Malang Kembali ke Khittahnya Sebagai Kota Dingin

Malang Kembali ke Khittahnya Sebagai Kota Dingin (C) TRAVELINGHEMAT
Malang Kembali ke Khittahnya Sebagai Kota Dingin (C) TRAVELINGHEMAT

Sejak zaman penjajah Belanda berkuasa di Indonesia, Malang sudah mendapatkan julukan sebagai Switzerland Van Java, karena udaranya yang dingin dan sejuk, dan cocok dijadikan lokasi berlibur bagi bangsa Eropa yang ada di Indonesia. Julukan sebagai Kota Dingin yang sempat memudar beberapa tahun terakhir muncul lagi seiring kembali dinginnya Malang memasuki pertengahan Juni 2019 ini.

Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Karangploso menjelaskan, suhu udara di Malang Raya yang lebih dingin dari biasanya ini menjadi pertanda mulainya musim kemarau. Fenomena udara dingin yang seolah menusuk tulang itu bisa dirasakan pada malam, hingga pagi hari. Suhu rata-rata yang dicatat BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso adalah 16 derajat selsius, sedangkan suhu terendahnya mencapai 14 derajat selsius.

Di siang hari, suhu udara di musim kemarau biasanya akan terasa lebih panas dari biasanya. Dalam catatan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso, suhu terpanas mencapai 30 derajat selsius. Sementara itu, kelembaban udara berkisar 50 hingga 95 persen, angin didominasi dari arah timur menuju tenggara dengan kecepatan 05 hingga 35 kilometer per jam.

Beberapa tahun terakhir kerap terdengar keluhan yang bahkan datang dari warga asli Malang sendiri, bahwa Malang tak sedingin yang dulu lagi. Kebanyakan mereka yang mengeluhkan hal tersebut merupakan generasi tahun 1990-an ke bawah. Bisa jadi hilangnya julukan Malang Kota Dingin ini karena pengaruh pemanasan global yang melanda bumi ini, adanya penebangan pohon-pohon besar, efek rumah kaca, ataupun alasan-alasan lainnya. Selama beberapa tahun itu pula suhu udara di Malang Raya tak pernah mencapai rata-rata 16 derajat selsius pada bulan Juni atau memasuki awal musim kemarau, seperti yang diungkapkan pihak BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso.

Selain sebagai penanda datangnya musim kemarau, pihak BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso menyebut penurunan suhu ini menjadi pertanda positif bahwa kondisi lingkungan di Malang Raya telah membaik. Seperti diketahui, ketiga pemerintah daerah, Pemerintah Kota Malang, Pemerintah Kabupaten Malang, Pemerintah Kota Batu, telah melakukan program masing-masing untuk berupaya menjaga lingkungan hidup.

Diprediksi, fenomena suhu rendah seperti ini masih akan terus berlangsung hingga dua bulan ke depan. BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso menyebut bulan Juli hingga Agustus sebagai puncak bulan kemarau, di mana suhu udara yang lebih rendah dari rata-rata saat ini masih terbuka untuk bisa dirasakan oleh warga Malang Raya. Selamat bernostalgia dengan Malang yang pernah mendapatkan julukan sebagai Kota Dingin, layaknya julukan Switzerland-nya Pulau Jawa yang pernah diberikan orang-orang Eropa.

Sejarah Desa Jatisari Tajinan dan Tujuh Orang Sakti dari Pati

Sejarah Desa Jatisari Tajinan dan Tujuh Orang Sakti dari Pati
Sejarah Desa Jatisari Tajinan dan Tujuh Orang Sakti dari Pati

Desa Jatisari, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang menyimpan sejarah panjang yang tak banyak diketahui masyarakat. Kehadiran tujuh orang sakti dari Pati, Jawa Tengah melatarbelakangi terbentuknya desa tersebut.

Dalam artikel Sejarah Asal Usul Desa Jatisari Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang yang diunggah pada 18 Maret 2017, diceritakan ada tiga nama yang pertama datang dari Pati. Mereka adalah KH Abdul Wahab (Buyut Timah), Buyut Sareh, dan Buyut Marwie. Ketiganya yang diyakini sebagai orang yang melakukan babat alas hutan belantara di wilayah tersebut untuk dijadikan sebuah perkampungan. KH Abdul Wahab sendiri mendapatkan julukan Buyut Timah setelah berhasil menaklukkan para makhluk halus penghuni hutan jati yang dibabatnya dengan kesaktian.

Nama Desa Jatisari diambil dari pohon Jati yang banyak tumbuh di hutan belantara, sebelum Buyut Timah dan dua kawannya melakukan babat alas. Pohon-pohon Jati itu kemudian ditebang habis hingga tinggal sarinya. Akhirnya, nama Jatisari dipilih untuk menamai desa anyar tersebut.

