Khawatir Terjebak Macet, Warga Malang Wajib Catat Rute Kendaraan Hias 2018

Salah satu kendaraan hias untuk karnaval. (Foto: Molsumsel)
Salah satu kendaraan hias untuk karnaval. (Foto: Molsumsel)

Kegiatan yang rutin dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk peringati Hari Kemerdekaan Indonesia adalah penyelenggaraan karnaval. Salah satu karnaval atau festival yang selalu ada setiap tahun yaitu kendaraan hias. Nah, warga Malang wajib catat rute karnaval ini agar tidak terjebak macet.

Festival yang mempertontonkan kendaraan dihias ini sangat dinanti-nantikan oleh warga Malang. Ada yang terlibat untuk menjadi penonton, ada juga yang terlibat sebagai partisipan festival. Ada beberapa kategori festival kendaraan hias 2018 yang juga diperlombakan.

Kegiatan ini rencananya akan diselenggarakan pada Minggu, 19 Agustus 2018. Berikut ini rute yang akan dilalui oleh peserta lomba atau festival:

Pertama, para peserta sudah berkumpul di depan kantor Balai Kota Malang di Jalan Tugu. Area ini menjadi area start sekaligus penilaian dari para juri, serta disediakan panggung utama.

Kedua, para peserta yang telah melalui tahap penilaian dari juri selanjutnya akan menuju ke Jalan Kahuripan. Setelah itu menuju ke arah Jalan Semeru dan Jalan Ijen. Saat di Jalan Ijen, peserta lomba akan putar balik ke arah Museum Brawijaya yang menjadi garis finish. Ada tenda juri juga yang disediakan untuk kembali menilai kreativitas serta keunikan dari kendaraan yang diperlombakan.

Adapun kriteria penilaian Festival Kendaraan Hias 2018 sebagai berikut:

  • Kualitas hiasan
  • Proporsional, keseimbangan, keserasian, dan ragam hiasan
  • Pemilihan bahan ragam hias
  • Ketepatan waktu penyampaian atraksi peserta di depan panggung kehormatan
  • Finishing keseluruhan

Panitia penyelenggara juga menyiapkan hadiah berupa trophy dan uang pembinaan bagi pemenang Juara I, II, Ill dan Harapan I, II, III untuk kategori Mobil. Nah, bagi Anda yang tidak memiliki rencana kegiatan apapun pada hari tersebut, tak ada salahnya turut meramaikan festival tahunan ini.

Jalan Mayjend Sungkono, Jalur Utama di Timur Kota Malang

Jalan Mayjend Sungkono merupakan salah satu jalur utama di belahan timur Kota Malang. Jalan ini berada di kawasan Kecamatan Kedungkandang.

Dari arah selatan, Jalan Mayjend Sungkono berawal dari pertigaan Tlogowaru di depan Block Office alias Perkantoran Terpadu Kota Malang. Jika ke selatan, Anda akan menuju ke Jalan Tutut yang menghubungkan dengan kawasan Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.

Dari pertigaan jalan itu mengarah ke utara, Anda akan sampai di pertigaan dekat Terminal Hamid Rusdi. Jika ke kiri (arah barat), Anda akan melewati jalan kembar menuju ke Pasar Induk Gadang (Terminal Gadang lawas). Jika terus ke arah utara, Anda akan melewati depan Pondok Pesantren Darul Ulum Agung di kiri jalan, GOR Ken Arok di kanan jalan, sebuah SPBU di kiri jalan, lalu pertigaan jalan tembusan ke Kelurahan Bumiayu.

Terus ke utara, Anda akan melintasi Jembatan Kedungkandang. Sebelum jembatan terdapat jalan menurun, dan kembali menanjak setelah Anda melintasi jembatan. Jalan Mayjend Sungkono berakhir di pertigaan jalan yang berpotongan dengan Jalan Ki Ageng Gribig di sebelah utara dan Jalan Muharto di sebelah barat.

Sempat ada proyek pembangunan jembatan layang di sisi barat jembatan lama yang konon menelan dana hingga 95 miliar rupiah. Namun, hingga kini proyek tersebut tak pernah terealisasi. Alhasil, penampakan tiang pancang calon jembatan layang itu menjadi tontonan tersendiri ketika Anda melintas di Jembatan Kedungkandang.

