Beranda blog Halaman 329

Menikmati Suasana Malam di Paralayang

paralayang di senja hari via ganisrumpoko.wordpress.com

Masing di kawasan Malang Raya, mungkin Anda tidak terlalu asing dengan tempat wisata satu ini. Ya, Paralayang yang ada di Batu. Paralayang sendiri adalah olahraga dirgantara dimana kebanyakan dari kita tidak bisa melihat apalagi merasakannya secara langsung, selain harganya mahal juga tidak sembarang tempat ada. Namun untuk malam tentu tidak ada yang akan melakukan paralayang, olahraga yang harus merogoh kocek besar ini, tapi kali ini mari menikmati suasana malam di Paralayang. Tarif paralayang yang paling murah sekitar Rp350.000 sudah termasuk instruktur berlisensi, uang ojek untuk kembali ke atas serta termasuk juga biaya untuk asuransi, namun itu semua bergantung dari kemampuan Anda untuk menawar.

Paralayang ini berbatasan dengan Kecamatan Pujon dan tentunya dekat dengan Coban Rondo, lokasi paralayang ini ada di Jalan Gunung Banyak, Batu, Jawa Timur. Anda bisa mencapai lokasi ini dengan sepeda motor, namun Anda harus bekerja ekstra apabila motor Anda adalah sepeda motor matic, jadi sebaiknya Anda menggunakan sepeda motor manual.

Ada banyak alternatif untuk mencapai ke paralayang ini, namun semuanya akan bermuara pada 2 arah yaitu dari Batu untuk yang berasal dari wilayah Surabaya, Pasuruan, Sidoarjo dan sekitarnya atau dari Pujon dan Ngantang untuk yang berasal dari wilayah Kediri, Jombang, dan sekitarnya.

  • Jika dari Pujon dan Ngantang.

Ambil arah ke Batu sampai Pujon sampai ke arah ke Coban Rondo, akan ada pertigaan atau jalan bercabang dimana semuanya menuju ke Kota Batu, ambil yang lurus yang arah ke Songgoriti (Batu), pelankan sekitar 100m sampai ada pertigaan belok kiri, ikuti jalan dan papan penujuk jalan yang ada, karena sudah banyak penunjuk jalan yang ke arah paralayang, ketika sampai di kaki bukit akan ada 2 jalan satu ke bawah dan satu keatas, ambil yang keatas. Medan jalannya adalah makadam dan menanjak, 100 m hendak sampai ke tempat parkir dan loket tamu paralayang.

  • Jika dari Batu.

Ambil arah ke Pujon hingga di Desa Songgokerto lalu belok kanan arah ke Songgoriti, akan ada banyak villa dan orang yang menawarkan villa, Anda terus lurus ikuti jalan hingga menemukkan jalan menanjak dan pastikan anda memakai gigi roda 1, sampai masuk ke Pujon lalu anda akan menemukan pertigaan dimana seperti rute diatas, yang berada disisi kanan jalan lalu ikuti jalan itu sesuai petunjuk diatas.

Selain dua jalur utama diatas bagi yang berasal dari Mojokerto dan sekitarnya bisa menggunakan jalur Pacet-Batu lewat Cangar, kemudian nantinya Anda akan menemukan wisata Air Terjun Watu Ondo di Cangar.

Untuk tiket masuknya: Rp10.000/orang, lalu jangan lupa biaya parkir. Meski pada malam hari Anda tidak bisa menikmati paralayang, tenang saja, karena suasana yang dingin dan suasana pemandangan akan menenangkan pikiran Anda. Tidak hanya pemandangan alam saja, tapi lampu kota pun meramaikan malam hari di Paralayang.

Banyak pengunjung yang lebih memilih mengunjungi Paralayang di malam hari karena suasana yang dingin, cantik dan bagus untuk hunting foto. Beberapa referensi foto yang bisa Anda coba di sana:

Paralayang via ganisrumpoko.wordpress.com
Paralayang via ganisrumpoko.wordpress.com
Sunset Paralayang Batu via sandibrand.com
Sunset Paralayang Batu via sandibrand.com
Anda bisa berfoto dengan background lampu-lampu di paralayang via lifestyleisadventure.blogspot.com
Anda bisa berfoto dengan background lampu-lampu di paralayang via lifestyleisadventure.blogspot.com

Karena suasananya yang dingin sekali, Anda harus menyiapkan jaket. Apalagi Anda yang ingin menunggu sunset di Paralayang. Tidak terlalu banyak kuliner di sana, alangkah lebih baiknya jika Anda menyiapkan dari rumah. Kalau sekadar ingin membeli minuman hangat seperti kopi dan teh, tenang saja, karena banyak di sekitar Paralayang ini. Berminat menghabiskan malam di Paralayang?

Bersantai dan Memancing di Pantai Tamban Malang

Private beach di Malang
Private beach di Malang via yukpiknik.com

Jika Anda bosan ke pantai di Malang yang itu-itu saja, tenang, Malang masih memiliki banyak destinasi pantai lainnya! Salah satunya adalah Pantai Tamban Malang yang memiliki ciri khas dari pantai-pantai yang ada di Malang. Pantai Tamban letaknya di Desa Tamban atau Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Pantai ini kira-kira sekitar 65 km jauhnya dari kota Malang. Jika Anda pernah ke Pantai Sempu dan Pantai Sedang Biru, lokasinya tidak jauh dari sana.

Peta menuju Pantai Tamban Malang
Peta menuju Pantai Tamban Malang via suetoclub.wordpress.com

Perjalanan ke Pantai Tamban bisa ditempuh menggunakan sepeda motor dengan waktu tempuh kurang lebih dua setengah jam. Medan yang akan dilewati adalah jalan beraspal, jadi Anda tidak perlu khawatir kalau medannya terlalu susah. Ada beberapa medan yang cukup rusak di sekitar kawasan Desa Tamban, atau 1 km dari Pantai.

