Beranda blog Halaman 3

Istana Dieng Bowling, Satu-satunya di Malang

Istana Dieng Bowling, Satu-satunya di Malang (C) BUDI ZHIBON
Istana Dieng Bowling, Satu-satunya di Malang (C) BUDI ZHIBON

Istana Dieng Bowling diklaim sebagai satu-satunya lapangan bowling di Malang. Tak heran jika tempat ini menjadi jujugan mereka yang gemar bermain olah raga bowling.

Bowling masih dipandang sebagai olah raga mewah yang kerap dilakukan kalangan menengah ke atas saja. Meski banyak kawasan elit di Malang, bukan berarti olah raga ini kemudian membuat keberadaan lapangan bowling menjamur layaknya lapangan sepak bola.

Memang, olah raga ini sempat populer pada awal tahun 2000-an. Namun, seiring meredupnya prestasi cabang olah raga ini di kancah nasional, satu-persatu lapangan bowling itu bertumbangan. Bahkan, saat ini cuma ada satu lapangan bowling saja yang tersisa di Malang, yakni Istana Dieng Bowling.

Banyak fasilitas berkualitas bagus yang disediakan Istana Dieng Bowling. Tersedia kurang lebih 20 lane bowling yang bisa Anda coba. Ada pula bola bowling dengan berbagai ukuran, mulai dari bola ringan untuk anak-anak atau pemula, hingga bola yang lebih berat. Selain itu, di sini juga terdapat lahan parkir yang cukup luas dan aman.

Selain fasilitas di atas, terdapat pelayanan terbaik dari para karyawan Istana Dieng Bowling. Terdapat layanan penyewaan sepatu bowling. Harga sewanya cukup murah, yakni hanya 5.000 rupiah.

Ternyata tak hanya para pebowling amatir saja yang datang berlatih di Istana Dieng Bowling ini. Para atlet profesional pun kerap datang ke sini untuk mengasah kemampuan mereka. Bukan hanya atlet lokal Malang Raya saja, bahkan, atlet dari luar daerah pun kadang berkunjung ke sini untuk melakukan latihan.

Istana Dieng Bowling Malang terletak di Istana Dieng Club House. Lokasinya tak jauh dari pusat Kota Malang, tepatnya di sebelah barat. Istana Dieng Club House sendiri berada di kompleks Perumahan Istana Dieng, di Jalan Istana Dieng Utara I No. 22, Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Tempat ini buka setiap hari, termasuk di hari libur. Bukanya mulai pukul 08.00 hingga pukul 21.00 WIB.

Untuk bisa bermain bowling di tempat ini, Anda akan dikenakan biaya masuk. Cukup merogoh kantong dan mengeluarkan uang sebesar 20 ribu rupiah per orang, Anda bisa bermain satu game.

Rumah Sakit Hermina Tangkubanperahu dan Sejarahnya

Rumah Sakit Hermina Tangkubanperahu dan Sejarahnya (C) LOKASI.CLICK
Rumah Sakit Hermina Tangkubanperahu dan Sejarahnya (C) LOKASI.CLICK

Rumah Sakit Hermina Tangkubanperahu Malang ini merupakan salah satu cabang dari Rumah Sakit Hermina yang berpusat di Jatinegara, Jakarta. Rumah sakit yang berada di kawasan Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang ini merupakan satu dari 21 rumah sakit cabang.

Pusatnya di Jakarta, berdiri pada tahun 1967 dengan nama awal Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Hermina. Selang 30 tahun kemudian, rumah sakit ini bertransformasi menjadi Rumah Sakit Umum (RSU). Alasan utamanya, lantaran kebutuhan pasien akan pelayanan rumah sakit umum sangat mendesak di Jakarta. Rumah sakit cabang-cabangnya pun ikut berubah status menjadi RSU.

Rumah Sakit Hermina Tangkubanperahu sendiri hadir di Malang mulai tahun 2006. Sama seperti pusatnya di Jakarta, rumah sakit ini sejak berdirinya memiliki status sebagai RSIA. Rumah sakit ini mengkhususkan pelayanan spesialisnya di bidang kebidanan, penyakit kandungan dan kesehatan anak. Selain itu, rumah sakit ini ditunjang pula dengan unit-unit pelayanan spesialistik lain dalam menjalankan fungsinya. Seperti dikutip dalam laman resminya, rumah sakit ini melayani kesehatan untuk wanita dan anak, pelayanan kesehatan diberikan secara optimal dan profesional bagi pasien, keluarga pasien dan dokter-dokter provider.