Setelah terbentuk perkampungan di Desa Jatisari, KH Abdul Wahab dan kedua kawannya yang juga memiliki kesaktian juga menyebarkan agama Islam kepada mereka yang berdatangan ke perkampungan tersebut. Selain itu, mereka juga diajarkan ilmu kanuragan.

Selang beberapa lama, datanglah empat orang lagi dari Pati, Jawa Tengah. Mereka adalah Buyut Jum’ah, Mbah Landou, Mbah Sambisari (KH Umar) dan Syeh Mahmudi bin Yusuf (Mbah Jagopati dari Serang, Banten). Buyut Jum’ah ini merupakan seorang musafir yang bertujuan melakukan silaturahmi kepada sahabat-sahabatnya. Mbah Landou juga memiliki kesaktian, di mana bisa menghidupkan kerbau yang mati demi bisa dipakai membajak sawah sementara, lalu dikembalikan ke tempatnya dalam keadaan mati. Mbah Sambisari akhirnya memilih membuka perkampungan anyar di Japanan, sedangkan Mbah Jagopati diminta Buyut Timah untuk menetap di Gunung Gelap (yang sekarang menjadi area pemakaman.

Sumber: desajatisari-tajinan-malang.blogspot.co.id

Jalan Sukarjo Wiryopranoto, Jalur Searah Menuju Pasar Besar

Jalan Sukarjo Wiryopranoto, Jalur Searah Menuju Pasar Besar (C) JALANJALANDIKOTAMALANG
Jalan Sukarjo Wiryopranoto, Jalur Searah Menuju Pasar Besar (C) JALANJALANDIKOTAMALANG

Jalan Sukarjo Wiryopranoto, atau yang disingkat SW Pranoto merupakan salah satu jalur searah di Kota Malang. Jalan yang masuk dalam wilayah administratif Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang ini merupakan salah satu jalan masuk utama menuju area Pasar Besar Kota Malang dari arah utara.

Nama jalan ini diambil dari nama seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia bernama Sukarjo Wiryopranoto yang lahir di Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah, 5 Juni 1903. Usai taman dari Sekolah Hukum pada tahun 1923, ia kemudian bekerja di Pengadilan Negeri di beberapa kota, hingga pada akhirnya mendirikan sebuah kantor pengacara ‘Wisnu’ di Malang. Sukarjo yang sempat menjadi anggota Volksraad pada tahun 1931, dan bersama Dr. Soetomo mendirikan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), juga menjabat sebagai Perwakilan Tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), hingga meninggal di New York, Amerika Serikat, 23 Oktober 1962 pada usia 59 tahun.

Jalan Sukarjo Wiryopranoto membentang dari utara ke selatan dengan panjang sekitar 150 meter. Karena searah, Anda cuma bisa masuk ke jalan ini melalui arah utara saja. Ujung utara jalan ini merupakan sebuah perempatan ramai di pojokan Alun-alun Kota Malang, yang dikenal dengan sebutan Perempatan Pos Polisi Mitra. Meski berawal di sebuah perempatan, masuk ke Jalan ini hanya bisa melalui Jalan Merdeka Timur (jalan yang ada di sisi timur Alun-alun Malang), lurus ke selatan. Sementara jalan di timur (Jalan KH Agus Salim), dan baratnya (Jalan Merdeka Selatan) merupakan jalan searah yang tidak memiliki akses ke Jalan SW Pranoto.

Deretan pertokokan dan tempat usaha mendominasi sepanjang Jalan Sukarjo Wiryopranoto, utamanya di sisi timur jalan. Ada Toko Sinar Mulia, Putra Jaya Electronic, Cellini Design Center, Bandung Store, RA Jeans & RA Hijab Malang, Stars Malang 2, Toko Pecah Belah Sinar Jaya, Dealove Fair Price Boutique, Toko CD Audio Original Kawan, Trend Shop, Optik Internasional, Pusat Ban dan Velg Mobil Kota Malang, Vista Optik, dan lain-lain. Sementara di sisi barat jalan ada Toko Hitachi Sinar Jaya, Sari Apotek, Agen Xamthone Plus Malang, Toko Obral, Pasifik Stationary, Kimia Farma 77 Pasar Besar, Electronic Banking Center, LEA Original Store, Kirana Perlengkapan Salon, Duta Fashion, Optik Melawai, dan lain-lain.

Ujung selatan Jalan Sukarjo Wiryopranoto ini berakhir di sebuah perempatan dengan sebuah tiang papan iklan di tengahnya. Dari perempatan ini Anda bisa ambil jalur kanan untuk lurus ke selatan menuju Jalan Sutan Syahrir, atau ambil jalur kiri untuk berbelok ke timur (kiri) menuju Jalan Pasar Besar. Namun, Anda dilarang berbelok ke barat (kanan) menuju ke Jalan Ade Irma Suryani, karena jalan tersebut jalur searah dari barat ke timur.

