Oktober 3, 2022
Warung Sate Gebug, Kuliner Legendaris Kota Malang Sejak Tahun 1920

Sate gebug (C) REPUBLIKA

Kalau kamu mencari kuliner legendaris Kota Malang, tak ada salahnya mampir ke Warung Sate Gebug. Warung sate ini konon didirikan sudah sejak sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1920.

Dari luar, warung yang berukuran sekitar 7×8 meter ini mungkin terlihat memiliki konsep tak jauh berbeda dari warung makan pada umumnya. Begitu memasuki warung yang terletak di kawasan Kayutangan yang bersejarah itu, kamu bakal langsung merasakan kentalnya aroma masa lalu di dalamnya.

Ya, warung sate ini menggunakan bangunan bekas peninggalan masa penjajahan Belanda. Interior jadulnya masih dipertahankan dan dirawat baik oleh sang pemilik. Awalnya, warung ini cuma menggunakan gedung utama dengan ukuran 3×3 meter, yang seiring berjalannya waktu dikembangkan dengan serambi seperti sekarang ini.

Sejarah Berdirinya Warung Sate Gebug

Menariknya, bangunan awal warung yang tak tampak dari luar itu sudah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Malang sebagai salah satu bangunan cagar budaya. Pada tahun 1920, Yahmon bersama istrinya Karbuwati membeli bangunan yang semula dipakai usaha es batu itu dari orang Belanda.

Setelah terbeli, fungsi bangunan lawas itu diubahnya menjadi warung sate. Saat ini pengelolaan warung sate tersebut sudah berada di keturunan generasi ketiga, yakni Achmad Kabir. Berdasarkan akta bangunannya, warung tersebut didirikan pada tahun 1910 sebagai toko es batu zaman Belanda.

Pada tahun 1980, Yahmon meninggal dunia. Sang istir tetap melanjutkan usaha warung sate tersebut, sampai akhirnya turun-temurun kepada anaknya bernama Tjipto Sugiono pada tahun 1989.

Bersama sang istri, Rusni Yati Badare, Tjipto mengelola warung warisan tersebut hingga akhir hayatnya pada tahun 2017 lalu. Sang istri, dibantu anaknya, Kabir yang meneruskan usaha keluarga tersebut hingga saat ini.

Yang menarik, Kabir sudah diajak berbelanja bahan-bahan kebutuhan untuk warung satenya sejak masih kecil, sekitar kelas 2 SD. Orang tuanya mendidiknya untuk mengetahui mana bahan berkualitas di pasar, lalu baru bisa memasak sesuai standarnya pada saat kelas 1 SMA.

Menu di Warung Sate Gebug

Warung Sate Gebug menawarkan empat macam menu. Bagi kamu yang kurang suka sate, jangan khawatir, karena ada menu alternatifnya.

Sate gebug merupakan sate yang berbahan dasar daging sapi. Ukuran daging dalam satu tusuknya pun lebih besar daripada umumnya sate ayam atau sate kambing.

Cita rasa yang ditawarkan dari sate gebug ini sangatlah khas. Pasalnya, bahan daging sapi dan bumbu-bumbu yang digunkaan juga berkualitas. Sejak awal, warung ini cuma memakai daging lulur dalam kualitas terbaik dari empat penyalur daging sapi di Kota Malang.

Selain menu sate gebug, kamu juga bisa menyicipi menu berbahan dasar daging sapi lainnya. Ada sop, soto, dan rawon. Masing-masing menu punya keistimewaan dan penggemar masing-masing.

Harga Menu di Warung Sate Gebug

Harga semua menu di Warung Sate Gebug ini cukup terjangkau. Yang pasti, harganya sesuai dengan kualitas kuliner yang ditawarkan.

Kamu bisa mengeluarkan uang sebesar Rp25 ribu untuk seporsi sate gebuk yang pakai lemak. Sementara, sate gebug yang tanpa lemak dibandrol Rp30 ribu.

Lokasi dan Jam Operasional Warung Sate Gebug

Seperti yang disebutkan, Warung Sate Gebug terletak di kawasan Kayutangan Heritage. Alamatnya ada di Jalan Jenderal Basuki Rahmat No. 113A Kota Malang.

Jam operasional warung ini biasanya mulai pukul 08.00 WIB pagi hari. Tutupnya biasanya pada pukul 16.00 WIB.

Agar kamu tidak kecewa, sebaiknya ingat baik-baik, setiap hari Jumat dan hari libur keagamaan Islam, warung ini akan libur. Pastikan kamu tidak salah hari dan jam operasional ya.