Beranda blog Halaman 3

Kereta Api Tumapel, yang Mati Suri 12 Tahun

Kereta Api Tumapel (C) WIKIPEDIA
Kereta Api Tumapel (C) WIKIPEDIA

Kereta Api Tumapel merupakan kereta api kelas ekonomi lokal yang melayani rute Malang-Surabaya PP. Kereta api yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi VIII Surabaya ini sempat mati suri selama 12 tahun.

Nama kereta api ini diambil dari nama sebuah kerajaan kecil yang menjadi bawahan Kerajaan Singosari setelah Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Saat ini, wilayah kerajaan itu berada di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Tumapel juga menjadi nama sebuah candi yang lebih dikenal dengan nama Candi Singosari yang terletak di daerah yang sama.

Kereta api ini pertama kali beroperasi mulai 14 Januari 1971 dan melayani rute Malang-Surabaya PP. Sejak awal diluncurkan, KA ini membawa tiga kereta kelas III (CW) (plus). Meskipun hanya layanan kelas III, ada fasilitas berupa cemilan dan air minum untuk para penumpang, dan dilayani oleh pramugari. Saat itu, kereta api ini mampu menempuh perjalanan Malang-Surabaya dengan waktu 80 menit saja, hingga tiga kali sehari PP.

Sejak April 1973, lintasan perjalanan KA Tumapel sempat diperpanjang dari Stasiun Malang hingga Stasiun Blitar. Namun, khusus layanan kereta api Malang-Blitar ataupun sebaliknya diubah menjadi kereta api lokal pada tahun 1976, sehingga KA ini dapat berhenti di setiap stasiun yang dilalui.

Pada awal tahun 1980-an, PJKA memperkenalkan kereta api patas bernama yang diberi nama Tumapel Utama. KA tersebut melayani penumpang dengan rute Malang-Surabaya. Rute perjalanan KA ini kemudian diperpanjang hingga Stasiun Blitar pada tahun 1985. Namun, KA Tumapel Utama hanya melayani penumpang setianya hingga tahun 2002 saja, karena dihentikan oleh PT KAI.

Setelah mati suri selama 12 tahuh, pada 1 Juni 2014, PT KAI Daerah Operasi VIII Surabaya kembali mengoperasikan kereta api dengan nama KA Tumapel. Kereta api ini melayani penumpang yang umumnya merupakan kaum pekerja dari Malang dan Sidoarjo yang bekerja di Kota Surabaya. Menariknya, meskipun namanya Tumapel, namun kebanyakan orang menyebutnya KA Penataran (yang rutenya Surabaya hingga Blitar), lantaran kedua kereta api melayani rute yang sama.

Rangkaian KA ini ditarik oleh lokomotif jenis CC201, CC203, dan CC206, dengan rangkaian tiga kereta kelas ekonomi (K3 ML), dan satu kereta makan pembangkit (KMP3 ML), dan tiga kereta kelas ekonomi (K3 ML). Terdapat 106 tempat duduk saling berhadapan, tidak bisa direbahkan, dan disusun tiga di kanan dan dua di kiri. KA yang memiliki lebar 1.067 mm ini menempuh jarak sekitar 96 kilometer dalam waktu rata-rata tiga jam dan kecepatan 60 sampai 90 km/jam.

Kereta Api Tumapel melayani penumpang dari Stasiun Malang Kotabaru hingga Stasiun Surabaya Kota (Gubeng). KA Tumapel (448) dari Stasiun Malang Kotabaru berangkat pada pukul 04.30 WIB, dan tiba di Stasiun Surabaya Gubeng pada pukul 07.41 WIB. Sementara itu, KA Tumapel (455) dari Stasiun Surabaya Gubeng pada pukul 20.42 WIB, dan tiba di Stasiun Malang Kotabaru pada pukul 23.26 WIB.

Taman Gribig, Keindahan di Tengah Jalan Kembar

Taman Gribig, Keindahan di Tengah Jalan Kembar
Taman Gribig (C) DISPERKIM KOTA MALANG

Jalan Ki Ageng Gribig punya taman median jalan alias taman yang berada di tengah atau memisahkan dua ruas jalannya. Terdapat tulisan Taman Gribig pada ujung selatan jalan kembar ini.

