Pangsit Mie Spesial Arjowinangun

Rombong Pangsit Mie Arjowinangun

Sekilas, dagangan yang dijual Warung Pangsit Mie Bakso Abah Lis sama saja seperti pangsit mie bakso pada umumnya. Namun, yang istimewa dan spesial adalah rasanya yang unik dan lezat tentunya.

Mereka yang sering lewat dari Kantor Terpadu menuju arah Bululawang atau sebaliknya pasti pernah makan pangsit mie bakso di sini. Ya, warung mie ini biasanya ramai di jam istirahat siang atau ketika jam pulang sekolah atau kerja.

Warung pangsit mie Abah Lis Arjowinangun sudah sejak kurang lebih tahun 1990 an berjualan mie disini. Dulu ada pohon beringin besar tepat di pertigaan depan warung ini, sehingga mencari warung mie ini cukup mudah.

Menu Spesial Pangsit Mie Arjowinangun
Menu Spesial Pangsit Mie Arjowinangun

Menu di Warung Pangsit Mie Abah Lis Arjowinangun

Seperti namanya, Warung Pangsit Mie Bakso Abah Lis tidak banyak menyediakan menu lainnya, yang tersedia hanya Mie pangsit bakso yang menjadi andalannya serta beberapa aneka minuman seperti es teh, es jeruk dan air mineral.

Lokasi dan Jam Operasional Warung Pangsit Mie Bakso Abah Lis Arjowinangun

Warung Pangsit Mie Bakso Abah Lis sangat mudah ditemukan karena terletak peritgaan Ajowinangun dan tepat berada di depan kantor kelurahan Arjowingangun.

Kamu bisa mendatanginya setiap hari kecuali hari Jumat libur. Mulai pukul 09.00 WIB kamu sudah bisa memesannya. Sebelum pukul 16.00 WIB jika stok makanan sudah habis, warung ini akan tutup.

Profil Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang

Profil Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang
Peta Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang

Kecamatan Kromengan merupakan kecamatan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Malang. Kecamatan ini terdiri dari 7 Desa, 20 Dusun, 49 RW, dan 244 RT.

Ketujuh desa di kecamatan ini adalah Jambuwer, Jatikerto, Karangrejo, Kromengan, Ngadirejo, Peniwen, dan Slorok.

Secara administratif, Kromengan dikelilingi oleh kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Malang. Di sebelah utara, Kelurahan Kromengan berbatasan langsung dengan Kecamatan Ngajum dan Wonosari. Sedangkan di sebelah timur, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Kepanjen. Di sebelah selatan, Kecamatan Kromengan berbatasan dengan Kecamatan Sumberpucung. Lalu, di sebelah barat, Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar.

Kromengan dipimpin oleh seorang Camat. Dalam mengemban tugasnya sehari-hari, Camat Kromengan dibantu oleh beberapa staf. Untuk mengurus administrasi kependudukan, warga setempat bisa datang ke Kantor Kecamatan Kromengan yang beralamatkan di Jl. Nailun Selatan No. 85 Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor telepon kantor 0341-385069, mengirimkan email ke [email protected], atau melihat laman resminya di http://kromengan.malangkab.go.id/.

Berdasarkan laman resminya, Kromengan memiliki luas wilayah 38.627 km2. Jumlah penduduknya mencapai 39.900 jiwa, yang terdiri dari 19.780 orang laki-laki, dan 20.120 orang perempuan.

Kecamatan ini juga kondang dengan kawasan sangkal putungnya. Setiap hari seolah tak putus-putusnya gelombang manusia berobat. Dari yang sekadar keseleo, hingga patah kaki datang ke Kromengan.

Candi Jago Tumpang

Situs candi Jago adalah salah satu candi peninggalan kerajaan Singhasari yang terletak di desa Jago, kecamatan Tumpang, sekitar 22 Km dari arah kota Malang.