Menariknya, gara-gara deskripsi layanan tersebut, kaum laki-laki kebanyakan enggan berobat ke Rumah Sakit Hermina Tangkubanperahu. Akhirnya, pihak rumah sakit sampai membuat tulisan “Melayani Pasien Laki-laki” agar mereka tak sungkan mendaftarkan dirinya untuk berobat di sini.

Selain dokter kandungan, Rumah Sakit Hermina Tangkubanperahu juga menyediakan dokter spesialis lainnya, seperti dokter spesialis penyakit dalam, jantung, mata, gigi, bedah tulang, syaraf, paru-paru, andrologi, dan lain-lain. Anda juga bisa melakukan pemeriksaan gula darah secara gratis dan konsultasi gizi di rumah sakit ini.

Yang patut mendapatkan apresiasi, Rumah Sakit Hermin Tangkubanperhu memiliki program Poli Minggu. Program ini memungkinkan pasien tetap bisa berobat di rumah sakit ini pada hari Minggu, di mana umumnya rumah sakit lain tutup. Program ini cocok juga untuk para pekerja yang cuma bisa berobat pada hari libur saja tanpa mengambil cuti. Khusus untuk program ini, pihak rumah sakit menyediakan dokter spesialis gigi, spesialis bedah, spesialis penyakit dalam, serta beberapa dokter spesialis di bidang lainnya.

Ada pula fasilitas lain seperti Klinik Tumbuh Kembang untuk bayi atau anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan. Klinik ini dilengkapi dengan alat fisioteraspi. Layanan ini bahkan terintegrasi hingga usia sekolah.

Terdapat juga fasilitas NICU (Neonatal Intensive Care Unit) yang merupakan ruang perawatan intensif untuk bayi yang memerlukan pengobatan dan perawatan khusus, untuk mencegah dan mengobati terjadinya kegagalan organ-oragan vital. Fasilitas ini bermanfaat untuk observasi bayi baru lahir secara intensif.

Rumah sakit ini juga menyediakan OAE (pemeriksaan terhadap organ pendengaran) untuk setiap bayi yang lahir di rumah sakit ini. Hal ini dilakukan untuk memastikan organ tubuh bayi berfungsi secara normal. Bayi prematur, tingkat bilirubi tinggi, meningitis, riwayat toxoplasmosis, rubella, cytomegavirus, dan herpes pada kehamilan serta faktor genetik menjadi prioritas pemeriksaan OAE ini.

Seperti namanya, Rumah Sakit Hermina Tangkubanperahu terletak di Jalan Tangkubanprahu No. 31-33, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Lokasinya berada di seberang pintu masuk Stadion Gajayana Malang sebelah timur. Anda bisa mendapatkan informasi lebih lanjut melalui nomor telepon (0341) 325082, 354843, 354844, 354845, 354846, atau laman resminya di http://www.herminahospitalgroup.com.

Kisah Pergantian Nama dalam Sejarah Desa Sidorahayu Wagir

Kisah Pergantian Nama dalam Sejarah Desa Sidorahayu Wagir
Kisah Pergantian Nama dalam Sejarah Desa Sidorahayu Wagir

Desa Sidorahayu merupakan salah satu desa yang ada di wilayah Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Dalam sejarahnya, ternyata desa ini sempat mengalami pergantian nama berpuluh-puluh tahun silam.

Melalui Profil Desa Sidorahayu pada laman resminya, diketahui bahwa desa ini pada mulanya dikenal dengan nama Desa Banjar Rejo. Saat itu, dikenal sosok Ki Demang Harum sebagai kepala desa pertama. Ia dikenal sebagai Kades yang baik budi dan dermawan. Kebaikan itulah yang membuatnya dinilai memiliki kharisma dan sangat berpengaruh kepada masyarakat sekitarnya.

Kharisma dan kebaikan itulah yang membuat warga desa tetap mengenangnya sampai sekarang. Setiap bulan Syawal, makamnya selalu didatangan banyak orang dalam acara bersih dusun. Tak heran lantaran Ki Demang Harum diyakini sebagai sosok yang melakukan babat alas atau bedah krawang Desa Sidorahayu ini. Diketahui, makamnya terletak di Dusun Niwen (Krajan).

