Mengintip Uniknya Ukiran Batu Nisan Makam Bupati Malang yang Pertama

Mengintip Uniknya Ukiran Batu Nisan Bupati Malang yang Pertama (C) BERITAMETRO
Mengintip Uniknya Ukiran Batu Nisan Bupati Malang yang Pertama (C) BERITAMETRO

Selain makam Ki Ageng Gribig dan istrinya, di komplek pemakaman Ki Ageng Gribig juga terdapat Makam Bupati Malang yang pertama, Raden Tumenggung Notodiningrat I atau Raden Adipati Panji Wilasmoro Kusumo. Terdapat ukiran unik pada batu nisan makam pemimpin Malang yang memerintah mulai tahun 1819 sampai 1839 tersebut.

Batu nisan pada makam ini sudah sangat jarang ditemukan, yakni memiliki dua sumbu di bagian kepala dan kaki. Pada kedua sumbu nisan yang terbuat dari kayu jati itu terdapat pula ukiran unik. Bahan nisan dari kayu jati ini biasa dipakai sebagai penanda untuk makam orang penting di masa tersebut.

Jika dilihat dari ukiran pada nisan tersebut, juga tidak biasa. Bentuk nisan makam Bupati Malang yang pertama ini berukuran lebih besar daripada nisan pada makam-makam lain di komplek Makam Ki Ageng Gribig. Nisan kayu jati itu berbentuk lancip dengan bentuk vertikal, yang disebut-sebut sebagai penanda hubungan manusia dengan penciptanya. Selain itu, jika dilihat pola seperti penyangga di bawahnya, dapat dikatakan sebagai sebuah antefix yang biasa terdapat di candi-candi. Pola ukirnya pun menunjukkan sebuah informasi penting.

Pada nisan makam Bupati Malang yang pertama ini terdapat unsur-unsur bunga teratai yang sangat jelas terlihat. Wujud bunga teratai itu bisa dilihat di ujung lancip nisan tersebut. Bentuknya menyerupai bunga teratai yang masih kuncup. Pada masanya, bunga teratai dianggap sebagai tanaman suci. Ujung bunga tersebut juga bisa melambangkan mahkota untuk pemimpin.

Pola ukiran pada nisan makam Bupati Malang yang pertama ini cukup banyak dan beragam. Ada kepercayaan, semakin rumit ukirannya, maka semakin tinggi pula status orang yang dimakamkan tersebut. Semakin kaya ragamnya, maka akan semakin menarik perhatian siapa pun yang melihatnya.

Cerita Gerilya di Malang Selatan dan Semeru Selatan

Cerita Gerilya di Malang Selatan dan Semeru Selatan (C) MALANGVOICE
Cerita Gerilya di Malang Selatan dan Semeru Selatan (C) MALANGVOICE

Daerah Malang Selatan dan Semeru Selatan merupakan kawasan yang sangat strategis untuk melakukan perjuangan dengan cara bergerilya. Dua daerah tersebut bahkan dijadikan markas pasukan pejuang Indonesia di masa memperjuangkan kemerdekaan.

Daerah Semeru Selatan merupakan wilayah di kaki Gunung Semeru dengan hutan-hutannya yang lebat, tanahnya berbukit, dan berlereng. Di samping itu, banyak terdapat ceruk-ceruk yang dalam dan curam. Di sekitarnya dialiri sungai dari mata air Gunung Semeru. Kedudukan daerah tersebut di sebelah timur dibatasi daerah status quo (Kali Glidik) daerah Kabupaten Lumajang. Sedangkan sebelah barat mencapai jalan raya jurusan Malang, meliputi juga kawasan jalan menuju jurusan Gunung Kawi dan Sungai Lesti, dimulai dari Malang Timur mengalir ke selatan sampai Sungai Brantas di daerah Kepanjen.

Dilihat dari segi perhubungan, tempat itu sangat penting dan strategis untuk kepentingan siasat militer karena jalan raya sudah tersedia dari jurusan Surabaya sampai ke pantai selatan, terutama jalan perhubungan dalam daerah perkebunan Semeru Selatan.

Wilayah Malang Selatan dan Semeru Selatan merupakan wilayah yang menjadi tujuan berbagai pasukan melakukan hijrah dari daerah-daerah kantong di wilayah Karesidenan Malang dan Besuki. Secara otomatis, TNI terkurung dalam suatu kawasan. Hal itu terutama dengan diberlakukannya garis van Mook.

Dengan kondisi semacam itu sudah dapat diperkirakan bagaimana siasat musuh menghadapi TNI di Malang Selatan dan Semeru Selatan, antara lain sebagai berikut.

1. Musuh akan memperkuat daerah Sumber Urip yang sesungguhnya merupakan kunci perhubungan dari daerah Lumajang dan Semeru Selatan.
2. Pasukan musuh akan mengadakan serangan ke daerah Turen dan Sedayu dari jurusan Bululawang serta akan menyerang Talok dari jurusan Tumpang.
3. Musuh akan mempertahankan daerah Poncokusumo sebagai pangkalan persiapan untuk mengadakan operasi ke Dampit.
4. Memperkuat garis pertahanan Talok-sedayu-Gondanglegi-Kepanjen-Wlingi sebagai garis utama untuk mengurung TNI di daerah pantai selatan.