Pada awal mulanya, candi ini bernama Jayaghu dan merupakan salah satu candi pendarmaan atau makam bagi Maharaja Wisnuwardhana. Namun, jika dilihat dari bentuk arsitekturnya, candi ini memiliki unsur arsitektur dan pengaruh dari Majapahit. Hal ini bisa di telisik dari bukti sejarah bahwa pada tahun 1272 Saka atau 1350 Masehi, candi ini pernah diperbaiki oleh Adityawarman dan mengalami beberapa pemugaran pada kurun waktu akhir Majapahit di pertengahan abad ke 15.

Dilihat dari bentuk arsitekturnya, Candi Jago memiliki persamaan bentuk dengan punden berundak yang merupakan ciri bangunan religi dari zaman megalithikum yang mengalami kebangkitan kembali pada massa akhir majapahit. Pada keseluruhan bangunan memiliki panjang sekitar 23,71 M, lebar 14 M dan tinggi 9, 97 M. Karena pengaruh waktu, candi Jago telah mengalami banyak perubahan dan tidak utuh lagi. Meskipun demikian, pesona dan kewibaan era masa lampau masih bisa terlihat dengan jelas saat mengunjungi candi ini.

(http://www.eastjava.com/)

Asal Usul dan Sejarah Kecamatan Bantur

Sejarah Kecamatan Bantur
Sejarah Kecamatan Bantur

Kecamatan Bantur merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Malang. Menarik untuk menelisik sejarah Kecamatan Bantur yang letaknya di bagian Malang Selatan ini.

Menurut perkiraan, babat tanah Bantur dimulai sekitar tahun 1830-an. Saat itu lokasinya masih hutan belukar yang belum punya nama. Adalah Kyai Radiman yang membuka hutan tersebut. Ia dikenal sebagai sosok muslim yang taat sekaligus seorang tentara Pangeran Diponegoro yang sedang bersembunyi dari kejaran kompeni setelah pemimpinnya itu tertangkap.

Menurut riwayat dari orang-orang tua, Kyai Radiman tewas dibunuh Kompeni dengan cara halus, yakni diundang makan-makan. Pihak Kompeni mengiris semangka dengan sebilah pisau yang satu sisi mata pisaunya diolesi racun mematikan. Kyai Radiman tidak curiga, karena si Kompeni ikut memakan semangka yang sama yang diiris di depan matanya.

Sebelum tahun 1832 Desa Bantur khususnya, dan Kecamatan Bantur pada umumnya masih berupa hamparan hutan belantara yang sama sekali belum terjamah oleh tangan manusia. Kondis alamnya berbukit-bukit, karena Bantur termasuk dalam jalur pegunungan Kendeng.

Saat Pangeran Diponegoro ditangkap pada tahun 1830, lima prajurit kepercayaannya melarikan diri. Mereka adalah Kyai Radiman, Kyai Duldjalal, Kyai Duldjalil, Kyai Darsa, dan Kyai Dema. Kelimanya sama-sama berasal dari Mataram, Yogyakarta yang memutuskan hijrah ke arah timur selama kurang lebih dua tahun.

Kelima orang prajurit ini di bawah pimpinan Kyai Radiman akhirnya mencari tempat pelarian yang cocok untuk bersembunyi dari kejaran Hindia Belanda, sekaligus dapat digunakan sebagai tempat pemukiman baru bagi pengikutnya. Pada tahun 1832 akhirnya mereka menemukan tempat yang mereka inginkan. Sejak saat itulah pembabatan hutan di wilayah Bantur untuk dijadikan pedesaan pun dimulai.

Selang delapan tahun, tepatnya di tahun 1840, aksi babat hutan yang dilakukan oleh Kyai Radiman beserta pengikutnya akhirnya diketahui oleh pemerintah Hindia Belanda yang berkedudukan di Malang. Penjajah pun langsung bergerak cepat, dengan mengirim Bupati Malang dan Polisi Hindia Belanda untuk mengadakan penangkapan. Mendengar hal itu, pengikut Kyai Radiman merasa cemas. Sang Kyai pun menenangkan pengikutnya dengan pernyataan, “Aku ae sing ngembani catur.” (Aku saja yang mengemban tugas).