Penggantian nama dari Desa Banjar Rejo menjadi Desa Sidorahayu sendiri terjadi pada tahun 1928. Nama Sidorahayu ini dipilih oleh warga desa setempat menjadi nama desa mereka dengan harapan tinggi. Kata sido bermakna jadi, sedangkan rahayu maknanya selamat. Artinya, masyarakat ingin menjadikan desa ini sebagai tempat tinggal mereka yang selamat dan bagus. Usai berganti nama, desa ini dipimpin oleh kepala desa Djojoarjo (1928-1947).

Melihat Tradisi Jabutan di Desa Tirtomoyo

Melihat Tradisi Jabutan di Desa Tirtomoyo
Melihat Tradisi Jabutan di Desa Tirtomoyo

Warga Desa Tirtomoyo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang menggelar tradisi jabutan, Minggu (22/9/2019). Gelaran ini merupakan yang ketiga dilakukan di desa tersebut.

Tradisi jabutan sepintas mirip tradisi grebeg tumpeng yang digelar setiap memasuki bulan Suro (Muharam) untuk menandai tahun baru Hijriyah. Hanya saja, tak ada tumpeng yang diperebutkan dalam tradisi satu ini.

Dalam tradiri jabutan ini, tumpeng yang diperebutkan diganti dengan aneka palawija (sayuran dan buah-buahan), bermacam snack (makanan ringan) kesukaan anak-anak. Bahkan, di antaranya terdapat beberapa alat kebutuhan rumah tangga, hingga amplop yang berisikan uang tunai. Barang-barang yang nantinya akan dijabut (dicabut) itu diletakkan pada kerangka bambu yang digotong beberapa panitia layaknya ogoh-ogoh di Bali. Barang-barang jabutan ini didapatkan dari sumbangan warga setiap RT di Desa Tirtomoyo.

Acara jabutan ini didahului dengan gelaran bazar rakyat yang bertajuk Tirtomoyo Tempo Dulu (semacam Malang Tempo Dulu). Dengan menutup jalan di depan Balai Desa Tirtomoyo, didirikan lapak-lapak bagi peserta bazar. Mereka diwajibkan menjual palawija hasil kebun atau jajanan tempo dulu, seperti tiwul, lupis, ketan bubuk, gatot, dan lain-lain. Selain itu, terdapat panggung hiburan di tengah deretan lapak tersebut. Tirtomoyo Tempo Dulu ini digelar mulai Jumat (20/9/2019) malam selama tiga hari.

Tepat setelah memasuki waktu sholat Ashar, pembawa acara membuka tradisi jabutan ini dengan melepas panitia yang akan mengarak barang-barang jabutan yang akan diperebutkan itu keliling kampung. Mereka menuju ke timur desa, lalu berputar hingga kembali dari arah barat.

Setelah diarak keliling kampung, barang-barang jabutan itu ditata rapi berjajar di sepanjang jalan di depan Balai Desa Tirtomoyo. Sebelum dimulai, warga desa setempat, bahkan juga ada yang dari desa tetangga, sudah berkumpul mengerumuni barang-barang jabutan tersebut. Tak hanya orang tua, remaja, hingga anak-anak pun turut serta.

Tetua desa pun menyampaikan sambutannya untuk menandai dimulainya tradisi jabutan. Setelahnya, warga pun segera beraksi mencabuti barang-barang yang disangkutkan di kerangka bambu tadi. Di sinilah keseruan terjadi. Mereka yang memiliki tangan sigap mampu mengumpulkan banyak hasil. Bahkan, ada yang sampai membawa kantong plastik besar untuk menampung hasil jabutannya. Ada pula yang sampai mengerahkan seluruh anggota keluarganya untuk beraksi memeriahkan tradisi ini.

Setelah kerangka bambu itu bersih, dan semua barang berpindah tangan kepada warga, tradisi jabutan ini pun diakhiri dengan doa penutup oleh pemuka agama setempat. Warga pun pulang dengan damai dengan hasil jabutan masing-masing. Ada pula yang masih bertahan untuk lanjut menikmati hari terakhir Tirtomoyo Tempo Dulu di tempat yang sama pada malam harinya.

Jalan Nusakambangan, Jalan Tikus dari Pasar Besar

Jalan Nusakambangan, Jalan Tikus dari Pasar Besar (C) JALANJALANDIKOTAMALANG
Jalan Nusakambangan, Jalan Tikus dari Pasar Besar (C) JALANJALANDIKOTAMALANG

Jalan Nusakambangan merupakan salah satu jalan yang ada di kawasan Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Jalan ini bisa dibilang jalan tikus jika ingin selamat dari macetnya Pasar Besar.