Top 7 Kuliner Khas Jawa Tengah yang Ada di Malang

Lumpia Sematang, salah satu Kuliner Khas Jawa Tengah yang Ada di Malang (C) WIKIHOW
Lumpia Sematang, salah satu Kuliner Khas Jawa Tengah yang Ada di Malang (C) WIKIHOW

Kota Malang tak melulu didominasi oleh kuliner khas setempat. Ada pula kuliner luar Kota Malang, seperti kuliner khas Jawa Tengah misalnya.

Soal cita rasa, jangan diragukan lagi, tentu tak kalah dengan darah lainnya di Indonesia. Kuiner khas Jawa Tengah ini mendapatkan perhatian khusus dari para pencinta kuliner lokal maupun mancanegara karena rasanya yang sesuai dengan lidah. Tentunya, kuliner-kuliner tersebut dapat mengobati kerinduan para perantau asal Jawa Tengah yang sedang mengadu nasib di kota ini.

Beberapa makanan khas Jawa Tengah ini mungkin sudah Anda ketahui, namun bisa jadi ada beberapa makanan pula yang belum pernah dicicipi. Anda tak perlu jauh-jauh ke Jawa Tengah sana untuk mencobanya satu persatu, karena di Kota Malang sudah ada penjualnya. Berikut ini top 7 makanan khas Jawa Tengah yang ada di Kota Malang.

1. Lumpia Semarang

Kota Semarang memiliki makanan khas yang sudah banyak dikenal masyarakat Malang, yakni Lumpia Semarang. Kuliner ini enak disantap saat masih hangat. Tentu enak dijadikan camilan di antara dinginnya hawa kota ini.

Lumpia Semarang memiliki isi yang bermacam-macam. Di dalamnya, Anda bisa menemui aneka isi, seperti ayam, rebung, telur, sayuran, udang, dan lain-lain.

Anda bisa membeli kuliner ini di Lumpia Semarang Mbak Sari yang ada di Perumahan Pondok Blimbing Indah, Jalan Blimbing Indah Utara Blok D1 No. 1, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Ada juga di Depot Hok Lay, di Jalan KH Ahmad Dahlan No. 10, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

2. Tahu Petis

Selain lumpia, Semarang juga punya kuliner khas bernama Tahu Petis. Camilan satu ini juga cocok disantap ketika hangat, atau pun dingin.

Tahu petis tentu saja bahan dasarnya adalah tahu, yang digoreng hingga kuning kecoklatan. Yang membedakan tahun ini dengan tahunya adalah bumbu petis, yang terbuat dari kuah rebusan ikan atau udang yang dimasak hingga mengental.

Jika ingin menikmati kuliner satu ini, datang saja ke Tahu Petis Lesehan Mbah Soe, di Jalan Tawangmangu No. 29A, Kelurahan Lowokwaru, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Pilihan lainnya ada di Tahu Petis Paradise, di Jalan Tlogo Indah No. 41, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

3. Nasi Gandul

Mau kuliner berat-berat, ada Nasi Gandul yang merupakan makanan khas Pati. Nasi ini mirip dengan Nasi Uduk, yang disajikan menggunakan daun pisang.

Jika dicicipi rasa gurih bakal mendominasi lidah Anda. Sebab, ada campuran daun pandan di dalam nasi ini, yang menciptakan sensasi wangi yang menggugah selera. Sekadar saran, Nasi gandul ini paling nikmat jika dimakan dengan kuahnya yang segar. Ditambah dengan lauk-pauk berupa daging sapi yang sudah diolah sedemikian rupa, sehingga makin lengkaplah kelezatannya.

Anda bisa mencicipinya di Warung Nasi Gandul Mbak Kitut, yang ada di Jalan Patimura No. 34, Kelurhan Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

4. Nasi Liwet

Kota Solo menawarkan kuliner andalannya, yaitu Nasi Liwet. Bedanya dengan Nasi Gandul tadi adalah penyajian dan bahan pelengkapnya saja.

Nasi Liwet ini disajikan dengan potongan ayam dan kadang pakai labu siam juga. Nasi ini dimasak dengan cara khusus, yakni diliwet. Beras dimasak bersama santan dari kelapa yang sudah tua agar makin gurih rasanya.