Di samping itu, musuh akan memperkuat pertahanan di garis Poncokusumo-Wajak-Dampit-Sumber Urip untuk menekan TNI serta menguasai garis pertahanan Lumajang-Ampelgading-Dampit untuk menguasai Semeru Selatan. Tetapi maksud tersebut tidak pernah menjadi kenyataan. Sebelum mereka melakukan tahap penyerangan ke daerah Malang Selatan dan Semeru Selatan, pasukan TNI telah mendahului dengan melakukan wingate action memasuki daerah-daerah kantong yang telah mereka tinggalkan.

Serbuan-serbuan terhadap kedudukan musuh, termasuk pos-pos mereka yang tedepan, banyak dilakukan oleh TNI PGI (Pasukan Gerilya Istimewa) dan PUS 18 (Pasukan Untung Suropati 18). Daerah Semeru Selatan sebenarnya menjadi bagian dari TNI SWK III dengan komandan Mayor Mochlas Rowie. Adapaun PGI dan PUS 18 secara organik tidak di bawah Komando Brigade IV.

Dengan demikian, perjuangan yang berlangsung di wilayah Malang Selatan dan Semeru Selatan dilakukan oleh kesatuan TNI. Adanya koordinasi yang baik dari segenap unsur di Malang Selatan dan Semeru Selatan menyebabkan Belanda tidak pernah berhasil menguasai daerah tersebut. Sebaliknya, selain dapat menghancurkan lawan, TNI berhasil membina seluruh rakyat.

Dalam hal ini, TNI di Malang Selatan dan Semeru Selatan secara umum berhasil mengganggu hubungan komunikasi lawan. Alhasil, pemerintah bentukan Belanda (Recomba) tidak pernah menjadi kenyataan. Selain itu, Belanda mengalami kehancuran materil maupun moril.

Sebelum agresi militer Belanda pada 19 Desember 1948, pasukan-pasukan di Malang didislokasikan sebagai berikut. Pertama, MG I (Mobil Gerilya I) yang dipimpin oleh Mayor Hamid Rusdi yang meliputi wilayah Kabupaten Malang dan Pasuruan minus daerah Republik. Kedua, MG II (Mobil Gerilya II) yang dipimpin oleh Mayor Wijono, daerahnya meliputi Probolinggo, Lumajang minus daerah Republik. Ketiga, MG III (Mobil Gerilya III) yang dipimpin oleh Mayor Mochlas Rowie dengan wilayah di belakang (selatan status quo).

Indikasi bahwa pasukan Belanda akan melakukan agresi militer kedua tampak dari situasi garis status quo. Kira-kira seminggu sebelumnya tampak perubahan-perubahan pada pos Belanda yang cukup mencolok, yaitu penjagaan lebih diperketat. Di samping itu, kegiatan patroli musuh terasa menghilang.

Pada saat agresi militer Belanda berlangsung, di markas hanya ada Mayor Wijono. Staf Brigade Kapten Abdoel Kahar beserta perwira-perwira lainnya tidak ada di tempat (ternyata sudah mulai melaksanakan wingate action menuju daerah Lumajang) serta sebagian yang lain ke daerah Kediri. Saat itu pada hari sabtu, kondisi wilayah dalam keadaan hujan lebat sehingga hubungan hubungan telepon ke pos-pos terputus.

Saat itu pasukan dari Syamsuri Mertoyoso hanya tinggal satu seksi yang berada di tempat. Pada sekitar pukul 24.00 ada telepon dari daerah Krebet dan Pakisaji yang memberitakan bahwa pasukan Belanda melewati garis status quo. Mayor Wijono dari daerah Sedayu diberitahu tentang keadaan tersebut serta menyaksikan sendiri di daerah Kepanjen. Di Kepanjen, didapati beberapa orang tahanan FDR/PKI yang telah mengadakan pengkhianatan di daerah Donomulyo. Dari sini mulai terdengar tembakan dari arah Pakisaji. Satu peleton pasukan dikirimkan untuk menghadapi musuh agar kembali ke garis status quo.

Daerah Peniwen tidak luput dari incaran pasukan musuh. Mereka mengetahui bahwa Depo Batalyon Brigade IV berada di sana. Belanda menyerang Kepanjen dan sebagian menyerang daerah Lahor (Karangkates).

Perlu diketahui, di daerah Peniwen ini semasa gencatan senjata pernah terjadi peristiwa yang memalukan pihak Belanda. Yaitu terjadi insiden yang dikenal sampai ke luar negeri dengan peristiwa penembakan membabi buta yang dilakukan oleh pasukan Belanda yang masuk daerah barat (Jambuwer). Mereka menembaki orang-orang yang sedang dirawat di sebuah gedung sekolah yang dimanfaatkan secara darurat sebagai tempat merawat pasukan yang terluka. Banyak yang gugur dalam peristiwa ini. Selain dilakukan di gedung sekolah, penembakan tersebut dilakukan di jalan-jalan dan ditujukan kepada setiap orang. Oleh seorang pendeta yang ada di Peniwen, kasus itu dilaporkan ke PBB.

Gerakan pasukan TNI wingite action yang dilakukan berbagai pasukan dari batalyon-batalyon di daerah Malang Selatan untuk masuk ke daerah kantong banyak menemui halangan karena di sepanjang perjalanan terjadi pertempuran. Hal ini ditambah lagi dengan suasana pada saat itu sedang paceklik (kemarau) sehingga beberapa lama pasukan tidak dapat makanan secara layak. Walaupun begitu, pelaksanaan wingate action dapat dilangsungkan.

