Lembah Tumpang Resort Tawarkan Liburan Ala Keluarga Kerajaan

Lembah Tumpang Resort di Kecamatan Tumpang (C) @ANNAZIRA
Lembah Tumpang Resort di Kecamatan Tumpang (C) @ANNAZIRA

Jika Anda ingin menikmati liburan ala keluarga kerajaan tempo dulu, maka Lembah Tumpang Resort jawabannya. Resort yang berada di wilayah Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang ini bisa menjadi alternatif bagi Anda yang ingin menikmati sensasi berlibur yang jauh dari hiruk-pikuk suasana perkotaan.

Daya pikat Lembah Tumpang Resort ini adalah beberapa kolam renang yang ditawarkan. Selain karena airnya yang jernih, terdapat bangunan candi kecil yang berada tepat di tengah-tengah kolam renang utamanya. Khusus untuk fasilitas kolam renang ini Anda dikenakan tiket masuk sebesar 40 ribu rupiah saja.

Di sekitar kolam renang di resort yang dibangun mulai tahun 2014 itu terdapat berbagai arsitektur bangunan yang kental dengan ornamen arca khas kerajaan tempo dulu. Ada pula beberapa patung megah yang konon dibangun dengan waktu kurang dari satu bulan saja.

Dibangun di atas lahan seluas 20 hektar, Lembah Tumpang Resort juga menyediakan area berkemah. Di tempat ini Anda juga bisa melakukan kegiatan outbond dengan pemandu yang sudah disediakan.

Harga kamar di resort ini berkisar 350 ribu hingga 1 juta rupiah permalamnya. Dengan harga tersebut, Anda sudah bisa mendapatkan hunian yang nyaman dengan nuansa pedesaan pada zaman kerajaan Hindu tempo dulu.

Lembah Tumpang Resort juga punya restoran dengan aneka makanan lezat dan harga yang terjangkau tiap porsi yang ditawarkan. Karena letaknya yang berada di lereng Gunung Semeru, selain dapat menikmati santapan lezat, Anda bisa juga mendapatkan bonus pemandangan indah khas pegunungan dengan hawa yang sejuk pula. Apalagi di sekitar restorannya juga terdapat taman di mana Anda bisa menikmati makanan secara outdoor.

Resort satu ini terletak di Desa Slamet, Kecamatan Tumpang, yang selama ini dikenal sebagai gerbang bagi para pendaki yang hendak ke Gunung Semeru atau Gunung Bromo. Mereka lah yang menjadi target utama bagi Lembah Tumpang Resort ini.

Cicipi Kesegaran Susu di Kedai Milk Story

Susu Milk Story kemasan botol (C) FOODY,ID
Susu Milk Story kemasan botol (C) FOODY,ID

Milk Story merupakan salah satu kedai susu ternama di Malang. Dengan kesegaran susunya, kedai ini bisa menjadi surga bagi para pecinta susu di kota tersebut.

Susu segar menjadi menu andalan kedai susu ini. Selain itu, Anda bisa juga mencoba menu lain, seperti yogurt, fozen yogurt, susu yogurt, es krim, dan milkshake dengan berbagai macam rasa yang ditawarkan. Ada rasa cokelat, strawberry, vanilla, mocca dan lain-lain.

Aneka minuman susu ini diracik oleh tangan-tengan ahli dengan teknik yang terpercaya. Susu sebagai bahan dasarnya pun didatangkan langsung dari peternakan sapi dengan contoh yang sangat higiensis, sehingga dijamin menyehatkan bagi tubuh kita.

Tak cuma susu, di kedai susu Milk Story ini Anda bisa juga mencicipi aneka makanan ringan sebagai pendamping susu yang dipesan. Mulai dari pancake, french fries, burger dan lain-lain.

Kedai susu Milk Story ini merupakan salah satu tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu istirahat siang, nongkrong di malam hari, atau pun sekadar berbincang-bincang dengan siapa pun yang Anda ajak ke sini. Apalagi, terdapat fasilitas seperti colokan listrik dan wifi gratis sebagai daya tarik lain. Harga yang ditawarkan pun tak membuat kantong jebol. Aneka susu dan makanan ringan di tempat ini dibandrol dengan harga berkisar antara 7.000 hingga 20.000 rupiah.