Pada masa pendudukan Belanda dulu, jalan ini bernama Javaweg, atau bisa diartikan Jalan Jawa. Imbuhan -weg di sini maksudnya sama dengan road dalam Bahasa Inggris, atau jalan yang tak terlalu besar, sama seperti wujud nyata jalan ini yang bukan merupakan jalan protokol di Kota Malang. Nama Nusakambangan sendiri dipakai lantaran jalan ini berada di rumpun jalan yang memakai nama pulau-pulau di Indonesia.

Jalan Nusakambangan membentang dari timur ke barat. Arus lalu lintasnya pun dua arah, sehingga Anda bebas melintas dari timur atau barat. Selain tak panjang, jalan ini juga tak lebar, hanya terdapat dua ruas saja, yang masing-masing untuk arus ke timur dan satu lagi untuk arus ke barat.

Anda bisa masuk ke Jalan Nusakambangan dari arah timur di sebuah pertigaan di Jalan Halmahera. Ujung utara Jalan Halmahera inilah yang menyambung dari arah Pasar Besar Kota Malang. Mereka yang dari arah Pasar Besar mau ke barat ogah terjebak macet di Jalan Kapten Pierre Tendean biasanya belok kiri (selatan) ke Jalan Halmahera lalu belok kanan (barat) ke Jalan Nusakambangan. Namun, Anda tak bisa masuk ke Jalan Nusakambangan melalui arah selatan Jalan Halmahera, sebab arus lalu lintasnya searah, hanya dari utara ke selatan saja.

Dari pertigaan Jalan Halmahera, terus ke barat, Anda akan menemui pertigaan jalan yang jika ke selatan masuk ke Jalan Puteran. Ke barat lagi, ada pertigaan jalan yang jika ke salatan masuk ke Jalan Madura. Terus ke barat lagi, ada pertigaan jalan yang jika ke selatan masuk ke Jalan Ketapang. Ada lagi pertigaan yang jika ke utara masuk ke Jalan Seleyer, lalu pertigaan yang jika ke utara masuk ke Jalan Buton. Kemudian, jalan ini berpotongan dengan Jalan Sulawesi di sebuah perempatan yang biasa orang sebut Perempatan Nusakambangan.

Dari Perempatan Nusakambangan, terus ke barat, Anda akan menjumpai pertigaan yang jika ke utara masuk ke Jalan Lombok. Terus ke barat, ada pertigaan yang jika ke selatan masuk ke Jalan Bali, lalu ada pertigaan yang jika ke selatan masuk ke Jalan Sumba. Ujung Jalan Nusakambangan ini berakhir di sebelah barat pada sebuah pertigaan yang berpotongan dengan Jalan Arif Margono. Di pertigaan ini, dari arah timur, Anda tak boleh langsung belok ke kanan (utara). Anda hanya diperkenankan belok kiri (selatan) saja. Banyak pengendara yang mengakali rambu lalu lintas dilarang belok kanan ini dengan cara belok kiri dahulu, lalu putar balik ke arah utara.

Rumah Sakit Panti Waluya atau lebih dikenal dengan sebutan RKZ menjadi ikon Jalan Nusakambangan. Meski demikian, jalan ini didominasi oleh tempat usaha. Dari ujung barat ada Pasar Nusakambangan, Warung Mbak Sus, Tahu Telor Bu War, Malang Klethik, Tour Bromo Travel, Warung Barokah, AR Chicken & Cafe, Bakso Ceker RKZ, Warung Mobile Legends, Kinasih Baby Store, Dawet Ayu Cap Gindu, Sempol Cak Kacong RKZ, UD Bipa Medika, Squarebox, Soto Ayam Pak Ho, Taxi Citra RKZ, Bannanalatte Pisang Nugget, Indomaret Nusakambangan, Dapur Kita, Bubur Ayam Aroma, Nasi Goreng Pelangi, Warkop Bromo Mbah Bejo, dan lain-lain.

Sementara, di bagian timur Jalan Nusakambangan, tepatnya di timur Perempatan Nusakambangan lebih banyak perumahan ketimbang tempat usaha. Sebut saja Bakso Solo Pojok SMA 5, Bayu Ban, 3D Cafe, Kantin Perkasa, Soto Duro, Tahu Lontong dan Nasi Telor Pak Jono, PT Aryantoputra Mitranusantara, Soto Madura Ria, Toko Rejo, Nusa Motor, Toko Netral, Toko Agus, Warung Kopi Mbak Nia, Bengkel Restu Cahaya, Pawon Nyala, Enggal Sparepart Shop, Depot Rawon Joyo, Warung Sembako Bu Har, Warung Mungil, Soto Madura Cak Mat Jagalan, STMJ Cak Ji, Pangsit Mie Genderuwo, Jagalan Tram, dan lain-lain.

