Jalan R Tumenggung Suryo, dengan Ikon Pusat Oleh-oleh Khas Malang

Jalan R Tumenggung Suryo, dengan Ikon Pusat Oleh-oleh Khas Malang - JALANJALANDIKOTAMALANG
Jalan R Tumenggung Suryo, dengan Ikon Pusat Oleh-oleh Khas Malang - JALANJALANDIKOTAMALANG

Jalan R Tumenggung Suryo merupakan salah satu jalan lingkar timur yang ada di Kota Malang. Jalan tersebut punya ikon pusat oleh-oleh khas Malang yang berjajar di sisi timur jalan.

Nama jalan ini diambil dari nama Gubernur Jawa Timur yang pertama (1945-1948), yaitu Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo. Lahir di Magetan, 9 Juli 1898, ia sempat menjabat sebagai Bupati Magetan sebelum menjadi gubernur. Pahlawan Nasional Indonesia ini ditemukan meninggal bersama dua orang polisi pengawalnya pada 10 November 1948, setelah mobil mereka dicegat di Walikukun, Widodaren, Ngawi, oleh pasukan pro-PKI.

Jalan R Tumenggung Suryo membentang dari utara ke selatan di wilayah Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing Kota Malang. Panjang jalan ini standar, dan cukup lebar, yakni terdiri dari dua lajur, di mana satu lajur bisa digunakan oleh dua kendaraan berbadan besar.

Ujung utara Jalan R Tumenggung Suryo dimulai dari pertigaan yang biasa disebut Pertigaan Sulfat, karena berpotongan dengan Jalan Sulfat di sebelah timur. Sementara itu di sebelah utaranya terdapat Jalan Sunandar Priyo Sudarmo. Anda bisa masuk ke Jalan R Tumenggung Suryo dari kedua jalan tersebut, atau sebaliknya.

Dari Pertigaan Sulfat, tak jauh ke arah selatan, terdapat pertigaan kecil yang berpotongan dengan Jalan Citandui di sebelah barat, lalu Jalan Cikaso di sebelah timur, dan Jalan Ciwulan Timur yang juga di sebelah timur. Ke selatan lagi, ada pertigaan Jalan Cibuni 1 di sebelah timur, lalu perempatan yang berpotongan dengan Jalan Cibuni 2 di sebelah timur dan Jalan Taman Indragiri di sebelah baratnya. Terus ke seltan lagi ada pertigaan Jalan Sanan I A di sebelah barat, lalu sampailah di perempatan Jalan Sanan.

Dari Perempatan Jalan Sanan, ke selatan lagi Anda akan menemukan pertigaan Jalan Bango di sebelah timur, pertigaan Jalan Opak di sebelah barat, dan pertigaan Jalan Taman Serayu yang juga di sebelah barat. Ke selatan terus, Anda akan menemukan perempatan, yang jika ke barat ada Jalan Serayu dan ke timur ada Jalan Lahor.

Ujung selatan Jalan R Tumenggung Suryo ada di sebuah bundaran Patung Jenderal Sudirman, yang merupakan sebuah perempatan. Jika ke timur, Anda akan masuk ke Jalan Hamid Rusdi, jika ke barat (memutar bundaran dulu, Anda akan masuk ke Jalan WR Supratman, sedangkan lurus masuk ke Jalan Panglima Sudirman.

Banyak pilihan tempat membeli oleh-oleh khas Malang di Jalan R Tumenggung Suryo ini. Dari utara, ada Toko Sananta, Kripik Tempe Rohani, Lancar Jaya Kripik Tempe dan Buah, Kripik Tempe Bu Nurdjanah, Kripik Tempe Pak Tohir, dan lain-lain.

Selain lapak usaha, ada banyak juga lembaga sekolah di sepanjang Jalan R Tumenggung Suryo ini. Sebut saja dari selatan ke utara ada SMP Negeri 20 Malang, SMK Ardjuna 1 Malang, SMA Taman Siswa (Taman Madya), dan SMP Taman Siswa (Taman Dewasa).