Kalau tertarik dengan kuliner ini, Anda bisa mendatangi Nasi Liwet Wong Solo, di Sentra kuliner De Cluster Nirwana, Kav D12, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Ada pula di Nasi Liwet Sulfat, di Jalan Sulfat Agung V No. 21, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

5. Soto Kudus

Soto Kudus, sesuai namanya merupakan varian soto yang berasal dari Kudus. Perbedaan paling mencolok soto ini dengn soto lainnya adalah penyajiannya yang menggunakan mangkok kecil.

Yang menarik, Soto Kudus ada yang menggunakan pelengkap daging ayam, ada pula yang memakai daging kerbau. Yang terakhir tentu memiliki sensasi tersendiri bagi sebagian orang yang baru mencicipi bagaimana rasanya daging kerbau.

Untuk merasakan sensasinya, Anda bisa mendatangi Warung Soto Kudus Cemara3, di Jalan Danau Sentani F3 1A, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Atau pilihan lainnya di Warung Soto Kudus & Rawon, di Jalan Bondowoso No. 37, Kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

6. Nasi Grombyang

Nasi grombyang merupakan kuliner khas Jawa Tengah, tepatnya berasal dari daerah Pemalang. Namanya yang cukup unik berasal dari penyajiannya yang lebih banyak kuah daripada isinya, sehingga isi mangkoknya terlihat bergoyang oleh kuah, atau grombyang-grombyang.

Dalam kuahnya yang tak terlalu kental berisikan daging kerbau, dan nasi. Penyajiannya menggunakan mangkuk kecil dan sate kerbau sebagai pelengkapnya.

Nasi Grombyang Kopaksus yang ada di Jalan Sudimoro No. 19, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang merupakan salah satu warung penjual kuliner ini di Kota Malang.

7. Garang Asem

Garang asem merupakan makanan khas dari Semarang, Kudus, Demak, Pekalongan, dan juga Pati. Kuliner ini merupakan olahan daging ayam yang dimasak menggunakan santan kelapa dan daun pisang sebgai pembungkusnya.

Seperti namanya, kuliner satu ini memiliki rasa yang asam, bercampur dengan pedas. Garang Asem biasa dinikmati bersama dengan nasi dan juga lauk-pauk lainnya, seperti ayam bumbu asam manis, tempe goreng, atau perkedel.

Dari Banyuwangi ke Malang Naik Pesawat, Ini Infonya

Dari Banyuwangi ke Malang Naik Pesawat, Ini Infonya (C) TRIBUN SOLO
Dari Banyuwangi ke Malang Naik Pesawat, Ini Infonya (C) TRIBUN SOLO

Apakah Anda ingin berpergian dari Banyuwangi ke Malang? Selain dengan bus atau kereta api, Anda bisa juga mencoba moda transportasi lain, pesawat misalnya.

Banyuwangi memiliki bandar udara bernama Bandara Blimbingsari yang ada di wilayah Desa Blimbingsari, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi. Bandara itu dibangun mulai 2004-2008, sebelum akhirnya diresmikan penggunaannya pada tahun 2010.

Sementara itu, bandar udara di Malang terletak di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, bernama Bandara Abdulrachman Saleh. Bandara yang juga merupakan pangkalan TNI Angkatan Udara ini berada di sisi timur Kota Malang.

Meski Banyuwangi dan Malang sama-sama memiliki bandara, belum ada satupun maskapai penerbangan yang melayani rute penerbangan dari Banyuwangi ke Malang, atau pun sebaliknya. Yang ada hanyalah penerbangan tidak langsung, sehingga Anda harus transit terlebih dahulu sebelum mendarat di Malang.

Ada dua penerbangan terdekat dengan transit tersingkat dari Banyuwangi ke Malang. Kedua penerbangan itu sama-sama transit satu kali saja, yakni di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng (CGK) Jakarta. Selain menggunakan dua rute penerbangan itu, Anda harus transit minimal dua kali di bandara lain.

Untuk tiketnya bisa dipesan secara online sesuai empat maskapai penerbangan yang ada. Yang jelas penerbangan tak langsung (dengan transit) ini harga tiketnya lebih mahal ketimbang penerbangan langsung. Anda bisa juga memesan tiket melalui situs-situs penyedia layanan pemesanan tiket. Harga tiket bisa Anda lihat juga di sana sekalian.

Berikut ini jadwal lengkap penerbangan dari Banyuwangi ke Malang.