Hotel Arumdalu Batu yang Tawarkan Tujuh Tipe Kamar

Hotel Arumdalu Batu yang Tawarkan Tujuh Tipe Kamar (C) TRIPADVISOR
Hotel Arumdalu Batu yang Tawarkan Tujuh Tipe Kamar (C) TRIPADVISOR

Di antara deretan villa dan penginapan di kawasan Songgoriti, Kota Batu, terselip satu nama hotel, yakni Hotel Arumdalu. Hotel ini menawarkan tujuh tipe kamar berbeda, dari yang termurah hingga paling mahal.

Hotel Arumdalu menjadi pilihan alternatif bagi Anda yang sedang berwisata di kawasan Songgoriti. Hotel ini menawarkan latar belakang pemandangan yang indah khas pegunungan Kota Batu. Selain itu, lokasi hotel ini cukup strategis dan memiliki kemudahan transportasi.

Lokasi hotel ini disebut strategis, karena berada di antara beberapa objek wisata di Kota Batu. Hotel Arumdalu dekat dengan pusat perbelanjaan di kawasan Songgoriti dan memiliki akses mudah ke Jatim Park 1 dan 2, Pemandian Air Panas Songgoriti, Bukit Alam, Plaza Batu, Outbound Malang, Alun-Alun Kota Batu, dan lain-lain.

Penginapan ini terkenal menjadi jujugan para backpacker dengan bujet rendah. Sebab, harga sewa kamar Hotel Arumdalu cukup murah merakyat. Bahkan, untuk harga sewa kamar dengan tipe terbaik pun masih terbilang murah.

Tampilan eksterior Hotel Arumdalu pun cukup menarik pengunjung. Dari luar, Anda bisa melihat penampakan hotel ini yang cukup unik berbentuk menyerupai hati. Menariknya lagi, disain interiornya dibuat dengan gaya arsitektur tempo dulu.

Beragam fasilitas tersedia bagi para tamu di Hotel Arumdalu ini. Anda bisa menjajal kolam renang yang luas, pendingin ruangan, ruang tamu, internet Wi-Fi gratis, dan lain-lain. Selain itu, terdapat layanan kamar, dan resepsionis 24 jam.

Hotel Arumdalu menyediakan total 30 kamar yang terbagi menjadi tujuh tipe. Ada tipe Standard A, Standard B, Standard C, Standard D, Standard E, Economy, hingga VIP. Semua tipe kamar di hotel ini sudah dilengkapi dengan AC, TV kabel, balkon di beberapa kamar, ruang duduk, hingga akses Wi-Fi gratis.

Kamar economy yang merupakan tipe kamar paling murah, dibandrol dengan harga 70 ribu rupiah per malam. Di atasnya, terdapat kamar tipe Standard B 100 ribu rupiah, Standard C 150 ribu rupiah, Standard D 190 ribu rupiah per malam. Jangan sampai salah, kamar tipe Standard A dan Standard E harga sewanya agak lebih mahal, yakni 200 ribu rupiah dan 235 ribu rupiah per malam. Sementara, tipe kamar termahal di hotel ini adalah kamar VIP yang dibandrol 280 ribu rupiah per malam.

Sementara, untuk Anda yang ingin mengadakan pertemuan, rapat, atau acara kumpul-kumpul, Hotel Arumdalu menyediakan juga ruangan khusus yang bisa disewa. Ada ruang Jayapura B yang dapat menampung 25 orang, dan ruang Sriwijaya yang berkapasitas 75 orang.

Jika Anda berminat menginap di Hotel Arumdalu Batu, langsung saja datang ke Jalan Arumdalu No. 4, Kelurahan Songgoriti, Kecamatan Batu, Kota Batu. Anda juga bisa melakukan reservasi terlebih dahulu melalui nomor telepon (0341) 591266.