Jalan Mayjend Sungkono menjadi salah satu jalan termacet di jam berangkat sekolah di pagi hari dan orang pulang kerja di sore hari. Sebagai salah satu akses warga Malang selatan menuju Kota Malang menjadikan jalan ini biasa dipadati pengendara kendaraan bermotor setiap jam sibuk. Pelebaran jalan yang dilakukan 2017 lalu setidaknya mengurangi kemacetan di wilayah ini. Hanya saja, banjir menjadi masalah tersendiri ketika memasuki musim hujan.

Terdapat beberapa sekolah yang ada di sepanjang Jalan Mayjend Sungkono ini. Di antaranya adalah SD Negeri Satu Atap Buring, SMA Negeri 6 Malang, SMA Darul Ulum Agung, dan Universitas Terbuka UPBJJ Malang.

Selain didominasi oleh tempat tinggal dan usaha rumahan, serta kaki lima, setidaknya ada dua perusahaan ternama yang kantornya bertempat di Jalan Mayjend Sungkono ini. Mereka adalah PT Indomarco Prismatama sebagai pengelola Indomaret dan PT Sinar Sosro sebagai produsen minuman ternama.

Segar dan Jernihnya Sumber Air Krabyakan

Bosan dengan coban dan pantai di Malang, tenang saja, di Malang masih memiliki banyak wisata air lainnya, salah satunya adalah sumber air. Selain Cangar sebagai sumber air panas yang cukup terkenal dengan air belerang yang memiliki berbagai macam manfaat, ada lagi sumber air yang menawarkan sensasi lain, yaitu Sumber Air Krabyakan.

Wisata Alam Sumber Krabyakan ini adalah sebuah kolam mata air alami yang memancar di Desa Sumber Ngepoh, gerbang utara Kabupaten Malang, tepatnya Kecamatan Lawang. Wisata alam ini terletak di kaki pegunungan di timur Kota Lawang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pasuruan. Sumber air telah ditata sedemikian rupa hingga akhirnya terbentuklah batu-batu yang cukup besar mengelilingi sumber mata air dengan perbukitan hijau alami yang mengelilingi sumber air tersebut, sehingga alami hijaunya pun memantul ke sumber mata airnya.

Aliran sungai di Sumber Air Krabyakan
Aliran sungai di Sumber Air Krabyakan via halomalang.com

Berbeda dengan Cangar, Sumber Air Krabyakan tidak menawarkan air panas atau air belerang, namun di sini terdapat pemandian air yang di sana juga terdapat terapi kolam ikan yang dapat membuat kaki Anda lebih relaks dan membersihkan sel-sel kulit mati di kaki. Apabila bosan bermain air di sana, Anda bisa pindah ke sungai dengan arus yang tidak terlalu deras dengan suasana alami yang menyegarkan. Jangan khawatir soal kebersihan airnya, di Sumber Air Krabyakan ini masih jernih dan bersih, sehingga Anda bisa menikmati air yang begitu segar dan jangan lupa untuk menjaga kebersihannya ya. Jangan sampai Anda membuang sampah atau menikmati jajanan sambil bermain air di sini agar kealamiannya tetap terjaga.

Baca juga: Pemandian Air Panas Cangar

Anda bisa menikmati jernihnya air dan hijaunya pemandangan di sini mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB dengan harga tiket masuk yang sangat murah, yaitu hanya Rp1.000 saja! Oleh karena itu ajak seluruh keluarga Anda, sanak saudara atau teman-teman Anda untuk menghabiskan waktu liburan di sini. Apabila telah lelah bermain air, Anda bisa menikmati kuliner-kuliner yang ada di sekitar Sumber Air Krabyakan ini.

Yang perlu disayangkan meski hanya harus teliti dan waspada karena kemacetan yang ada di Pasar Lawang, tidak ada petunjuk jalan untuk sampai di sumber air satu ini. Apabila Anda dari arah Kota Malang, Anda harus berputar balik terlebih dahulu melewati fly over lalu kembali menuju arah selatan. Namun, jika Anda dari arah Surabaya, setelah melewati fly over Lawang ambil jalur kiri agar lebih mudah ketika memasuki akses jalan menuju Wisata Alam Sumber Krabyakan, yaitu di sebrang timur Pasar Lawang atau Jalan Pandawa. Dari gerbang Jalan Pandawa Anda masih harus menempuh sekitar 3 km lagi, agar tidak tersesat jangan pernah malu untuk bertanya kepada masyarakat sekitar.