Kereta Api Gajayana yang Layani Malang-Jakarta Sejak 1999

Kereta Api Gajayana yang Layani Malang-Jakarta Sejak 1999
Kereta Api Gajayana (C) WIKIPEDIA

Kereta Api Gajayana merupakan kereta penumpang kelas Eksekutif Satwa, Luxury Plus (Reguler), dan Kelas Eksekutif Satwa (Tambahan). Kereta api ini dioperasikan oleh PT Kereta api Indonesia (Persero) Daerah Operasi VIII Surabaya yang melayani rute Malang-Jakarta PP sejak tahun 1999.

Gajayana merupakan satu-satunya kereta api eksekutif yang melayani rute Malang-Jakarta maupun Jakarta-Malang melalui jalur Kertosono. Total perjalanan sejauh 912 km ditempuh kereta api ini dalam waktu selama sekitar 15 jam. KA Gajayana hanya berhenti di Stasiun Malang Kotabaru, Malang Kotalama, Kepanjen, Wlingi, Blitar, Tulungagung, Kediri, Kertosono, Nganjuk, Madiun, Solo Balapan, Yogyakarta, Kutoarjo, Kebumen (kecuali KA 41, arah timur), Karanganyar (hanya jadwal reguler), Purwokerto, Cirebon, Jatinegara (hanya KA 41, ke arah barat), dan berhenti di Stasiun Jakarta Gambir.

Kereta Api Gajayana resmi beroperasi pada tanggal 28 Oktober 1999. Nama kereta api ini diambil dari nama seorang raja dari Kerajaan Kanjuruhan, yaitu Sang Liswa (anak dari Dewa Shima) yang bergelar Gajayana. Kerajaan itu sendiri berpusat di daerah Dinoyo, Kecmatan Lowokwaru, Kota Malang. Karena sang tokoh sangat dicintai oleh para brahmana dan rakyatnya setelah membawa ketenteraman di seluruh negeri, harapannya kereta api ini juga dicintai oleh para pelanggannya.

Pada mulanya, kereta ini beroperasi dengan kelas eksekutif dan bisnis. Rangkaian kereta kelas bisnisnya merupakan ‘bekas’ dari KA Turangga yang kelebihan gerbong baru dari INKA. Barulah pada tahun 2001, KA Gajayana diberi rangkaian eksekutif oleh INKA, sehingga layanannya berubah sepenuhnya menjadi kelas eksekutif.

Rangkaian KA Gajayana diubah dari rangkaian keluaran tahun 2001 menjadi kereta eksekutif (K1) satwa retrofit (kaca lebar) dari INKA sejak Oktober 2008. Kereta ini sebenarnya adalah kereta eksekutif lama yang diretrofit (diganti kacanya) menjadi baru. Lalu, usai lebaran 2009, rangkaian kereta api ini kembali diubah menjadi kereta berkaca pesawat keluaran tahun 2009 dan rangkaian lamanya dihibahkan untuk KA Bangunkarta Eksekutif pada 5 Desember 2009. Kemudian, pada tahun 2017, rangkaian KA Gajayana menggunakan rangkaian terbaru dari INKA, yakni bogie K10 yang mirip dengan rangkaian KA Argo Bromo Anggrek jika dilihat tampilan eksteriornya. Terakhir, pada tahun 2019, kereta api ini mendapatkan rangkaian kereta terbaru.

Saat ini, rangkaian KA Gajayana terdiri dari delapan gerbong eksekutif argo (K1), satu kereta makan (M1), satu kereta pembangkit listrik (P), dan satu kereta bagasi (B). Kereta api ini juga dilengkapi satu unit kereta kelas eksekutif luxury yang punya tempat duduk bisa disetel seperti tempat tidur. Untuk lokomotifnya, kereta ini menggunakan Lokomotif CC 206 dengan Dipo Induk JNG/Dipo Induk YK.