Berada di Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jalan Ki Ageng Gribig menjadi salah satu akses keluar masuk menuju jalan tol Malang-Pandaan (Mapan) Seksi IV. Pintu keluar dan masuknya berada tepat di sebelah utara jalan ini. Keberadaan jalan tol tersebut turut menjadi salah satu alasan Pemkot Malang mempercantik Taman Gribig.

Sebelum dipercantik, taman median di Jalan Ki Ageng Gribig ini sudah dipenuhi oleh pepohonan rindang. Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Malang hanya menambahkan tanaman pelengkap, termasuk beragam tanaman bunga. Pengerjaannya dimulai pada Agustus 2018, dan selesai di akhir tahun.

Taman Gribig ini bisa dibilang sebagai taman ikonik dengan konsep religius. Konsep ini dipilih lantaran di kawasan itu terdapat Makam Ki Ageng Gribig, salah seorang tokoh penyebar agama Islam. Pada taman median jalan itu terdapat enam buah ikon yang cukup unik. Enam ikon tersebut tergolong Instagramable dan fotogenik dan layak dipakai sebagai tatar belakang berswa foto. Yang paling ikonik tentu empat tiang yang bentuknya tak beraturan. Jika dilihat secara seksama, empat tiang itu menyimbolkan tangan yang tengah menengadah ke atas. Selain itu, terdapat ikon hiasan yang berbentuk kubah. Ini menjadi simbol konsep religius yang diusung oleh Pemkot Malang.

Harapannya, keberadaan taman median jalan yang dilengkapi dengan pepohonan, bunga, dan lampu hias, Jalan Ki Ageng Gribig akan semakin sedap dipandang. Terlebih, jika jalan keluar-masuk tol Malang-Pandaan dioperasikan, maka kawasan tersebut akan semakin ramai dan padat lalu lintasnya. Selain menghilangkan kekumuhan, pepohonan di kawasan itu bakal mengurangi tingkat polusi dan menghasilkan oksigen tambahan.

Prasasti Himad-Walandit, Bukti Bijaksananya Gajah Mada

Prasasti Himad-Walandit, Bukti Bijaksananya Gajah Mada
Peta Desa Wonorejo

Prasasasti Himad-Walandit diterbitkan pertama kali oleh Dr. J.G. de Casparis dalam Inscriptie van Nederlandsh Indie, 1940, halaman 50-60. Inti prasasti ini berisi tentang bukti bijaksananya Gajah Mada, tokoh penting Kerajaan Majapahit.

Yang disayangkan, Prasasti Himad-Walandit ini tidak berangka tahun. Meski demikian, diperkirakan prasasti ini dikeluarkan pada masa awal Hayam Wuruk memerintah Majapahit. Disebutkan, pada saat itu Gajah Mada menjabat sebagai rakryan mapatih di Janggala dan Kadiri. Ada pula dugaan prasasti tersebut dikeluarkan pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwanottunggadewi (1328-1351 M), pada masa itu Gajah Mada juga telah menjadi patih di Majapahit dengan julukan Patih Janggala-Panjalu, dua daerah inti kerajaan Majapahit.

Selain tidak berangka tahun, prasasti ini juga tidak diketahui pasti tempat penemuannya. Namun, dilihat dari nama-nama desa yang disebutkan dengan prasasti yang lainnya, diperkirakan prasasti ini berasal dari daerah Singosari dan sekitarnya.

Prasasti Himad-Walandit mengisahkan adanya perebutan hak pengelolaan atas sebuah dharma kabuyutan (candi leluhur) dan juga pengawasan terhadap patirthān yang banyak dikunjungi oleh para peziarah. Dharma kabuyutan dan patirthān tersebut berada di wilayah Walandit dan daerah itu telah menjadi swatantra berdasarkan sekeping prasasti logam dari masa pemerintahan Pu Sindok pada abad ke-10 Masehi. Sementara itu, penduduk Himad merasa bahwa Walandit adalah bagian dari wilayah desanya. Penduduk Walandit berhak atas pemeliharaan bangunan suci, dan juga segala penghasilan dewa diperuntukkan bagi kemajuan dan kemakmuran bangunan suci tersebut.