Untuk menikmati suasana Pantai Tamban, Anda cukup mengeluarkan kurang dari Rp10.000 saja! Yaitu untuk parkir sepeda motor sebesar Rp3.000 dan tiket masuk Rp6.000 per orang. Dengan pengeluaran yang tidak terlalu mahal Anda dapat menikmati Pantai Tamban yang memiliki ciri khas dari warna pasirnya yang putih kecoklatan dan tidak berkarang atau pasirnya bertekstur halus. Berbeda dengan Pantai Goa Cina yang berwarna putih kasar dan cukup berkarang. Spesialnya lagi, karena pantai ini masih belum terlalu terekspos, Anda bisa menjadikan Pantai Tamban sebagai private beach alias pantai pribadi. Namun yang perlu Anda ingat tetap harus menjaga kebersihan, ya.

Memancing di pantai via pantaitambanindah.wordpress.com
Memancing di pantai via pantaitambanindah.wordpress.com

Anda penggemar memancing? Pantai Tamban adalah tempat yang cocok untuk Anda. Bahkan Anda akan menikmati suasana memancing yang menantang, yaitu memancing dari atas tebing. Untuk mencapai lokasi pemancingan, pengunjung harus berjalan kaki terlebih dulu menaiki bukit yang ditumbuhi berbagai pohon dan semak yang masih alami.

Setelah mencapai tempat pemancingan, dari atas tebing pengunjung dapat memulai melemparkan umpan ke laut yang ada dibawah tebing. Serunya lagi Anda tidak akan bosan menunggu kapan ikan memakan umpan, karena pengunjung dapat melihat panorama yang sangat indah yakni cagar alam Pulau Sempu dan hilir mudiknya perahu nelayan yang berangkat mencari ikan di tengah laut.

Selain harus menjaga kebersihan, karena letak pantai ini ada di Malang Selatan maka Anda dilarang untuk berenang ke tengah. Karena ombaknya sama seperti ombak-ombak yang ada di pantai Malang Selatan pada umumnya, ombaknya cukup besar dan membahayakan untuk berenang. Jadi Anda hanya bisa bermain air di bibir pantai sambil menikmati teriknya matahari.

Pantai Tamban ini cukup jauh dari kehidupan nelayan, jadi jangan kaget jika hanya ada Anda dan teman-teman Anda dan beberapa pengunjung saja di pantai tersebut. Atau jika Anda beruntung, pantai tersebut benar-benar terasa sebagai pantai milik pribadi, pasalnya tidak jarang ada satu kelompok pengunjung di Pantai Tamban ini.

Private beach di Malang
Private beach di Malang via yukpiknik.com

Pantai ini masih berlokasi di kawasan muara, yakni bertemunya air tawar dan air asin. Pohon tembakau yang masih baru pun masih banyak ditemukan. Selain itu, Pantai Tamban juga memiliki view yang bagus untuk diabadikan dalam sebuah foto. Selain ujung timurnya dengan pemandangan birunya air di pantai dan hijaunya pepohonan yang tertata cantik di tepi pantainya pun terdapat banyak spot yang tidak boleh Anda lewatkan untuk berfoto.

Jika Anda memiliki waktu luang dan ingin menenangkan pikiran, Pantai Tamban bisa jadi jawaban Anda untuk membuang lelah. Datang dan rasakan keindahan suasana Pantai Tamban di Malang Selatan.

Profil Kecamatan Kedungkandang Malang

Kantor Kecamatan Kedungkandang Kota Malang
Kantor Kecamatan Kedungkandang Kota Malang

Kecamatan Kedungkandang merupakan kecamatan yang terletak di bagian timur wilayah Kota Malang. Kedungkandang merupakan salah satu wilayah kecamatan tertua di Kota Malang yang sudah ada sejak sebelum zaman pemekaran wilayah Kota Malang pada dekade 80-an.

Menurut laman resminya, kecamatan ini memiliki luas wilayah 39,89 km2. Kecamatan ini memiliki ketinggian rata-rata antara 440-660 meter dari permukaan air laut. Sementara suhu udara antara 21 derajat sampai dengan 36 derajat dengan kelembaban nisbi berkisar antara 2000 sampai dengan 3000 mm.

Secara administratif, Kecamatan Kedungkandang di sebelah utara berbatasan langsung dengan Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Sedangkan di sebelah barat, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Klojen dan Kecamatan Sukun Kota Malang. Sementara itu, sebelah selatan berbatasan langsung dengan Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Lalu, di sebelah timur, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Tumpang dan Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang.

Untuk mengurus administrasi kependudukan, warga setempat bisa datang ke Kantor Kecamatan Kedungkandang Kota Malang yang beralamatkan di Jalan Mayjen Sungkono Nomor 59 Kota Malang. Kecamatan ini terdiri dari 12 kelurahan, yakni Kelurahan Arjowinangun, Kelurahan Bumiayu, Kelurahan Buring, Kelurahan Cemorokandang, Kelurahan Kedungkandang, Kelurahan Kotalama, Kelurahan Lesanpuro, Kelurahan Madyopuro, Kelurahan Mergosono, Kelurahan Sawojajar, Kelurahan Tlogowaru, Kelurahan Wonokoyo.

Kecamatan Kedungkandang memiliki beberapa lembaga kemasyarakatan yang dibawahi. Mulai dari PKK, LPMK, BKM, Karang Werda, Karang Taruna, Forum Kecamatan dan Kelurahan Sehat, hingga Forum Anak.

Dari tahun ke tahun, lahan pertanian di Kecamatan Kedungkandang terus berkurang. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya perumahan, pertokoan, dan perkantoran yang dibangun di lahan pertanian yang terbilang produktif. Banyaknya jalan kampung dan halaman yang diaspal juga membuat daerah resapan air di wilayah kecamatan ini berkurang dan tidak dapat menyerap air hujan. Maka tak heran di beberapa titik di Kecamatan Kedungkandang dilanda banjir.