Anda bisa datang ke kedai susu Milk Story yang ada di empat cabangnya di Malang Raya. Keempat cabang itu ada di Jalan Semeru No. 70, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jalan Gajayana No. 575, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jalan Diponegoro No. 11A, Kecamatan Klojen, Kota Malang, dan Jalan Panglima Sudirman No. 84, Kota Batu. Kedai susu ini buka mulai pukul 11.00 sampai 22.00 WIB.

Sabyan Punya Nissa, Malang Punya Aida

Aida sang juara Hafiz Indonesia 2018 (C) YOUTUBE
Aida sang juara Hafiz Indonesia 2018 (C) YOUTUBE

Grup Sabyan Gambus boleh punya vokalis perempuan cantik bersuara merdu bernama Nissa. Namun, warga Malang Raya patut berbangga juga karena punya Aida, sang juara pertama Hafiz Indonesia 2018 di sebuah stasiun televisi swasta yang suaranya tak kalah merdu kala melantunkan ayat-ayat suci Al Quran.

Acara yang dipandu Irfan Hakim ini digelar selama bulan Ramadan 1439 Hijriah dan menampilkan peserta 24 hafiz dan hafizah cilik dari seluruh Indonesia. Mereka beradu kemampuan dalam menghafalkan ayat-ayat suci Al Quran di hadapan para dewan juri yang terdiri dari Abi Amir Faisol, Nabila Abdul Rahim, Syekh Ali Jaber, dan Syekh Abdulkarim Almakki.

Dalam gelaran Wisuda Akbar pada Kamis (14/6/2018) siang, diumumkan bahwa Aida lah yang menjadi juara pertama Hafiz Indonesia 2018. Sedangkan juara kedua diraih oleh Muslim dari Mekah, dan juara ketiga untuk Aisyah dari Baturaja.

Aida yang bernama lengkap Zahra Fuaida Hakim itu mendapat nilai terbaik dengan menghafalkan total 13 juz. Bocah berusia sembilan tahun itu juga mendapat predikat Terfasih Hafalan (Afshah) di ajang tersebut. Gadis yang berasal dari Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang ini lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga sederhana. Aida bahkan punya cerita pilu di mana sampai saat ini keluarganya hidup dan tinggal di rumah kontrakan karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Namun demikian, semua itu tak menghalangi niatnya untuk membanggakan kedua orang tua dengan jalan menjadi juara Hafiz Indonesia 2018. Dengan tekad dan semangat itulah Aida berangkat ke Jakarta.

Sang Ayah bercerita, sebelum dihubungi pihak penyelenggara dan dinyatakan lolos ke Jakarta, pada suatu pagi Aida bilang kalau dirinya bermimpi melihat dirinya sendiri dipangku oleh Syekh Ali Jaber, salah seorang dewan juri Hafiz Indonesia 2018. Sang Ayah pun menegaskan jika niat mereka pergi ke Jakarta bukan untuk mencari kemenangan, tapi kalau memang sudah ditakdirkan maka mimpi Aida tersebut akan menjadi kenyataan. Benar saja, Aida pulang ke Malang membawa ijazah serta trofi juara Hafiz Indonesia 2018 yang tak hanya membanggakan bagi kedua orang tuanya, tapi juga bagi warga Malang Raya.

WW Musik, Supermarketnya Pecinta Musik di Malang

Suasana di dalam WW Musik di Jalan Kelengkeng (C) WWMUSIK
Suasana di dalam WW Musik di Jalan Kelengkeng (C) WWMUSIK

Tak banyak toko atau tempat yang menjual alat musik yang benar-benar memuaskan para pecinta musik di Malang. Salah satu dari yang sedikit itu adalah WW Musik yang tak cuma menjadi supermarket alat musik, tapi juga menyediakan jasa yang berhubungan dengan dunia musik.

Berdiri sejak 1994, awalnya supermarket ini hanya toko kecil yang hanya khusus menjual alat musik keyboard. Sejak tahun 1991, Wiwie yang pemilik toko sudah dipercaya sebagai product specialist, programmer dan demonstrator keyboard Korg di Malang. Wiwie sendiri dikenal sebagai musisi berpengalaman yang sudah punya nama di level nasional.