Persengketaan itu terjadi antara para rāma di Walandit melawan para dapur di Himad yang mempermasalahkan kedudukan dharma kabuyutan dan status Desa Walandit terhadap Himad. Semula Desa Walandit adalah daerah swatantra, penduduknya mendapat tugas untuk memelihara dharma kabuyutan di Walandit. Mereka hanya mengakui kekuasaan dharma kabuyutan atas lembah dan bukit di sekitar Desa Walandit.

Akan tetapi, dalam perkembangan sejarah, para pejabat Desa Himad menguasai Walandit. Sebagai sebuah daerah watak, Himad memiliki hak untuk memungut pajak atas tanah desa-desa bawahannya, lebih-lebih Walandit pernah merupakan wilayah kewatakan Himad, sehingga para dapur Himad ingin memperoleh kembali pajak-pajak atas Walandit. Penduduk Walandit enggan mengakui kekuasaan pejabat-pejabat Himad dan menuduh mereka mencampuri urusan Desa Walandit.

Para rāma di Walandit mempunyai bukti bahwa terdapat sebuah prasasti dari masa Sindok yang berisi ketetapan bahwa Sang Hyang Dharmma Kabuyutan berstatus swatantra. Demikian juga terdapat kesaksian dari orang-orang cacat yang bekerja di dharma kabuyutan yang menguatkan para rāma di Walandit (maka wyakti hanang praśasti seṇḍok lanchita, makarasa magěhakěn sang hyang dharma kabuyutan, an swatantraděg rining [baca: ringgit] jataka punpunan hetu).

Demikian pula dikatakan bahwa Desa Walandit mendapat kewajiban untuk melakukan pemujaan di dharma kabuyutan serta memeliharanya, juga mengawasi orang-orang yang mandi dan mengambil air suci di tempat suci itu. Kemudian ditegaskan bahwa Walandit bukan merupakan punpunan dari Himad. Sebaliknya para dapur Himad memberikan kesaksian bahwa kundi thani yang ditempatkan di Walandit berasal dari Himad, dan dari para dapur Himad-lah para rāma di Walandit mengetahui akan kerusakan Sang Hyang Dharmma Kabuyutan. Kesaksian para rāma di Walandit dianggap lebih kuat, sehingga perkaranya dimenangkan.

Dalam sengketa di Prasasti Himad-Walandit ini sama sekali tidak disinggung kitab perundang-undangan Kutaramanawadharmasastra tentang sahasa atau perampasan hak, mungkin karena keputusan itu diambil di luar pengadilan oleh para pejabat tinggi kerajaan, di antaranya Rakryan Patih Gajah Mada (Rake Mapatih ring Janggala Kadiri Pu Mada).

Keputusannya berupa piagam yang disusun oleh Pamegat Tirwan bernama Wangsapati atas nama Samgat Jamba, Samgat Pamotan, Empu Kandangan, Rakryan Patih Empu Mada dan Sang Arya Rajadhikara. Dalam sengketa itu, para pejabat Himad dikalahkan. Orang-orang Walandit tetap menjalankan pekerjaannya seperti sediakala berdasarkan prasasti Raja Sindok yang dibubuhi lencana. Tak ada yang lain selain Sang Hyang Dharmma Kabuyutan yang berhak atas Desa Walandit dan segala jenis pajak, terutama tahil (….tan hana ning len sangke sang hyang dharmma kabuyutan pramāņe walandit muang sarikpurihnya saprakāra makāding tahil ..).

Hasil keputusan atas sengketa ini dikatakan sebagai berikut.

“Kune[ng] yan hana thanyang-ruddha, kewalapageha ri kahayuakna sang hyang dharma kabuyutan mangkanatah prawrttyacara mpu rama ri walandit anung sayogya wruhe sama-manana sang hyang dharma, sangsiptanya labdhapageh pgat pramaneriya, n[a]h[a]r[a]wruh ri saniwedya sang hyang dharma kabuyutan man[g]kanat[a]h paksa mpu dapur i himad nimittanyan sor balawan paksa mpu rama ri walandit…”

Terjemahannya lebih kurang sebagai berikut.

