Soto Sate Pujasera UB, Unik dan Siap Menggoyang Lidah

Seporsi soto sate di Pujasera UB. (Foto: Riska Suci Rahmawati)
Seporsi soto sate di Pujasera UB. (Foto: Riska Suci Rahmawati)

Soto dan sate adalah dua jenis kuliner yang biasa dinikmati secara terpisah. Namun, salah satu gerobak kuliner di Pujasera Universitas Brawijaya (UB) menyajikan keduanya menjadi satu hidangan yang unik dan siap menggoyang lidah, sehingga dikenal dengan nama soto sate.

Soto sate menjadi salah satu primadona di pujasera yang terletak di sebelah utara Gedung Samantha Krida, Universitas Brawijaya. Tepatnya berada di pojok dekat dengan pintu keluar yang menghubungkan Universitas Brawijaya dengan sebuah gang kecil tempat kos mahasiswa. Ada sebuah banner yang cukup besar bertuliskan “Selamat Datang di Pujasera Universitas Brawijaya”, sehingga meskipun berada di sudut, tetapi Anda akan mudah menemukannya.

Pujasera ini buka sejak pagi, sekitar pukul 07.30 WIB dan tutup pada sore hari. Namun, karena biasanya tempat ini ramai dikunjungi mahasiswa, jika makanan atau minuman yang dijual sudah habis sebelum jam tutup, para penjual juga memilih tutup lebih awal.

Pintu masuk menuju Pujasera Universitas Brawijaya (UB). (Foto: Riska Suci Rahmawati)
Pintu masuk menuju Pujasera Universitas Brawijaya (UB). (Foto: Riska Suci Rahmawati)

Saat memasuki area pujasera, kita akan menuruni anak tangga dan melihat beberapa gerobak makanan dan minuman. Ada sekitar 12 meja kayu yang cukup besar dilengkapi dengan dua kursi panjang yang dapat menampung sekitar 10 sampai 15 orang. Di salah satu sisi juga dapat ditemukan sebuah wastafel untuk mencuci tangan.

Dari sekian gerobak kuliner, ada salah satu gerobak yang sangat digemari yaitu gerobak soto. Selain menyajikan soto ayam, ada juga menu unik yang jadi ikon di pujasera ini yaitu soto sate. Selain karena unik dan berbeda, harga seporsi soto sate pun hanya dibandrol Rp 10.000,00 saja. Harga yang tergolong murah di kantong mahasiswa.

Gerobak soto yang menjual soto sate di Pujasera UB. (Foto: Riska Suci Rahmawati)
Gerobak soto yang menjual soto sate di Pujasera UB. (Foto: Riska Suci Rahmawati)

Jika Anda beruntung, Anda dapat memesan tanpa perlu mengantre lama. Namun, jika menjelang siang hari, biasanya antrean di gerobak ini cukup panjang dan tentunya perlu kesabaran ekstra pada pelayanan yang lebih lama. Maka, akan lebih baik jika Anda datang di pagi hari.

Penampakan soto sate yang menggugah selera. (Foto: Riska Suci Rahmawat)
Penampakan soto sate yang menggugah selera. (Foto: Riska Suci Rahmawat)

Seporsi soto sate berisi nasi dengan kuah soto yang ditaburi irisan kol, bihun, dan kecambah. Lalu, sekitar empat tusuk sate ayam lengkap dengan bumbu kacang dan irisan bawang merahnya menjadi penyempuran soto. Sensasi perpaduan kuah soto dengan bumbu kacang dari sate ayam dijamin akan membuat lidah Anda merasakan kenikmatan. Penasaran ingin mencobanya?

Suasana di area Pujasera UB ketika pagi hari. (Foto: Riska Suci Rahmawati)
Suasana di area Pujasera UB ketika pagi hari. (Foto: Riska Suci Rahmawati)
Mencicipi soto sate bersama teman jauh lebih seru. (Foto; Riska Suci Rahmawati)
Mencicipi soto sate bersama teman jauh lebih seru. (Foto; Riska Suci Rahmawati)

Tradisi Tedhak Siten Masih Ada di Malang

Tradisi tedhak siten atau turun tanah di mana secara simbolis bayi diperkenalkan untuk pertama kalinya ke lingkungannya. (Foto: AengAeng)
Tradisi tedhak siten atau turun tanah di mana secara simbolis bayi diperkenalkan untuk pertama kalinya ke lingkungannya. (Foto: AengAeng)

Tedhak siten adalah salah satu tradisi pada masyarakat Jawa terhadap bayi. Kita masih mudah menjumpai tradisi ini di berbagai wilayah di Jawa Timur, begitu juga di Malang.