Seiring berkembangnya usaha toko musik ini, WW Musik pun melayani penjualan berbagai jenis alat musik. Tak cuma merk Korg, toko musik ini menyediakan merk-merk alat musik ternama seperti Kawai, Casio, Vox, Ibanez, Tama, Sabian, dan lain-lain.

Selain melayani penjualan alat musik berbagai jenis dan merk, WW Music juga menawarkan aneka jasa, seperti penjualan dan instalasi sound system, studio musik/rekaman/DJ dengan hardware dan software terkini, karaoke & computer music, servis/perbaikan, hingga perawatan alat musik. Selain itu, ada

WW Musik ini terletak di Jalan Kelengkeng No. 9, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Toko musik ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 18.00 WIB. Untuk informasi lebih lanjut Anda bisa menghubungi nomor (0341) 562230 atau 081231826684.

Tradisi Patrol Jelang Sahur yang Nyaris Punah

Tradisi Patrol untuk membangunkan orang sahur (C) SANGNANANG
Tradisi Patrol untuk membangunkan orang sahur (C) SANGNANANG

Patrol merupakan tradisi membunyikan musik kentongan untuk membangunkan orang sahur setiap bulan Ramadan. Disadari atau tidak, tradisi yang berasal dari Jawa Timur itu sudah nyaris punah di Malang.

Biasanya, sejak pukul 00.00 lebih, para personel grup patrol yang didominasi anak-anak sudah bersiap di satu titik. Mereka menyiapkan alat musik yang umumnya bersifat ritmis, seperti kentongan dari bambu, galon air minum, gendang buatan dari kaleng, jerigen, dan lain-lain. Tak beberapa lama kemudian, tim patrol pun berkeliling kampung dengan membunyikan alat musik yang beragam tersebut. Seraya membunyikan alat-alat musik itu dengan bersahut-sahutan, mereka pun berteriak, “Sahur, sahuurrr,” dengan nada yang seragam.

Tujuan mereka berkeliling kampung sambil memainkan alat musik sambil teriak-teriak ini tentu untuk membangunkan warga yang hendak makan sahur sebelum berpuasa. Keberadaan pasukan patrol ini tentu menguntungkan bagi warga yang tidurnya kadang terlalu pulas sehingga telat makan sahur.

Ketika sampai pada rumah seseorang yang dianggap spesial atau bagaimana, biasanya langsung dipanggil namanya. Mereka meneriakkan namanya sampai orang yang dimaksud benar-benar keluar atau menyahut dari dalam rumah sebagai tanda sudah bangun. Biasanya yang diperlakukan spesial ini adalah rumah kembang desa atau perempuan yang paling cantik di kampung tersebut.

Jika beruntung, biasanya pasukan patrol ini akan mendapat nasi atau sekadar kue dari warga sebagai ucapan terimakasih sudah membangunkan sahur. Namun jika apes, bisa jadi ada saja warga yang tak terima kemudian menyiramkan seember air ke arah mereka yang patrol, mungkin karena dianggap berisik.

Di Malang, mungkin tradisi ini masih ada di daerah pedesaan, tepatnya di wilayah Kabupaten Malang dan Kota Batu. Sementara di Kota Malang, bisa jadi patrol sudah nyaris punah. Salah satu indikasinya adalah semakin jarangnya terdengar suara tetabuhan dari musik khas ini jelang waktu sahur. Entah karena regenerasi yang kurang, minat anak-anak terhadap tradisi itu yang menurun, atau alasan lainnya. Warga kini lebih sering menggantungkan kapan mereka bangun untuk sahur pada pengumuman yang menggema dari speaker masjid atau mushola di kampungnya.

Malang Town Square, Mall di Kawasan Pendidikan Kota Malang

Saat pembangunannya, Malang Town Square pernah diprotes warga dan mahasiswa kampus sekitarnya (C) LIPPOMALLS
Saat pembangunannya, Malang Town Square pernah diprotes warga dan mahasiswa kampus sekitarnya (C) LIPPOMALLS

Jika diamati, ada bangunan tinggi menjulang yang cukup mencolok di Jalan Veteran, Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, yang disebut Malang Town Square (Matos). Tak begitu lazim ketika ada pusat perbelanjaan di daerah yang merupakan salah satu kawasan pendidikan di Kota Malang tersebut.