Sebagai kota pendidikan, sekolah-sekolah pun tersebar di berbagai wilayah di Kota Malang, tak terkecuali di daerah Kecamatan Kedungkandang. Data terbaru menyebutkan di kecamatan ini terdapat banya sekolah mulai jenjang dasar hingga menengah atas, yang terdiri dari 72 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah, 24 Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah, 7 Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah, serta 4 Sekolah Menengah Kejuruan. SMAN 06 di Buring dan SMAN 10 di Lesanpuro menjadi sekolah negeri andalan di kecamatan ini. Sementara untuk sekolah kejuruan, SMKN 06 di Madyopuro, SMKN 10 di Tlogowaru dan SMK Telkom Sandhy Putra di Sawojajar menjadi yang terdepan.

Selain sekolah, Kecamatan Kedungkandang juga memiliki fasilitas umum lainnya. Untuk memenuhi pelayanan kesehatan, di Kecamatan Kedungkandang ini ada Rumah Sakit Panti Nirmala dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Malang. Dua rumah sakit besar tersebut dibantu oleh keberadaan 4 Rumas Sakit Bersalin, 8 dokter umum, 3 Puskesmas, dan 9 Puskesmas pembantu. Stasiun Malang Kotalama, Terminal Hamid Rusdi, dan Sub-terminal Madyopuro menjadi pusat pelayanan transportasi di wilayah kecamatan ini. Pertokoan dan mall di Sawojajar menjadi pusat perbelanjaan utama warga di Kecamatan Kedungkandang.

Profil Kecamatan Sukun Malang

Kantor Kecamatan Sukun Kota Malang
Kantor Kecamatan Sukun Kota Malang

Kecamatan Sukun merupakan kecamatan yang terletak di bagian barat daya wilayah Kota Malang. Sukun merupakan satu dari dua wilayah kecamatan yang tergolong baru di Kota Malang. Dibilang baru, karena sejak tahun 1942, 28 tahun setelah ditunjuk sebagai Kotapraja, Kota Malang hanya dibagi menjadi 3 Kecamatan, yaitu Kecamatan Klojen, Kecamatan Blimbing dan Kecamatan Kedungkandang.

Baru pada tahun 1988, wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Malang mendapat tambahan 12 desa dari Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Malang, atas dasar pelaksanaan program pemekaran kecamatan dari 3 kecamatan menjadi 5 kecamatan. Dua baru itu adalah Kecamatan Sukun dan Kecamatan Lowokwaru. Dari pemekaran wilayah tersebut, 4 kelurahan di wilayah Kecamatan Klojen dimasukkan ke wilayah Kecamatan Sukun, yaitu Kelurahan Ciptomulyo, Sukun, Tanjungrejo, dan Pisangcandi.

Saat ini, Kecamatan Sukun memiliki total 11 kelurahan. Mulai dari Kelurahan Bandulan, Kelurahan Karangbesuki, Kelurahan Pisangcandi, Kelurahan Mulyorejo, Kelurahan Sukun, Kelurahan Tanjungrejo, Kelurahan Bakalankrajan, Kelurahan Bandungrejosari, Kelurahan Ciptomulyo, Kelurahan Gadang, dan Kelurahan Kebonsari.

Untuk mengurus administrasi kependudukan, warga setempat bisa datang ke Kantor Kecamatan Sukun Kota Malang yang beralamatkan di Jalan Keben Nomor 1 Kota Malang. Berdasarkan laman resminya, Kecamatan Sukun memiliki luar area 2.655,19 Ha. Kecamatan ini terletak 440-460 meter di atas permukaan air laut. Suhu setiap harinya berkisar antara 20 derajat hingga 30o derajat Celcius. Sementara curah hujannya sekitar 210 mm/th.

Secara administratif, Kecamatan Sukun berbatasan dengan tiga wilayah kecamatan di Kota Malang lainnya dan kecamatan di wilayah Kabupaten Malang. Di sebelah utara, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Lowokwaru dan Kecamatan Klojen. Sedangkan di sebelah timur, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Kedungkandang. Di sebelah selatan, Kecamatan Sukun berbatasan langsung dengan Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Sementara itu, di sebelah barat, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Wagir dan Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Kecamatan Sukun memiliki beberapa lembaga kemasyarakatan yang dibawahi. Mulai dari PKK, LPMK, BKM, Karang Werda, Karang Taruna, Forum Kecamatan dan Kelurahan Sehat, hingga Forum Anak. Selain itu, pihak kecamatan ini juga mewadahi puluhan UKM (Usaha Kecil dan Menengah).

Sebagai kota pendidikan, sekolah-sekolah pun tersebar di berbagai wilayah di Kota Malang, tak terkecuali di daerah Kecamatan Sukun. Data terbaru menyebutkan di kecamatan ini terdapat banyak sekolah mulai jenjang dasar hingga menengah atas, yang terdiri dari 58 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah, 16 Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah, 6 Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah, serta 9 Sekolah Menengah Kejuruan. SMA Negeri 11 menjadi sekolah negeri andalan di kecamatan ini. Sementara untuk sekolah kejuruan, SMK Grafika Karya Nasional menjadi yang terdepan.

Selain sekolah, Kecamatan Sukun juga memiliki fasilitas umum lainnya. Untuk memenuhi pelayanan kesehatan, di Kecamatan Sukun ini ada Rumah Sakit Tentara Dr. Soepraoen di Jalan Sudanco Supriadi Nomor 22, Puskesmas Janti di Jalan Janti Barat Nomor 88, Puskesmas Ciptomulyo di Jalan Kolonel Sugiono VIII Nomor 54, dan Puskesmas Mulyorejo di Jalan Budi Utomo 11-A Malang.

Profil Kecamatan Lowokwaru Malang

Kantor Kecamatan Lowokwaru Kota Malang
Kantor Kecamatan Lowokwaru Kota Malang

Kecamatan Lowokwaru merupakan kecamatan yang terletak di bagian utara wilayah Kota Malang. Lowokwaru merupakan satu dari dua wilayah kecamatan yang tergolong baru di Kota Malang. Disebut baru, karena sejak tahun 1942, 28 tahun setelah ditunjuk sebagai Kotapraja, Kota Malang hanya dibagi menjadi 3 Kecamatan, yaitu Kecamatan Klojen, Kecamatan Blimbing dan Kecamatan Kedungkandang. Sementara Lowokwaru masih merupakan bagian dari Kecamatan Blimbing.