“Adapun jika ada penduduk desa yang berbuat jahat (merusak), lindungilah keselamatan Sang Hyang Dharma Kabuyutan, begitulah tugas dari rāma (kepala desa) Walandit terhadap sang hyang dharma yang selayaknya diketahui. Pendek kata telah diterima dengan kokoh bahwa kekuasaan telah memutuskan berdasarkan pengetahuan dan bukti [bahwa] Sang Hyang Dharma Kabuyutan [milik Walandit], begitulah upaya pihak penduduk Himad telah kalah melawan pihak rāma Walandit…”

Nama Walandit telah disebutkan dalam beberapa prasasti dari zaman Pu Sindok antara lain dalam prasasti OJO. XXXIX, XLIII, dan LI. Nama Walandit disebutkan juga dalam prasasti yang berangka tahun 1405 yang menyebutkan adanya pemujaan kepada Gunung Bromo (Yamin 1962: 86). Lokasi desa-desa itu sangat mungkin di lereng Pegunungan Bromo-Tengger di daerah Wonorejo. Epigraf J.G. de Casparis menganggap Walandit terletak di daerah Pegunungan Tengger, yaitu Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Desa Wonorejo dulunya bernama Balandit. Pada peta topografi lembar XLII 54-D:1918-1923 masih dijumpai sebuah dukuh bernama Blandit, dan masih bagian dari wilayah Desa Wonorejo (Casparis, 1940:52).

Sumber:
Tafsir Sejarah Nagarakretagama – Slametmuljana
Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuna
Persengketaan Tanah Pada Masa Jawa Kuna
Gajah Mada: Tafsir Berdasarkan Data Arkeologis dan Sumber Tertulis Sezaman yang (masih) Terabaikan – Agus Aris Munandar

Surabi Gendud, Porsi Jumbo dengan Harga Murah

Surabi Gendud, Porsi Jumbo dengan Harga Murah
Surabi Gendud Malang (C) RICKY SETYA HERLAMBANG

Surabi atau dikenal juga dengan nama serabi merupakan jajanan pasar yang disukai banyak orang. Kedai Surabi Gendud mencoba menyajikan surabi dengan konsep yang berbeda dari lainnya. Ada porsi jumbo di sini, yang menariknya dijual dengan harga murah.

Jajanan pasar ini berbahan dasar tepung dan santan. Penyajian surabi klasik biasanya sangat sederhana dengan cukup disiram kuah santan yang dicampur dengan gula merah. Namun, kedai Surabi Gendud berusaha menampilkan surabi lezat dengan aneka toping menarik di atasnya. Di sini, Anda bisa mencoba aneka surabi dengan toping cokelat, pisang, strawberry, daging, telur, dan lain-lain. Menariknya, pengunjung dapat meracik sendiri campuran toping sesuai dengan yang diinginkan.

Tak hanya surabi dengan toping, Surabi Gendud juga menyajikan surabi dengan tampilan yang ukurannya cukup besar dan menggiurkan. Menariknya lagi, untuk satu porsi jumbo surabi ini dijual dengan harga murah, yakni berkisar 1000 hingga 3000 rupiah. Tak heran jika kedai ini selalu ramai pengunjung, terutama para mahasiswa. Banyak mahasiswa Universitan Brawijaya yang menjadi pelanggan tetap Surabi Gendud.

Kedai Surabi Gendud berada di Jalan Mayjend. Panjaitan No. 205, Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Lokasinya memang terletak tak jauh dari kampus Universitas Brawijaya Malang. Kedai ini buka setiap hari, mulai pukul 10.00 sampai 22.00 WIB. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi telepon (0341) 7017889.

Cerita Pejuang Asal Lumajang dan Sejarah Desa Argoyuwono Ampelgading

Peta Desa Argoyuwono
Peta Desa Argoyuwono

Desa Argoyuwono merupakan salah satu nama desa yang menjadi bagian dari Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Ternyata ada cerita pejuang asal Lumajang yang mewarnai sejarah desa ini.