Pada masa gerilya ini telah dibentuk beberapa MG (Malang Gerilya) yang meliputi 3 MG. Upaya melaksanakan organisasi ketentaraan yang semula tidak teratur, semenjak kedatangan Mayor Rusman dari Divisi I, seorang perwira muda yang cakap dapat memperbaiki roda organisasi ketentaraan sehingga dapat berjalan dengan teratur dan lancar.

Keuskupan Malang dan Sejarahnya

Keuskupan Malang dan Sejarahnya
Keuskupan Malang dan Sejarahnya

Keuskupan Malang (Dioecesis Malangensis) merupakan keuskupan sufragan yang merupakan bagian dari Provinsi Gerejani Keuskupan Agung Semarang. Wilayahnya berada di Jawa Timur, termasuk Pulau Madura.

Keuskupan Malang melayani umat Katolik yang tinggal di sebelas kabupaten (Malang, Probolinggo, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep), dan lima kota (Malang, Pasuruan, Probolinggo) dan dua kota (Jember, Batu).

Berdasarkan sejarah yang dikutip dari laman Keuskupan Malang, pada tahun 1865, Malang merupakan suatu stasi yang dilayani imam Serikat Yesus (SY) atau disebut juga Yesuit dari Surabaya. Saat itu, umat Katolik umumnya merupakan warga Eropa yang domisilinya tersebar mengikuti jalur rel kereta lori perkebunan tebu dan pabrik gula. Mereka terkonsentrasi di daerah segitiga antara Pasuruan, Malang, dan Jatiroto, yang kemudian menyebar hingga ke Jember.

Entah apa penyebabnya, pada tahun 1923, Yesuit (SY) mengundurkan diri dari wilayah Jawa Timur. Sebagai imbasnya, wilayah gerejani Malang diserahkan kepada Ordo Karmel (O.Carm). Akhirnya, pada 27 April 1927, Prefektur Apostolik Malang didirikan, sebagai Prefektur Apostolik pertama di Pulau Jawa, di luar Vikariat Apostolik Batavia. Kemudian, pada 13 Maret 1939 ditingkatkan statusnya menjadi Vikariat Apostolik. Vikariat Apostolik Malang diubah statusnya menjadi Diosis atau Keuskupan Malang, setelah didirikannya hierarki Gereja Katolik di Indonesia pada 3 Januari 1961.

Pada tahun 1950, umat Katolik di bawah Keuskupan Malang berjumlah 5000 orang. Mereka tersebar di 11 paroki. Kemudian, jumlah itu bertambah menjadi 28.000 di 24 paroki pada tahun 1970. Umat Katolik semakin bertambah banyak pada tahun 1980, menjadi 48.000, dan pada tahun 1990 menjadi 66.000. Statistik tahun 2005 menjelaskan, jumlah umat pada tahun 2004 mencampai angka 88.000, dan tersebar di 28 paroki.

Cerita Dua Tokoh Penting dalam Sejarah Desa Sukodono

Cerita Dua Tokoh Penting dalam Sejarah Desa Sukodono
Cerita Dua Tokoh Penting dalam Sejarah Desa Sukodono

Desa Sukodono merupakan salah satu desa yang masuk dalam daerah administratif Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Terdapat cerita dua tokoh penting yang melatarbelakangi sejarah desa tersebut.

Pada zaman dahulu, kawasan Desa Sukodono ini merupakan hutan belantara. Hutan seluas sekitar 1.864 Hektar itu diapit oleh wilayah Desa Srimulyo di sebelah utara, Desa Tegal Rejo di sebelah barat, Desa Tambak Asri di sebelah selatan, dan Desa Srimulyo serta wilayah perhutani di sisi timur.

Terdapat lima dusun yang masuk dalam wilayah Desa Sukodono saat ini. Mulai dari Dusun Sawur, Dusun Kampung Teh, Dusun Wonosari, Dusun Wonorejo dan Dusun Petung Sigar.

Warga Desa Sukodono meyakini dua nama, yakni Kiai Ladasan dan Imam Hadi sebagai sosok yang melakukan babat alas di hutan belantara. Keduanya berjuang membabat hutan belantara bersama keluarga, dan sanak-saudara.

Tak diketahui asal usul kedua tokoh tersebut dari mana. Yang diketahui warga setempat, keduanya merupakan tokoh yang berjasa membuat pemukiman yang kelak mereka tinggali.

Nama Sukodono sendiri muncul setelah adanya pemerintahan Kepala Desa Abdul Aziz pada tahun 1967 hingga 1973. Sebelumnya, desa ini diperintah oleh Kades Sarto (1946 – 1952), dan Suprayitno (1952 – 1967) dan masih bernama Desa Darurat.

Selanjutnya, ada enam Kades yang memimpin di Desa Sukodono. Mereka adalah Hadi Sumarto (1973 – 1976), Abdul Hadi (1976 – 1993), Slamet Mulyono (1993 – 1999), Buimin (1999 – 2013), dan Suharto (2013 – sekarang).

Plaza Araya, Mall Simpel Tapi Elegan di Kota Malang

Plaza Araya, Mall Simpel Tapi Elegan di Kota Malang (C) APPBI
Plaza Araya, Mall Simpel Tapi Elegan di Kota Malang (C) APPBI

Plaza Araya merupakan salah satu mall atau pusat perbelanjaan di Kota Malang. Yang menarik, mall ini mengusung disain yang simpel, tapi elegan disainnya.