Baru pada tahun 1988, atas dasar pelaksanaan program pemekaran kecamatan, Kota Malang menambah 2 kecamatan baru menjadi 5 kecamatan. Dua kecamatan baru itu adalah Kecamatan Sukun dan Kecamatan Lowokwaru. Dari pemekaran wilayah tersebut, barulah Lowokwaru resmi memisahkan diri dari Kecamatan Blimbing.

Untuk mengurus administrasi kependudukan, warga setempat bisa datang ke Kantor Kecamatan Lowokwaru Kota Malang yang beralamatkan di Jalan Cengger Ayam I Nomor 12 Kota Malang. Saat ini, Kecamatan Lowokwaru memiliki total 12 kelurahan. Mulai dari Kelurahan Lowokwaru, Kelurahan Tasikmadu, Kelurahan Tunggulwulung, Kelurahan Tunjungsekar, Kelurahan Tlogomas, Kelurahan Merjosari, Kelurahan Dinoyo, Kelurahan Sumbersari, Kelurahan Ketawanggede, Kelurahan Tulusrejo, Kelurahan Jatimulyo, dan Kelurahan Mojolangu.

Berdasarkan laman resminya, Kecamatan Lowokwaru memiliki luas area 2.089,51 Ha. Kecamatan ini terletak di daerah dengan ketinggian antara 200-499 meter dari permukaan air laut. Tingkat kemiringan di dataran tinggi cukup bervariasi, di beberapa tempat merupakan suatu daerah dataran dengan kemiringan 2-50, sedang dibagian lembah perbukitan rata-rata kemiringan 8-15 persen. Daerah ini memiliki suhu minimum 20 derajat Celcius dan maksimum 28 derajat Celcius dengan curah hujan rata-rata 2.71 mm.

Secara administratif, di sebelah utara, Kecamatan Lowokwaru berbatasan langsung dengan Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Sedangkan di sebelah timur berbatasan langsung dengan Kecamatan Blimbing. Sementara di sebelah selatan berbatasan langsung dengan Kecamatan Klojen. Lalu, di sebelah barat berbatasan langsung dengan Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Kecamatan Lowokwaru memiliki beberapa lembaga kemasyarakatan yang dibawahi. Mulai dari PKK, LPMK, BKM, Karang Werda, Karang Taruna, Forum Kecamatan dan Kelurahan Sehat, hingga Forum Anak. Selain itu, pihak kecamatan ini juga mewadahi puluhan UKM (Usaha Kecil dan Menengah).

Uniknya, Kecamatan Lowokwaru ini menjadi pusat pendidikan di Kota Malang dengan banyaknya kampus-kampus yang berdiri di wilayah administratifnya. Mulai dari kampus Universitas Negeri seperti Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang (dahulu IKIP), Politeknik Negeri Malang, Universitas Islam Negeri Malang, hingga kampus Universitas Swasta, seperti Institut Teknologi Nasional, Universitas Islam Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Gajayana Malang, STIE Malangkucecwara (ABM), Universitas Tribhuwana Tungga Dewi, Universitas Widyagama, dan Stikes Widyagama Husada.

Selain kampus, di wilayah Kecamatan Lowokwaru juga terdapat fasilitas umum seperti Malang Town Square (Matos), salah satu mall terbaru di Kota Malang. Ada pula Taman Singha Merjosari sebagai pusat lingkungan hijau bagi warganya. Tiga Rumah Sakit besar juga ada di wilayah Kecamatan Lowokwaru, yaitu Rumah Sakit Islam Malang di Jalan MT Haryono, Rumah Sakit Permata Bunda di Jalan Soekarno-Hatta, Rumah Sakit Ibu dan Anak Galeri Candra di Jalan Bunga Andong dan Rumah Sakit Anak dan Bersalin Gajayana di Jalan Gajayana.

Kecamatan Lowokwaru juga menjadi perlintasan beberapa sungai, di antaranya Sungai Brantas, Sungai Bango, Sungai Amprong, Sungai Mewek, Sungai Kajar dan Sungai Metro. Selain itu, di beberapa titik juga masih terdapat area persawahan, tegalan dan perkebunan.

Profil Kecamatan Klojen Malang

Kantor Kecamatan Klojen Kota Malang
Kantor Kecamatan Klojen Kota Malang

Kecamatan Klojen merupakan kecamatan yang terletak di pusat wilayah Kota Malang. Klojen merupakan satu dari tiga wilayah kecamatan tertua di Kota Malang sejak ditetapkan sebagai Kotapraja di masa pendudukan Belanda. Nama Klojen sendiri konon diambil dari kata Loji, yang merupakan benteng atau bangunan besar di masa penjajahan yang terletak di kawasan Claket.

Secara administratif, Kecamatan Klojen dikelilingi oleh empat kecamatan lainnya yang ada di Kota Malang. Di sebelah utara, Kecamatan Klojen berbatasan langsung dengan Kecamatan Lowokwaru dan Kecamatan Blimbing. Sedangkan di sebelah timur, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Kedungkandang. Sementara di sebelah selatan, Kecamatan Klojen berbatasan dengan Kecamatan Sukun. Lalu, di sebelah barat, kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Sukun dan Kecamatan Lowokwaru.

Untuk mengurus administrasi kependudukan, warga setempat bisa datang ke Kantor Kecamatan Klojen Kota Malang yang beralamatkan di Jalan Surabaya, Klojen, Kota Malang. Berdasarkan laman resminya, Kecamatan Klojen memiliki luas area 8,83 kilometer persegi. Saat ini, Kecamatan Klojen memiliki total 11 kelurahan. Mulai dari Kelurahan Klojen, Kelurahan Rampal Celaket, Kelurahan Oro-Oro Dowo, Kelurahan Samaan, Kelurahan Penanggungan, Kelurahan Gading Kasri, Kelurahan Bareng, Kelurahan Kasin, Kelurahan Sukoharjo, Kelurahan Kauman, Kelurahan Kiduldalem.