Pada awalnya, desa ini bernama Desa Diwu yang merupakan akronim dari Wedi Awu (pasir debu). Nama itu disematkan lantaran desa ini dulunya merupakan area perkebunan milik Belanda dengan sebutan Persil Kali Glidig, yang artinya sungai jalan lahar, di mana kerap terjadi hujan abu.

Pada tahun 1947 terjadi peristiwa pembumihangusan oleh pasukan pejuang RI. Aksi sebagai taktik untuk melawan Agresi Militer Belanda itu sampai pula ke Desa Diwu. Pembumihangusan di daerah ini dipimpin oleh seorang pejuang yang berasal dari Lumajang bernama Sastro Dikoro. Pertempuran dimenangkan oleh pasukan RI yang sebelumnya menguasai desa.

Sastro Dikoro pun mengganti nama desa dari Desa Diwu menjadi Desa Argoyuwono. Nama itu berasal dari Bahasa Jawa, di mana Argo artinya gunung, sedangkan Yuwono artinya selamat. Jadi, Argoyuwono berarti gunung yang selamat.

Pada tahun 1948, Desa Argoyuwono akhirnya dikukuhkan. Namun, kala itu situasi di Republik masih darurat dan belum sepenuhnya kondusif. Ditunjuklah seseorang bernama Sairun sebagai kepala desa pertama pada tahun tersebut yang memimpin hingga 1953. Selanjutnya, kepada desa dijabat oleh Parto Jamiyo (1953-1965), Mochammad Soleh (1965-1967).

Saat dipimpin oleh kepala desa keempat, Mochtar, Desa Argoyuwono resmi dicatat sebagai desa pada tahun 1968. Hal itu tertuang pada Keputusan Gubernur Provinsi Jawa Timur Nomor: Pem.315/6/1968 tanggal 5 Juli 1968.

Sumber: http://desa-argoyuwono.malangkab.go.id/read/detail/1468/sejarah-singkat-desa-argoyuwono.html

Nyasar di Coban Kembar, Surga Tersembunyi di Pujon

Nyasar di Coban Kembar, Surga Tersembunyi di Pujon
Coban Kembar (C) FERDY WATERFALL

Kabupaten Malang punya banyak surga tersembunyi berupa destinasi wisata air terjun. Salah satunya ada di Kecamatan Pujon. Orang-orang biasa menyebutnya Coban Kembar.

Seperti namanya, Coban Kembar terdiri dari dua air terjun sekaligus yang berdekatan dalam satu lokasi. Menariknya, air terjun satu ini ini letaknya sangat tersembunyi di tengah hutan. Keberadaannya sulit dijamah, dan hanya bisa dijangkau dengan tracking alias berjalan kaki. Tak banyak orang yang berani menaklukkan medan untuk menembus air terjun ini. Hanya mereka yang bernyali yang nekad berkunjung ke sini.

Nuansa alami nan asri masih sangat kental terasa di lokasi air terjun ini. Sebab, destinasi wisata satu ini belum banyak dijamah oleh wisatawan. Terlebih, akses jalannya yang cukup menantang dengan hamparan banyak anak tangga yang harus ditaklukkan.

Ketika sampai di lokasi, rasa lelah usai menempuh perjalanan panjang bakal terbayar lunas. Rasa lelah itu akan berganti dengan ketertarikan pada eksotisnya Coban Kembar. Yang menarik lagi, di tengah-tengah dua air terjun itu terdapat sebuah tempat yang cukup unik yang tak akan ditemui pengunjung di lokasi air terjun lainnya.

Coban Kembar ini terletak di Desa Sukomulyo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Jaraknya dari pusat Kota Malang sekitar 33 kilometer. Anda harus menempuh perjalanan selama sekitar satu jam 15 menit menggunakan sepeda motor.