Bersama Jalan Bandung, Jalan Veteran merupakan serangkaian kawasan pendidikan di Kota Malang. Banyak lembaga pendidikan yang berdiri di sepanjang jalan tersebut. Mulai dari Universitas Negeri Malang yang gerbangnya tepat di depan bangunan Matos. Di sisi timur UM ada kompleks Sekolah Terpadu yang berisikan Bustanul Athfal Restu, MIN I Malang, MTsN I Malang dan MAN 2 (dulu MAN 3). Sementara di sisi barat UM ada SMA Negeri 8 Malang, SMP Negeri 4 Malang, dan SMK Negeri 2 Malang. Bahkan, di ujung Jalan Veteran ini berdiri tegak Kantor Dinas Pendidikan Kota Malang yang menegaskan jalan itu sebagai kawasan pendidikan di kota tersebut.

Malang Town Square yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan terlengkap di Kota Malang yang mengusung konsep family mall yang menyediakan kebutuhan seluruh anggota keluarga dalam satu tempat. Sebelum mulai dioperasikan pada tahun 2005, sebenarnya sempat mendapatkan penolakan dari warga sekitar dan terutama beberapa lembaga pendidikan yang berada di sekitar lokasi proyek pembangunan mall ini.

Pusat perbelanjaan yang merupakan keluarga besar jaringan Lippo ini terdiri dari empat lantai, di mana tiap lantainya menyediakan gerai-gerai yang menawarkan berbagai kebutuhan yang diperlukan masyarakat. Di lantai paling bawah terdapat Hypermart, Pizza Hut, Gramedia, Food Court, McDonald’s, Boston Drug Store, Kedai Si Mbok, Ice Cream, Holland Bakery, Bata, NOBU Bank, dan lain-lain. Naik ke lantai 1 ada Gramedia, Optik Melawai, Optik Seis, KFC, Bread Story, Loly Poly Accesories, Samsung, Stroberi, Pegadaian, Buccheri, Jonatan Creative Hair & Make Up, dan lain-lain. Lanjut ke lantai dua Anda akan menemui Matahari Department Store, Food Court, CFC, D’Cost Seafood, Hoka-Hoka Bento, dan lain-lain. Sedangkan di lantai tiga ada Matahari Department Store, 3Second, Calais, Electronic City, Mie Kudusan, Converse, dan lain-lain.

Selain beragam tenant dan tempat makan, Matos juga menyediakan arena nge-game bagi berbagai kalangan usia di Time Zone. Ada pula bioskop Cinema 21 yang akan menampilkan film-film terbaru dengan 4 studio berkapasitas kurang lebih 100 kursi.

Grand Hall di lantai dua, Matos juga kerap menggelar pameran atau acara-acara menarik. Pameran yang sering disajikan di tempat ini di antaranya, pameran elektronik seperti komputer dan laptop, alat listrik, pameran buku, atau sekadar ajang obral pakaian. Fasilitas ATM Center, toilet dan mushola pun tak ketinggalan.

Mengusung slogan “Pusat Belanja, Hiburan, Rekreasi Keluarga”, Malang Town Square memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan, pengunjungnya tak hanya datang dari daerah Malang Raya saja, melainkan dari luar kota sekitar Malang juga. Perlahan tapi pasti, gelombang penolakan lewat aksi demo-demo berulang kali itu berhenti dengan sendirinya dan Matos akhirnya diterima sebagai bagian dari kawasan pendidikan di Jalan Veteran Malang.

Pabrik Cincau Rumahan Ala Mak Cao Eksis Sejak 1986

Proses pembuatan cincau di Mak Cao (C) MERDEKA/DAR
Proses pembuatan cincau di Mak Cao (C) MERDEKA/DAR

Mak Cao merupakan salah satu pabrik pembuatan cincau rumahan di Kota Malang. Industri cincau rumahan ini dijalankan oleh Hariati (30) yang mewarisi pekerjaan ayahnya, Sunardi (62).