Sebagai kereta eksekutif, KA Gajayana dilengkapi fasilitas menarik. Ada toilet, pintu otomatis, dua TV (depan-belakang), AC sentral, reclining seat, sandaran kaki, lampu baca, meja makan per kursi, stopkontak per kursi, dan rak bagasi. Sebagaimana karena malam lainnya, tersedia pula tambahan fasilitas bantal dan selimut untuk tiap kursi.

Oleh-oleh Thomas Stamford Raffles dari Malang

Oleh-oleh Thomas Stamford Raffles dari Malang

Empat tahun setelah diangkat sebagai Letnan Gubernur Jawa pada tahun 1811, ketika Kerajaan Inggris mengambil alih jajahan-jajahan Kerajaan Belanda, Sir Thomas Stamford Raffles mengunjungi Malang. Dalam perjalanan yang dicatatnya dalam buku “The History of Java” itu, Raffles sempat membawa oleh-oleh dari Malang.

Perjalanan Raffles ke Malang yang dibukukannya itu tak cuma mengunjungi Candi Singosari dan menemukan beberapa artefak lainnya. Setelah mengunjungi seluruh tempat yang diselidikinya di sekitar Singosari, Raffles memimpin rombongan melanjutkan perjalanan menuju ke Malang sebelah tenggara. Setelah menemukan reruntuhan bekas Benteng Kuto Bedah, rombongan Raffles keesokan harinya melanjutkan perjalanan menuju reruntuhan di Kedal (Kidal) dan Jagu (Jago), yang berjarak sekitar tujuh mil.

Pada bukunya itu, Raffles juga mencatat, sebelum meninggalkan Malang, mereka mengambil sket dari dua patung yang diambil dari depan dan juga patung seorang laki-laki ‘aneh’ dengan rambut terikat. Selain itu, Raffles juga menerima hadiah dari seorang Tumenggung berupa sebuah kotak kayu segi empat berisi sebuah lingam emas.

Tiga bulan sebelumnya, sebuah kotak di bawah tanah ditemukan oleh seorang petani ketika menggali batu untuk digunakan sebagai tungku. Lingam itu masih dalam keadaan utuh dengan dua batu kecil berwarna merah, seperti batu ruby. Namun, salah satu batu kecil merah itu hilang sebelum diterima Raffles. Ia pun membawa pulang batu yang tersisa untuk dipelajari kemudian.

Tradisi Kembul Dungo yang Unik di Kota Batu

Tradisi Kembul Dungo yang Unik di Kota Batu (C) ARIS DK/RADAR MALANG
Tradisi Kembul Dungo yang Unik di Kota Batu (C) ARIS DK/RADAR MALANG

Ada sebuah tradisi unik yang disebut Tradisi Kembul Dungo di masyarakat Kota Batu. Tradisi ini dimaksudkan sebagai ungkapan penuh pengharapan masyarakat setempat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Jika diartikan secara harfiah, Kembul Dungo berasal dari Bahasa Jawa. Kata kembul mengacu pada kegiatan berkumpul bersama yang dilakukan masyarakat setempat, sedangkan dungo artinya doa. Jadi, Kembul Dungo bisa diartikan kegiatan berdoa yang dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat Kota Batu, dengan tujuan masing-masing.

Dalam gelaran Tradisi Kembul Dungo ini dilakukan bermacam-macam kegiatan. Dimulai dengan Ngarak Tumpeng, yakni mengarak tumpeng keliling Kota Batu. Lalu, dilanjutkan dengan Ujub-ujub, yaitu suatu doa khas Jawa. Ada pula pelantunan tembang Mocopat, pagelaran seni, ekral tumpeng, dan terakhir kembul tumpeng alias makan tumpeng bersama-sama.