1. Maskapai Penerbangan Garuda
Pesawat Garuda GA-265 (kelas ekonomi)
Jenis pesawat: Aircraft Bombardier CR1000 (regional jet)
Keterangan: Seat layout 2-2, Seat pitch 31 inches (di atas standard), Cabin baggage 7 kg, Baggage 20 kg, In-flight meal
Berangkat dari Bandara Blimbingsari Banyuwangi (BWX) pukul 12.45 WIB
Mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng (CGK) pukul 14.20 WIB
Transit 17 jam, 55 menit di Jakarta
Pesawat Garuda GA-290 (kelas ekonomi)
Jenis pesawat: Aircraft Boeing 737
Keterangan: Seat layout 3-3, Seat pitch 31 inches (di atas standard), Cabin baggage 7 kg, Baggage 20 kg, In-flight meal, In-flight entertainment
Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng (CGK) pukul 08.15 WIB (keesokan harinya)
Mendarat di Bandara Abdulrachman Saleh, Pakis, Kabupaten Malang (MLG) pukul 10.10 WIB (keesokan harinya)

2. Maskapai Penerbangan Garuda
Pesawat Garuda GA-265 (kelas ekonomi)
Jenis pesawat: Aircraft Bombardier CR1000 (regional jet)
Keterangan: Seat layout 2-2, Seat pitch 31 inches (di atas standard), Cabin baggage 7 kg, Baggage 20 kg, In-flight meal
Berangkat dari Bandara Blimbingsari Banyuwangi (BWX) pukul 12.45 WIB
Mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng (CGK) pukul 14.20 WIB
Transit 20 jam, 20 menit di Jakarta
Pesawat Garuda GA-292 (kelas ekonomi)
Jenis pesawat: Aircraft Boeing 737
Keterangan: Seat layout 3-3, Seat pitch 31 inches (di atas standard), Cabin baggage 7 kg, Baggage 20 kg, In-flight meal, In-flight entertainment
Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng (CGK) pukul 10.40 WIB (keesokan harinya)
Mendarat di Bandara Abdulrachman Saleh, Pakis, Kabupaten Malang (MLG) pukul 12.25 WIB (keesokan harinya)

Misteri Tangisan dari dalam Goa Jepang di Tlekung

Misteri Tangisan dari dalam Goa Jepang di Tlekung (C) KOSKAS MALANG
Misteri Tangisan dari dalam Goa Jepang di Tlekung (C) KOSKAS MALANG

Goa Jepang yang ada di Dusun Gangsiran, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo diyakini sebagai salah satu tempat angker di Kota Batu. Konon dari dalam goa tersebut kerap terdengar tangisan dan suara-suara meminta tolong.

Kabarnya, Goa Jepang ini memiliki 12 pintu masuk. Setiap lorong di dalamnya yang jumlahnya ada tujuh juga memiliki pintu keluar masing-masing. Namun, pintu keluar yang tembus ke tanah milik warga kini sudah ditutup, tinggal menyisakan dua saja yang masih terbuka sebagai pintu masuk dan pintu keluar.

Dulunya, tentara Jepang memakai Goa Jepang sebagai tempat penyimpanan bahan makanan dan persenjataan. Kebetulan di dekat lokasi goa tersebut terdapat rumah-rumah peninggalan Belanda, sehingga harta benda dari rumah-rumah tersebut juga disimpan di dalam goa.

Masyarakat setempat tak banyak yang mengetahui kapan persisnya goa tersebut dibangun. Ketika rombongan pekerja paksa yang dibawa dari luar Kota Batu itu tiba, warga desa sudah mengungsi ke tempat lain, sehingga mereka tak banyak yang mengetahui proses pembangunannya. Namun, dari cerita para sesepuh Desa Tlekung, goa itu dibangun pada masa penjajahan Jepang, sekitar tahun 1942. Pembangunannya diyakini dengan cara kerja paksa ala Jepang, alias Romusha.

Sebagaimana kaum penjajah, tentara Jepang memperlakukan para pekerja paksa yang membangun Goa Jepang dengan tidak manusiawi. Mereka tak diberi makanan, disiksa, dipukuli, dicambuk, bahkan dibunuh. Pekerja paksa yang membangun goa itu tak cuma kaum pria saja, karena tentara Jepang juga melibatkan kaum wanita sebagai juru masak. Perlakukan tidak senonoh pun diterima para wanita yang didatangkan dari luar Kota Batu itu. Mereka diminta melayani nafsu para tentara Jepang, sebelum akhirnya dibunuh.

Karena kekejaman tentara Jepang itu, diyakini ratusan nyawa melayang dalam proses pembangunan Goa Jepang ini. Tak heran jika arwah mereka bergentayangan hingga kini. Menurut cerita warga setempat, mereka kerap mendengar suara tangisan dan teriakan meminta tolong.

Pabrik Gula Panggungrejo yang Kini Jadi Markas Tentara

Pabrik Gula Panggungrejo yang Kini Jadi Markas Yonzipur 5 (C) INDOPLACES
Pabrik Gula Panggungrejo yang Kini Jadi Markas Yonzipur 5 (C) INDOPLACES

Tak banyak mengetahui jika Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang pernah memiliki sebuah pabrik gula yang kini menjadi markas tentara di Desa Panggungrejo. Ya, Pabrik Gula Panggungrejo pernah eksis di masanya, yakni sekitar akhir abad 18 (tahun 1890-an).