sumber foto: jalandarat.co.id

Kalau Surabaya Punya Via Vallen, Malang Punya Ratna Antika

Sosok Ratna Antika, si penyanyi dangdut koplo asal Malang. (Foto: kursrupiah.net)
Sosok Ratna Antika, si penyanyi dangdut koplo asal Malang. (Foto: kursrupiah.net)

Industri hiburan tanah air belakangan ini ramai membicarakan pendatang baru seperti Via Vallen, Nella Kharisma, dan Nissa Sabyan. Ketiga artis muda tersebut berasal dari daerah yang berbeda, misalnya saja Via Vallen yang notabene adalah penyanyi dangdut asal Surabaya. Nah, sebenarnya Malang pun punya penyanyi dangdut koplo yang juga tak kalah tenar yaitu Ratna Antika.

Pecinta musik dangdut koplo Pantura tentu sudah tidak asing dengan nama dara cantik bernama Ratna Antika. Banyak yang mengira bahwa penyanyi yang pernah bergabung dengan beberapa Orkestra Melayu Jawa Timur ini berasal dari Banyuwangi. Namun, sebenarnya ia lahir di Malang pada 28 April 1989.

Ratna memulai karirnya sejak lulus dari bangku SMA pada tahun 2007. Ia menyanyi dari panggung ke panggung bersama beberapa orkestra Melayu besar seperti OM Monata, New Pallapa, dan Sera. Parasnya yang cantik dan pembawaannya yang ceria saat di atas panggung mampu menyihir ratusan pasang mata penonton. Tak heran jika karirnya semakin bersinar dan namanya kian dikenal di kalangan pecinta dangdut Jawa Timuran.

Berbeda dengan Via Vallen yang terkesan kalem saat di atas panggung, Ratna Antika justru lebih terkesan berpenampilan tomboy. Jika kebanyakan penyanyi dangdut mengenakan gaun saat konser mereka, Ratna justru lebih sering mengenakan setelan kaos berompi dengan celana jeans. Rambutnya yang panjang berwarna hitam pun lebih sering diikat model ekor kuda lalu ia mengenakan topi dan bersepatu.

Salah satu lagu yang pernah ia bawakan dan sangat populer adalah Layang Sworo ciptaan Miswan. Lagu ini meledak di pasaran dan seringkali diperdengarkan pada tahun 2012-2013. Meskipun secara garis besar lagu tersebut bermelodi melow dan menceritakan tentang kerinduan seorang wanita pada kekasihnya, namun Ratna Antika mampu membawakannya dengan baik. Bahkan, lagu ini juga populer di kalangan anak remaja hingga orang tua.

Pada awal 2017, Ratna Antika bergabung dengan perusahaan rekaman PT Pancal Records Indonesia, kemudian merilis single album Jaman Android, Berita Hoax, dan Telolet Om. Ratna tak sendiri, ia juga mengembangkan karirnya bersama Nella Kharisma dan Sodiq Monata yang satu naungan perusahaan. Mereka memiliki satu album bersama yaitu Monata Goyang Reggae.

Kendang Jimbe Ala Desa Ngebruk Sumberpucung

Salah satu produksi kendang jimbe ada di Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung. (Foto: kerajinanindonesia.id)
Salah satu produksi kendang jimbe ada di Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung. (Foto: kerajinanindonesia.id)

Tak banyak yang tahu bahwa sebuah desa di Kabupaten Malang menjadi tempat produksi alat musik tradisional. Ya, tepatnya di Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung yang menghasilkan alat musik jenis kendang yang lebih dikenal dengan kendang jimbe.

Alat musik kendang jimbe berasal dari benua Afrika. Jimbe di beberapa daerah lain juga disebut dengan “djembe”, “jenbe”, “jyembe”, “jembe”, “jimbay” dan “sanbanyi”. Konon, alat musik ini muncul di Kerajaan Mali sekitar abad ke-12 dan menjadi alat musik pukul yang paling terkenal di Afrika dari alat musik pukul lainnya. Bahkan, jimbe sendiri disebut-sebut sebagai nenek moyang dari drum di seluruh dunia.