Di luar dugaan, saat bertemu Kyai Radiman selaku pimpinan Desa, sikap Bupati Malang berubah drastis. Menurutnya, pembabatan hutan yang dilaksanakan Kyai Radiman bukan merupakan upaya membuat daerah pertahanan, melainkan untuk wilayah pedesaan yang cukup teratur. Maka, sang bupati mengusulkan bahwa perlu adanya suatu Pemerintahan. Kyai Radiman yang setuju pun langsung menunjuk Kyai Sontani salah satu pengikutnya menjadi Kepala Desa Bantur yang pertama, karena merasa dirinya seorang buronan Kompeni.

Saat Bupati Malang menanyakan nama desa, secara spontan, Kyai Radiman menjawab Desa Bantur yang berasal dari kata Ngembani Catur. Sejak saat itulah Bupati Malang meresmikan Desa Bantur sebagai bagian dari wilayah kekuasaannya yang dipimpin oleh Kyai Sontani.

Hingga saat ini, makam Kyai Radiman sebagai orang pertama yang babat hutan wilayah Bantur masih ada di Jalan Kyai Radiman. Secara administratif, daerah tersebut masuk dalam wilayah Bantur Tengah.

Saat ini, wilayah Kecamatan Bantur semakin berkembang dan masih berada di bawah pemerintah Kabupaten Malang. Wilayahnya mayoritas dihuni oleh keturunan Jawa dan sebagian keturunan Madura.

Pemandangan Gunung Arjuno Ada di The Balava Hotel

Pemandangan di kolam renang The Balava Hotel - FACEBOOK THE BALAVA HOTEL

Anda mencari hotel di tengah Kota Malang namun memiliki pemandangan alam memesona? Rasanya, Anda patut mencoba menginap di The Balava Hotel yang punya pemandangan menawan Gunung Arjuno yang terletak di sebelah baratnya.

The Balava Hotel mengombinasikan antara akomodasi cerdas yang unik dengan kehidupan kota yang semarak. Total ada 128 kamar dan suite yang ditata rapi dirancang untuk tempat bermalam yang nyaman dan menawarkan kualitas tidur yang baik yang tiada duanya.

D’toengkoe sky fireplace-lounge di puncak atap yang menjulang tinggi merupakan fasilitas lainnya yang ada di The Balava Hotel. Anda akan mendapatkan suasana santai yang cerdas untuk bertemu dan menyapa di siang hari hingga larut malam.

Untuk ruang pertemuan, The Balava Hotel menawarkan lima ruang meeting, yang diberi nama Dhoho, Jenggala, Tumapel, Singosari, dan Kediri. Masing-masing ruang tersebut dapat menampung antara 50 hingga 100 peserta atau lebih jika disetting sedemikian rupa. Masing-masing ruang pertemuan itu pun memiliki fasilitas standar. Hotel ini juga memiliki ballroom yang dapat menampung lebih dari 1200 orang undangan. Tentu merupakan pilihan sempurna untuk resepsi pernikahan.

The Balava Hotel punya equator swimming lagoon yang merupakan kolam renang besar tanpa batas. Ada pula kolam renang untuk anak yang cukup luas. Di tempat yang berlantai mezzanine inilah yang memungkinkan Anda dapat melihat sekaligus mengagumi pemandangan Gunung Arjuno yang keindahannya berada tepat di sebelah barat hotel tersebut. Menariknya, di lantai ini terdapat kamar Cabanas dan Equator swim bar yang juga dirancang secara artistik yang akan melengkapi harapan Anda menikmati resor bersuasana santai.

Tha Balava Hotel berada di Jalan Kolonel Sugiono No. 6, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Menariknya, hotel ini menjadi satu kompleks, yang disebut The M-Square, dengan Stasiun Malang Kotalama, di mana pihak hotel ini pun membangunkan sebuah gerbang yang mempercantik stasiun kereta api tersebut. Untuk menginap di sini Anda bisa lebih dulu melakukan reservasi di nomor telepon (0341) 2998888.

Es Campur Pak To Andalan Pasar Kebalen

Para pecandu es campur di sekitar wilayah pasar Kebalen Malang tentu mengenal sekali kedai  es yang satu ini karena letaknya dekat dengan perempatan pasar Kebalen atau perempatan muharto. Es Campur Warung Pak To yang sudah cukup legend karena berjualan Es sejak 1967 silam.