Kisah Rara Wayi, Ki Samansaki, dan Bambang Jatisrana

Kisah Rara Wayi, Ki Samansaki, dan Bambang Jatisrana (C) Cerita R Tengger
Kisah Rara Wayi, Ki Samansaki, dan Bambang Jatisrana (C) Cerita R Tengger

Rara Wayi merupakan seorang gadis yang tinggal di Gunung Tengger pada zaman dahulu kala. Ia diperistri oleh seorang laki-laki bernama Ki Samansaki.

Pada suatu ketika, Rara Wayi tengah mengandung dengan usia kehamilan yang mencapai sembilan bulan. Dalam kesehariannya, Rara Wayi selalu hidup suci, menghindari semua pantangan leluhurnya. Misalnya, seorang wanita yang sedang mengandung pantang untuk membunuh sesama makhluk ciptaan Hyang Widhi Wasa, makan sambil berdiri di depan pintu, berkata kasar dan lain-lain.

Sementara itu, siluman Nagabumi yang berada di Gunung Penanggungan sedang direpotkan oleh permintaan Nagaraja yang bersikeras ingin menjadi seorang manusia. Sebagai seorang ibu, Nagabumi menyanggupi permintaan anaknya tersebut.

“Pergilah ke Gunung Tengger. Carilah seorang wanita yang tengah mengandung sembilan bulan. Ia bernama Rara Wayi, istri Ki Samansaki. Amatilah perilakunya setiap hari. Carilah kesempatan supaya kau dapat masuk ke perutnya, menggantikan anak yang ada dalam kandungannya. Dengan demikian, kau akan dapat menjadi seorang manusia dan berkuasa di bumi,” kata Nagabumi kepada Nagaraja.

Sesuai dengan perintah ibunya, Nagaraja pergi ke Gunung Tengger. Nagaraja akhirnya menemukan rumah Rara Wayi. Setelah dua hari lamanya mengamati perilaku Rara Wayi, Nagaraja berkesempatan melakukan apa yang diperintahkan sang ibu. Ketika Rara Wayi sedang menguap di depan pintu dan ia lupa menutup mulutnya, dengan cepat Nagaraja masuk ke perut si wanita yang hamil tua itu. Sebagai manusia biasa, Rara Wayi memang sedang sial. Malang nasibnya. Ia lupa menjaga pantangan leluhurnya ketika sedang mengandung.

Sayangnya, niat jahat Nagaraja diketahui oleh seorang pendeta sakti bernama Bagawan Nilakanta. Ia segera mengambil bayi yang ada di kandungan Rara Wayi secara gaib dengan kesaktian yang dimilikinya sebelum si bayi dibunuh Nagaraja.

Bagawan Nilakanta memandikan bayi itu dengan air gege agar cepat besar. Setelah besar, ia diberi nama Bambang Jatisrana. Sang Bagawan dengan sabar mengasuh dan mendidik anak Rara Wayi yang diselamatkannya itu. Bambang Jatisrana diajari beberapa ilmu kanuragan, kesentosaan, kewiraan, dan kesaktian. Tumbuhlah ia menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa, pemberani, dan sakti mandraguna.

Bersambung..

 

Sumber: Cerita Rakyat dari Tengger – Y.P.B. Wiratmoko

Petirtaan Sumber Jeding, Puncak Punden Berundak yang Terkubur

Petirtaan Sumber Jeding, Puncak Punden Berundak yang Terkubur (C) PENGEMBANGAN SDM KOTA WISATA BATU
Petirtaan Sumber Jeding, Puncak Punden Berundak yang Terkubur (C) PENGEMBANGAN SDM KOTA WISATA BATU

Situs Sumber Jeding merupakan salah satu warisan purbakala yang terdapat di Dusun Jeding, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Situs berupa petirtaan ini diyakini merupakan puncak sebuah punden berundak yang terkubur di bawah tanah ratusan tahun yang lalu.

Sekarang ini, Sumber Jeding sudah dinyatakan sebagai salah satu situs sejarah yang dilindungi oleh Dinas Pariwisata Kota Batu. Bahkan, arkeolog dari Dinas Pariwisata Kota Batu menyatakan situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Singosari.

Lokasi situs petirtaan Sumber Jeding berada di tengah permukiman padat penduduk, tak jauh dari Polres Batu dan gedung DPRD Kota Batu. Sumber mata airnya sendiri berada di antara dua pohon beringin berukuran besar yang tumbuh di sebelah kanan kiri kolam petirtaan. Sementara, di kanan-kiri jalan menuju sumber ini dipenuhi rerimbunan pohon bambu.

