebat sehingga hubungan hubungan telepon ke pos-pos terputus.

Saat itu pasukan dari Syamsuri Mertoyoso hanya tinggal satu seksi yang berada di tempat. Pada sekitar pukul 24.00 ada telepon dari daerah Krebet dan Pakisaji yang memberitakan bahwa pasukan Belanda melewati garis status quo. Mayor Wijono dari daerah Sedayu diberitahu tentang keadaan tersebut serta menyaksikan sendiri di daerah Kepanjen. Di Kepanjen, didapati beberapa orang tahanan FDR/PKI yang telah mengadakan pengkhianatan di daerah Donomulyo. Dari sini mulai terdengar tembakan dari arah Pakisaji. Satu peleton pasukan dikirimkan untuk menghadapi musuh agar kembali ke garis status quo.

Daerah Peniwen tidak luput dari incaran pasukan musuh. Mereka mengetahui bahwa Depo Batalyon Brigade IV berada di sana. Belanda menyerang Kepanjen dan sebagian menyerang daerah Lahor (Karangkates).

Perlu diketahui, di daerah Peniwen ini semasa gencatan senjata pernah terjadi peristiwa yang memalukan pihak Belanda. Yaitu terjadi insiden yang dikenal sampai ke luar negeri dengan peristiwa penembakan membabi buta yang dilakukan oleh pasukan Belanda yang masuk daerah barat (Jambuwer). Mereka menembaki orang-orang yang sedang dirawat di sebuah gedung sekolah yang dimanfaatkan secara darurat sebagai tempat merawat pasukan yang terluka. Banyak yang gugur dalam peristiwa ini. Selain dilakukan di gedung sekolah, penembakan tersebut dilakukan di jalan-jalan dan ditujukan kepada setiap orang. Oleh seorang pendeta yang ada di Peniwen, kasus itu dilaporkan ke PBB.

Gerakan pasukan TNI wingite action yang dilakukan berbagai pasukan dari batalyon-batalyon di daerah Malang Selatan untuk masuk ke daerah kantong banyak menemui halangan karena di sepanjang perjalanan terjadi pertempuran. Hal ini ditambah lagi dengan suasana pada saat itu sedang paceklik (kemarau) sehingga beberapa lama pasukan tidak dapat makanan secara layak. Walaupun begitu, pelaksanaan wingate action dapat dilangsungkan.

Pada masa gerilya ini telah dibentuk beberapa MG (Malang Gerilya) yang meliputi 3 MG. Upaya melaksanakan organisasi ketentaraan yang semula tidak teratur, semenjak kedatangan Mayor Rusman dari Divisi I, seorang perwira muda yang cakap dapat memperbaiki roda organisasi ketentaraan sehingga dapat berjalan dengan teratur dan lancar.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.