Tedhak siten sendiri berasal dari kata ‘tedhak‘ yang berarti ‘ngidek‘ atau ‘menginjak’, dan ‘siten‘ yang berarti ‘tanah’. Maka dari itu, banyak yang menyebut tradisi ini sebagai ritual mudhun lemah atau turun tanah. Sebagian masyarakat Jawa juga menyebutnya dengan istilah mitoni yang berasal dari kata ‘pitu‘ atau ‘tujuh’ karena upacara ini biasanya dilaksanakan pada saat bayi berusia tujuh bulan.

Tedhak siten sendiri adalah simbol rasa syukur orang tua dan keluarga kepada Yang Maha Kuasa karena telah dititipi buah hati, sekaligus menjadi simbol pengenalan bayi untuk pertama kalinya terhadap lingkungan sekitarnya. Selain itu, masyarakat Jawa juga percaya bahwa tradisi ini berisi semua harapan dan arahan dalam hidup si bayi kelak.

Upacara ini juga pernah dilakukan di Candi Jago, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang yang dipimpin oleh Ki Suryo, seorang budayawan Jawa. Karena pada umumnya dilakukan di rumah dengan mengundang tetangga dan kerabat, pelaksanaan tedhak siten di sebuah situs budaya yang jadi tempat wisata menyorot perhatian khalayak, terutama wisatawan.

Adapun rangkaian dalam upacara tedhak siten yang perlu dilalui bayiPertama, bayi dipanjatkan tangga yang terbuat dari tebu dengan didampingi orang tuanya. Tebu memiliki akronim ‘anteping kalbu‘ atau ‘ketetapan hati’ dalam menjalani kehidupan. Sementara tangga dimaknai sebagai simbol kehidupan, jika tidak sesuai alur -yaitu berjalan lurus ke atas- maka kelak akan roboh.

Kedua, bayi melalui proses ‘napaki jadah‘ atau berjalan di atas jenang yang terbuat dari ketan yang terbagi atas tujuh warna. Ketujuhnya antara lain warna hitam, ungu, biru, hijau, merah, kuning, dan putih. Napaki jadah menyimbolkan hidup berawal dari yang gelap dan berakhir dengan terang.

Selanjutnya adalah si bayi dimasukkan dalam kurungan ayam yang diibaratkan sebagai simbol dunia. Di dalam kurungan tersebut berisi aneka macam barang seperti alat musik, buku, uang, alat dapur, dan lain sebaginya. Bayi harus memilih satu dari sekian banyak benda yang diletakkan dalam kurungan. Masyarakat Jawa percaya bahwa benda yang dipilih untuk pertama kalinya oleh si bayi menggambarkan masa depannya jika sudah dewasa, misalnya jika si bayi memilih alat dapur maka kelak di masa depan ia akan pandai memasak, jika memilih uang maka ia akan menjadi seorang yang kaya raya -atau justru sangat menyukai uang. Benda-benda dalam kurungan menjadi semacam penuntun bagi bayi dalam memilih pekerjaan nanti.

Setelah  itu, bayi juga harus memilih gambar tokoh wayang yang dipercaya dapat membentuk karakternya ketika dewasa. Ada yang percaya bahwa anak zaman sekarang tidak punya arah karena dahulunya tidak melalui proses tedhak siten yang dianggap sangat penting.

Lalu, bayi yang mengikuti prosesi ini dimandikan dengan air dari tujuh sumber. Jika di Malang, orang tua bayi biasanya mengambil air dari Sumber Awan, Sumber Nagan, Watu Gede, Wendit, Candi Kidal, Candi Jago, dan Sumber Jenon. Mengapa bayi dimandikan dengan air dari tujuh sumber yang berbeda? Karena, pitu atau tujuh sumber mengandung makna pitulungan atau pertolongan. Setiap sumber memiliki warna, rasa, dan khasiat sendiri.

