BERBAGI
Joko Unthuk, Putra Bungsu Roro Anteng dan Joko Seger (C) BERITAGAR
Joko Unthuk, Putra Bungsu Roro Anteng dan Joko Seger (C) BERITAGAR
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Joko Unthuk atau nama aslinya Dewa Kusuma, dikorbankan oleh kedua orang tuanya Roro Anteng dan Joko Seger. Ia diceburkan ke Kawah Bromo untuk menebus janji yang diucapkan keduanya kepada Dewa ketika berdoa meminta keturunan.

Ketika dicebutkan ke kawah, sebelum tubuh Dewa Kusuma menyentuh permukaan kawah, ia pingsan. Saat tercebur di kawah, tubuhnya mengapung di atas air kawah Bromo. Ajaibnya, ia tidak hangus oleh panasnya kawah Gunung Bromo. Ternyata di dalam kawah Bromo tersebut ada terowongan yang ujungnya berada di daerah Winongan, Pasuruan. Tubuh Dewa Kusuma yang sedang pingsan, terbawa arus air, masuk terowongan dan akhirnya muncul di sebuah sumber air di Winongan. Kebetulan saat itu ada seorang empu bernama Empu Sakti datang ke tempat itu bersama seorang pembantunya bernama Ki Macan Loreng. Tubuh Dewa Kusuma yang sedang pingsan langsung diambil dan dibawa pulang.

Sesampai di rumah, Dewa Kusuma berhasil dibangunkan oleh Empu Sakti. Setelah siuman, ia ditanya oleh Empu Sakti. “Anak tampan, siapakah namamu dan dari mana asalmu?”

Dewa Kusuma menjawab, “Nama saya Dewa Kusuma atau Dewata Kusuma. Ibu saya bernama Roro Anteng dan ayah saya bernama Joko Seger. Mereka tinggal di Bromo.”

“Mengapa sampai engkau pingsan di sumber air?” Empu Sakti mencoba bertanya. Dewa Kusuma segera bercerita tentang riwayat hidupnya hingga ia yang menjadi persembahan di Gunung Bromo. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia sampai di Winongan.

Empu Sakti ternyata sangat sayang kepada Dewa Kusuma dan menyarankan agar ia tinggal bersamanya. Dewa Kusuma dengan senang hati menerimanya. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, ia juga tidak mau pulang kembali ke Gunung Bromo.

“Nak, ketika saya menemukan dirimu, badanmu dalam keadaan pingsan dan bercampur dengan riak air (Bahasa Jawa: unthuk). Karena itu, kamu saya beri nama Joko Unthuk.”

“Terima kasih, Bapak,” jawabnya dengan sopan.

Empu Sakti adalah seorang pembuat keris. Saat bekerja, ia dibantu oleh Ki Macan Loreng. Suatu hari Empu Sakti akan pergi.

“Ki Macan Loreng, saya akan pergi. Tolong awasi Joko Unthuk,” pesan Empu Sakti.

Setelah Empu Sakti pergi, Ki Macan Loreng melanjutkan pekerjaannya, yaitu membuat keris. Melihat Ki Macan Loreng bekerja membentuk keris dengan peralatan palu, Joko Unthuk merasa kasihan.

“Ki, bolehkah saya membantu?” tanya Joko Unthuk.

“Jangan! Ini panas, nanti kamu bisa terkena api dan terluka!” larang Ki Macan Loreng.

“Tidak, Ki! Saya kasihan melihat Ki Macan Loreng bekerja begitu berat.”

“Ya, kalau begitu silakan. Hati-hati ya!” jawab Ki Macan Loreng.

Joko Unthuk kemudian membantu pembuatan keris. Ki Macan Loreng sangat terkejut melihat Joko Unthuk bekerja. Untuk membentuk keris, Joko Unthuk tidak menggunakan palu, tetapi cukup menggunakan tangan. Besi panas yang menyala langsung dipijit-pijit dengan tangannya. Dalam waktu singkat ia sudah bisa membentuknya menjadi keris seperti yang dikehendakinya. Keris buatannya cukup sakti dan sangat ampuh.

“Ini bukan anak sembarangan. Boleh jadi ini keturunan Dewa,” kata Ki Macan Loreng dalam hati.

Setelah Empu Sakti pulang, hal ini diceritakan oleh Ki Macan Loreng kepada Empu Sakti. Sejak itu, semua keris buatan Empu Sakti menjadi sangat terkenal dan semakin laris di pasaran. Hanya saja, ada satu pantangan untuk memperdagangkan keris buatan Empu Sakti. Pedagang tidak boleh mengambil untung berlebihan. Kalau hal ini dilanggar, keampuhan keris akan sirna, dan cara pembuatannya pun juga akan kembali seperti semula yaitu menggunakan peralatan.

Pada suatu hari, ternyata ada seorang pedagang keris yang melanggar. Ia menjual dengan mengambil untung berlebihan. Saat itu juga keampuhan keris buatan Empu Sakti sirna.

Waktu pun berjalan, Empu sakti dan Ki Macan Loreng terlihat semakin tua. Menyadari badannya yang semakin tua, Empu Sakti berpesan kepada Joko Unthuk.

“Hai Joko Unthuk, anakku. Ketahuilah, sekarang Bapak sudah tua. Sudah waktunya menyerahkan semua pekerjaan ini kepadamu. Melihat kesaktianmu dalam membuat pusaka, saya menamakan dirimu dengan sebutan Empu Supa.”

Tidak berapa lama setelah itu, Empu Sakti wafat dan dimakamkan di belakang rumah. Beberapa tahun kemudian, Ki Macan Loreng juga meninggal dunia dan dimakamkan di dekat makam Empu Sakti. Sejak itu, banyak sekali orang yang berziarah ke makam tersebut.

Sumber: Cerita Rakyat dari Malang – Wahyudi Siswanto & Sisbar Noersya

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.