Ejaan jimbe pada awalnya menggunakan awalan huruf “dj” untuk kata “djembe”. Ada makna di balik ejaan tersebut karena berasal dari kata “anke dje” yang artinya semua orang berkumpul bersama-sama. Namun, saat kedatangan penjajah asal Perancis, ejaan “djembe” pun diubah menjadi “jembe”.

Saat masuk ke Nusantara, alat musik satu ini disebut sebagai kendang jimbe. Kendang jimbe merupakan sebuah kayu yang berbentuk gelas dan ditutup oleh kulit yang diikat dengan tali untuk mengencangkannya. Nah, salah satu tempat produksi kendang ini ternyata ada di Kabupaten Malang tepatnya di Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung.

Salah satu pengrajin kendang jimbe di Desa Ngebruk adalah Tomi Sasongko. Tomi selalu disibukkan dengan proses pembuatan kendang mulai dari pemilihan kayu, pengukiran, pewarnaan, hingga pemasangan kulit sapi atau kambing, serta finishing. Kayu yang digunakan sebagai bahan utama pun tak sembarangan, ia menggunakan kayu mahoni berkualitas.

Secara umum, proses pembuatan kendang diawali dengan membilah batangan kayu mahoni menjadi potongan kecil. Selanjutnya, potongan kecil kayu tersebut masuk dalam proses pembubutan untuk di bentuk menjadi kendang. Agar lebih menarik, maka kendang yang setengah jadi dihaluskan dan dipercantik ukiran seni.

Menariknya, kendang jimbe ala Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung ini telah diekspor ke berbagai negara seperti Amerika, Australia, dan beberapa negara di Eropa. Omzetnya pun mencapai puluhan juta dalam satu bulan.

Rujak Manis Semeru

Bila Anda tak terlalu suka rujak cingur karena bumbu kacang atau bahkan tidak suka cingur (mulut sapi)-nya, Anda bisa mencoba rujak dengan varian yang lain, yaitu rujak manis. Banyak juga rujak manis yang ada di Malang terkenal dengan rasanya yang enak dan legendaris karena telah mulai berjualan di Malang sejak lama, salah satunya adalah Rujak Manis Semeru.

Rujak Manis Semeru ini berlokasi dengan Stadion Gajayana, di belakang Mall Olympic Garden, seperti dengan namanya ‘Semeru’ rujak manis ini ada di Jalan Semeru Nomor 54. Rujak di sini terkenal dengan bumbunya yang terbuat dari gula merah, kacang tanah yang diulek agak kasar lalu diberi tambahan bawang putih serta campuran bumbu lainnya dan disajikan terpisah dengan buah-buahnya dengan sedikit sambal di pinggirnya. Rujak Manis Semeru ini terkenal dengan porsinya yang besar, jadi Anda cukup membeli satu porsi yang bisa Anda nikmati dua hingga tiga orang. Jadi semakin pas apabila Anda mengajak keluarga, pacar atau teman-teman Anda untuk menikmati buah-buahan yang di-cocol bumbu rujak bersama-sama.

Rujak manis di sini terbilang cukup legendaris, karena ia telah ada sejak tahun 1982 dan sampai sekarang masih eksis dan sering diburu pelanggan. Makanan yang sangat pas untuk Anda nikmati saat istirahat siang, lebih baik Anda pesan pada saat siang karena tak jarang banyak pelanggan yang tak segera datang kehabisan rujak manisnya, Rujak Manis Semeru buka mulai pukul 09.00 WIB hingga habis, biasanya mereka telah kehabisan stok saat menjelang sore.

Satu porsi di Rujak Manis Semeru
Satu porsi di Rujak Manis Semeru via halomalang.com

Untuk menemani buah-buahan dan bumbu yang sedap, Anda pun bisa membeli pelengkap seperti tahu petis dan krupuk. Cukup dengan Rp16.000 Anda bisa membawa pulang satu bungkus besar rujak manis di sini dan untuk minumannya sangat disarankan untuk memesan Es Degan dengan harga Rp5.000 untuk menyegarkan tenggorokan Anda di siang hari yang cukup panas di Malang dan bagi Anda pecinta makanan pedas yang mencampurkan banyak sambal ke bumbu rujak Anda, Es Degan merupakan minuman yang pas untuk meredakan pedasnya.