Selanjutnya, si bayi ditempatkan dalam tikar yang sudah diberi uang koin dan beras kuning. Beras adalah simbol dari rezeki dan kehidupan yang bermakna dalam mencari panguripan (penghidupan) dan upo (beras atau butiran nasi) jangan sampai terperdaya dengan urusan duniawi. Sedangkan uang koin harus diberikan oleh si bayi pada orang lain yang hadir sebagai simbol untuk berbagi kepada sesama atau sedekah.

Terakhir, bayi kemudian dikumpulkan dengan anak-anak sebayanya yang juga hadir sebagai lambang dari hidup bersosialisasi. Ini juga menekankan bahwa dalam adat masyarakat Jawa, hidup bersama dan menjalin hubungan dengan orang lain menjadi hal yang penting.

Sumber: Budaya Jawa

Cari yang Dingin-dingin di Kampoeng Es Krim Tamanharjo Singosari

Selain menawarkan aneka es krim dengan berbagai rasa dan bentuk, Kampoeng Es Krim juga menawarkan beberapa spot foto. (Foto: Instagram @rangga_praschetio)
Selain menawarkan aneka es krim dengan berbagai rasa dan bentuk, Kampoeng Es Krim juga menawarkan beberapa spot foto. (Foto: Instagram @rangga_praschetio)

Musim hujan telah tiba, biasanya untuk menemani aktivitas pada musim yang dingin seperti ini kita mencari kuliner yang dapat menghangatkan badan. Tapi, jika Anda ingin berbeda dengan mencari kuliner yang dingin-dingin maka kami merekomendasikan Kampoeng Es Krim Tamanharjo di Kecamatan Singosari.

Sudah sangat biasa jika mencari kedai-kedai yang menjual es krim, tetapi bagaimana jika ada satu kampung yang warganya berjualan es krim? Wah, pasti unik sekali ya. Di bagian utara Kota Malang terdapat sebuah kampung tematik yang menjajahkan aneka macam es krim yaitu Kampoeng Es Krim Tamanharjo. Lokasinya berada di Jalan Rogonoto, Dusun Damean, Desa Tamanharjo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Berdasarkan informasi yang telah dihimpun ngalam.co, kampung ini hanya buka pada Sabtu dan Minggu pukul 07.00 – 20.30 WIB.

Ada banyak varian es krim yang dapat Anda jumpai di kampung ini mulai dari es krim cup, tar es krim, es krim kejepit, hingga es krim kekinian lainnya. Soal harga juga bervariasi, tergantung dengan bentuk dan rasa es krimnya. Menariknya, pengunjung juga diperbolehkan memesan desain es krim yang diinginkan kepada warga setempat, tentunya dengan dipatok tarif khusus.

Salah satu variasi es krim yaitu tart es krim di Kampoeng Es Krim. Murni terbuat dari es krim tanpa ada campuran roti. (Foto: Instagram @eskrimtartmalang_)
Salah satu variasi es krim yaitu tart es krim di Kampoeng Es Krim. Murni terbuat dari es krim tanpa ada campuran roti. (Foto: Instagram @eskrimtartmalang_)

Kampung tematik yang unik ini digagas oleh Rohmat Basuki beserta istrinya Luaeki Rosita yang merupakan warga Dusun Damean. Awalnya, Rohmat mencoba mempromosikan es krim buatan temannya, tetapi ia dan istrinya justru berkecimpung langsung membuat es krim. Untuk pemasarannya, mereka memanfaatkan media online untuk mempromosikan es krim hasil buatannya. Ternyata respon pasar juga sangat bagus sehingga mendorong keinginan untuk mengajarkan cara membuat es krim kepada warga di Dusun Damean melalui karang taruna.

Saat ini, Kampoeng Es Krim Tamanharjo tidak hanya menyediakan aneka es krim tetapi juga aneka spot foto seperti gazebo untuk wisatawan. Sayangnya, masih belum banyak orang yang tahu tentang keberadaan kampung unik ini sehingga wisatawan yang hadir juga tergolong sedikit.

Misteri Kamar Mandi Terlarang di Kantor BPBD Kota Batu

Ada kamar mandi terlarang di Kantor BPBD Kota Batu (C) BATU TIMES
Ada kamar mandi terlarang di Kantor BPBD Kota Batu (C) BATU TIMES

Gudang Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu ternyata menyimpan kisah misteri. Di sana Anda bisa menemukan sebuah kamar mandi terlarang yang menyimpan sejuta tanya kenapa tidak boleh dipergunakan.

