BERBAGI
Dua Versi Penemuan Sejarah Desa Wadung Pakisaji
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Desa Wadung merupakan salah satu desa di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Ternyata ada dua versi sejarah penemuan desa tersebut.

Pada zaman dahulu, Desa Wadung merupakan hutan balantara dan terkenal angker. Hutan tersebut terletak di atas tanah yang termasuk daerah dataran tinggi, tepatnya di kaki Gunung Katu. Desa ini dinamakan Wadung lantaran banyak ditemukan tanaman bernama Pohon Wadung. Saat ini, tanaman tersebut sudah tak bisa lagi dijumpai di desa tersebut. Menurut cerita dari sesepuh desa, tanaman tersebut memiliki buah yang rasanya sangat pahit, sehingga tak bisa dikonsumsi oleh manusia.

Mbah Saridho diyakini sebagai nama seseorang yang melakukan bedah kerawang (babat alas) Desa Wadung. Nama itu diketahui setelah terjadi peristiwa besar yang mengejutkan di desa tersebut. Pada suatu hari, tak ada hujan tak ada angin, pohon beringin yang berukuran sangat besar dan berumur ratusan tahun yang tumbuh di tengah-tengah tanah makam umum Desa Wadung terbelah menjadi dua bagian. Dari pohon yang terbelah itu muncul dua batu nisan yang berupa dua bongkah batu yang tersusun persis makam seseorang.

Kemunculan makam misterius tersebut menggemparkan para sesepuh desa. Mereka pun segera mengadakan musyawarah dan mencari tahu makam siapakah yang muncul tiba-tiba itu. Akhirnya, warga sepakat untuk minta pertolongan pada sesepuh yang dianggap memiliki ilmu kebatinan. Mereka pun menggelar tirakatan untuk memohon pada Tuhan agar diberikan petunjuk mengenai makam tersebut. Setelah 40 hari berlalu, petunjuk itu pun datang. Menurut petunjuk yang diterima para sesepuh, makam misterius yang ditemukan warga adalah makam Mbah Saridho yang diyakini sebagai orang yang babat alas kampung tersebut.

Konon, ketika ada sesuatu yang akan terjadi di wilayah Desa Wadung, bakal muncul pertanda dari Makam Mbah Saridho. Menurut cerita warga setempat, biasanya muncul sosok harimau puitih yang mereka yakini sebagai jelmaan bayangan dari Mbah Saridho.

Ternyata ada versi lain dari sejarah Desa Wadung yang juga diyakini sebagai pembabat alas desa tersebut. Pada waktu itu, sekitar tahun 1830-an, ada dua orang pelarian dari Mataram, bernama Mbah Mochammad Sholeh dan Mbah H Abdul Syukur. Keduanya merupakan santri Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke timut setelah sang guru meninggal dunia dibunuh oleh Belanda. Mereka hijrah ke timur Pulau Jawa juga untuk menyebarkan ajaran agama Islam hingga memutuskan menetap di desa yang kemudian dinamakan Desa Wadung.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.