Begitu kita bertanya di mana letak Mak Cao di sekitaran Pasar Kebalen, kemungkinan besar semua orang sudah tahu dan bisa menjawabnya dengan fasih. Lokasi pabrik cincau yang juga merupakan tempat tinggal Hariati itu ada di sebelah selatan Pasar Kebalen, tepatnya di Jalan Zaenal Zakse Gang 1, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Di antara lingkungan perkampungan yang padat, rumah Hariati tampak mencolok dengan ornamen kunonya.

Pabrik cincau ini juga tak jauh dari kawasan Pecinan di lingkungan Klenteng En Ang Kiong yang letaknya di sebelah selatan Pasar Kebalen. Kakek Hariati, Lie Chen Shui yang mewariskan pabrik cincau ini juga merupakan asli keturunan China. Sang kakek menikahi neneknya yang asli orang Jawa. Keduanya kemudian berganti-ganti mendirikan usaha apa saja. Mulai dari memproduksi tahu, sabun, mie dan cincau. Namun kini, yang tersisa tinggal pabrik cincau yang dikelola Hariati dan keluarganya.

Pabrik cincau Mak Cao ini sudah eksis sejak tahun 1986 lalu. Hariati sendiri merupakan generasi ketiga yang dipasrahi mengelolanya. Seiring makin langkanya profesi pembuat cincau rumahan, Hariati masih mencoba terus bertahan. Dulu, kakaknya juga ikut mengelola usaha ini, meski akhirnya berhenti dan memilih banting setir menjadi sopir kendaraan besar.

Sebagai pabrik cincau rumahan, Mak Cao tetap mempertahankan resep leluhur. Hariati menegaskan resep yang digunakannya merupakan resep turun-temurun dari kakeknya dulu. Dalam pembuatan cincau, Hariati masih memakai alat tradisional seperti blek misalnya. Ini menjadi ciri khas cincau produksi Mak Cao. Ketika habis dan ingin membeli cincau produksinya lagi, pelanggan akan menukarkan blek yang dipakai, seperti prinsip penjualan minuman mineral kemasan galon. Untuk memasak cincau, Hariati juga masih menggunakan kayu bakar karena bara apinya dinilai lebih kuat dan bertahan lama ketimbang memakai gas LPG. Selain itu, ketimbang memakai LPG, kayu bakar lebih menghemat biaya produksi.

Cincau yang dihasilkan Mak Cao ini dijamin tidak mengandung bahan pengawet, sehingga rasa dan kualitasnya pun terjamin. Hariati pun tak tertarik membuat cincau dengan pewarna agar terlihat seperti cincau-cincau lainnya. Menurutnya, cincau dengan warna hitam legam merupakan ciri khas cincau hasil produksinya.

Rahasia kualitas cincau produksi Mak Cao ini terletak pada bahan dasar daun cao-nya yang didatangkan langsung dari Ponorogo setiap enam bulan sekali dalam jumlah besar. Daun cao dari Ponorogo dinilai bagus karena ditanam oleh para petani sepanjang musim, sehingga Mak Cao tak takut kehabisan stok. Daun cao tersebut didatangkan dalam kondisi kering seperti daun teh sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lama. Daun cao ini tinggal dimasak dalam air yang mendidih sekitar tujuh jam lalu didinginkan hingga menjadi cincao yang siap dijual.

Cerita Pilu Tegal Mayit di Desa Ngadilangkung

Sungai Metro yang sebelah baratnya ada lahan bernama Tegal Mayit - WIKIPEDIA
Sungai Metro yang sebelah baratnya ada lahan bernama Tegal Mayit - WIKIPEDIA

Tegal Mayit merupakan sebuah lahan kosong (pekarangan) yang terletak di Desa Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Konon, lahan kosong tersebut menyimpan cerita pilu yang terjadi pada era penjajahan Belanda.

Secara geografis, lahan kosong tersebut berada di sebelah barat Desa Ngadilangkung yang terpisahkan oleh Sungai Metro. Sebenarnya, lahan kosong ini secara administratif dulunya bukanlah wilayah Desa Ngadilangkung, karena awalnya batas paling barat desa tersebut adalah Sungai Metro itu sendiri.