Kisah misterius itu pernah dikuak oleh Tim Penghuni Lain Malang Post dan Nocturnal Division pada tahun 2017 silam. Mereka mengeksplorasi gudang yang digunakan BPBD untuk menyimpan bahan logistik kedaruratan tersebut. Saat itu, gudang tersebut baru saja ditempati beberapa bulan. Sebelumnya, ruangan tersebut dipakai untuk kantor Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker).

Tak banyak yang tahu, tempat itu dulunya merupakan bekas tempat peristirahatan bernama Vila Alipah, milik seorang pengusaha asal Kota Malang. Pemerintah Kota Batu kemudian membeli tanah beserta bangunannya pada tahun 2012 lalu. Dulunya, vila tersebut cukup terkenal, sehingga tamu yang menyewa pun keluar masuk silih berganti.

Seperti dilansir Malang Post, sang penjaga vila, Sutarno, membenarkan bahwa memang ada kamar mandi terlarang di gedung tersebut. Kamar mandi misterius itu berada di salah satu ruangan yang dulu sempat dipergunakan sebagai ruangan TU (Tata Usaha) Dinsosnaker. Meski sudah hampir 20 tahun menjaga vila tersebut, Sutarno mengaku tidak mengetahui sejak kapan kamar mandi itu sengaja ditutup dan tidak dipakai lagi.

“Saya tidak tahu kenapa kok kita dilarang untuk membuka kamar mandi itu. Saya hanya tahu sering terdengar ada suara orang batuk di dalam kamar mandi itu semalaman,” ungkapnya, dilansir laman yang sama.

Menurutnya, tempat tersebut memang angker. Meski belum pernah melihat penampakan hantu dengan kepalanya sendiri, namun Sutarno mengaku kerap mendengar suara orang berjalan, suara tangisan wanita, dan lain-lain. Masih menurutnya, ketika para tamu penyewa sudah pulang, kadang terdengar suara kegaduhan seperti ketika vila ini masih dihuni oleh tamu.

“Yang paling sering itu mendengar ada suara tangisan, seorang wanita. Ya hanya tangisan, tidak ada wujudnya. Suara tangisan seorang wanita di kolam yang ada di bawah,” tandasnya.

Jajanan Ala Italia yang Murah dan Menggoda di Pizza Kanelopp

Penampakan pizza berdiameter 26 cm dari Pizza Kanelop yang dibandrol harga Rp 40.000 saja. (Foto: Riska Suci Rahmawati)
Penampakan pizza berdiameter 26 cm dari Pizza Kanelop yang dibandrol harga Rp 40.000 saja. (Foto: Riska Suci Rahmawati)

Pizza menjadi salah satu jajanan ala Italia yang populer di Indonesia. Banyak restoran dari skala kecil hingga besar yang menjajahkan kuliner ini, hanya saja harganya cukup menguras kantong. Di Kota Malang ada sebuah usaha rumahan yang menawarkan pizza dengan harga murah sekaligus menggoda yaitu Pizza Kanelopp.

Pizza Kanelopp berlokasi di Trimosemut, Kelurahan Tasikmadu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Meskipun bukan berupa kedai atau tempat makan, Anda bisa memesan pizza secara online.

Ada beragam menu yang ditawarkan di Pizza Kanelopp dengan harga mulai dari Rp 15.000,00. Jika ingin pizza yang termurah, Anda dapat memesan variasi ‘kanelopp’ dengan ukuran 22 cm yang terdiri dari topping keju parut, sosis, mayonaise, dan bawang bombay. Jika Anda pecinta keju, maka tak ada salahnya mencoba menu ‘double mozza’ berdiameter 26 cm yang terdiri dari topping jagung, bakso, keju mozzarella, keju parut, sosis, dan mayonaise. Menu ini dibandrol seharga Rp 40.000,00 yang bisa dinikmati dua hingga tiga orang. Menu lain yang patut dicoba adalah ‘pizza mozza’ berdiameter 22 cm dengan harga Rp 30.000,00; ‘sausage bytes’ berdiameter 26 cm seharga Rp 50.000,00; dan ‘cheese bytes’ berdiameter 26 cm seharga Rp 60.000,00. Anda juga dapat menambahkan topping lain sesuai selera dengan tambahan biaya.