Lokasi Pabrik Gula Panggungrejo itu kini berubah menjadi kompleks markas Batalyon Zeni Tempur 5 alias Yonzipur 5. Lokasinya berada tak jauh dari perempatan di ujung selatan Jalan Panji, Kepanjen.

Di lokasi kompleks markas Yonzipur itu dulu berdiri dengan megah sebuah Suiker Fabrieks (Pabrik Gula) Panggoengredjo. Pabrik gula itu didirikan pada tahun 1898. Pendiri sekaligus pemiliknya adalah NV. Cultuur Misj Panggoengredjo.

Nasib Pabrik Gula Panggungrejo tak ada bedanya dengan Pabrik Gula Sempalwadak yang gagal ‘bertahan hidup’ saat terjadinya Perang Dunia Kedua dalam kurun waktu 1942-1945. Kedua pabrik gula tersebut akhirnya sama-sama hancur tak berbekas rata dengan tanah.

Diputusnya jalur kereta api dari Gondanglegi ke arah Kepanjen pada masa pendudukan penjajah Jepang sejak 1942 juga diyakini sebagai salah satu penyebab matinya pabrik gula tersebut. Seperti diketahui, dulu pabrik-pabrik gula di Malang saling dihubungkan dengan rel kereta api sebagai jalur lewatnya lori yang mengangkut tebu sebagai bahan baku pembuatan gula, serta hasil produksi yang biasa disalurkan ke daerah-daerah lainnya.

Jika bekas Pabrik Gula Panggungrejo menjadi lokasi kompleks markas militer, beda cerita dengan bekas kebun tebu sebagai aset pabrik gula tersebut. Kebun-kebun tebu itu kini masih dikelola oleh Pabrik Gula Krebet dan Kebun Agung, dua pabrik gula yang masih eksis di Malang hingga kini.

Institut Sains dan Teknologi Palapa (ISTP) yang Kampusnya Berpindah-pindah

Institut Sains dan Teknologi Palapa (ISTP) yang Kampusnya Berpindah-pindah (C) SLAMET RIYADI
Institut Sains dan Teknologi Palapa (ISTP) yang Kampusnya Berpindah-pindah (C) SLAMET RIYADI

Institut Sains dan Teknologi Palapa (ISTP) merupakan salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ada di Malang. Menariknya, lokasi perkuliahan kampus ini sering berpindah-pindah.

Sebelum menyewa gedung SMK Madani di Jalan Diponegoro No. 128A, Desa Girimoyo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, kampus ini menempati gedung di Jalan Batu Permata No. 1, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Sebelumnya, kampus ini juga sempat memakai gedung di Jalan Raya Sengkaling, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Institut Sains dan Teknologi Palapa Malang berdiri pada 16 Desember 2000. Tanggal itu pula lah yang sering diperingati pihak ISTP sebagai hari diesnatalis kampus mereka.

Menariknya, sejak tahun 2016, institut ini berstatus dalam pengawasan dan pembinaan Kemenristek Dikti (Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi). Pembinaan ini dilakukan lantaran kampus tersebut belum memiliki gedung sendiri untuk kegiatan perkuliahan. Saat ini, Institut Sains dan Teknologi Palapa dipimpin seorang rektor bernama Awanto Twui Wibowo, S.Kom., MT., MMT.

Di dalam institut satu ini, terdapat program Sarjana 1 yang terdiri dari Program Studi Teknik Kimia, Teknik Industri, Statistika, dan Teknik Informatika. Ada pula Program D-III dengan program studi Teknik Komputer.

SMK Madani yang gedungnya disewa oleh Institut Sains dan Teknologi Palapa memiliki dua lantai. Lokasinya tak jauh dari Rest Area Karangploso. Karena ‘menumpang’, kegiatan perkuliahan di kampus ini diselenggarakan setiap Kamis, Jumat, Sabtu, pada pukul 14.00-20.00 WIB. Saat memasuki area sekolah tersebut Anda dapat melihat papan nama ISTP di pintu masuk. Pada tembok pagar SMK tersebut juga dipasang papan nama ISTP dengan alamat kampus lama di Jalan Raya Sengkaling. Di situ tertara nomor telepon dan faksimile ISTP di (0341) 582134

Menguak Asal-usul Situs Lembu Peteng di Desa Karangkates

Menguak Asal-usul Situs Lembu Peteng di Desa Karangkates (C) SUMBERPUCUNG17
Menguak Asal-usul Situs Lembu Peteng di Desa Karangkates (C) SUMBERPUCUNG17

Situs Lembu Peteng terletak di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Tak banyak masyarakat sekitar yang mengetahui asal-usul situs purbakala tersebut, sehingga keberadaannya masih menjadi sesuatu yang misterius bagi mareka.