Kecamatan Klojen memiliki beberapa lembaga kemasyarakatan yang dibawahi. Mulai dari PKK, LPMK, BKM, Karang Werda, Karang Taruna, Forum Kecamatan dan Kelurahan Sehat, hingga Forum Anak. Selain itu, pihak kecamatan ini juga mewadahi puluhan UKM (Usaha Kecil dan Menengah).

Kecamatan ini bisa dibilang sebagai pusat pemerintahan Kota Malang, sehingga terdapat beberapa bangunan penting seperti gedung Balaikota Malang, gedung DPRD, Alun-alun Merdeka, Alun-alun Tugu, Rumah Dinas Walikota dan Bupati Malang, dan lain-lain.

Sebagai kota pendidikan, sekolah-sekolah pun tersebar di berbagai wilayah di Kota Malang, tak terkecuali di daerah Kecamatan Sukun. Di kecamatan ini terdapat banyak sekolah mulai jenjang dasar, menengah pertama, hingga menengah atas dan kejuruan. Sekolah Menengah Atas Negeri dan Madrasah Aliyah Negeri di kecamatan ini antara lain MAN 3, SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, SMA Negeri 3, SMA Negeri 4, dan SMA Negeri 5.

Sementara sekolah swasta terkenal lainnya adalah SMA Islam, SMA Katolik Santo Albertus (Dempo), SMA Katolik Cor Jesu, SMA Katolik Frateran, SMA Katolik Santa Maria, SMA Kristen Kalam Kudus, SMA Kristen Petra, SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, dan SMA Taman Harapan. Sementara untuk SMP dan MTs unggulan, ada nama MTs Negeri 01, SMP Negeri 1, SMP Negeri 2, SMP Negeri 3, SMP Negeri  5, SMP Negeri 6, SMP Negeri 8, SMP Negeri 9, SMP Negeri 19, SMP Katolik Kolese Santo Yusup 01. Sedangkan sekolah kejuruan antara lain SMK Negeri 03, SMK Negeri 04, dan SMK Nasional.

Selain itu, di Kecamatan Klojen terdapat fasilitas umum lainnya. Untuk memenuhi pelayanan transportasi, terutama untuk angkutan kereta api, di kecamatan ini terdapat Stasiun Malang Kotabaru. Untuk pelayanan kesehatan, ada Rumas Sakit Umum Dokter Saiful Anwar di kawasan Celaket. Sementara kawasan Jalan Ijen, Kayutangan, juga kawasan Celaket, menjadi lokasi wisata sejarah yang patut dikunjungi jika berkunjung ke kecamatan ini.

Profil Kecamatan Blimbing Malang

Kecamatan Blimbing merupakan kecamatan yang terletak di bagian utara wilayah Kota Malang. Blimbing merupakan satu dari tiga kecamatan tertua di wilayah Kota Malang sejak ditetapkan menjadi Kotapraja. Kecamatan Blimbing bisa dibilang merupakan pintu masuk menuju Kota Malang dari sebelah utara.

Berdasarkan laman resminya, Kecamatan Blimbing memiliki luas area 17,76 kilometer persegi. Secara administratif, di sebelah utara Kecamatan Blimbing berbatasan langsung dengan Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Sementara di sebelah timur, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Kedungkandang dan Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Sedangkan di sebelah selatan Kecamatan Blimbing berbatasan langsung dengan Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Lalu, di sebelah barat, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Lowokwaru.

Awalnya, Kantor Kecamatan Blimbing berada di Jalan Bantaran. Namun, mulai 2002 untuk mengurus administrasi kependudukan, warga setempat bisa datang ke Kantor Kecamatan Blimbing Kota Malang yang beralamatkan di Jalan Raden Intan Kavling 14 Kota Malang. Saat ini, Kecamatan Blimbing memiliki total 11 kelurahan. Mulai dari Kelurahan Kesatrian, Kelurahan Polehan, Kelurahan Purwantoro, Kelurahan Bunulrejo, Kelurahan Pandanwangi, Kelurahan Blimbing, Kelurahan Purwodadi, Kelurahan Arjosari, Kelurahan Balearjosari, Kelurahan Polowijen, dan Kelurahan Jodipan.

Kecamatan Blimbing memiliki beberapa lembaga kemasyarakatan yang dibawahi. Mulai dari PKK, LPMK, BKM, Karang Werda, Karang Taruna, Forum Kecamatan dan Kelurahan Sehat, hingga Forum Anak. Selain itu, pihak kecamatan ini juga mewadahi puluhan UKM (Usaha Kecil dan Menengah).

Sebagai kota pendidikan, sekolah-sekolah pun tersebar di berbagai wilayah di Kota Malang, tak terkecuali di daerah Kecamatan Blimbing. Mulai dari tingkatan Sekolah Dasar, Menengah Pertama hingga Menengah Atas dan Sekolah Kejuruan. Sekolah-sekolah negeri yang ada di Kecamatan Blimbing di antaranya SMK Negeri 8, SMK Negeri 12, SMP Negeri 14, SMP Negeri 16, SMP Negeri 20, dan SMP Negeri 24. Selain itu juga terdapat sekolah-sekolah swasta di wilayah kecamatan ini.

Selain sekolah, Kecamatan Blimbing juga memiliki fasilitas umum lainnya. Untuk memenuhi pelayanan transportasi umum, di Kecamatan Blimbing ini ada Terminal Arjosari yang merupakan terminal penghubung Kota Malang dengan Kabupaten Malang dan kota-kota sekitar di wilayah utara. Di Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing juga terdapat Stasiun Blimbing, yang merupakan stasiun ketiga yang ada di wilayah Kota Malang setelah Malang Kotabaru dan Malang Kotalama. Selain itu, kecamatan ini juga memiliki sebuah flyover alias jalan layang yang dibangun untuk mengurai kemacetan di pertigaan dari arah Terminal Arjosari.