Mall ini bisa dibilang yang terkecil di antara mall-mall lainnya yang ada di Kota Malang. Sebab, Plaza Araya cuma memiliki dua lantai saja. Meski demikian, isinya cukup lengkap dengan aneka barang kebutuhan sehari-hari. Ada pula berbagai foodcourt (tempat makan) dan kafe untuk minum kopi atau sekadar nongkrong.

Beralamat di Jalan Blimbing Indah Megah No. 2, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Plaza Araya memiliki lokasi yang strategis. Anda bisa menjumpai mall ini di pintu gerbang masuk Perumahan Araya, tepatnya di seberang Rumah Sakit Persada. Meski cukup jauh dari pusat Kota Malang, bagi Anda yang datang dari Surabaya atau memasuki Kota Malang dari arah utara bisa singgah ke sini dengan mudah. Selain itu, mall ini juga dekat dengan Terminal Arjosari dan Bandara Abdulrachman Saleh, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Dulu, Plaza Araya cukup populer di kalangan warga Kota Malang. Namun, setelah ada mall-mall lainnya yang lebih besar, seperti Malang Town Square (Matos) dan Mall Olympic Garden (MOG), pamor mall ini meredup. Namun, mall ini masih jadi jujugan beberapa warga Perumahan Araya yang kebanyakan mereka dari kaum elit.

Meski tergolong mall kecil, banyak juga tenant yang menghuni Plaza Araya ini. Mulai dari Giant Supermarket, Dunkin Donut, J Co, Mom & Kids, House of Wok, Kiddy Land, L2L Collection, Lucia Shoes & Accessories, Marella Shop, NFC (Nasional Fried Chicken), News Outlet, Optic Melawai, Paris Look Perfume, Queen Toys, RR Collection, Rumah Batik Indonesia, Time Watch Store, Wacoal, Wong 7 Pitu, Yopie Salon, Galeo Decor, Fresh Green, Starbucks, Excelso, Ermon Baby & Kids, Digital Studio Art Design & Printing, d’flavour Bread & Coffee, Champion Futsal, Baskin Robbins, Amelia Crystal, Alimah Moslem Shop, Arfen Hardiyant Music School, dan lain-lain.

Yang jadi favorit di Plaza Araya tentu saja Cinema XXI yang mulai dibuka pada awal tahun 2018. Tersedia lima studio dengan konsep menarik, dan aneka pilihan genre film yang disajikan. Studio bioskop ini menjadi kawasan paling ramai dari mall tersebut.

Selain itu, terdapat pula fasilitas Sim Corner di Plaza Araya yang bekerja sama dengan Satlantas Polres Malang Kota (Makota). Jadi, khusus bagi Anda yang akan memperpanjang Surat Izin Mengemudi, bisa datang ke mall ini.

Lahan parkir yang disediakan pihak Plaza Araya pun cukup luas, baik untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Ada peneduh agar kendaraan yang Anda parkirkan aman dari air hujan. Yang terpenting, beberapa petugas keamanan yang disiagakan untuk menjaganya.

Anda bisa mengunjungi Plaza Araya ini kapan saja, karena mall ini buka setiap hari. Jam operasionalnya mulai pukul 10.00 WIB hingga tutup pada 21.00 WIB.

Kemewahan Ijen Suites Hotel di Kota Malang

Kemewahan Ijen Suites Hotel di Kota Malang (C) BOOKING.COM
Kemewahan Ijen Suites Hotel di Kota Malang (C) BOOKING.COM

Ijen Suites Hotel merupakan salah satu hotel bintang empat di Kota Malang. Hotel ini menawarkan nuansa kemewahan untuk Anda yang ingin bermalam untuk berbagai keperluan, baik bisnis maupun wisata.

Lokasi Ijen Suites Hotel cukup strategis tak jauh dari pusat Kota Malang. Di sekitarnya terdapat beberapa spot populer. Mulai dari Alun-alun Kota Malang, Malang Town Square, Cyber Mall Dieng, Mall Olympic Garden, dan lain-lain. Dari Bandara Abdulrachman Saleh pun hanya butuh waktu tempuh 30 menit saja dengan berkendara.

Selain menawarkan lokasi yang strategis, Ijen Suites Hotel juga menerapkan konsep penginapan dengan desain yang modern dan elegan. Selain itu, lingkungan di sekitar hotel terbilang cukup asri dan tenang.

Ijen Suites Hotel menawarkan enam tipe kamar, dengan standar bintang empat. Kamar-kamar yang ditawarkan ini tentu didukung fasilitas mewah. Anda bisa menemukan fasilitas nomor satu, seperti kolam renang, pusat olahraga atau gym, hingga restoran dengan menu yang siap menggoyang lidah. Selain itu, akses Wi-Fi gratis juga sudah disiapkan untuk memenuhi kebutuhan para tamu.

Yang menarik, di Ijen Suites Hotel ini terdapat Skyroom yang bisa Anda manfaatkan untuk fine dining dengan orang terkasih. Yang pasti, makan malam Anda akan didukung oleh suasana yang romantis.