Kegiatan Kembul Dungo ini biasa digelar di Candi Supo atau yang juga biasa disebut Candi Songgoriti. Candi tersebut dipilih karena merupakan salah satu cagar budaya dengan nilai tradisi yang layak dilestarikan yang dimiliki Kota Batu. Dipilih tempat-tempat yang demikian lantaran tidak semua tempat bisa digunakan untuk berdoa jika ingin doa itu segera bisa diijabah.

Candi Songgoriti sendiri merupakan tempat istimewa di Kota Batu yang dianjurkan menjadi tempat digelarnya tradisi Kembul Dungo. Candi tersebut juga kerap menjadi tempat menggelar acara kesenian, juga jamasan benda-benda pusaka di bulan Sura. Jamasan merupakan sebuah upacara ritual membersihkan benda-benda pusaka, seperti keris, tombak, dan sejenisnya.

Gelaran acara Tradisi Kembul Dungo ini biasanya juga turut dimeriahkan penampilan seniman lokal dan mancanegara yang sekaligus merayakan hari ulang tahun Malang Dance. Ada Suprapto Suryodharmo dari Padepokan Lemah Putih Solo, Tri Broto Wibisono dari Surabaya, Yinii dari Shanghai China, Jarot BD dari Studio Taksu Solo, dan lain-lain.

Kyai Wongso, Kebun Kopi, dan Sejarah Desa Sumberkerto

Kyai Wongso, Kebun Kopi, dan Sejarah Desa Sumberkerto

Desa Sumberkerto merupakan salah satu desa di Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. Dalam sejarahnya, tak banyak yang mengetahui jika desa tersebut erat hubungannya dengan seorang sakti bernama Kyai Wongso dan keberadaan perkebunan kopi.

Berdasarkan cerita dari para sesepuh Desa Sumberkerto, pada zaman dahulu kala, sebelum menjadi desa, wilayah tersebut masih berupa hutan belantara. Tidak diketahui siapa yang membuka hutan itu untuk pertama kalinya. Namun, hutan tersebut sudah berwujud perkebunan kopi yang dinamai Sumberkotes. Peninggalan berupa kebun kopi itu hingga sekarang masih ada di wilayah Desa Sumberkerto.

Sayang, dari waktu ke waktu, perkebunan kopi itu mengalami perkembangan yang memburuk, kabarnya karena kekurangan modal. Lama kelamaan, kemundurannya memaksa para penggarapnya pergi meninggalkan perkebunan tersebut. Tanah-tanah menganggur itu pun kembali menjadi bongkor (hutan) lagi.

Kemudian, pada tahun 1862, datanglah seorang sakti bernama Kyai Wongso. Diketahui, sang kyai datang dari wilayah Ponorogo, Jawa Timur. Ia datang ke bekas perkebunan kopi itu bersama para pengikutnya. Babat alas (bedah krawang) pun mereka lakukan. Lama kelamaan, pengikut Kyai Wongso semakin banyak. Akhirnya, atas kesepakatan bersama, terbentuklah sebuah desa, yang awalnya dinamai Desa Sumberwader.

Nama Sumberwader dipakai lantaran di wilayah desa tersebut terdapat sebuah sumber besar, yang konon dihuni oleh banyak ikan wader. Desa ini pada awalnya masih menjadi satu wilayah dengan Desa Gampingan, Kecamatan Pagak. Karenanya, desa ini hanya dipimpin oleh seorang Kamituwo. Lalu, baru pada tahun 1910, Pemerintah Hindia-Belanda melakukan pemecahan Desa Gampingan. Hasil pemecahannya itu kemudian dinamakan Desa Sumberkerto, yang dipimpin oleh Trisnopawiro sebagai Kepala Desa pertama kalinya.

Sumber: http://desa-sumberkerto.malangkab.go.id/read/detail/2499/sejarah-desa-sumberkerto.html

Profil SMP di Kota Malang: SMP Negeri 3 Malang

Profil SMP di Kota Malang: SMP Negeri 3 Malang (C) SMPN 3 MALANG
Profil SMP di Kota Malang: SMP Negeri 3 Malang (C) SMPN 3 MALANG

SMP Negeri 3 Malang terletak di Jalan Dr. Cipto No. 20, Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Sekolah ini sudah berdiri sejak 17 Maret 1950.