Petirtaan Sumber Jeding merupakan sumber air alami yang ditampung dalam kolam berbentuk persegi dengan ukuran 7,8 x 7,8 meter. Dinding kolam ini menggunakan susunan batu bata besar dan beberapa balok batu agar lebih kuat. Pada bagian tengah petirtaan ini terdapat dua kolam, satu kolam tampak berada di dalam sedangkan satu kolam lainnya terletak di luar. Petirtaan ini menghadap ke utara, karena terdapat deretan anak tangga yang letaknya di sebelah utara.

Penampakan petirtaan Sumber Jeding ini tak sepenuhnya terlihat kuno. Sebab, terdapat beberapa penambahan yang dilakukan warga setempat pada dinding bata di sekitar sumber mata air. Terdapat penambahan berupa dinding semen pada bagian atas dinding bata kuno. Di tengah sumber juga dipasang panggung dari beton. Di situlah warga masyarakat setempat sering melakukan ritual religi. Bangunan baru itu dibangun di atas petirtaan. Sementara, di sisi selatan ada tatanan dinding patirthan yang masih asli bata kuno.

Petirtaan Sumber Jeding saat ini dijaga oleh seorang juru kunci bernama Wasimin. Warga setempat masih menggunakannya untuk keperluan sehari-hari. Mereka masih kerap melakukan aktivitas mandi dan mencuci di sumber mata air ini. Selain itu, irigasi untuk empang yang terletak di lahan rendah di sisi utaranya juga diambilkan dari sini.

SMK Negeri 10 Malang dan Sejarahnya

Profil SMK di Kota Malang: SMK Negeri 10 Malang
Profil SMK di Kota Malang: SMK Negeri 10 Malang

SMK Negeri 10 Malang merupakan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Kota Malang. Menarik menguak sejarah sekolah yang berada di kawasan timur Kota Malang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Malang tersebut.

Sekolah Menengah Kejuruan ini didirikan pada tahun 2007. Pendirian sekolah ini berdasarkan surat keputusan (SK) Walikota Malang. SMK Negeri 10 Malang memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) 20539749 dan Nomor Statistik Sekolah (NSS) 321056202025.

SMK Negeri 10 Malang berlokasi di bagian timur Kota Malang yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Malang. Tepatnya di Malang International Education Park (MIEP) alias kawasan pendidikan bertaraf internasional yang ada di Jalan Raya Tlogowaru, Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Lokasi ini dinilai strategis, lantaran Sekolah Menengah Kejuruan ini bisa dengan mudah menerima calon siswa baik dari wilayah Kota Malang maupun Kabupaten Malang.

Karena letaknya yang strategis itu pula, SMK Negeri 10 Malang digadang-gadang sebagai salah satu pusat kegiatan pengembangan tehnologi di kawasan timur Kota Malang. Areal lahan seluas 2,5 hektar lebih yang ditempati sekolah ini ditata sedemikian rupa dengan berwawasan lingkungan yang asri, sejuk, dan nyaman agar menciptakan gairah belajar bagi para siswa.

Pada Tahun pertama berdirinya, SMK Negeri 10 Malang sudah menerima siswa untuk tahun ajaran 2007-2008. Seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, animo calon siswa lulusan SMP atau sederajat cukup tinggi. Kebanyakan mereka menjadikan sekolah ini sebagai jujugan untuk meneruskan jenjang sekolahnya.

Dari tahun ke tahun, SMK Negeri 10 Malang berupaya memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia serta sarana dan prasarana. Saat ini, sekolah tersebut memiliki 33 ruang teori, 3 laboratorium Multimedia, 1 Laboratorium komputer bersama, 1 Studio Multimedia, 5 laboratorium TKJ yang terbagi atas 4 laboratorium jaringan computer dan 1 laboratorium perakitan computer, 1 bengkel workshop TKR, 1 bengkel perakitan sepeda Motor, 1 bengkel workshop ototronik.

Padepokan Topeng Malangan Asmoro Bangun

Padepokan Topeng Malangan Asmoro Bangun (C) LIRIKMALANG
Padepokan Topeng Malangan Asmoro Bangun (C) LIRIKMALANG

Kabupaten Malang memiliki Padepokan Topeng Malangan Asmoro Bangun. Padepokan tersebut diklaim sebagai satu-satunya padepokan yang merawat Topeng Malangan demi mempertahankan dan mengembangkan kesenian dan kebudayaan asli Malang tersebut.