Enam tipe kamar yang ditawarkan Ijen Suites Hotel antara lain Superior Room, Deluxe Room, Royal Suites Room, Executive Room, Presidential Suites Room, dan Junior Suite Room. Setiap jenis kamar sudah dilengkapi dengan fasilitas seperti TV kabel dengan channel internasional, individual air conditioning (AC) control, complimentary Wi-Fi, coffee-maker, minibar, serta twin atau king size bed.

Untuk tarif permalamnya bisa berubah kapan saja. Sebab, rata-rata tiap jenis kamar menawarkan harga yang bersaing. Kamar Deluxe Room dibandrol 1.110.000 rupiah permalam, Family Deluxe Room 1.620.000 rupiah permalam, Executive Room 2.220.000 rupiah permalam, Junior Suite Room 3.900.000 rupiah permalam, Royal Suites Room 4.400.000 rupiah permalam, Pressidential Suites Room 20.000.000 rupiah permalam.

Aturan check-in untuk Ijen Suites Hotel ini dimulai pukul 14.00 WIB. Sementara, check-outnya sebelum pukul 12.00 WIB.

Jika Anda berminat menginap di Ijen Suites Hotel ini, langsung hubungi nomor telepon (0341) 3301000 untuk reservasi kamar, atau juga bisa melalui website di alamat www.ijensuitesmalang.com. Anda juga bisa langsung datang ke Jalan Ijen Nirwana Raya Blok A No. 16, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Jalan Yulius Usman, Jalur Pendek yang Sering Macet

Jalan Yulius Usman, Jalur Pendek yang Sering Macet (C) JALANJALANDIKOTAMALANG
Jalan Yulius Usman, Jalur Pendek yang Sering Macet (C) JALANJALANDIKOTAMALANG

Jalan Yulius Usman merupakan salah satu jalan dengan jalur pendek di Kota Malang. Namun, jalan ini sering macet di waktu-waktu tertentu. Sebelum melintasinya, Anda harus memperhatikan dulu kapan saja kemacetan kerap melanda jalan ini.

Nama jalan ini diambil dari nama seorang Pahlawan Ampera, Yulius Usman. Ia merupakan korban peristiwa bentrok fisik pada 19 Agustus 1966 di Kota Bandung. Mahasiswa Universitas Parahyangan itu kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Ampera oleh Panglima Kodam VI/Siliwangi, Mayjen Dharsono setelah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra.

Secara administratif, Jalan Yulius Usman ini masuk dalam wilayah Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Jalan ini membentang dari timur ke barat dengan arus lalu lintasnya dibuat dua arah.

Anda bisa masuk ke Jalan Yulius Usman ini dari arah timur. Jalan ini merupakan terusan dari Jalan Kapten Pierre Tendean di sisi timurnya. Ujung timur jalan ini dimulai dari pertigaan Embong Arab. Namun, Anda hanya bisa masuk dari arah timur. Anda tidak bisa masuk ke jalan ini dari arah utara, karena Jalan Syarif Al-Qodri merupakan jalan searah yang arus lalu lintasnya menuju ke utara saja.

Salah satu titik kemacetan sering terjadi di pertigaan menuju Embong Arab tersebut. Kemacetan kerap terjadi di waktu-waktu akhir bulan Ramadan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri tiap tahunnya. Ini dipengaruhi meningkatnya arus lalu lintas dari dan ke arah Pasar Besar Kota Malang.

Anda bisa juga masuk ke Jalan Yulius Usman dari Jalan Sulawesi dari arah selatan. Dari Jalan Sulawesi, Anda bisa berbelok ke kanan (timur), atau ke kiri (barat) di pertigaan SPBU Sawahan.

Pintu masuk SPBU Sawahan ini juga kerap menjadi simpul kemacetan. Terutama ketika antrean kendaraan yang ingin membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) sedang padat, mengingat area SPBU ini tak terlalu luas. Ujung antrean kendaraan kadang bisa sampai ke Jalan Yulius Usman hingga arus lalu lintas sedikit terhambat.

Jalan Yulius Usman ini berakhir di ujung barat di pertigaan Pos Polisi Kasin, Jalan Arif Margono. Di pertigaan ini, Anda bisa berbelok ke kanan (utara) atau ke kiri (selatan).

Ujung barat jalan ini juga kerap menjadi titik kemacetan di pagi dan sore hari. Kemacetan akan semakin menggila ketika tak ada petugas polisi lalu lintas atau supeltas yang membantu menyetop kendaraan di pertigaan tersebut. Maklum, di sana belum terpasang lampu lalu lintas. Kemacetan di simpul ini bisa saja diperparah ketika bubaran anak-anak sekolah di SD Negeri Kasing Malang.

Punden Tutup (Mbah Ganden) di Batu

Punden Tutup (Mbah Ganden) di Batu (C) INGRESS INTEL
Punden Tutup (Mbah Ganden) di Batu (C) INGRESS INTEL

Terdapat sebuah punden di Dusun Torongtutup, Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Warga setempat kerap menyebutnya Punden Tutup atau Punden Mbah Ganden/Tunggul Wulung. Punden ini disebut-sebut sebagai bukti Dusun Torongtutup sebagai salah satu dusun tertua di Kota Batu.

Punden Tutup ini sebenarnya adalah bangunan megalithic yang berbentuk punden berundak yang berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap arwah nenek moyang (ancestors worship). Itu merupakan pendapat dari Sejarawan Malang M. Dwi Cahyono dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Daerah Batu: Rekontruksi Sosio-Budaya Lintas Masa”, tahun 2011, halaman 53.