Sementara untuk pelayanan kesahatan, di wilayah kecamatan ini terdapat tiga Rumah Sakit besar, yakni Rumah Sakit Lavalette di Jalan WR Supratman, Persada Hospital di Jalan Panji Suroso, dan Rumah Sakit Manu Husada di Jalan Sultan Agung. Selain itu, masih ada beberapa Puskesmas pembantu yang juga melayani kesehatan masyarakat setempat.

Belajar Sejarah Bersama Bus Malang City Tour

Bus Malang City Tour
Bus Malang City Tour

Mulai tahun 2015, Kota Malang punya bus unik dan spesial bernama Bus Malang City Tour, atau yang lebih akrab disebut Macito. Dengan berkeliling menggunakan bus milik Pemerintah Kota Malang ini, warga Malang Raya maupun wisatawan luar Kota Malang bisa sekalian belajar sejarah melalui tempat bersejarah melalui rute yang dilewati.

Bus Malang City Tour biasa mangkal di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang. Pada hari Senin hingga Jumat, bus ini biasa mengangkut rombongan wisatawan dari luar Kota Malang, sementara Sabtu dan Minggu warga Malang Raya menjadi prioritasnya. Jadwal keberangkatannya mulai pukul 09.00 WIB, kecuali hari Minggu berangkat pukul 09.30 WIB karena menunggu bubarnya CFD (Car Free Day) di Jalan Ijen.

Bus Macito berwarna hijau ini terdiri dari dua lantai. Di lantai bawah terdapat 20 kursi, lalu di lantai atas juga ada 20 kursi, namun tanpa atap. Karena bak terbuka, penumpang di lantai atas wajib memperhatikan ranting-ranting pohon yang melintas di atas kepala. Ada baiknya penumpang di lantai tingkat atas ini mengenakan pelindung kepala seperti topi.

Berawal dari Alun-alun Tugu depan gedung DPRD Kota Malang, penumpang bus Macito akan dibawa ke masa Kolonial Belanda dengan mengamati Tugu yang ujungnya terdapat bambu runcing tersebut. Tugu yang menjadi ikon Kota Malang tersebut adalah saksi bisu perjuangan rakyat Malang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan Belanda dan Jepang. Bambu runcing sendiri adalah senjata yang pertama kali dipakai rakyat Indonesia pada umumnya untuk mengusir penjajah. Di sekeliling Tugu tersebut terdapat kolam yang berisi bunga teratai putih lambang kesucian. Sementara taman bunga pun terhampar melingkar mengintari kolam tersebut.

Dari Alun-alun Tugu, bus Macito biasa bergerak menuju kawasan Kayutangan. Di perempatan tersebut dulunya terdapat sebuah papan penunjuk arah besar berbentuk tangan menunjuk yang terbuat dari kayu. Sayang, papan yang membuat daerah ini dinamai Kayutangan tersebut sudah tidak ada. Di seberang bangunan Bank Central Asia (BCA), dulunya terdapat sebuah showroom mobil (yang diklaim satu-satunya di Malang pada zamannya). Orang-orang biasa menyebutnya Rajabali, meski sebenarnya bernama Rajab Ali. Tepat di depan bangunan tersebut ada sebuah bangunan yang bentuknya serupa alias mengembari. Bangunan kembar ini seolah menjadi pintu gerbang masuk dari Kayutangan ke arah Jalan Ijen, yang terhubung oleh Jalan Semeru. Kawasan Ijen pada masa Kolonial Belanda memang menjadi daerah yang eksklusif sebagai tempat tinggal bagi para pengusaha perkebunan.

Dari Kayutangan, bus Macito bergerak terus ke arah Jalan Semeru, melewati gerbang bangunan kembar yang saat ini sudah tampak tak serupa lagi. Di sebuah bundaran kecil yang terletak di persimpangan dengan Jalan Arjuno terdapat sebuah tugu Adipura. Tugu tersebut dibangun karena Kota Malang telah lima kali menjadi kota terbersih sehingga meraih penghargaan Adipura dari Kementrian Lingkungan Hidup RI.

Masih di Jalan Semeru, bergerak ke barat meninggalkan Tugu Adipura, penumpang bus Macito akan kembali dibawa ke masa perjuangan mempertahankan kedaulatan negara ini. Ya, Monumen TGP (Tentara Genie Pelajar) berdiri kokoh di persimpangan jalan dengan Jalan Tangkuban Perahu. Monumen ini dibangun untuk mengenang jasa para tentara pelajar Sekolah Teknik yang tergabung dalam kesatuan TGP yang lahir di sekolah mereka yang kala itu terletak di Jalan Semeru.

Di sebelah barat Monumen TGP berdiri dengan gagah Stadion Gajayana Malang. Stadion ini menjadi stadion tertua di Indonesia, bahkan lebih tua dari Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta. Konon, di masa kejayaannya dulu, Gajayana menjadi stadion terbesar se-Asia. Di stadion ini lahir dua klub kebanggaan Malang Raya, yakni Persema Malang dan Arema Malang. Dalam perkembangannya, stadion ini sudah mengalami beberapa kali renovasi, mulai peninggian tembok stadion hingga penambahan tribun dan kapasitas.

Bus Macito terus bergerak ke arah barat, hingga ujung Jalan Semeru yang berpotongan langsung dengan Jalan Ijen. Sebuah perpustakaan umum Kota Malang berdiri di pojokan sebelah utara pertigaan tersebut. Perpus Kota ini memiliki koleksi buku yang diklaim terlengkap di Malang.

Sebuah boulevard alias taman bunga di sepanjang Jalan Ijen bakal menyambut mata para penumpang bus. Di kiri-kanan jalan kembar ini bisa dilihat rumah-rumah kuno berarsitektur khas kolonial yang berjajar rapi. Di depan rumah-rumah ini juga terbentang trotoar lumayan lebar yang dibatasi oleh pohon-pohon palem yang konon belum pernah diganti sejak ditanam pada masa Kolonial Belanda dulu.