Kawasan Lembu Peteng di Desa Karangkates itu berupa hamparan lahan pertanian yang cukup luas. Di antara hamparan lahan pertanian itu terdapat satu lokasi yang disakralkan masyarakat setempat. Mereka menyebutnya brak atau bangunan joglo yang lebih dikenal dengan sebutan situs Lembu Peteng. Pada situs tersebut terdapat benda purbakala berupa lumpang batu, pohon beringin, dan sumber Pacet yang sayangnya kini sudah terendam Bendungan Lahor.

Warga sekitar kerap mengadakan kegiatan Sadranan dan kelompok tani di situs Lembu Peteng tersebut. Mereka mengadakannya sebagai salah satu bentuk rasa syukur atas rezeki yang bisa dinikmati pasca-panen. Salah satu cara yang mereka lakukan dengan menggelar barikan dan tandakan, yang juga dihadiri para pejabat pemerintahan hingga rakyat biasa.

Nama Lembu Peteng ini diyakini warga setempat berasal dari kata Lumbu Peteng. Nama itu dipilih karena berawal dari adanya tanaman Lumbu yang banyak tumbuh di bawah pohon beringin yang sangat rindang dan gelap (atau dalam Bahasa Jawa disebut peteng). Lama kelamaan, sebutan Lumbu Peteng itu bergeser menjadi Lembu Peteng.

Ada pula yang menyebutkan asal-usul nama Lembu Peteng berasal dari seekor lembu (kerbau) yang nyasar ke area bawah pohon beringin yang terkenal gelap (dalam Bahasa Jawa: peteng). Lembu milik warga yang lepas itu tiba-tiba saja menghilang di bawah pohon dan tidak pernah kembali. Daerah itu pun dinamakan Lembu Peteng.

Jika melihat Kitab Negarakertagama, kawasan situs Lembu Peteng diyakini sebagai kawasan yang ditinggali seorang pejabat pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit. Banyak hal yang menguatkan dugaan tersebut, mulai dari keberadaan pohon beringin, lumpang batu, dan brak. Lumpang batu dikenal sebagai tempat untuk pengolahan hasil bumi (padi/jagung). Pohon beringin dipercaya sebagai simbol kebesaran yang ada di rumah pejabat kerajaan. Brak merupakan tempat kegiatan (barikan/tandakan). Sementara hampara persawahan sendiri merupakan wujud dari kesejahteraan yang diberikan para pembesar kerajaan.

Pada Kitab Negarakertagama pupuh 88 bagian ke 2 dan 3 disebutkan, “Berkatalah Sri nata Wengker di hadapan para pembesar dan wadana: ‘Wahai, tunjukkan cinta serta setya baktimu kepada baginda raja, cintailah rakyat bawahanmu dan berusahalah memajukan dusunmu, jembatan, jalan raya, beringin, bangunan dan candi supaya dibina. Terutama dataran tinggi dan sawah, agar tetap subur, peliharalah,”. Sedangkan dalam Kitab Negarakertagama pupuh 91 bagian 1 disebutkan, “Pembesar daerah ingin membadut dengan para lurah, Diikuti lagu, sambil bertandak memilih pasangan, Solah tingkahnya menarik gelak, menggelikan pandangan,”.

Nama Lembu Peteng juga disebutkan dalam Kitab Pararaton. Menurut kitab tersebut, Lembu Peteng adalah salah seorang anak dari Arya Wiraraja, Adipati Sumenep yang banyak jasanya dalam awal pendirian Kerajaan Majapahit. Bersama Gajahmada, ia turut berjuang menumpas pemberontakan di berbagai wilayah Kerajaan Majapahit. Atas jasa-jasanya, itu ia pun diangkat menjadi Tumenggung.

Dalam Kitab Pararaton bagian 5 disebutkan, “(anak Wiraraja yang bernama Nambi, Peteng (yang dimaksud adalah Lembu Peteng) dan Wirot (yang dimaksud adalah Wirot Made), semua prajurit baik, melawan tentara Daha di bagian utara itu, dikejar diburu oleh Raden Wijaya,”. Sedangkan dalam Kitab Pararaton bagian 9 disebutkan, “Setelah Kembar kembali dari Sadeng, lalu menjadi bekel araman, Gajah Mada menjadi Angabehi, Jaran Baya, Jalu, Demang Bucang, Gagak Nunge, Jenar dan Arya Rahu mendapat pangkat, Lembu Peteng menjadi Tumenggung,”.