Keberadaaannya diresmikan melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 187/SK/B/III/1960, tanggal 25 Mei 1960. SMP Negeri 3 Malang memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) 20533765, dan SK Izin Operasional bernomor 187/SK/B/III/1960, tanggal 25 Mei 1960.

Sekolah Menengah Pertama ini merupakan salah satu SMP favorit yang terletak tak jauh dari pusat pemerintahan Kota Malang, yakni di utara Balaikota Malang. Sama dengan SMP pada umumnya di Indonesia, masa pendidikan di sekolah ini bisa ditempuh dalam waktu tiga tahun pelajaran, mulai dari Kelas VII sampai Kelas IX.

SMP Negeri 3 Malang menyediakan banyak fasilitas untuk menunjang kegiatan belajar mengajar para siswa. Selain kelas, ada pula ruang perpustakaan, laboratorium Biologi, laboratorium Fisika, laboratorium Komputer, dan laboratorium Bahasa.

Sebagai sekolah negeri milik Pemerintah Daerah, SMP Negeri 2 Malang juga mempunyai visi dan misi. Visinya mewujudkan siswa, guru, dan karyawan SMP Negeri 3 Malang unggul dalam penguasaan IPTEKS yang berlandaskan IMTAQ, budi pekerti luhur, dan berwawasan lingkungan. Sementara itu, misinya meningkatkan wawasan pengetahuan keagamaan yang didasari keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, menumbuhkan semangat keunggulan pada warga sekolah dan membudayakan sikap peduli terhadap lingkungan hidup, melengkapi dan memberdayakan media pembelajaran secara maksimal untuk meningkatkan prestasi akademis siswa, melaksanakan pembelajaran secara intensif, terjadwal, efektif, dan efisien bagi guru dan siswa, meningkatkan kualitas kegiatan ilmiah tim PIR / KIR ke tingkat nasional dan internasional, menyelenggarakan program kegiatan kompetensi dan kompetisi bagi pengembangan profesi guru dan prestasi siswa, menjalin kerja sama antara sekolah, orang tua siswa, Komite Sekolah, dan Stake Holder secara rutin, melengkapi sarana kesenian dan olahraga guna meningkatkan prestasi dalam bidang kesenian dan olahraga.

SMPN 3 Malang memiliki motto Bina Taruna Adiloka (Bintaraloka) yang diambil dari Bahasa Sansekerta. Bbina berarti mendidik, Taruna berarti generasi muda, Adi berarti terbaik, dan Loka berarti sasana/tempat. Berdasarkan semboyan tersebut tampak secara jelas bahwa SMP Negeri 3 Malang adalah tempat menempa generasi muda agar menjadi manusia-manusia terbaik.

Bermacam ekstra kurikuler (eskul) ditawarkan di SMP Negeri 3 Malang. Siswa bisa memilih ekskul kesenian, seperti seni tari, band, paduan suara, seni lukis, teater, dan story telling. Ada juga ekskul olahraga, seperti bola voli, bola basket, futsal, badminton, tenis meja, catur, dan karate. Ada pula ekskul ke-Islaman, seperti baca-tulis Al Quran dan samroh/albanjari. Siswa juga bisa memilih ekskul lainnya, seperti pramuka, PIR/KIR, robotika, Palang Merah Remaja, Paskibraka, Bahasa Mandarin, olimpiade IPA, olimpiade Matematika, olimpiade sastra, dan jurnalistik.