Sekitar 34 tahun sudah Rujak Manis Semeru ini menjadi salah satu kuliner yang banyak diminati warga Malang maupun warga yang datang ke Malang untuk liburan. Oleh karena itu Anda bisa mampir ke kawasan Stadion Gajayana dan mampir ke Rujak Manis Semeru untuk menikmati rujak manisnya yang memiliki rasa bumbu yang tak pernah berubah sejak tahun ke tahun. Meskipun banyak pelanggan, Rujak Manis Semeru ini tak pernah memiliki cabang, jadi jika Anda ingin mencoba rujaknya atau sedang rindu dengan rujaknya, Anda harus datang ke satu-satunya warung yang ada di Jalan Semeru ini.

sumber foto: kuliner.panduanwisata.id

Salah Kaprah Foto Mayor Hamid Rusdi, Pahlawannya Arek Malang

    Sulit mencari foto Mayor Hamid Rusdi, yang ada cuma sketsa wajah (C) HELMI WICAKSONO
    Sulit mencari foto Mayor Hamid Rusdi, yang ada cuma sketsa wajah (C) HELMI WICAKSONO

    Dalam memperingati Hari Pahlawan pada 11 November 2016 lalu, sempat beredar banner besar bertuliskan “Pahlawan Kebanggaanku Hamid Roesdi Gugur Berjuang Untuk Indonesia” di beberapa titik di Kota Malang. Yang mengejutkan, sosok dalam foto yang dipasang dengan latar belakang merah putih itu bukanlah foto Mayor Hamid Rusdi yang sebenarnya.

    Banner yang diyakini salah dalam pemasangan foto Mayor Hamid Rusdi itu terpampang di depan Stasiun Malang Kotabaru, depan ALun-alun Merdeka Malang, Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Ki Ageng Gribig dan di dekat Polsek Kedungkandang. Foto dalam banner-banner tersebut diyakini memang bukanlah sosok Hamid Rusdi. Jika dilihat sekilas, wajah dalam banner tersebut lebih mirip dengan orang dari Indonesia bagian timur, sementara Hamid Rusdi merupakan orang Jawa tulen yang lahir di Malang selatan. Dilihat dari seragam yang dikenakannya pun bukanlah seragam khas pasukan Hamir Rusdi yang merupakan anggota TNI Angkatan Darat, karena seragamnya lebih mirip punya pasukan KNIL.

    Kesalahan tersebut diduga berawal dari laman Wikipedia, karena penulis pernah melihat laman ensiklopedi itu memuat foto yang sama dengan foto pahlawan di banner tersebut dalam halaman tokoh Hamid Rusdi. Hal ini bisa dimaklumi dapat berpotensi membuat siapa saja yang mengakses halaman tersebut menjadi salah kaprah, sebab Wikipedia sendiri memang mempersilakan siapa saja dapat menyunting data di dalam laman itu.

    Jika dicari dalam laman pencarian Google, maka disebutkan foto yang terpampang di banner itu adalah Johannes Abraham Dimara yang merupakan pahlawan nasional dari daerah Papua. Laman Wikipedia Johanner Abraham Dimara pun dengan jelas memuat foto yang sama dengan yang dipajang dalam banner yang menghebohkan warga Malang tersebut.

    Sejak kemunculan banner-banner yang memuat foto Mayor Hamid Rusdi yang salah kaprah itu, komentar miring warga Malang Raya bertebaran di lini massa media sosial. Menurut informasi, banner Hamid Rusdi tersebut dipasang dalam rangka bentuk opini masyarakat untuk menjaga kebhinekaan, mengingat perjuangan para pejuang kemerdekaan. Dilansir dari laman Malang Post, diyakini Kodim 0833 Kota Malang merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas beredarnya banner-banner tersebut di sejumlah titik di Kota Malang. Saat dikonfirmasi koran tersebut, Komandan Kodim 0833 Kota Malang, Letkol Arm Aprianko Suseno mengaku langsung menindaklanjuti kesalahan pencantuman foto pahlawan tersebut.

    Namun, jika sekarang Anda melakukan pencarian di laman Wikipedia, foto Mayor Hamid Rusdi yang salah kaprah itu sudah menghilang. Di laman pahlawan tiga zaman itu bahkan tak ada foto yang terpampang.