Daftar menu di Pizza Kanelopp. (Foto: Instagram @citrayuansa)
Daftar menu di Pizza Kanelopp. (Foto: Instagram @citrayuansa)

Meskipun terbilang murah meriah, pizza yang dijual di sini juga memiliki rasa yang tak kalah nikmat dengan restoran yang lebih dulu punya nama. Maka dari itu, tak heran jika Pizza Kanelopp diminati oleh para mahasiswa karena ramah di kantong.

Keunggulan lainnya adalah Anda dapat melakukan pemesanan melalui layanan Grabfood. Jika Anda beruntung, Anda bisa mendapatkan potongan harga atau diskon karena Grabfood cukup sering memberikan promo.

 

Malang, Saksi Cinta Abadi Roweina Umboh dan James Sahertian

Roweina Umboh dan James Sahertian (C) BINTANG.COM
Roweina Umboh dan James Sahertian (C) BINTANG.COM

Kota Malang menjadi saksi terjalinnya kisah cinta pasangan aktor dan aktris, James Sahertian dan Roweina Umboh. Di kota tersebut mereka pertama ketemu sebelum akhirnya maut memisahkan setelah James sang suami meninggal dunia di Jakarta pada 12 April 2015 lalu karena gagal jantung.

Dilansir dari Bintang.com, perkenalan pasangan yang selama perkawinan jauh dari gosip miring itu berawal dari tahun 1994. Kala itu keduanya sedang menjalani proses syuting di Malang bersama rumah produksi yang berbeda. Di kota yang dijuluki sebagai Kota Apel itulah keduanya berkenalan dan saling bercerita tentang kesibukan masing-masing.

Pertemuan berikutnya antara pasangan James dan Roweina ini baru terjadi lima tahun kemudian. Tepatnya ketika ayah Roweina meninggal pada 18 Januari 1999. Saat itu, James mendengar kabar duka itu dari kerabatnya. Seperti yang ditulis oleh fastnewsindonesia.com, disebutkan kala itu James mengirim SMS yang isinya menguatkan Roweina untuk tabah, bersabar dan mengikhlaskan kepergian papanya. Barulah pada malam harinya, James menyempatkan waktu berkunjung ke rumah Roweina untuk mengucapkan belasungkawa secara langsung.

Seiring berjalannya waktu, hubungan keduanya semakin dekat. Pada Juni 1999, akhirnya James memberanikan diri untuk melamar Roweina. Awalnya, pria kelahiran Jakarta, 2 Mei 1967 itu mengajak Roweina berjalan-jalan. Di tengah perjalanan, James menghentikan endaraannya untuk sejenak mengutarakan keinginannya mengajak Roweina ke pelaminan.

Karena merasa ada kecocokan, Roweina menerima lamaran tersebut. Keduanya akhirnya menikah pada 7 Oktober 1999. Pemberkatan dilangsungkan di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, sedangkan resepsi pernikahannya digelar di Ballroom Holiday Crown Plaza, Gatot Soebroto, Jakarta pada hari yang sama.

Pasangan ini bisa dibilang cukup romantis karena baik James maupun Roweina punya nama penggilan kepada masing-masing pasangannya. James memanggil sang istri dengan panggilan sayang Way, sedangkan Roweina sering memanggil suaminya dengan panggilan sayang Nyu.

James dan Roweina dikarunia dua orang anak dari pernikahan tersebut. Keduanya bernama Sharon Josephine Sahertian dan Sean Sahertian. Si Sulung Sharon ternyata mengikuti jejak kedua orang tuanya di dunia keartisan. Perempuan kelahiran 3 Juni 2001 itu menjadi model dan pemain sinetron.

Dwi Cahyono, Sosok Hebat Pendiri Museum Malang Tempo Doeloe

Dwi Cahyono, pengDwi Cahyono, pengusaha sekaligus pendiri Museum Malang Tempo Doeloe. (Foto: Malang Voice)usaha sekaligus pendiri Museum Malang Tempoe Doeloe. (Foto: Malang Voice)
Dwi Cahyono, pengusaha sekaligus pendiri Museum Malang Tempo Doeloe. (Foto: Malang Voice)

Mungkin Anda sudah pernah jalan-jalan ke Museum Malang Tempo Doeloe yang terletak di Jalan Gajahmada, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Museum yang didirikan pada Oktober 2012 ini ternyata tidak terlepas dari ide dan kerja keras pendirinya yaitu Dwi Cahyono. Lalu, siapa Dwi Cahyono?