Dilansir dari laman f6penyuluhanfapetub2017.wordpress.com, disebutkan bahwa sesepuh Desa Ngadilangkung menceritakan bahwa pada zaman pemerintahan Belanda ditemukan jenazah seseorang yang tak dikenal. Mayat itu tergeletak begitu saja di lahan kosong yang kala itu menjadi ladang garapan warga setempat. Lahan itulah yang kini tenar dengan sebutan Tegal Mayit. Saat itu tak ada warga setempat yang bersedia menguburkannya dengan baik dan benar.

Pada akhirnya, pemerintah Belanda mengadakan sebuah sayembara sebagai solusi. Barang siapa yang mau menguburkan mayat tersebut akan diberikan hadiah pada desanya sebidang tanah ladang di mana si mayat tergeletak tadi.

Ternyata hasilnya, ada warga Desa Ngadilangkung yang mau mengubur mayat tersebut. Praktis, pemerintah Belanda menyerahkan ladang kosong tersebut pada Desa Ngadilangkung. Hingga saat ini lahan di sebelah barat Sungai Metro itu menjadi salah satu aset desa. Sesuai dengan peristiwa penemuan mayat tersebut kemudian masyarakat menyebutnya dengan nama Tegal Mayit.

Kedai Ricebowl yang Terinspirasi Kesibukan Mahasiswa di Malang

Penampakan 'nasi dalam mangkok' di Kedai Ricebowl (C) SITI RUTMAWATI
Penampakan 'nasi dalam mangkok' di Kedai Ricebowl (C) SITI RUTMAWATI

Kesibukan para mahasiswa di Malang setiap harinya ternyata menginspirasi sebuah kedai di Jalan Terusan Sigura-gura yang terbilang dekat dengan lokasi kampus. Adalah Kedai Ricebowl yang berupaya menghadirkan sesuatu yang baru untuk memenuhi kebutuhan kuliner para mahasiswa yang kebanyakan tak punya banyak waktu, bahkan untuk sekadar mengisi perut.

Kebanyakan mahasiswa di Malang memang kerap disibukkan dengan tugas-tugas dari dosen. Hal inilah yang kadang membuat mereka melupakan waktu makan. Ujung-ujungnya, makanan praktis seperti mie instant kerap menjadi santapan mereka. Peluang ini kemudian yang dilirik empat sekawan, yakni Agus Subhan, Dwiyana Anela, Hasan dan Fajri untuk mendirikan Kedai Ricebowl.

Awalnya, keempat mahasiswa Universitas Brawijaya ini membuka booth sederhana di area Fakultas Pertanian UB. Sasaran mereka jelas para mahasiswa yang notabene sibuk dengan aktivitas kampus dan kerap tak sempat makan.

Konsep ricebowl dinilai paling praktis bagi mereka, bahkan lebih praktis dari mie instant idola para mahasiswa. Konsep ini juga diusung demi mengobati kejenuhan para mahasiswa pada makanan yang sudah umum dijual di lingkungan kampus. Bisa dibilang, mereka mencoba menghadirkan menu-menu modern yang biasa dijual di restoran-restoran bermerk, hanya saja ini harganya lebih terjangkau oleh para mahasiswa.

Lambat laun, seiring dengan kesuksesan booth sederhana yang dijalankan empat sekawan tersebut, mereka pun mencoba naik kelas dengan membuka kedai kecil-kecilan di kawasan Jalan Terusan Sigura-gura, Blok F, No. 65A, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru. Ruangannya memang agak sempit, tapi dominasi perabot bernuansa kayu muda yang menciptakan kesan minimalis membuat ruangan kedai ini terasa nyaman, bahkan untuk sekadar nongkrong.

Ada empat menu andalan yang disajikan Kedai Ricebowl ini, mulai dari ricebowl, noodles, snack dan drink. Khusus untuk menu ricebowl dan noodles, kedai ini menawarkan dua pilihan toping, seperti vegetables nugget dan chicken katsu. Kelebihan kedua menu ini ada pasa sausnya yang diolah sendiri, sehingga memiliki kekentalan yang lebih mantab. Mereka pun tak pelit saus, sehingga pelanggan bisa menambah sendiri saus yang diinginkan. Ada saus carbonara, blackpaper, cheesy, hot Japanese oriental, dan barbeque.