Anak pak Suyadi penerus es campur Pak To

Menu yang disajikan di kedai Es Campur Pak To ini dari sejak berdiri sampai sekarang tetap sederhana dan dipertahankan yakni cao, dawet, tape singkong, degan. Selain Es Campur yang menjadi menu andalan ada juga Es Kacang Ijo dan bubur kacang ijo. Es batunya juga masih di serut dengan alat serut putar yang kemudian es batu serut ini dituangkan hingga menggunung. Es campur ini terasa manis, karena selain ada air sirup, dituangkan pula susu kental manis di atasnya.

Sejak beroperasi pada tahun 1967 silam, kedai Es Campur Pak To ini sudah diwariskan turun-temurun oleh Bapak Suyadi dan lokasi juga tetap tak berpindah-pindah, berada di sekitar pasar kebalen Kota Malang. Mencarinya cukup gampang, dari pasar kebalen ambil Timur atau arah perempatan arah Jl. Muharto, sebelum 5 m sebelum perempatan sebelah kiri depan toko Jl. Zaenal Zakse 78B ada kedai tenda dengan tulisan yang cukup jelas Warung Pak To, nah disitulah silahkan mampir jika cuaca cukup terik dan menyengat, semangkok es campur Pak To sangat melegakan dan menyegarkan.

Depot es ini buka setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga pukul 20.00 WIB. Soal harga, menu di Depot Es Campur Pak To dipatok dengan bendrol yang tak menguras isi dompet, yakni mulai dari harga 6000 rupiah saja. Tentunya murah meriah bagi warga Malang bukan? Selamat mencoba sensasinya.

Mak Nem Jadi Juru Masak Tahanan Sejak 1970

Mak Nem yang jadi juru masak para tahanan Polrrs sejak 1970 (C) MERDEKA.COM
Mak Nem yang jadi juru masak para tahanan Polrrs sejak 1970 (C) MERDEKA.COM

Nama Mak Nem (72) mungkin sudah tak asing lagi bagi para tahanan di Polres Malang. Wanita bernama asli Kasinem itu sudah bekerja sebagai juru masak bagi para napi sejak tahun 1970 silam.

Di bulan Ramadan seperti sekarang ini, seperti yang dilansir dari Merdeka.com, Mak Nem memiliki rutinitas yang sama, yakni memasak makanan untuk para tahanan di Polres Malang. Namun, jadwal masaknya yang mengalami perubahan, disesuaikan dengan jadwal makan sahur dan berbuka puasa.

Kesehariannya, Mak Nem membuat menu sahur dan berbuka puasa untuk tak kurang dari 70 tahanan di Polres Malang di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Sejak pukul 12.00 WIB, nenek 10 cucu itu sudah memulai aktivitasnya. Kegiatannya dimulai dengan mengolah aneka bahan makanan yang sudah disiapkannya sejak pagi hari. Dibantu tiga orang kerabatnya, ia pun berbagi tugas untuk merajang, dan mengolah bahan makanan tersebut. Baru pada pukul 16.00 WIB, makanan yang matang itu mulai dibungkus dan harus langsung dikirimkan ke ruang tahanan Polres Malang yang berada sekitar 15 meter dari warung yang sekaligus sebagai tempat tinggalnya sehari-hari.

Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mulai pukul 00.00 WIB untuk menyiapkan makanan untuk sahur. Kali ini tinggal mengolah bahan masakan saja, karena bumbu-bumbu sudah disiapkan sejak sore tadi ketika menyiapkan makanan untuk berbuka. Kesibukan ini akan berakhir sekitar pukul 03.30 WIB. Sebelum ia makan sahur, Mak Nem sudah harus mengantarkan makan sahur untuk para tahanan ke sel.

Mak Nem mengaku ikhlas dalam menjalani segala rutinitas tersebut. Bahkan, sampai-sampai ia tidak punya waktu libur karena bekerja tujuh hari dalam seminggu sepanjang bulan Ramadan. Harapannya tentu apa yang dilakukannya itu menjadi sebuah amalan dan ibadah.