Simpang Homestay, Penginapan Murah Dekat Pusat Kota Malang

Simpang Homestay (C) BOOKING.COM
Simpang Homestay (C) BOOKING.COM

Banyak penginapan murah di Kota Malang, bahkan yang letaknya tak jauh dari pusat kota. Salah satunya adalah Simpang Homestay, yang menjadi idola para pemburu penginapan murah di kota ini.

Selain harga sewanya yang tergolong murah, penginapan ini menawarkan suasana yang nyaman. Namun, ukuran kamarnya tidak terlalu besar. Lokasinya pun cukup strategis, karena berada dekat dengan pusat Kota Malang. Penginapan ini hanya berjarak sekitar tujuh kilometer dari Bandara Abdulrachman Saleh Malang. Akses menuju ke lokasi wisata pun sangat mudah. Anda bisa mengunjungi Kampung Warna Warni Jodipan yang berjarak sekitar empat kilometer, Alun-alun Tugu yang berjarak sekitar 3,5 kilometer. Selain itu, Anda bisa berkunjung ke pusat perbelanjaan Plaza Araya yang hanya sekitar 10 menit dengan berkendara, dan kawasan oleh-oleh Sanan yang hanya butuh waktu lima menit saja.

Simpang Homestay memiliki fasilitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan beristirahat Anda. Para tamu bisa menikmati fasilitas seperti taman, teras, area tempat duduk dan meja kerja di ruang tamu. Selain itu, ada pula layanan penyewaan mobil, layanan binatu atau laundry, meja depan 24 jam, area parkir gratis, akses Wi-Fi di seluruh area penginapan, hingga layanan antar-jemput bandara dengan biaya tambahan.

Untuk kamar, Simpang Homestay menyediakan total 47 unit kamar yang terbagi menjadi tiga tipe. Para tamu bebas memilih tipe Standard Room, Superior Room, atau VIP Room. Kamar-kamar itu sudah dilengkapi dengan fasilitas tambahan, seperti TV, kipas angin atau AC, dan kamar mandi pribadi.

Standard Room dengan dua single bed, kamar mandi pribadi, Wi-Fi, meja kerja, shower, tanpa sarapan harganya 180 ribu rupiah. Superior Room dengan dua single bed, kamar mandi pribadi, Wi-Fi, meja kerja, shower, tanpa sarapan, kipas angin harganya 200 ribu rupiah. VIP Room dengan dua single bed, kamar mandi pribadi, Wi-Fi, meja kerja, shower, tanpa sarapan, AC, TV layar datar harganya 230 ribu rupiah.

Aturan check-in di Simpang Homestay ini dimulai pukul 13.00 WIB, sedangkan check-out hingga pukul 12.00 WIB. Menariknya, semua anak-anak diperbolehkan menginap tanpa biaya tambahan, khusus untuk anak berumur di bawah 10 tahun dengan menggunakan tempat tidur yang tersedia. Sementara, satu anak remaja dikenakan biaya 29 ribu rupiah per malam per orang dengan menggunakan tempat tidur tambahan.

Jika ingin menginap di Simpang Homestay, langsung saja datang ke Jalan Simpang Borobudur No. 41, Kelurahan Tunjung Sekar, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Anda juga bisa melakukan reservasi melalui nomor telepon (0341) 474979 ext. 4351643, atau aplikasi penyedia layanan akomodasi di internet.

Conffeti Ice Cream, Aneka Es Krim Tersedia

Conffeti Ice Cream (C) Adhitya Hendra/TIMES Indonesia
Conffeti Ice Cream (C) Adhitya Hendra/TIMES Indonesia

Para pecinta es krim tak perlu bingung mencari kafe yang menyediakan menu-menu favorit mereka. Dengan nongkrong di Conffeti Ice Cream, Anda bakal ditemani oleh aneka menu ek krim yang dapat menggugah selera.

Kafe khusus es krim ini didirikan oleh seorang dokter pada tahun 2001. Pengelola kafe ini mengusung konsep jazz cafe. Tampilan interiornya cukup elegan dan suasananya sangat mendukung untuk menemani menyantap porsi demi porsi es krim yang dipesan. Kafe ini memproduksi sendiri seluruh varian es krim yang dijual.