Selain kedua menu makanan berat tersebut, Kedai Ricebowl pun menyediakan menu snack alias makanan ringan. Anda bisa memilih snack seperti risol mini, hot tofu, pisang cokelat, kimbab hot tuna, chicken katsu atau kentang goreng. Sausnya pun Anda bisa pilih sendiri sesukanya. Kalau haus pun, Anda bisa memesan aneka drink seperti milk tea jelly, milk tea buble, jelly tea, choco cookies blend, dan lain-lain.

Harga yang ditawarkan pun tak menguras kantong para mahsiswa. Harga menu-menu di Kedai Ricebowl ini berkisar antara 3000 hingga 15 ribu rupiah saja.

Kedai Ricebowl ini buka setiap harinya mulai pukul 10.00 sampai pukul 22.00 WIB. Untuk update informasi bisa dilihat melalui akun Instagram mereka di @Kedairicebowl.

Jalan Jaksa Agung Suprapto, Gerbang Kawasan Bersejarahnya Malang

Jalan Jaksa Agung Suprapto (C) JALANJALANDIKOTAMALANG
Jalan Jaksa Agung Suprapto (C) JALANJALANDIKOTAMALANG

Jalan Jaksa Agung Suprapto, atau yang biasa disingkat Jalan Jagung Suprapto masuk area Celaket, yang merupakan salah satu kawasan berserjarah di Kota Malang sejak zaman pendudukan Hindia-Belanda. Jalan tersebut bisa juga disebut sebagai gerbang masuk menuju kawasan Kayutangan yang berada di sebelah selatannya.

Dari Jalan Letjend Sutoyo, tepatnya di Malang sebelah utara, Anda akan menemui sebuah perempatan yang sering disebut perempatan Kaliurang oleh masyarakat Malang. Perempatan ini merupakan perpotongan Jalan Letjend Sutoyo (utara), Jalan Kaliurang (barat), Jalan WR Supratman (timur), dan Jalan Jaksa Agung Suprapto (selatan). Tepat di sisi selatan perempatan terdapat papan nama jalan tersebut.

Tak kalah dengan kawasan Kayutangan, sepanjang jalan ini banyak terdapat bangunan bersejarah yang sudah ada sejak zaman penjajahan silam. Sebut saja Rumah Sakit dr. Saiful Anwar, Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Utara, dan SMAK Cor Jesu. Selain itu, sepanjang Jalan Jaksa Agung Suprapto ini masih didominasi oleh tempat usaha dan pertokoan. Deretan hotel megah juga ada di kawasan ini seperti Hotel Mutiara, Trio Indah I, Malang Regent’s Park, dan Kartika Graha. Kantor Kepolisian Resor Malang Kota (Polres Makota).

Berjalan sekitar 200 mater dari perempatan Kaliurang Anda akan menemui sebuah pertigaan jalan yang jika belok ke kiri (timur) akan menuju ke Jalan Dr. Cipto. Tak jauh dari pertigaan kecil itu, Anda akan bertemu dengan pertigaan lagi, yang jika belok ke kiri (timur) akan sampai ke Jalan Pattimura (menuju ke kawasan Lapangan Rampal).

Selepas RSUD Saiful Anwar, Anda akan melewati sebuah jembatan tua namun penampilannya diperbarui oleh Pemerintah Kota Malang, yang biasa disebut Jembatan Celaket. Di timur jalan sebelum jembatan yang melintasi Sungai Brantas itu Anda bisa menjumpai Kampung Putih Celaket, sebuah kampung tematik yang memikat dengan nuansa cat putihnya.

Jalan Jaksa Agung Suprapto ini berakhir di sebuah pertigaan lampu merah, yang biasa disebut pertigaan PLN oleh masyarakat. Dari pertigaan tersebut, jika ke barat Anda akan menuju ke kawasan Oro-oro Dowo, dan ke selatan memasuki kawasan Kayutangan. Tepat di pojokan sebelah barat pertigaan itu juga terdapat pertokoan tua yang dikenal dengan Toko Avia. Sementara di seberang jalan sebelah selatannya terdapat Hotel Trio Indah II yang juga penuh sejarah.

STAY CONNECTED

962FansSuka
196PengikutMengikuti
57PengikutMengikuti

POPULER