BERBAGI
Kisah Rara Wayi, Ki Samansaki, dan Bambang Jatisrana (C) Cerita R Tengger
Kisah Rara Wayi, Ki Samansaki, dan Bambang Jatisrana (C) Cerita R Tengger
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Pada waktu usia kandungan Rara Wayi genap sembilan bulan sepuluh hari, ia pun melahirkan seorang anak berwujud seekor naga kecil jelmaan siluman Nagaraja. Rupanya, keinginan Nagaraja tidak dikabulkan oleh Dewata. Ia tak terlahir sebagai anak manusia, melainkan tetap sebagai anak seekor naga. Rara Wayi pun tak sadarkan diri selama berhari-hari.

Ki Samansaki berusaha menyingkirkan ular naga itu. Ia tak percaya bahwa anaknya lahir menyerupai sosok siluman naga. Naga jelmaan Nagaraja pun marah besar, ia merusak sawah ladang milik Ki Samansaki, sehingga penduduk merasa tak aman akibat ulah Nagaraja.

Dalam semadinya, Bagawan Nilakanta mengetahui ulah jahat Nagaraja. Ia pun menyuruh Bambang Jatisrana untuk menghentikan ulah jahat Nagaraja. Bambang Jatisrana segera menemui Nagaraja di sarangnya.

“Hai, Nagaraja! Urungkan saja niat jahatmu itu kalau kau tak ingin mati di tanganku!” kata Bambang Jatisrana.

“Berani benar kau, hai anak muda! Kemarilah kau! Kau hendak kubunuh lebih dulu sebelum kau membunuhku!” ujar Nagaraja dengan geramnya.

Tiba-tiba Nagaraja menyerang Bambang Jatisrana. Beruntung, ia cepat menghindar. Serangan yang kuat dan tiba-tiba itu ternyata mengenai sebuah pohon gurda yang besar. Taring Nagaraja patah sebelah, sehingga ia mengerang kesakitan.

Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Bambang Jatisrana. Ia pun menghunus sebilah keris yang terselip di pinggangnya dengan sigap dan cepat. Dengan tangkas, cepat dan tepat serta hati-hati, ia menghunjamkan keris tajam itu tepat mengenai ubun-ubun Nagaraja. Si siluman naga pun tewas seketika bersimbah darah. Tubuhnya kemudian ditanam di dalam tanah.

Nagabumi yang mengetahui peristiwa itu sangat murka. Ia lalu mengejar dan menyerang Bambang Jatisrana. Ia hendak membalas dendam atas kematian anaknya.

Bagawan Nilakanta lebih dahulu telah waspada. Sebelumnya, ia telah mengawasi gerak-gerik Nagabumi. Ketika Naganumi menyerang Bambang Jatisrana, Bagawan Nilakanta melepaskan senjata pamungkasnya berupa Carang Gading. Senjata serupa pecut itu segera dipukulkan mengenai tubuh Nagabumi yang langsung lumpuh tak dapat bergerak sama sekali. Nagabumi menyerah tanpa syarat. Ia minta ampun kepada Bagawan Nilakanta dan berjanji tak akan mengganggu lagi keluarga Rara Wayi di Gunung Tengger. Setelah Bagawan Nilakanta mengampuninya, ia pun pulang ke Gunung Penanggungan.

Akhir kisah, Bagawan Nilakanta menemui Ki Samansaki dan Rara Wayi untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia mengatakan bahwa Bambang Jatisrana sebenarnya adalah anak mereka. Sepasang manusia itu pun mengucapkan terima kasih telah merawat anak mereka. Terlebih, mereka juga terlepas dari ancaman Nagabumi. Akhirnya mereka hidup rukun dan damai di Gunung Tengger.

Sumber: Cerita Rakyat dari Tengger – Y.P.B. Wiratmoko

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.