Untuk satu porsi makanan bagi para tahanan, Mak Nem mematok harga 10 ribu per bungkus. Harga tersebut sudah sesuai dengan budget yang disediakan oleh Polres Malang. Uang tersebut sudah lebih dari cukup untuk bertahan hidup di Kabupaten Malang.

Profesi unik sebagai juru masak di tahanan ini awalnya dijalaninya ketika Mak Nem membuka warung di dekat Polres Malang Kota yang saat itu kantornya masih berada di Jalan Salak (Jalan Pahlawan TRIP) Kota Malang. Ketika ditawari memasakkan makanan untuk Polresta Malang, tanpa ragu ia terimanya. Baru sekitar tahun 1986, Mak Nem dipindah ke Polres Malang di Kepanjen.

Mengulik Resep: Orem Orem Tempe Khas Malang

Siapa yang tak kenal makanan khas Malang satu ini dengan nama uniknya ‘Orem-orem‘. Ya, orem-orem, masakan yang terdapat hanya di Malang ini berbahan sadar irisan tempe goreng, ayam, lalu dimasak dengan kuah santan yang kental. Agar semakin nikmat, Orem-orem disajikan dengan ketupat iris, diberi tauge dan kecap manis serta sambal sesuai selera. Cita rasanya hampir mirip dengan sayur lodeh.

Hmmm, lezat untuk disajikan di hari-hari penting di mana keluarga berkumpul semuanya. Berkumpul dan bersilaturahmi tak lengkap bila tak ditemani dengan makanan yang lezat, bukan? Yuk mencoba resep orem-orem tempe khas Malang di bawah ini:

Bahan-bahan/bumbu-bumbu:
250 gram tempe, dipotong lebar tipis ukuran 2x3x1/2 cm
300 gram tahu, dipotong lebar tipis ukuran 2x3x1/2 cm
2 lembar daun salam
2 lembar daun jeruk, dibuang tulangnya
2 cm lengkuas, dimemarkan
1.000 ml santan dari 1/2 butir kelapa
500 ml air
2 sendok teh garam
1/4 sendok teh merica bubuk
1/2 sendok teh gula pasir
4 batang bunga bawang, dipotong 5 cm
3 buah lontong, dipotong-potong untuk pelengkap
3 sendok makan bawang merah goreng untuk taburan

Bumbu Halus:
5 butir bawang merah
2 siung bawang putih
1 cm kunyit, dibakar
1 butir kemiri, disangrai
1 sendok teh ketumbar bubuk

Cara membuat:

  1. Rebus santan, bumbu halus, daun salam, daun jeruk, dan lengkuas sampai mendidih dan harum.
  2. Masukkan tempe dan tahu. Aduk rata. Tambahkan garam, merica, dan gula. Aduk rata. Masak sampai matang. Menjelang diangkat tambahkan bunga bawang. Aduk rata.
  3. Sajikan bersama lontong dan taburan bawang merah goreng.

Untuk 6 porsi

sumber resep: sajiansedap.com

Meskipun Anda bisa membeli orem-orem di warung maupun restoran terdekat, tentu bagi keluarga buatan dari Anda sendiri adalah makanan yang paling dirindukan dan terlezat. Keuntungannya lagi, Anda bisa menghemat biaya tentunya karena membuat sendiri di rumah. Tertarik mencoba? Semoga berhasil dan selamat menikmati bersama keluarga di hari istimewa, ya!

 

Tapak Jejak Rumah Sakit Tentara Dokter Soepraoen Malang

Rumah Sakit Tentara dokter Soepraoen Malang adalah salah satu rumah sakit tingkat II di Malang. Siapa yang sangka, rumah sakit yang beroperasi di bawah kendali Kesdam V/Brawijaya ini memiliki sejarah yang panjang. Sejarah tersebut menjadi bagian dari perkembangan Kota Malang pada zaman pendudukan Belanda hingga era kemerdekaan.