Ada penjelasan lain dalam catatan lain berjudul “Situs-Situs Megalitik di Malang Raya: Kajian Bentuk dan Fungsi”, pada halaman 121, dicatat dan dijelaskan bahwa sayang sekali bentuk punden berundak di Torongrejo (di Dusun Tutup) sudah tidak jelas lagi. Catatan itu dibuat dosen Universitas Negeri Malan, jurusan sejarah, Slamet Sujud Purnawan Jati dan Deny Yudo Wahyudi dan dimuat dalam Jurnal “Sejarah dan Budaya, Tahun Kesembilan, Nomor I, Juni 2015”. Peninggalan arkeologis yang tersisa di Punden Tutup ini hanya berupa satu menhir kecil, dua lingga kecil, dua yoni tanpa kaki, satu batu kenong, dan beberapa fragmen batu.

Jika diamati, Punden Tutup ini berorientasi ke puncak Gunung Arjuna yang menjulang tinggi di sebelah utaranya. Termasuk pula anak gunungnya, Gunung Wukir. Kedua gunung ini dipandang sebagai tempat tinggal roh nenek moyang.

Pada halaman yang sama, Slamet Sujud Purnawan Jati dan Deny Yudo Wahyudi menjelaskan, berdasarkan konteks dan perbandingan fungsi punden berundak di daerah lain, maka dapat diperkirakan punden berundak yang dijumpai di Punden Tutup berfungsi sebagai tempat suci untuk menjalankan ritual pemujaan terhadap arwah leluhur. Sebagaimana ritual pemujaan, tentu mereka mengharapkan mendapatkan berkah kesuburan, karena punden ini dikeramatkan.

Punden Tutup ini memang mengalami kerusakan yang sangat berat, sehingga bentuk aslinya pun tidak diketahui lagi. Banyak pula artefak yang raib dari punden tersebut. Menurut keterangan dari M. Ikhsan (29) seperti dikutip Aremamedia.com, bahwa artefak-artefak yang berada di punden ini hilang dicuri oleh sejumlah oknum dari Bali pada tahun 1990-an, terutama artfek Batu Kenong yang saat itu jumlahnya cukup banyak.

Tan Malaka dan Lahirnya Gerakan Pembela Proklamasi di Gunung Kawi (2)

Tan Malaka dan Lahirnya Gerakan Pembela Proklamasi di Gunung Kawi (C) GRID.ID
Tan Malaka dan Lahirnya Gerakan Pembela Proklamasi di Gunung Kawi (C) GRID.ID

Semula Gerakan Pembela Proklamasi (GPP) dari Tan Malaka mendapatkan simpati banyak pihak, tetapi ketika gerakan ini dibelokkan ke arah suatu visi politik tertentu, banyak kesatuan yang mengundurkan diri.

Pada suatu kesempatan pada bulan Januari 1949 telah diadakan pertemuan besar bertempat di Kalitapak (Kawi Selatan), tampak kecenderungan dari GPP ke arah suatu tertentu. Hal ini dapat dilihat dari para pemateri dalam pertemuan tersebut yang seluruhnya kaum politisi. Beberapa kesatuan telah meninggalkan pertemuan, seperti Batalyon XVII dan utusan Korps Mahasiswa.

Banyak kalangan yang tidak setuju dengan langkah-langkah revolusioner yang ditempuh Tan Malaka dkk dengan pendirian Negara Demokrasi Indonesia-nya. Seperti diketahui, bahwa pembentukan Negara Demokrasi Indonesia tersebut didirikan dengan mengambil momentum yang dianggap tepat, yaitu ketika Belanda masuk Yogyakarta pada 19 Desember 1948.

Ketika itu, diumumkan bahwa Soekarno-Hatta tertangkap. Dengan alasan bahwa Presiden dan Wakil Presiden sudah tidak ada, Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Gerakan Pembela Proklamasi (GPP) di atas Gunung Kawi. Mereka mengadakan perjanjian yang dinamakan Kawi Pact di daerah Wlingi.

Aktivitas brigade ini mempengaruhi rakyat sekitar yang antara lain didukung oleh Batalyon Sabarudin. Puncak dari aksi Gerakan Pembela Proklamasi adalah memproklamasikan Negara Demokrasi Indonesia di Blimbing. Mereka menganggap RI yang dipimpin Soekarno Hatta telah menyerah.

Pengumuman berdirinya Negara Demokrasi Indonesia, sekaligus dilakukan dengan penunjukan dirinya sebagai presiden, dengan mengangkat Letkol Warrow sebagai Menteri Pertahanan dan Mayor Sabaruddin sebagai Panglima Besar Gerakan Pembela Proklamasi.

Sabaruddin, adalah seorang bekas narapidana dan seorang petualang dari Sidoarjo. Ia pernah mendapatkan pendidikan PETA, kemudian mengaku sebagai PM (Polisi Militer) di daerah Sidoarjo. Dengan cara itu ia menangkap dan membunuh orang-orang yang tidak disukainya, termasuk mantan komandannya sendiri Shodancho Sidoarjo, yaitu Budiardjo karena masalah pribadi. Karena tindakan kriminal yang dilakukannya, ia ditangkap dan dipenjarakan di Kediri oleh panglima Divisi Brawijaya, Kolonel Soengkono. Sabaruddin hanyalah seorang petualang yang haus kekuasaan dan kedudukan. Hal ini utamanya berkaitan dengan Gerakan Pembela Proklamasi, yang memberikan kedudukan kepadanya sebagai seorang Panglima Besar.