Conffeti Ice Cream bakal menjadi surga bagi para pecinta es krim. Di sini, mereka dapat memesan aneka menu es krim dengan berbagai varian rasa yang disajikan. Anda mau mencari es krim yang biasa? Ada. Es krim yang berbentuk kue tart pun ada. Tersedia pula es krim yang rendah gula yang bakal menjadi menu favorit para penderita diabetes.

Untuk varian rasa, Conffeti Ice Cream menyajikan aneka pilihan. Anda bisa mencoba rasa coklat, vanilla, strawberry, mocca, greentea, durian, rum raisin, dan masih banyak lagi. Para pengunjung dapat memilih rasa es krim sesuai dengan kesukaannya.

Selain melayani pembeli biasa, Conffeti Ice Cream juga melayani pemesanan khusus. Anda bisa datang langsung ke Jalan Galunggung No. 58K, Kelurahan Gadingkasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Untuk pemesanan es krim, Anda bisa menghubungi nomor telepon (0341) 588 555 atau 085330178306.

TPU Sukorejo, Makam Khusus Mr X dan Mrs X di Malang

TPU Sukorejo (C) MALANG POST
TPU Sukorejo (C) MALANG POST

TPU (Tempat Pemakaman Umum) Sukorejo Malang memiliki salah satu blok khusus sebagai tempat memakamkan jenazah tak dikenal, yang biasa disebut Mr X dan Mrs X. Warga sekitarmenyebut blok khusus itu dengan nama Makam Prodeo.

Sebutan prodeo ini berasal dari Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 1 tahun 2014 tentang Pedoman Pemberian Layanan Hukum Bagi Masyarakat Tidak Mampu di Pengadilan. Prodeo adalah proses berperkara di pengadilan secara cuma-cuma dengan dibiayai negara melalui anggaran Mahkamah Agung RI.

Pemakaman Mr X dan Mrs X umumnya tidak menjadi tanggung jawab warga. Karena tidak ada klaim dari keluarganya, maka pemakaman jenazah tannpa identitas itu menjadi tanggungan negara. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2006 Tentang Penyelenggaraan Pemakaman pada Pasal 8, disebutkan bahwa Pemerintah Daerah berkewajiban mengurus dan melaksanakan pemakaman bagi jenazah orang tidak dikenal atau jenazah yang tidak diakui keluarga atau ahli warisnya atas beban biaya daerah.

Jenazah yang tergolong Mr X dan Mrs X ini biasanya adalah korban tabrak lari, sakit, bayi yang dibuang, korban pembunuhan, gelandangan, pengemis, dan sebagainya. Umumnya mereka meninggal tanpa mengantongi kartu identitas, tak dikenal atau tak diakui keluarganya.

Mereka akan ditempatkan di Blok V TPU Sukorejo yang memiliki luas 2500 meter persegi. Sebelum ditempatkan di TPU ini, makam prodeo sempat ditempatkan di TPU Samaan. Setelah lahan di TPU tersebut semakin menyempit, maka setelah tahun 1970, pemakaman jenazah tanpa identitas dipindahkan ke TPU Sukorejo yang ada di Jalan Muharto Gang VIII Kelurahan Kota Lama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Yang jelas berbeda dari makam prodeo ini adalah batu nisannya. Tak ada nama jenazah yang tertera di sana, hanya ada nomor sandi yang diberikan oleh petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Malang. Sandi itu merupakan nomor registrasi jenazah, yang juga dilengkapi dengan data lengkap, mulai dari tanggal, jam, maupun tahunnya sebagai informasi atau keterangan yang bakal dibutuhkan saat ada orang yang mencarinya.

Suasana dalam prosesi pemakaman jenazah Mr X dan Mrs X ini juga berbeda seperti biasanya. Prosesinya hanya dihadiri oleh petugas dari UPT Pengelolaan Pemakaman Umum dan yang mengurus kelengkapan jenazah berupa nisan, telisik, kain kafan dan lainnya. Tak ada istri/suami, orang tua, handai taulan, sahabat atau tetangga yang bersangkutan.