    Cukup sulit memang mencari arsip foto Mayor Hamid Rusdi yang gugur pada 8 Maret 1949, meski Malang merupakan kota kelahiran pahlawan nasional tersebut. Memang, di Jalan Simpang Balapan Klojen, Kota Malang terdapat patung yang menggambarkan sosok tegas Hamid Rusdi, namun penampakannya itu pun diduga cuma berdasarkan rekaan sketsa wajah.

    Dikutip dari laman Kompasiana, sebuah artikel berjudul ‘Swajiwanita, Sepotong Kisah Romansa Hamid Rusdi di Tengah Kecamuk Perang’ sang penulis, Abdul Malik mencantumkan sketsa wajah dari Mayor Hamid Rusdi yang diambilnya dari skripsi Helmi Wicaksono, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang, berjudul ‘Revolusi Fisik di Kota Malang tahun 1945-1949, pada halaman 154, yang diterbitkan pada tahun 2012.

    Enam Hal Menarik yang Ada di Alun-alun Batu

    Tak lengkap bila Anda telah ke Batu namun tak mampir untuk sekadang duduk santai atau naik bianglala di sekitar Alun-alun Batu. Alun-alun Batu memiliki daya tariknya sendiri yang pasti berbeda dari berbagai wahana wisata yang berjejeran di kota Batu ini. Meskipun gratis, Anda akan memiliki momen-momen terbaik di sini dan tentunya tak kan terlupakan. Ya, karena akan ada enam hal istimewa di Alun-alun Batu!

    Tugu buah apel sebagai poros alun-alun.

    Poros alun-alun Batu via kotabatu.besaba.com

    Begitu banyak perkebunan apel bahkan wisata memetik apel di Batu tak mengherankan apabila buah apel menjadi buah khas di sini sehingga tak heran juga bila di poros Alun-alun Batu ini terdapat buah apel hijau yang begitu besar. Anda bisa mengabadikan momen dengan mengambil beberapa foto dengan background buah apel raksasa ini.

    Bianglala, Ferris Wheel

    Ferris Wheel
    Ferris Wheel dengan background birunya langit yang cantik via blakraxtrip.com

    Daya tarik dari Alun-alun Batu ini sebenarnya adalah bianglala yang rupanya memiliki nama yaitu Ferris Wheel. Terdapat tujuh belas kabin dengan berbagai macam warna yang ada di Ferris Wheel, merah, kuning, dan hijau. Bagi Anda yang ingin menikmati suasana Batu dari atas dengan menaiki salah satu kabinnya, Anda hanya butuh Rp3.000 saja. Di dalamnya Anda bisa berdua sampai bertiga menikmati pemandangan dari atas sambil mengambil beberapa foto.

    Selain itu Ferris Wheel ini sangat cantik jika di foto dari bawah dan kejauhan, terutama di pagi hari dengan background langit biru dan awan yang putih lalu dipadukan dengan warna-warni kabin yang berputar pelan.

    Lampion-lampion hewan yang lucu

    Lampion-lampion yang menyala via indonesiakaya.com
    Lampion-lampion yang menyala via indonesiakaya.com

    Mulai dari singa, sapi, angsa dan berbagai macam hewan lucu lainnya menghiasi Alun-alun Batu. Hewan-hewan ini juga jangan sampai ketinggalan ada di foto Anda, ya! Paling bagus apabila di malam hari, karena lampunya akan menyala dan lampion-lampion hewan tersebut akan menjadi indah.

    Basah-basahan di air mancur

    Air mancur di Alun-alun Batu via kaskus.co.id
    Air mancur di Alun-alun Batu via kaskus.co.id

    Di suatu sudut di Alun-alun Batu, Anda akan menemukan spot beberapa air mancur kecil. Anda dan anak-anak Anda bisa bermain air dengan seru di sini. Air mancurnya rendah dan kecil, jadi tak akan melukai anak kesayangan Anda tentunya.

    Taman bermain anak

    Taman Bermain Anak di Alun-alun Batu via kompasiana.com
    Taman Bermain Anak di Alun-alun Batu via kompasiana.com

    Di sini Anda juga akan menemukan taman bermain anak seperti prusutan dan berbagai macam lagi yang tidak akan membuat anak Anda bosan berada di alun-alun Batu.