Beberapa kesatuan sempat dipengaruhi oleh Tan Malaka dkk. Di antaranya yang secara nyata masuk dalam jaringan kekuatan tersebut adalah pasukan Letkol Soepardi dari Brigade Kelaskaran (Brigade XIII) yang menjabat sebagai Staf Politik. Di samping itu satu kompi pasukan dari Mochlas Rowie, yaitu Kompi Hanafi Terpedo. Kesatuan lain adalah dari Brigade XVI, di antaranya pasukan Batalyon Worang dan Batalyon Abdullah yang turut bergerak ke daerah Kawi. Atas prakarsa Tan Malaka kemudian dibentuk Kawi Pact, seperti dikemukakan di atas, yang juga dimaksudkan untuk mengikat unsur-unsur kesatuan yang ada dalam satu ikatan Gerakan Pembela Proklamasi.

Secara ekspansif Gerakan Pembela Proklamasi menuntut seluruh wilayah Gunung Kawi, wilayah Kediri dan Malang untuk diserahkan kepada mereka. Letkol DR. Soedjono sebagai Komandan Brigade IV menolak keras tuntutan itu sebab kekuasaan atas wilayah Komando Militer di Malang adalah dalam tugas pengamanannya. Mochlas Rowie selaku Komandan SWK, telah memperingatkan anak buahnya, Lettu Hanafi, bahwa semua pasukan yang ada di SWK III KMD Malang harus tunduk kepada pimpinan KMD Malang.

Disampaikan juga bahwa tidak ada pemerintah lain selain pemerintah RI, yang sekarang menjelma menjadi pemerintah militer di daerah-daerah. Jadi jika ada pasukan yang mengikuti gerakan tidak sah di luar Republik, mereka itu pemberontak.

Oleh karena itu, diingatkan kepada Komandan Kompi Hanafi dan anak buahnya agar lekas kembali ke kesatuan semula, yaitu di wilayah KMD Malang dan tetap berstatus sebagai tentara RI. Instruksi ini menimbulkan polemik karena Lettu Hanafi setelah menerima instruksi ini, meneruskannya kepada Panglima Besar GPP Sabaruddin. Sabaruddin kemudian mengirimkan surat balasan secara panjang lebar bahwa sebenarnya dialah yang lebih konsekuen membela Republik.

Keberadaan GPP di daerah Malang amat mengganggu konsentrasi TNI reguler di wilayah ini untuk menghadapi pertempuran dengan pasukan Belanda. TNI di wilayah ini menghadapi dua kekuatan sekaligus, yaitu pasukan Belanda dan kesatuan-kesatuan GPP. Sabaruddin dan pasukannya yang terdiri dari para narapidana dari penjara Kediri yang telah direhabilitasi oleh Soengkono ternyata lebih banyak mengganggu keamanan dan ketertiban daripada membantu berjuang melawan Belanda.

Walaupun Soekarno-Hatta sudah ditangkap, pada waktu itu TNI tetap berpedoman bahwa pemerintah RI tidak hilang. Selain PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) yang berkedudukan di Bukittinggi dengan Presiden Mr. Sjafruddin Prawiranegara, kekuasaan di Jawa dipegang oleh Pemerintah Militer Komando Djawa dengan Markas Besar Komando Djawa (MBKD) dipegang oleh Kolonel Nasution sebagai pemerintah pembela Republik.

Oknum kesatuan Brigade XVI yang masuk GPP telah beberapa kali menyerbu dan melucuti persenjataan TNI reguler Malang. Sebagaimana biasanya, sesudah melakukan penyerangan terhadap pos-pos Belanda, TNI lari ke gunung. Tetapi kesatuan GPP menyerang TNI. Akibatnya terjadi perang saudara, yaitu antara pasukan Brigade IV dan oknum Brigade XVI, meskipun berskala kecil.

Setelah itu anak buah Warrouw dan Sabarudin melakukan aksi-aksi yang dianggap melampaui batas. Mayor Banurejo, Komandan KDM Kediri, diculik dan dibunuh di daerah Kalipare (Malang Selatan). Kompi Tenges dari GPP melucuti satu peleton CPM (Haryono) di desa Kluncing dan satu peleton dari Depot Batalyon (Nailun Hamam). Begitu juga beberapa insiden antara lain, perlucutan senjata kesatuan-kesatuan Brigade IV di daerah Singosari, baik yang dilakukan terhadap pasukan Sumeru maupun pasukan Moergito.

Mochlas Rowie selaku Komandan SWK III mencoba menyelesaikan masalah pelucutan senjata tersebut. Ia dengan berjalan kaki selama dua hari dari markas SWK di Pagak dan menemui sendiri Komandan Brigade XVI di Wlingi. Selanjutnya dicapai persetujuan bahwa senjata-senjata yang sudah dirampas harus dikembalikan sebab sangat dibutuhkan TNI yang sedang menghadapi Belanda. Sebab saat itu pasukan Belanda menguasai jalan-jalan raya antara Surabaya-Malang dan juga Malang-Kediri.