Jalan WR Supratman, dengan Ikon Rumah Sakit Lavalette

Jalan WR Supratman, dengan Ikon Rumah Sakit Lavalette (C) JALANJALANDIKOTAMALANG
Jalan WR Supratman, dengan Ikon Rumah Sakit Lavalette (C) JALANJALANDIKOTAMALANG

Jalan WR Supratman merupakan salah satu jalan bersejarah di Kota Malang. Di jalan ini terdapat beberapa bangunan kuno, dengan ikonnya Rumah Sakit Lavallete yang ada di utara jalan.

Nama jalan ini diambil dari nama seorang pahlawan nasional Indonesia bernama Wage Rudolf Soepratman. Pria yang lahir 9 Maret 1903 dan meninggal 17 Agustus 1938 itu dikenal sebagai pengarang lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya.

Jalan ini membentang dari timur ke barat di wilayah administratif Keluruahan Rampal Celaket, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Dilihat dari bentuk fisiknya, jalan ini tak terlalu panjang, dan ruas jalannya pun tak lebar, hanya cukup untuk dua lajur kendaraan besar.

Ujung timur Jalan WR Supratman ini ada di sebuah bundaran di mana di tengahnya terdapat patung pahlawan nasional Indonesia lainnya, Jenderal Sudirman. Bundaran itu berpotongan dengan Jalan Panglima Sudirman. Anda bisa masuk ke Jalan WR Supratman dari Jalan Panglima Sudirman di sebelah selatan dan Jalan Hamid Rusdi di sebelah timur, atau sebaliknya. Jika Anda datang dari sebelah utara, atau Jalan R Tumenggung Suryo, harus memutar bundaran dulu sebelum ke arah barat.

Tak jauh dari bundaran itu terdapat bangunan sekolah SMP Negeri 5 Malang. Di sebelah baratnya, ada RS Lavalette. Sementara, di seberangnya terdapat dertan ruko-ruko. Terus ke barat, Anda akan sampai di sebuah pertigaan yang jika ke utara (belok kanan) ke arah Jalan Mahakam.

Di sebelah barat pertigaan tersebut, melintang jalur rel kereta api dari utara ke selatan. Rel kereta api itu menghubungkan Stasiun Blimbing dengan Stasiun Malang Kotabaru. Jalan WR Supratman berakhir di sebuah pertigaan jalan besar yang berpotongan dengan Jalan Letjen Sutoyo di sebelah utara dan selatan.

Pada sebelah barat rel kereta api terdapat deretan lapak usaha. Mulai dari Simpang Luwe Cafe, PT AIA Financial, Pondok Lombok Ijo, Toko Kue dan Roti Ninie, Dealer Hitachi Tulungagung, Butik Capsule Hostel, Vansben Yogurt, Maha Gaya Lorenz, PT Siantar Mobil Indonesia, Nur Jaya Variasi dan Bengkel, Ferly Florist, Toko Barokah, Apotek Srikandi, Bakso Urat Super Ceker Pedas, Aurora Second Outdoor, dan lain-lain.

Sementara itu, di sebelah timur rel kereta api, tepatnya di ruko WR Supratman, ada lapak usaha lainnya. Sebut saja Onde-onde KenYang, Warung Gorengan Pak Djon, Mie Ayam Jakarta Cak Ontel Lavalette, Warung Lamongan Cak Rie, Malang Strudel, Desy Boutique, Pegadaian Rampal, Oke Shop, Amaya Bakery and Snack, Apotek WR Supratman, PT Asuransi Himalaya, Lanitta Bakery, Realizm Store, Parahyangan Market, PT BNI Sekuritas, Rawon Seger Hj. Etik, Pecel Mbak Pit, Nasi Pecel Blitar Bu Sulis, Amanda Brownies, Bakso Kota Cak Man, Central Artha Niaga, dan lain-lain.

Warung Soto Pak Amir Karanglo yang Tak Pernah Sepi

Warung Soto Pak Amir Karanglo yang Tak Pernah Sepi (C) AKULILY.COM
Warung Soto Pak Amir Karanglo yang Tak Pernah Sepi (C) AKULILY.COM

Mencari warung soto di wilayah Malang Raya cukup mudah, meski memiliki kekhasan masing-masing. Seperti Warung Soto Pak Amir Karanglo yang sudah cukup punya nama di kalangan pecinta soto di kota ini.