Dwi Cahyono adalah pria kelahiran Malang, 13 Juli 1966 yang menggeluti banyak bidang. Ia adalah seorang pengusaha yang tertarik dengan sejarah dan benda-benda antik. Selain dikenal sebagai pendiri Museum Malang Tempo Doeloe, pria yang pernah mencalonkan diri sebagai Walikota Malang periode 2013-2018 ini juga dikenal sebagai pegiat sejarah dan pimpinan Yayasan Inggil di Kota Malang.

Tak hanya berupa museum, putra dari pasangan H. Abdul Madjid dan Hj. Nur Sriati ini juga menuangkan ide “Malang Tempo Doeloe”-nya melalui festival yang diselenggarakan hampir setiap tahun di Kota Malang. Biasanya, festival tersebut diadakan di Jalan Ijen dan Jalan Simpang Balapan.

Sepak terjangnya dalam dunia bisnis sekaligus sejarah memang tak perlu diragukan lagi. Tak heran jika ia diundang untuk membagikan pengalamannya di banyak seminar atau acara, baik yang diadakan oleh kalangan akademisi maupun pejabat pemerintah.

Berikut ini beberapa dokumentasi dari realisasi ide-ide inspiratif Dwi Cahyono:

Gambar terkait
Salah satu sisi di Museum Malang Tempo Doeloe. (Foto: Jejak Piknik)
Hasil gambar untuk rumah makan inggil
Rumah Makan Inggil milik Dwi Cahyono yang juga mengusung konsep “jadoel”. Rumah makan ini sering disasar oleh wisatawan karena lokasinya yang berada di pusat Kota Malang. (Foto: Lingkar Malang)

 

Hasil gambar untuk festival malang tempo dulu
Festival Malang Tempo Doeloe (MTD) yang diadakan oleh Yayasan Inggil yang dipimpin Dwi Cahyono. (Foto: Main Bareng)

Gelar Seminar Kebudayaan, BEM FIB UB Ajak Mahasiswa Berpikir Kritis

Kegiatan Seminar Kebudayaan yang diadakan BEM FIB UB. (Foto: Riska Suci Rahmawati)
Kegiatan Seminar Kebudayaan yang diadakan BEM FIB UB. (Foto: Riska Suci Rahmawati)

Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya (BEM FIB UB) menggelar kembali program tahunan Nidayaku. Salah satu kegiatan dalam rangkaian acara tersebut adalah Seminar Kebudayaan yang diselenggarakan pada Sabtu (1/12). Melalui seminar ini, BEM FIB UB mengajak mahasiswa yang hadir untuk berpikir lebih kritis.

Seminar yang dimulai pukul 13.30 WIB ini mengusung tema “Pola Pikir Kritis dalam Kebudayaan”. Adapun dua pembicara utama yang mengisi acara yaitu Nindyo Budi Kumoro, M.A (selaku dosen Antropologi di Fakultas Ilmu Budaya) dan Aji Prasetyo (seniman dan komikus). Sesuai dengan bidangnya masing-masing, keduanya memberikan materi tentang kritik sosial dan budaya.

Nindyo menguraikan sejarah kemunculan pola pikir kritis yang menjadi kunci dari ilmu pengetahuan. Menurutnya, ilmu pengetahuan dapat berkembang sedemikian rupa hingga saat ini karena adanya dialektika atau perdebatan yang terus menerus mengkritisi konsep-konsep atau teori sebelumnya.

“Kritik lahir dari modernisme atau abad pencerahan yang ditandai dengan populernya istilah cogito ergo sum yang berarti ‘aku berpikir, maka aku ada’. Pada masa ini, para pemikir-pemikir kritis Eropa lahir untuk merevisi berbagai hal termasuk otoritas keagamaan dan pemerintahan. Implikasi dari kelahiran pemikir-pemikir kritis ini adalah terjadinya revolusi industri yang menyebabkan perubahan sosial secara global.”