RST yang menjadi tempat rujukan berobat dari Puskesmas di Kota maupun Kabupaten Malang ini terletak di Jalan Sudanco Supriadi Nomor 22, Kecamatan Sukun, Malang. Saat ini Rumah Sakit dokter Soepraoen Malang tak hanya melayani tentara, tapi juga untuk umum, berbeda dengan dulu di zaman penjajahan.

Dulunya, rumah sakit tentara ini merupakan Rumah Sakit Kristen milik Zending, sebuah lembaga penyebaran agama Kristen Protestan. Kala itu, rumah sakit ini dibuka untuk umum alias melayani seluruh warga Malang. Sementara pada zaman itu, Rumah Sakit Celaket (sekarang Rumah Sakit Umum Daerah doktre Saiful Anwar) masih menjadi rumah sakit untuk tentara.

Dalam perkembangannya, pada saat Belanda kembali menduduki Malang, Rumah Sakit Kristen milik Zending itu dijadikan Rumah Sakit Tentara Belanda. Hal tersebut dilakukan lantaran mereka gagal menduduki Rumah Sakit Celaket yang masih dikuasai para pejuang dan digunakan sebagai rumah sakit tentara Indonesia.

Lima tahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia, Belanda melakukan serah terima kedaulatan negeri ini kepada Pemerintah Indonesia. Belanda pun turut melepaskan cengkeramannya dari RST tersebut. Status kepemilikannya pun dikembalikan kepada Zending sebagai pemilik awal.

Jenderal Gatot Soebroto, selaku Pimpinan Hankam di tahun 1960 meninjau Rumah Sakit Tentara milik Zending ini. Usulan agar RST tersebut tetap dipakai oleh TNI darinya pun mencuat. Zending pun diusulkan untuk diberi ganti rugi yang layak, agar dapat mendirikan bangunan rumah sakit baru di tempat lain, sebagai ganti RS Kristen tersebut.

Kemudian, sebagai langkah tindak lanjut, ketiga belah pihak, yakni Departemen Kesehatan, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Zending mengadakan musyawarah. Mereka pun mencapai kesepakatan. Ada tiga poin penting dalam kesepakatan dalam pertemuan antara ketiga belah pihak itu.

Pertama, TNI bisa tetap menggunakan bangunan RS Kristen di Sukun milik Zending sebagai Rumah Sakit Tentara. Kedua, RST Celaket milik TNI dijadikan Rumah Sakit Umum Daerah, dan TNI pun mendapatkan ganti rugi dari pemerintah. Ketiga, Zending mendapatkan ganti rugi atas bangunan RS Kristen yang ada di Sukun.

Serah terima tukar-menukar antara RSUD dengan RST dilaksanakan saat Rumah Sakit Tentara dipimpin oleh Kolonel dr. Soeparno. Serah terima dilakukan oleh Gubernur Jawa Timut kala itu, Wahono dengan Pangdam V/Brawijaya, Mayjen Syaiful Sulun pada tahun 1984.

Di era kepemimpinan Brigjen dr. Sambiyono selaku Kepala Rumah Sakit Tentara, nama rumah sakit ini diganti. Namanya yang semula Rumah Sakit Teritorium menjadi Rumah Sakit Tentara Dam VIII/Brawijaya.

Pada tahun 1961, nama Rumah Sakit Tentara Dam VIII/Brawijaya kembali diganti menjadi Rumah Sakit Soepraoen Dam VIII/Brawijaya. Pergantian ini dilakukan pada masa Kepala Rumah Sakit Tentara dijabat oleh Brigjen dr. Piet Mamahit, sesuai dengan usulan Kakesdam VIII/Brawijaya (Brigjen dr. Moehardono) kepada Pangdam VIII/Brawijaya Nomor: K/270/Ap.20/1969 tanggal 20 September 1969.

Nama Soepraoen ini diambil untuk mengabadikan nama Almarhum Mayor dr. Soepraoen, seorang Perwira Kesehatan yang gugur sebagai korban pertama Kesad dalam perang kemerdekaan di daerah Jawa Timur. Perubahan nama tak cukup sampai di situ, di masa kepemimpinan Kolonel Ckm dr. Poernomo Kasidi (tahun 1982-1984), nama Rumah Sakit Soepraoen Dam VIII/Brawijaya diubah lagi menjadi Rumah Sakit Tingkat II dr. Soepraoen.