Warung Soto Pak Amir ini menyediakan menu andalan soto daging dengan cita rasa yang cukup ringan. Dibilang ringan karena rasanya tidak neko-neko, lantaran tak banyak macam bumbu yang dicampurkan. Rasa kuahnya yang gurih menjadi daya tarik tersendiri untuk menyantapnya. Seporsi soto daging itu juga berisikan tauge, koya, dan tak ketinggalan daging sapi yang dimasak sedemikian rupa hingga teksturnya lembut. Komposisi tersebut yang akhirnya menghasilkan rasa yang begitu nikmat di lidah dan mulut.

Di Warung Soto Pak Amir ini Anda bebas memilih antara nasi atau lontong untuk penyajian satu porsi soto daging yang dipesan. Dengan lotong, perpaduan cita rasa kuah, koyah dan lontongnya akan semakin terasa. Jika Anda memilih nasi untuk menemani seporsi soto daging pesanan, cita rasanya pun tak berubah.

Selain itu, di Warung Soto Pak Amir ini juga tersedia aneka lauk tambahan. Ada tempe, tempe kacang dan mendol yang bisa Anda tambahkan dalam seporsi soto daging yang dihidangkan. Ada pula rempeyek udang, opsi lain lauk yang bisa Anda santap. Biasanya, rempeyek ini baru tersaji sekitar pukul 10.00, dan tak butuh waktu lama akan segera laris manis.

Warung ini berlokasi di wilayah Jalan Gembong, Tunjung Tirto yang cukup strategis. Jalan tersebut merupakan penghubung dari wilayah Karanglo ke arah Karangploso dan Kota Batu. Tentu saja, warung soto ini menjadi jujugan bagi para wisatawan yang melintas di sana.

Setiap hari, Warung Soto Pak Amir Karanglo buka mulai pukul 08.00 WIB, dan tutup pada sore hari. Pastikan Anda tidak datang terlalu sore jika tak ingin kehabisan soto daging yang lengkap dengan lauk andalannya.

Ayo, Ikuti Penggalangan Dana untuk Didik Nini Thowok

Ayo, Ikuti Penggalangan Dana untuk Didik Nini Thowok

Seniman Malang Raya menggelar acara penggalangan dana untuk Didik Nini Thowok, seniman tari senior. Acara ini digelar di dua tempat berbeda selama dua hari berturut-turut.

Acara pertama sudah digelar di kampus Universitas Brawijaya (UB), Kamis (5/12/2019) kemarin. Sementara itu, pada hari kedua acara dipindahkan ke seberang kampus UB, tepatnya di Mall Malang Town Square (Matos), Jumat (6/12/2019). Penggalangan Dana untuk Didik Nini Thowok ini akan dihelat di lantai dasar Matos, atau di depan Hypermart, mulai pukul 13.00 WIB.

Beberapa atraksi tari akan ditampilkan oleh para seniman Malang Raya dalam acara galang dana ini. Ada Jaranan Dor dari Jabung, Kidungan Cak Marsam, Rinding Bedjo, Tari Persembahan Pecinta Kebaya, dan Tari Topeng Gunungsari oleh Eko Ujang. Puncak acara akan dimeriahkan sebuah persembahan tari spesial dari sang maestro, Didik Nini Thowok. Acara ini akan dipandu Master of Ceremony (MC) Ki Bagong Sabdo Sinukarto (Gong Saraswati) dari pasuruan.

Penggalangan Dana untuk Didik Nini Thowok ini sendiri merupakan bentuk keprihatinan para seniman lokal Malang Raya terhadap seniornya tersebut. Selama ini para seniman sepuh dinilai kerap mengalami kesulitan di masa tuanya. Harapannya, dengan acara semacam ini setidaknya bisa meringankan beban di hari tua.