Akan tetapi, imbuhnya, modernisme yang pada saat itu dinilai sebagai solusi juga tidak terlepas dari kritik. Tak bisa dipungkiri bahwa munculnya Perang Dunia I dan II juga tidak terlepas dari modernisme, sehingga dapat dikatakan bahwa modernisme justru menciptakan kesenjangan sosial yang luar biasa. Kritik terhadap modernisme selanjutnya dikenal dengan post-modernisme.

“Dialektika dan pola pikir kritis memang sangat dibutuhkan dalam membangun paradigma pengetahuan. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan kemudian, bagaimana cara kita menyampaikan pemikiran kritis kita?”

Pria yang menuntaskan studi magister (S2) di Universitas Gadjah Mada tersebut kemudian menambahkan bahwa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan argumen atau kritik. Salah satunya adalah tidak mengkritik seseorang atau kelompok tanpa alasan, mengklaim bahwa orang lain salah tanpa memaparkan data atau alasan yang menunjukkan kesalahan mereka. Lalu, bentuk kritik yang perlu dihindari juga adalah menyerang personality atau latar belakang seseorang yang tidak ada kaitannya dengan isu yang dikritik, seperti latar belakang agama, suku, ras, dan lainnya.

Singkatnya, kita dapat melontarkan kritik pada kelompok tertentu dengan disertai argumen dan solusi. Inilah yang membedakan antara kritis dengan menghujat yang bertujuan untuk menjatuhkan lawan.

Selanjutnya, Aji Prasetyo menyampaikan bahwa salah satu media untuk mengkritik adalah seni. Kritik tak harus disampaikan secara terbuka dan menyorot perhatian banyak orang, tetapi bisa juga dituangkan dalam bentuk karya sastra, seni musik, seni lukis, hingga komik.

“Dulu, di masa kerajaan, rakyat yang ingin menyampaikan kritik kepada raja salah satunya melalui kesenian. Misalnya, kesenian Reog Ponorogo. Konon, kesenian ini lahir akibat raja yang mengabaikan rakyatnya setelah mendapatkan hadiah selir yaitu seorang Putri Kerajaan Champa. Dalam Reog Ponorogo kita mengenal adanya Singo Barong yaitu topeng kepala singa dengan ukuran besar yang di atasnya berhias merak dan ditunggangi penari perempuan. Ini menyimbolkan raja yang ditunggangi oleh seorang perempuan sehingga lupa pada rakyatnya.”

Pesan penting lain yang disampaikan oleh Aji adalah seorang seniman pun tidak bisa serta merta menyampaikan kritik berdasarkan ketidaksukaan pribadi. Idealnya, sebelum mengkritik sesuatu melalui karya-karyanya, seniman juga harus melakukan penelitian atau riset terlebih dahulu. Pengumpulan data juga sangat penting dilakukan agar kritik yang disampaikan melalui karyanya tidak asal-asalan.

“Jika ingin menyampaikan kritik, maka gali informasi dan data terlebih dahulu agar lebih akurat,” pungkasnya.

Pesona Wisata Embung Rowo Klampok di Telaga Senggreng

Embung Rowo Klampok di Sumberpucung (C) MALANG POST
Embung Rowo Klampok di Sumberpucung (C) MALANG POST

Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Kabupaten Malang menyulap Telaga Senggreng yang dulunya cuma sebagai tempat menampung air sumber menjadi objek wisata bernama Embung Rowo Klampok. Wisata air anyar di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang itu resmi dibuka untuk wisatawan umum pada akhir 2017 lalu.

Awalnya, Embung Rowo Klampok selama ini dipergunakan untuk mengairi sawah seluas 52 hektare. Selain dipergunakan untuk mengairi area pertanian, embung yang memiliki luas 10 hektare itu digunakan untuk budidaya ikan. Banyak pula warga yang memancing di air embung tersebut.

Peresmian telaga tersebut menjadi lokasi wisata dengan tujuan mendukung salah satu dari tiga program prioritas pembangunan dalam bidang pariwisata yang dicanangkan Dinas PU SDA Kabupaten Malang. Untuk mendukung program pengembangan pariwisata, peningkatan infrastruktur dengan melakukan berbagai pembangunan juga dilakukan di sana. Misalnya, peningkatan akses jalan operasional dan pemeliharaan Telaga Senggreng itu sendiri sebagai lokasi wisata air.