Padepokan ini berlokasi di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Letaknya sekitar 11 km dari pusat Kota Malang ke arah selatan. Kecamatan Pakisaji sendiri berbatasan langsung dengan Kota Malang bagian selatan.

Konon, kesenian Topeng Malangan ini sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit. Kesenian Topeng Malangan ini berawal dari seorang abdi dalem ukir Kabupaten Malang yang bernama Condro atau dikenal dengan Mbah Reny yang tinggal di Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Pria yang juga dikenal dengan nama Gunawan itu merupakan seorang kurir pengantar surat yang bekerja pada orang Belanda bernama Ny. Yolis. Ia adalah bekas abdi dalem bupati yang pernah belajar menari pada Kanjeng Surya. Setelah Ny. Yolis meninggal, Gunawan mengikuti anak dari Ny. Yolis yang bernama Van der Khol di Desa Blado, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

Setelah Van der Khol meninggal, ia bersama anaknya, Marwan, pindah ke Desa Bangelan, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Di sana ia bersama anaknya mendirikan kelompok wayang topeng yang salah satu penarinya berasal dari Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji yang bernama Serun.

Setelah Serun pulang ke daerahnya di Kedungmonggo, ia dibantu dengan anaknya yang bernama Kiman mendirikan sebuah kelompok wayang topeng dengan nama Pandawa Lima. Kiman mewarisi kelompok seni itu, lalu mewariskannya kepada sang anak, Karimoen, yang dikenal sekarang sebagai Mbah Karimoen. Dialah yang mengganti nama kelompok seni itu menjadi Wayang Topeng Asmoro Bangun.

Sejak meninggalnya Mbah Karimoen pada tahun 2010, padepokan ini dikelola oleh cucunya, Tri Handoyo. Ia bersama istrinya, Saini, yang juga murid Mbah Karimoen, terjun ke dunia seni topeng secara total sesuai dengan pesan sang kakek.

Sejak Padepokan Topeng Malangan Asmoro Bangun didirikan, seni pertunjukan ini sudah diwariskan kepada lima keturunan. Saat ini, ada tujuh orang yang mengurus padepokan, tiga orang bertugas membentuk karakter, tiga orang mengukir, dan seorang mengecat.

Padepokan Topeng Malangan Asmoro Bangun sering dikunjungi pelajar dan mahasiswa dari luar negeri seperti Jepang, Australia, Turki, dan Belanda. Pengunjung bisa belajar secara cuma-cuma, atau sekadar melihat para penari berlatih. Selama ini, biaya operasional sanggar ini mengandalkan dari hasil penjualan kerajinan topeng.

Yang menarik, sanggar juga mengadakan kerja sama dengan beberapa penyedia perjalanan wisata atau agen travel. Mereka bisa menyelenggarakan paket wisata kesenian, dengan cara menonton tarian hingga belajar membuat topeng.

Padepokan ini biasa menampilkan pertunjukan wayang topeng setiap 36 hari sekali, yaitu pada malam Senin Legi pada penanggalan Jawa. Pemilihan hari Senin Legi ini sendiri dengan maksud untuk memperingati adat buka desa di Dukuh Kedungmonggo untuk pertama kalinya. Pertunjukan biasanya digelar sekitar pukul 19.00 WIB dengan durasi satu sampai dua jam.

Selain itu, sanggar tari ini juga mengadakan kursus tari Topeng Malangan bagi masyarakat umum setiap hari Minggu pagi. Semua bisa mengikuti kursus gratis ini, mulai anak-anak penduduk di desa setempat, hingga orang dari luar desa. Kebanyakan yang menjadi peserta adalah anak-anak Sekolah Dasar, maupun Sekolah Menengah Pertama.

Ada pula kegiatan latihan karawitan yang digelar seminggu tiga kali pertemuan. Latihan ini digelar setiap Minggu, Selasa, dan Jumat. Kebanyakan latihan karawitan yang juga gratis ini diikuti masyarakat sekitar sanggar Topeng Malangan tersebut. Latihan biasanya digelar mulai pukul 20.00 WIB. Alat-alat yang digunakan dalam latihan ini antara lain Kendang Malangan, Bonang Babok/Barong, Bonang Penerus, Slenthem, Demung, Saron I, Saron II, Reking, Gong dan Kenong. Asal tahu saja, tidak semua sanggar topeng memliki kegiatan rutin seperti di Padepokan Topeng Malangan Asmoro Bangun ini.

STAY CONNECTED

972FansSuka
196PengikutMengikuti
57PengikutMengikuti

POPULER