    Berbagai macam kuliner

    Depot Susu Ganesha yang ada di dekat alun-alun Batu, Anda cukup jalan kaki dari sana via pesonanegeri.com
    Depot Susu Ganesha yang ada di dekat alun-alun Batu, Anda cukup jalan kaki dari sana via pesonanegeri.com

    Di sekeliling alun-alun Batu Anda bisa menikmati aneka ragam kuliner, mulai dari ketan legenda, susu segar, ceker setan, dan jajanan-jajanan lainnya yang bisa Anda nikmati setelah lelah bermain dan bersantai di alun-alun.

    Alun-alun Batu memang tidak memperbolehkan pengunjung untuk merokok, namun bagi Anda yang ingin merokok telah disediakan tempat di sebelah timur dan utara untuk smoking area. Lalu ada bangunan strawberry untuk informasi dan bangunan apel untuk toilet. Berbagai macam wahana dan fasilitas bisa Anda nikmati, jadi jangan sampai Anda tidak menyempatkan ke Alun-alun Batu dan jangan lupa membawa kamera terbaik Anda karena banyak yang cantik dan lucu untuk diabadikan dalam foto.

    sumber foto: pegipegi.com

    Tur Ke 5 Kuliner Tempo Doeloe Malang

    Rasanya Malang tidak seperti Malang yang dulu, di mana jalanan masih lenggang dan tidak panas. Berbeda dengan keadaan Malang saat ini yang dipenuhi dengan kafe, mall, anak muda yang semakin tahun semakin membludak jumlahnya untuk menuntut ilmu di kota Pendidikan ini dan membuat jalanan Malang memiliki beberapa titik yang setiap harinya selalu macet.

    Kelelahan Anda mungkin bisa diredakan dengan berjalan-jalan menikmati kuliner tempo doeloe! Ada 5 kuliner yang telah ada sejak tempo doeloe yang bisa Anda nikmati sambil mengingat-ingat bagaimana kota Malang dulu. Mungkin hal tersebut dapat merileksasikan Anda agar esok hari dapat menjalani rutinitas di kota Malang lebih tenang lagi.

    Tur ke-5 kuliner tempo doeloe tersebut adalah:

    Bakso President (Sejak 1977)

    Salah satu lokasi Bakso President Malang di Jalan Batanghari via jarangpanas.com
    Salah satu lokasi Bakso President Malang di Jalan Batanghari via jarangpanas.com

    Dibuka dengan makanan yang paling khas kota Malang yang telah ada sejak 1977. Bakso yang didirikan oleh Abah Sugito ini memiliki banyak variasi bakso, mulai dari bakso campur hingga bakso bakarnya. Cabangnya pun banyak, sehingga Anda bisa menjangkau Bakso President yang paling dekat dengan rumah Anda. Tapi jika Anda rindu suasana tempo doeloe sambil makan bakso, Anda bisa ke Bakso President yang berlokasi di  Jl. Batanghari No. 5, Jawa Timur 65111. Makan bakso sambil merasakan getaran dari kereta api, hanya ada di Bakso President ini.

    Untuk informasi lebih lengkap, Anda bisa membaca post: Perjuangan Bakso President Malang

    Angsle Ronde Titoni (Sejak 1948)

    Ronde Titoni via halomuda.com
    Ronde Titoni via halomuda.com

    Mungkin bagi Anda tahun 1977 belum cukup lawas untuk menikmati kuliner lawas dan bernostalgia, tenang saja, mari lanjut ke destinasi selanjutnya. Angsle Ronde Titoni ini ada sejak 1948, di sini selain dapat menikmati makanan manis berkuah yang di dalamnnya terdapat roti tawar, kacang hijau, agar-gara dan juga kuah kental yang memiliki rasa manis guring alias angsle, Anda bisa memesan menu lainnya seperti ronde kering atau ronde basah.  Lokasi Angsle Ronde Titoni ini ada di Jalan Zainul Arifin.

    Depot Hoklay (Sejak 1946)

    Fosco, photo by heytheresia.
    Fosco, photo by heytheresia.