Gerakan yang telah dilakukan oleh Tan Malaka dan kawan-kawannya sebagai gerakan politik dengan menyebarkan berbagai propaganda untuk meluaskan berita adanya GPP dan Negara Proklamasi di luar RI. Secara militer gerakan mereka hanya di gunung-gunung, dan kurang memberikan pukulan terhadap pasukan Belanda, hingga kontribusi yang diberikan GPP terhadap perjuangan nasional ketika itu kurang berarti. Bahkan kehadiran mereka merupakan ancaman dan gangguan stabilitas nasional dan khususnya kawasan Malang.

Gerakan Pembela Proklamasi tidak sempat berkembang karena segera dicapai perjanjian gencatan senjata antara TNI dengan Belanda. Hal terjadi dengan dicapainya persetujuan gencatan senjata antara TNI dengan Belanda. Dengan persetujuan itu semua tentara yang dibentuk (kelaskaran) harus dikonsolidasikan kembali menjadi TNI, seperti pasukan Warrow kembali bergerak secara legal menjadi TNI dan dikirim ke luar Jawa dalam ekspedisi ke Ambon untuk menumpas RMS dengan kekuatan riil dua batalyon yaitu Batalyon Worang dan Batalyon Abdullah.

Panglima Divisi I/Brawijaya Kolonel Soengkono memanggil seluruh Komandan Batalyon di Jawa Timur untuk mengadakan rapat di Desa Gondang, Nganjuk. Kolonel Soengkono sudah mendapatkan laporan tentang kegiatan Sabaruddin, Tan Malaka dan kawan-kawannya. Oleh karena itu, ia menginstruksikan kepada Polisi Militer untuk menangkap Sabaruddin saat rapat di Nganjuk, kemudian membawanya ke Madiun.

Tetapi di tengah perjalanan Sabaruddin dieksekusi, demikian pula dengan Tan Malaka. Kejadian ini terjadi di tanggal 21 Februari 1949, di lereng Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur yang sebelumnya ia sudah dikabarkan hilang pada 19 Februari 1949. Ia dimakamkan di Desa Selopanggung, Kediri, di atas sebuah nisan dengan penamaan yang seadanya. Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Sukarno pada 28 Maret 1963 ditetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.

Sumber: Gerakan Kawi Pact dan Hilangnya Tan Malaka – Nur Hadi dan lain-lain

Yuk Bernostalgia di Oeklam-oeklam Heritage Kajoetangan Fest!

Yuk Bernostalgia di Oeklam-oeklam Heritage Kajoetangan Fest!
Yuk Bernostalgia di Oeklam-oeklam Heritage Kajoetangan Fest!

Warga Kota Malang akan diajak bernostalgia ke suasana tempo dulu, terutama di Kampung Kayutangan lewat ajang Oeklam-oeklam Heritage Kajoetangan Fest. Acara tersebut akan digelar dua hari, Jumat-Sabtu, 30-31 Agustus 2019.

Oeklam-Oeklam Heritage Kayutangan Fest sengaja digelar di sepanjang Jalan Basuki Rahmat atau yang dikenal sebagai Kajoetangan Straat di masa lampau. Kawasan heritage ini meliputi mulai dari ujung depan kantor PLN Malang hingga di depan Mall Sarinah.

Lokasi acara ini akan dibagi menjadi empat zona oleh penyelenggara. Zona-zona tersebut nantinya punya keunikan sajian masing-masing. Dijamin akan ada sensasi tersediri ketika menyambangi keempat zona tersebut.

Zona 1 khusus kawasan yang akan menggelar pameran foto dan lukisan heritage. Zona ini berlokasi di kawasan depan gedung Bank BNI. Akan ada pertunjukan layar tancap di Zona 2. Zona ini berada di kawasan depan UOB Bank.

Kampung Heritage Kayutangan ditunjuk sebagai Zona 3 sebagai zona utama acara ini. Di zona tersebut, pengunjung acara bisa menelusuri peninggalan-peninggalan budaya dan sejarah Kayutangan di masa lalu. Sementara, ada talkshow di Zona 4. Zona terakhir ini dipusatkan di DiLo Telkom.

Selain empat zona menarik tersebut, akan ada pula kegiatan lainnya. Ada acara bedah buku dan lomba Agustusan yang dipusatkan di depan gedung Gramedia Kayutangan. Di depan Hotel Richie pun akan ada gelaran yang tak kalah menariknya, yakni Open Kitchen dan pertunjukan musik dari Museum Musik Indonesia (MMI).

Kemudian, warga dapat menikmati secangkir kopi sebentar di Sarinah Mall. Tersedia berbagai macam kopi lawas, atau kopi-kopi yang asli Malang. Terakhir, terdapat pameran benda lawas di Hotel Pelangi.

Pada gelaran Oeklam-oeklam Heritage Kajoetangan Fest ini, Anda tak hanya bisa bernostalgia dengan Malang tempo dulu. Anda juga bisa menikmati aneka kuliner lawas yang mungkin mengingatkan pada masa kecil dulu.

Ingat dan catat tanggal pelaksanaannya. Siapkan diri Anda. Jangan sampai lupa, kenakanlah busana tempo dulu jika datang ke ajang Oeklam-oeklam Heritage Kajoetangan Fest ini untuk lebih menghayati suasana.

STAY CONNECTED

972FansSuka
196PengikutMengikuti
57PengikutMengikuti

POPULER