Di tengah hamparan taman bunga di Jalan Ijen terdapat sebuah museum perjuangan bernama Museum Brawijaya. Banyak hal yang bisa dipelajari di museum yang juga menyimpan piranti peninggalan zaman perang merebut dan mempertahankan kemerdekaan ini. Di seberang museum juga terdapat Monumen Seroja. Monumen berbentuk kelopak bunga seroja ini dibuat oleh Sekolah Tentara Suropati, dan dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan.

Perjalanan bus Macito berlanjut ke arah utara Jalan Ijen, menuju Jalan Simpang Balapan. Di bundaran jalan ini terdapat Monumen Hamid Roesdi. Pada masa perjuangan, Mayor Hamid Roesdi merupakan seorang komandan pasukan yang paling ditakuti lawan dan disegani kawan dan anak buahnya. Monumen ini dipersembahkan untuk mengenang jasa sang Mayor.

Bus Macito kembali ke arah selatan Jalan Ijen, melewati depan Gereja Katedral Ijen, hingga perempatan Ijen, lalu berbelok ke Jalan Kawi menuju Alun-alun Merdeka alias Alun-alun Kota Malang. Bus ini mengakhiri perjalanannya sekitar pukul 12.00 WIB dan membawa penumpang kembali ke depan gedung DPRD Kota Malang.

Monumen TGP Malang dan Sejarahnya

Monumen TGP Malang
Monumen TGP Malang

Monumen TGP Malang adalah salah satu monumen yang terletak di persimpangan Jalan Semeru dan Jalan Tangkuban Perahu, Kota Malang. Tepatnya, monumen ini berada di depan pintu ekonomi sebelah timur Stadion Gajayana Malang.

Monumen ini didirikan pada 7 Juli 1989 untuk mengenang perjuangan para pahlawan yang tergabung dalam satuan Tentara Genie Pelajar (TGP) Malang yang gugur mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ketika terjadi Agresi Militer tentara Sekutu di Malang pada Juli 1947.

Tentara Genie Pelajar (TGP) ini dibentuk pada 1947 sebagai kelanjutan dari pergerakan para pelajar yang mengangkat senjata serupa seperti Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Para pelajar yang menarik diri dari medan perjuangan ketika dilakukan Perjanjian Linggarjati oleh pemerintah Republik Indonesia dan Belanda, akhirnya kembali ke sekolah. Khususnya, bagi murid kelas III, mereka masuk ke STN/SMTT yang baru dibuka kembali di Lawang dan diasramakan di Jalan Sumberwaras Lawang. STN/SMTT ini adalah sekolah teknik setara dengan Sekolah Menengah Atas (kalau zaman sekarang disebut STM/SMK).

Kurang lebih 5 bulan kemudian setelah kenaikan kelas, sekolah pun dipindah lagi ke Kota Malang. Untuk sementara waktu, mereka menumpang di gedung Sekolah Katholik Corjesu di Jalan Celaket. Tidak berapa lama, sekolah dipindah lagi ke SMP Kristen Jalan Semeru No. 42, Kota Malang. Di situlah tempat kelahiran Kesatuan Tentara Genie Pelajar (TGP) di bawah pimpinan Soenarto. terbentuk, tepatnya pada 2 Februari 1947. Dengan semboyan “Berjuang Sambil Belajar”, TGP didirikan oleh sekelompok pelajar pejuang SMTT, yang sebenarnya sudah ada sejak berkumpul di asrama Sumberwaras, Lawang, sampai di mes Jalan Ringgit Malang.

Jeda Perjanjian Linggarjati ini juga dimanfaatkan untuk merekrut anggota TGP yang baru. Pembentukan kesatuan baru ini diawali dengan acara pendidikan dan latihan, baik dalam dasar-dasar militer maupun spesialisasi tugas seorang anggota TGP. Ajang ini diselenggarakan selama dua minggu di Ksatrian Rampal Malang dipimpin oleh para pelatih dari Sekolah Kadet Angkatan Laut Malang.

Lima bulan setelah terbentuk, pasukan TGP ini langsung mendapat tugas berat. Bersama TRIP dan satuan pasukan lainnya, mereka bertugas dalam misi pembumihangusan Kota Malang ketika terjadi Agresi Militer Belanda yang pertama, Juli 1947. Misi ini dilakukan demi mempertahankan kemerdekaan RI. Selain menghancurkan bangunan-bangunan penting di Kota Malang agar tidak bisa direbut oleh Sekutu Belanda, pasukan TGP juga bertugas bergerilya menghancurkan jembatan-jembatan penting yang menghubungkan kota-kota lain dengan Malang, seperti jembatan perbatasan Malang-Lumajang. Hal ini dilakukan untuk menghambat pergerakan pasukan musuh yang terus merangsek ke dalam kota kala itu. Pasukan TGP pun bertugas menghadang pasukan penjajah yang melakukan patroli ke desa-desa.

Begitu persetujuan Renville ditandatangani antara Indonesia-Belanda pada 17 Januari 1948, genjatan senjata pun berlaku. Pada masa gencatan senjata ini, TGP kemudian memanfaatkan jeda waktu itu untuk melakukan konsolidasi dengan pengembangan organisasi. Tugas utama sesudah konsolidasi ini adalah mempersiapkan usaha perlawanan terhadap serangan musuh di daerah poros gerakan Kepanjen, Wlingi, Lodoyo – Blitar dengan penghancuran jembatan-jembatan dalam poros jalan tersebut dan berakhir dengan melaksanakan bumi hangus total kota Blitar. Tugas yang kedua yakni mempersiapkan bakal calon daerah yang dapat dikembangkan sebagai “basis” sekaligus “kantong RI” bagi kompi I di daerah kota Blitar apabila harus meninggalkan kota Blitar.