Jika benar sosok Lembu Peteng (yang merupakan seorang Tumenggung) pernah tinggal di kawasan situs Lembu Peteng, maka kuat dugaan kawasan tersebut merupakan bekas Katemenggungan. Bukti keberadaan hamparan persawahan, pohon beringin, sumber Pacet (yang sayangnya kini sudah menghilang), lumpang batu, dan tradisi barikan dan tandakan yang masih digelar di brak, makin menguatkan dugaan tersebut.

The 101 Malang OJ, Hotel Bintang Empat yang Komplet

The 101 Malang OJ, Hotel Bintang Empat yang Komplet (C) PENGINAPAN.NET
The 101 Malang OJ, Hotel Bintang Empat yang Komplet (C) PENGINAPAN.NET

The 101 Malang OJ Hotel yang sebelumnya bernama Best Western OJ Hotel merupakan franchise salah satu jaringan hotel terbesar di Britania Raya yang ada di Malang. Hotel berbintang empat ini bisa disebut penginapan dengan fasilitas yang komplet yang disediakan untuk pengunjung.

Hotel ini menawarkan konsep penginapan dengan desain modern dan elegan. The 101 Malang OJ Hotel menyediakan 129 kamar dengan empat tipe kamar dengan standar bintang empat yang bisa Anda pilih. Ada tipe Deluxe Room, Family Deluxe Room, Executive Room, dan Junior Suite Room. Setiap kamar yang ditawarkan sudah dilengkapi fasilitas terbaik, seperti TV layar datar dengan channel internasional, AC (pendingin ruangan), Wi-Fi gratis, alat pembuat kopi, minibar, peralatan mandi komplet, tempat tidur twin atau king size, dan lain-lain.

Selain pelayanan yang profesional dari para karyawannya, hotel yang dibangun di kawasan Rampal Celaket, Kecamatan Klojen, tak jauh dari pusat Kota Malang pada tahun 2013 ini memiliki fasilitas terbaik di kelasnya. Para tamu yang menginap akan menemukan kolam renang, pusat olahraga atau pusat kebugaran, dan restoran dengan menu pilihan di lantai teratas. Selain itu, hotel berlantai 12 ini mempunyai ruang pertemuan dengan kapasitas mencapai 320 orang.

Dengan hanya 650 ribu rupiah permalam, Anda bisa menginap di kamar dengan tipe Deluxe Room, dengan fasilitas TV layar datar, AC, kamar mandi pribadi, balkon, meja kerja, sofa, lemari, shower, mini bar, lemari es, ketel listrik, ranjang double/twin. Untuk tipe Family Deluxe Room dibandrol 860 ribu rupiah permalam, dengan fasilitas TV layar datar, AC, kamar mandi pribadi, balkon, meja kerja, sofa, lemari, shower, mini bar, lemari es, ketel listrik, ranjang double/twin. Sementara tipe Executive Room harganya 1.080.000 rupiah permalam, mendapatkan fasilitas TV layar datar, AC, kamar mandi pribadi, balkon, meja kerja, sofa, lemari, shower, mini bar, lemari es, ketel listrik, ranjang double/twin. Sedangkan untuk tipe Junior Suite Room, yang fasilitasnya TV layar datar, AC, kamar mandi pribadi, balkon, meja kerja, sofa, lemari, shower, mini bar, lemari es, ketel listrik, ranjang double/twin, harganya 1.560.000 rupiah permalam.

Aturan check-in di The 101 Malang OJ Hotel ini dimulai pukul 14.00 WIB, sedangkan check-out-nya pukul 12.00 WIB. Aturan lainnya, pengunjung hotel tidak diperbolehkan membawa binatang peliharaan apa pun selama menginap.

Terletak di Jalan Dr. Cipto No. 11, Kelurahan Rampal Celaket, Kecamatan Klojen, Kota Malang, lokasi The 101 Malang OJ Hotel memang strategis. Cukup 15 menit saja dari Bandara Abdulrachman Saleh, Pakis, Kabupaten Malang. Ada spot-spot menarik di Kota Malang yang tak jauh dari hotel ini, misalnya Alun-alun Tugu, Alun-alun Kota Malang, Rumah Sakit Saiful Anwar, Stasiun Malang Kotabaru, Malang Town Square, Lapangan Rampal, dan lain-lain.

Jika Anda tertarik meningap di The 101 Malang OJ Hotel, silakan datang saja ke lokasinya, atau reservasi kamar dulu melalui nomor telepon (0341) 368888. Anda juga bisa melakukan reservasi kamar melalui aplikasi penyedia akomodasi populer.

STAY CONNECTED

975FansSuka
196PengikutMengikuti
57PengikutMengikuti

POPULER