Mengubah telaga menjadi objek wisata air ini dilakukan juga sebagai upaya konservasi lingkungan yang ada di tempat tersebut. Seperti diketahui bersama, lingkungan telaga tersebut terdiri dari beragam ekosistem. Mulai dari aneka tumbuhan dan ikan yang hidup di dalam air embung tersebut.

Telaga Senggreng merupakan peninggalan zaman Kolonial Belanda yang sengaja dibangun untuk memenuhi saluran irigasi persawahan. Lokasinya cukup asri, karena di sekitar embung terdapat pepohonan rindang. Udaranya pun terasa sejuk dan cocok dijadikan sebagai tempat melepas penat karena rutinitas kerja.

Wisatawan yang datang ke Embung Rowo Klampok bisa memanfaatkan beberapa fasilitas pendukung yang ada di sini. Salah satunya adalah Warung Apung, yakni sebuah warung makan yang ada di tengah embung dan benar-benar mengapung di atas air, di mana pengunjung yang ingin menyeberang bisa diantar gratis dengan menggunakan perahu yang sudah disediakan. Selain itu, terdapat wahana permainan bola air, di mana maksimal empat orang bisa masuk ke dalam bola besar transparan. Ada pula permainan sepeda air yang sudah umum di objek wisata air lainnya. Lalu, Anda bisa juga mencoba perahu yang akan mengantarkan keliling embung dengan biaya hanya 5 ribu rupiah saja setiap orang. Untuk permainan ekstrim, Anda bisa mencoba flying fox yang bakal memacu adrenalin.

Anda yang hobi memancing juga bisa menyalurkan hobi tersebut di embung ini. Cukup bermodal alat pancing dan umpan, Anda bisa membawa pulang ikan hasil pancingan untuk dimasak di rumah.

Embung Rowo Klampon berada di Dusun Krajan, Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Dari Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang cuma butuh waktu sekitar 20 menit saja untuk menuju ke sini. Sesampainya di Pasar Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, silakan ambil arah selatan melewati jalan perkampungan. Tanya saja warga sekitar situ, maka mereka akan dengan senang hati menunjukkannya arah ke lokasi.

Daftar Pasar Tradisional di Kota Malang

Pasar Dinoyo merupakan salah satu pasar tradisional di Kota Malang
Pasar Dinoyo merupakan salah satu pasar tradisional di Kota Malang

Meski mall dan supermarket sudah menjamur di Kota Malang, keberadaan pasar tradisional masih cukup penting di kalangan masyarakat. Sebab, pasar ini menjadi salah satu roda penggerak perekonomian masyarakat.

Kota Malang punya pasar tradisional yang terbesar, yakni di Pasar Besar. Selain itu, di beberapa kelurahan juga ada pasar-pasar kecil yang memiliki fungsi yang sama, yaitu sebagai tempat masyarakat bertransaksi jual beli. Berikut ini pasar tradisional yang ada di Kota Malang.

Pasar Rakyat Oro-0ro Dowo
Jalan Guntur No. 20, Kelurahan Oro-0ro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang

Pasar Gadang Malang
Jalan Pasar Gadang, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Sukun, Kota Malang

Pasar Klojen
Jalan Cokroaminoto, Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang

Pasar Blimbing
Jalan Tunggul Wulung, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Blimbing, Kota Malang

Pasar Tawangmangu
Jalan Tawangmangu, No.8, Kelurahan Lowokwaru, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang

Pasar Rakyat Bareng
Jalan Terusan Ijen, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang

Pasar Pandanwangi
Jalan Simpang Laksda Adi Sucipto, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang

Pasar Kasin
Jalan IR Rais, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang

Pasar Kebalen
Jalan Zaenal Zakse, No. 28-38, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang

Pasar Kota Lama
Gang 5, No. 3B, Kelurahan Mergosono, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang

Pasar Sukun
Jalan S. Supriadi, Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang

Pasar Tlogowaru
Jalan Tlogo Waru, Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang

Pasar Kedungkandang
Jalan Muharto Timur, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang

Pasar Dinoyo
Jalan MT. Haryono No. 171A, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang

STAY CONNECTED

969FansSuka
196PengikutMengikuti
57PengikutMengikuti

POPULER