Akhirnya, untuk mengenang perjuangan pasukan belia TGP ini di Jalan Semeru yang menjadi lokasi terbentuknya pasukan ini pun didirikan Monumen TGP. Monumen ini berbentuk patung dua sosok tentara muda yang mengangkat senjata. Pada empat kaki pilar yang menopang landasan di mana patung tersebut berada, terdapat palakat serupa batu nisan yang bertuliskan para pejuang Tentara Genie Pelajar (TGP) yang gugur dalam menegakkan kedaulatan NKRI.

Jika ingin mengunjungi Monumen TGP ini cukup mudah, karena akses jalannya dilewati oleh angkutan kota (angkot) umum. Jalur GL dan ADL bisa diakses dari Terminal Landungsari, sementara dari Terminal Gadang (Hamid Rusdi), silakan menempuh jalur LDG. Sedangkan dari Terminal Arjosari, tersedia jalur AL dan ADL.

Mengenal Angkutan Kota di Malang: Jalur AG

Angkot AG Malang
Angkot AG Malang

Angkutan Kota (angkot) jalur AG ini adalah mobil penumpang umum berwarna biru yang namanya memiliki kepanjangan Arjosari-Gadang. Sesuai dengan namanya, angkot yang memiliki identitas khusus berupa garis warna oranye ini memiliki trayek setiap harinya dari Terminal Arjosari ke Terminal Gadang.

Sejak 2009, Terminal Gadang tidak lagi difungsikan, sehingga pemberhentian angkot ini pun dipindahkan ke Terminal Hamid Rusdi yang ada di Jalan Mayjend Sungkono Nomer 11, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, sebelah timur Terminal Gadang lama. Namun tidak semua pemilik angkot ini mengganti label trayek yang ada di mobil mereka dari AG menjadi AH. Banyak pula yang masih mempertahankan label AG di angkot masing-masing.

Meski nama angkot AG ini kebalikan dari angkot lainnya yang bernama GA, sesungguhnya rute kedua angkot ini sangat berbeda. Jadi, ini hal pertama yang harus dihafalkan, agar tak salah naik nantinya.

Dari Terminal Arjosari, angkot AG keluar ke Jalan Simpang Panji Suroso, belok kiri ke Jalan Raden Intan di pertigaan Taspen, lalu belok kiri ke Jalan Ahmad Yani sebelah flyover Arjosari, melewati depan Masjid Sabilillah dan Carrefour Malang, lanjut ke Jalan Letjen S. Parman, lanjut ke Jalan Letjen Sutoyo. Angkot ini melewati depan Hotel Atria, Hotel Ibis, Hotel Santika, Hotel Amaris, Hotel Savana dan Mitra II Departement Store. Memasuki Jalan Jaksa Agung Suprapto, angkot ini akan melewati Hotel Mutiara, Hotel Regent’s Park, Galeri Indosat, SMAK Cor Jesu, RSU Dokter Saiful Anwar, dan Hotel Kartika Graha.

Setelah melintasi perempatan Kayutangan, angkot AG lanjut ke Jalan Basuki Rahmad, lewat depan Kantor PLN, Toko Buku Gramedia, Sarinah Plasa, lalu ke Jalan Merdeka Utara, mengitari Alun-alun Merdeka, lanjut ke Jalan Merdeka Timur, perempatan Mitra I, lalu ke Jalan Sukarjo Wiryopranoto. Angkot AG belok kiri menuju Jalan Pasar Besar Kota Malang, melintasi Jalan Sersan Harun, belok ke Jalan Kyai Tamin. Stelah melewati depan Maharema (Merchandise Arek Malang) di dekat rel kereta api Jalan Prof. Moch. Yamin, angkot AG lanjut ke Jalan Sartono SH, melewati bawah flyover Kotalama, depan Stasiun Malang Kotalama dan Rumah Sakit Panti Nirmala di Jalan Kolonel Sugiono. Sampai di Perempatan Terminal Gadang lama, angkot ini belok kiri ke arah Pasar Induk Gadang, lalu mengakhiri perjalanan di Terminal Hamid Rusdi.

Sementara dari Terminal Hamid Rusdi, angkot AG melewati Pasar Induk Gadang, perempatan Terminal Gadang lama, belok kanan menuju Jalan Kolonel Sugiono. Angkot AG belok kiri ke Jalan Sartono SH, belok kiri lagi ke Jalan Irian Jaya, lanjut ke Jalan Sulawesi, lewat depan Rumah Sakit Islam Aisyiyah. Sampai di pertigaan POM bensin Sawahan, belok kanan ke Jalan Yulius Usman, belok kiri ke Jalan Syarif Al Qodri, membelah kawasan Embong Arab, lanjut ke Jalan KH. Wachid Hasyim.

Sampai pertigaan angkot AG belok kiri ke Jalan Kauman, lalu belok kanan ke Jalan Arief Margono, belok kanan lagi ke Jalan Arief Rahman Hakim. Dari perempatan lampu merah Alun-alun Merdeka, angkot ini belok kiri di pojokan Toko Buku Gramedia ke Jalan Basuki Rahmad, lanjut ke Jalan Jaksa Agung Suprapto, lanjut ke Jalan Letjen Sutoyo, lanjut ke Jalan Letjen S. Parman. Sampai di Jalan Ahmad Yani, lewat bawah flyover Arjosari, menuju ke Jalan Raden Intan, lewat depan Taspen, lalu mengakhiri perjalanan di Terminal Arjosari.

Untuk tarif angkot AG ini, jauh-dekat penumpang harus mengeluarkan ongkos Rp 4.000 untuk umum, sedangkan untuk penumpang pelajar dikenakan tarif Rp 3.000. Sementara itu, untuk penumpang dari terminal ke terminal, biasanya sopir menerapkan tarif sepihak, yang mencapai Rp 5.000 dengan alasan jauhnya rute yang ditempuh.

STAY CONNECTED

977FansSuka
196PengikutMengikuti
57PengikutMengikuti

POPULER