Sebelum dimakamkan di TPU Sukorejo, jenazah itu lebih dulu sudah diproses oleh pihak kepolisian, lalu diserahkan kepada pihak RS Saiful Anwar sebagai rumah sakit yang ditunjuk oleh Pemkot Malang untuk mengotopsi jenazah. Jika dalam kurun waktu dua hari atau lebih, tak ada pihak keluarga yang mencari, maka pihak rumah sakit akan menghubungi petugas TPU Sukorejo untuk menyiapkan prosesi pemakaman.

Seperti yang disebutkan di atas, pembiayaan pemakaman ini ditanggung oleh negara, dalam hal ini Pemkot Malang. Warga sekitar tak perlu mengelarkan dana untuk biaya pemakaman, seperti penggalian, kain kafan, dan lain-lain.

Aturan Nonton Latihan Arema di Stadion Dirgantara Lanud Abdulrachman Saleh

    Stadion Dirgantara, Lanud Abdulrachman Saleh, Pakis, Kabupaten Malang (C) AKAIBARA
    Stadion Dirgantara, Lanud Abdulrachman Saleh, Pakis, Kabupaten Malang (C) AKAIBARA

    Aremania maupun siapa saja diperkenankan nonton langsung sesi latihan Arema yang digelar di sejumlah tempat sesuai kebutuhan tim sebelum pertandingan. Hanya saja, ada aturan yang harus ditaati jika ingin nonton latihan Arema di Stadion Dirgantara, yang terletak di Lanud Abdulrachman Saleh, Pakis, Kabupaten Malang.

    Karena letaknya di kompleks militer TNI Angkatan Udara, tentu wajar jika ada sejumlah aturan yang harus ditaati oleh semua pengunjung Stadion Dirgantara. Memang, tak semua orang diperkenankan memasuki wilayah kompleks militer tersebut. Jadi, siapa pun yang hendak menuju ke Stadion Dirgantara, wajib melapor terlebih dahulu ke pos penjagaan yang ada di dua pintu gerbang masuk. Siapa pun yang ingin melintasi gerbang tersebut, harus lah seizin petugas piket pos penjagaan.

    Pertama, jika Anda datang menggunakan kendaraan bermotor roda dua (sepeda motor), pastikan mengenakan helm. Jika tidak, siap-siap saja disuruh kembali mengambil helm baru diperbolehkan melintas. Berhentilah, buka kaca helm, dan sapa dengan ramah petugas piket di pos penjagaan. Jika Anda naik mobil, pastikan mengenakan sabuk pengaman dengan baik dan benar. Berhentilah, dan buka kaca pintu depan.

    Utarakan niat Anda kepadanya dengan bahasa yang sopan, jawablah apa pun pertanyaan dari si petugas. Jika disuruh menepi, parkirkan kendaraan dengan rapi di tepi jalan dekat pos penjagaan. Biasanya, Anda akan diminta lapor, dan meninggalkan kartu identitas sebagai jaminan, sebelum diperkenankan melintas. Jangan lupa mengambilnya kembali sepulang dari Stadion Dirgantara.

    Jika disuruh menepi, parkirkan kendaraan dengan rapi di tepi jalan dekat pos penjagaan. Biasanya, Anda akan diminta lapor, dan meninggalkan kartu identitas sebagai jaminan, sebelum diperkenankan melintas. Jangan lupa mengambilnya kembali sepulang dari Stadion Dirgantara.

    Setelah mendapatkan izin melintas, paculah kendaraan Anda dengan kecepatan rendah, mengingat ini kompleks militer. Sesampainya di Stadion Dirgantara, parkirkan kendaraan Anda dengan benar sesuai dengan tempat yang disediakan pengelola.

    Nah, itulah sejumlah aturan yang harus Anda ketahui jika ingin nonton Arema di Stadion Dirgantara. Taatilah aturan-aturan tersebut demi kelancaran aktivitas Anda selama berada di kompleks militer TNI Angkatan Udara tersebut.

    STAY CONNECTED

    977FansSuka
    196PengikutMengikuti
    57PengikutMengikuti

    POPULER