    Tidak jauh dari 1948 dengan Angsle Ronde Titoni, Anda bisa menikmati kuliner yang lebih lawas lagi, Depot Hoklay yang ada sejak 1946. Di sini Anda dapat menikmati Lumpia yang begitu lezat dan minuman yang telah dijajakan sejak zaman kolonial Belanda, yaitu Fosco. Fosco adalah es susu coklat dicampur dengan sirup karamel yang ditempatkan di botol Cola-cola dan di Depot Hok Lay bisa Anda dapatkan dengan Rp7.000 saja. Pada zaman penjajahan Belanda, Fosco dijajakan keliling dengan sepeda kayuh. Pasti spesial sekali Anda bisa menikmati minuman yang telah ada pada zaman 50an dan di tempat yang sama, nilai historisnya begitu tinggi.

    Menu dan dekorasi tempo dulu lebih lengkap bisa Anda baca di: Nostalgia Malang Tahun 50an di Depot Hoklay

    Putu Lanang Celaket (Sejak 1935)

    Puthu enak via halomuda.com
    Puthu enak via halomuda.com

    Setelah menikmati kuliner yang ada sejak tahun 40an, mari menikmati kuliner yang ada di Malang sejak tahun 30an. Salah satunya adalah Putu Lanang Celaket yang berlokasi di Jalan Agung Soeprapto No. 13 Malang.  Kue putu yang ada di ‘Putu Lanang Celaket’ di atasnya ditambah taburan parutan kelapa lebih banyak, sehingga anda akan menambah rasa gurih. Selain kue putu, anda juga bisa menikmati menu lainnya seperti klepon dan lupis.

    Toko Oen (Sejak 1930)

    Toko Oen tempat kuliner lawas khas Malang
    Toko Oen Malang (C) travelblog.ticktab.com

    Destinasi terakhir dan sebagai makanan penutup, Anda bisa ke kuliner yang lebih lawas lagi yaitu sejak 1930! Toko Oen yang terkenal dengan Tutti Fruity Cassata, Sparkling Delight, Morkus, dan masih banyak lagi. Sangat cocok bagi pemburu kuliner legendaris dan yang ingin bernostalgia dengan suasana Malang tempo dulu.

    Untuk tau cita rasanya lebih lanjut Anda bisa membaca di: Rasa Tempo Doeloe di Toko Oen.

    Jika sudah suntuk-suntuknya dengan kota Malang yang ramai dan macet, bisa Anda siapkan waktu untuk menikmati ke-5 kuliner tempo doeloe ini dan buktikkan bagi Anda manakah makanan yang paling bisa membuat Anda merasakan Malang yang dulu.

    Mau Diet Jangan Mampir ke Warung Lupa Diet, Dijamin Gagal

    Warung Lupa Diet di Jalan Kawi (C) NICKENWAHYUDI
    Warung Lupa Diet di Jalan Kawi (C) NICKENWAHYUDI

    Anda berencana diet sekarang? Wah, kalau benar demikian jangan coba-coba mampir ke Warung Lupa Diet. Pasalnya, rencana diet yang sudah Anda susun susah payah bakal terancam gagal total.

    Warung Lupa Diet justru semakin mengundang rasa penasaran pecinta kuliner karena namanya yang unik. Tak heran jika warung yang berlokasi di Jalan Kawi No. 14, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen Kota Malang ini ramai pengunjung.

    Warung Lupa Diet Malang merupakan salah satu tempat makan di Kota Malang yang menyediakan berbagai sajian kuliner selama 24 jam. Sajian kulinernya pun beragam mulai dari masakan khas Indonesian, masakan barat, maupun masakan Chinese. Soal harga, Anda tak perlu cemas karena cafe ini menyediakan menu dengan harga yang ramah kantong.

    Menariknya, Warung Lupa Diet juga menawarkan private meeting room yang bisa digunakan sebagai opsi terbaik mengadakan kegiatan bersama-sama. Pengunjung biasanya melakukan reservasi untuk acara meeting, sweet engagement, birthday party, family gathering, dan lain-lain.

    Tak hanya itu, setiap hari Sabtu dan Minggu pengunjung akan dihibur dengan penampilan live music yang membuat suasana malam minggu semakin asik.

    Nah, bagi yang malas keluar rumah pun bisa memesan makanan atau minuman melalui Go Food. Jadi, Anda pun dapat menikmati kuliner di Lupa Diet tanpa harus datang langsung. Untuk informasi lebih lengkapnya bisa cek di Instagram @lupadietmlg.

    STAY CONNECTED

    961FansSuka
    196PengikutMengikuti
    57PengikutMengikuti

    POPULER