Dongeng Saputangan Pelangi Milik Nyi Mas Madusari (2)

Dongeng Saputangan Pelangi Milik Nyi Mas Madusari
Dongeng Saputangan Pelangi Milik Nyi Mas Madusari

Sri Baginda Raja Purwa mengetahui putrinya, Nyi Mas Madusari baru saja kehilangan saputangan pelangi. Raja Kerajaan Purwacaraka itu pun memerintahkan seorang prajurit penjaga Tamansari, tempat tinggal si putri untuk pergi ke Gunung Tengger. Ia diperintahkan menemui pertapa bernama Biku Gandakusuma yang dinilai tahu segalanya.

Si prajurit utusan itu pegi ke Gunung Tengger dengan berkuda. Sesampainya di sana, ia disambut dengan ramah oleh Biku Gandakusuma. Pesan dari Raja Purwa segera disampaikannya. Biku Gandakusuma pun mengheningkan cipta, melakukan ajian ngrogo sukma. Jiwanya melayang-layang dalam hening. Tak lama berselang, pencuri pun datang menghadap.

“Duhai, Sang Biku Agung. Maafkanlah hamba yang hina ini. Hamba mengaku bersalah. Hamba telah menginginkan milik sesama secara tidak adil. Hamba telah mencuri. Apalagi yang hamba curi adalah saputangan pelangi milik Nyi Mas Madusari. Semula hamba mengira, tanpa kerja hamba bisa hidup bahagia asalkan hamba memiliki saputangan pelangi. Ternyata dugaan hamba salah besar. Hamba orang serakah. Hamba bertekuk lutut dan pasrah. Hukuman apa yang akan Biku berikan terserahlah,” kata pencuri itu.

“Wahai, Tuan Prajurit. Pencurinya telah menyerah. Ia mohon ampun, bertobat dan pasrah. Kuserahkan dia pada Tuan,” kata Biku Gandakusuma.

“Sang Biku, saya berterima kasih sekali padamu. Perkenankanlah saya mohon pamit. Pencuri ini hendak saya bawa ke kerajaan untuk diserahkan kepada Sri Baginda Raja Purwa.”

“Pulanglah Tuan dengan selamat. Pesanku, jadikan pencuri itu sebagai seorang sahabat, karena dia telah bertobat.”

Prajurit utusan Kerajaan Purwacaraka itu pulang membawa tawanan seorang pencuri dengan bangganya. Sesampainya di hadapan raja, pencuri yang bertobat itu ternyata mendapat pengampunan. Si pencuri harus mengabdi dalam kerajaan untuk beberapa waktu lamanya, sebelum akhirnya ia diangkat sebagai seorang prajurit pilihan.

Bunga-bunga di Tamansari bermekaran. Sang bayu bertiup perlahan. Bau wanginya semerbak ke mana-mana. Kini Nyi Mas Madusari tak lagi cemas. Saputangan pelangi miliknya dapat ditemukan lagi. Dipandangnya bunga anggrek putih. Mekar segar wangi semerbak.

Nyi Mas Madusari mengulum senyum, menggigit bibir sambil mengibas-ngibaskan saputangan pelanginya.

Cerita ini mengajarkan kepada kita untuk selalu berhati-hati dalam hidup. Kesetiaan seorang emban dan prajurit penjaga taman layak diteladani. Mereka rela mengabdi dalam suka dan duka. Kesucian hati sang biku dapat membuat ketajaman jiwanya, sehingga bisa tahu sebelum terjadi. Baginda Raja memiliki sifat yang arif dan bijaksana dengan memaafkan seorang pencuri yang benar-benar bertobat.

Sumber: Cerita Rakyat dari Tengger – YPB Wiratmoko

STAY CONNECTED

972FansSuka
196PengikutMengikuti
57PengikutMengikuti

POPULER