Lokasi rumah sakit yang berdiri di atas lahan seluas 7,35 Ha itu cukup strategis, meski jauh dari pusat kota. Angkutan Kota (angkot) yang melintas di depan gerbang rumah sakit ini adalah GA jurusan terminal Gadang (sekarang Hamid Rusdi) ke terminal Arjosari. Banyak perubahan yang telah terjadi pada RST dr Soepraoen, hingga pada akhirnya menjadi seperti sekarang ini.

Uniknya Pantai Clungup, Konservasi Mangrove di Malang

pantai clungup sumbermanjingpantai clungup sumbermanjing
Pantai Clungup Sumbermanjing Wetan (C) HALOMALANG

Pesona pantai di kawasan Malang selatan memang tidak diragukan lagi kualitasnya. Pantai Clungup menjadi bukti kesekian fakta tersebut. Warga Kabupaten Malang beruntung memiliki pantai yang juga menjadi kawasan konservasi mangrove ini.

Pantai ini bertetangga dengan Pantai Sendang Biru, tepatnya di sisi sebelah baratnya. Letak pantai ini berada di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.

Meski termasuk jalur pantai selatan, Pantai Clungup ini memiliki ombak yang tergolong cukup tenang dan air yang dangkal. Jadi, pengunjung yang gemar berselancar tidak bisa menyalurkan hobinya di pantai tersebut.

Pantai ini tak hanya menawarkan pemandangan bagus khas pantai Malang selatan. Ada pula kawasan edukasi pelestarian Mangrove di area pantai ini. Pangujung bisa berwisata menikmati pemandangan sambil belajar bagaimana melestarikan hutan bakau.

Berbeda dengan pantai lainnya, untuk memasuki kawasan konservasi Clungup yang mejadi perlindungan dan rehabilitasi hutan bakau ini para pengunjung wajib menaati 12 poin peraturan. Sebelum masuk gerbangnya, pengunjung terlebih dahulu harus melapor kepada pengelola, yakni Bhakti Alam Sendang Biru di posnya.

Usai membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000,- yang distempel Perhutani, pengunjung wajib mengkonfirmasi maksud dan tujuannya. Barang bawaan pengunjung juga bakal dicek oleh petugas, terutama barang bawaan berupa minuman botol, gelas plastik, kaleng, mie/kertas minyak, plastik sampah, rokok, snack, hingga tempat makanan dan peralatan mandi.

Yang harus diperhatikan, jumlah barang ketika masuk harus sama dengan barang yang dibawa ketika pulang. Jika ada yang kurang, maka pengunjung tersebut akan dikenakan denda sebesar Rp 100 ribu per item yang kurang.

Pengecekan jumlah barang ini diberlakukan petugas untuk menjaga kondisi lingkungan tetap asri. Sebab, kawasan ini sudah ditetapkan sebagai area konservasi oleh pemerintah.

Selain itu, masih banyak aturan main yang harus ditaati pengunjung. Di antaranya, dilarang berburu, dilarang membawa miras dan narkoba, dilarang mengambil/merusak terumbu karang dan pasir, dilarang berbuat zina, dan lain-lain.

Setelah diizinkan masuk oleh petugas, pengunjung bisa memarkirkan kendaraannya di halaman setelah pintu masuk. Tiap kendaraan juga dikenakan tiket parkir sebesar Rp 5.000,-, untuk roda dua. Sementara kendaraan roda empat harus parkir sekitar 500 meter di dekat permukiman warga.

Dari area parkir, tak sampai 10 menit berjalan kaki, pengunjung akan disambut hamparan hutan bakau alias mangrove yang cukup luas di sisi selatan jalan setapak. Banyak jenis mangrove yang ditanam di sini, salah satunya adalah Mentigi. Kawasan konservasi ini membentang ke barat hingga menyentuh bibir Pantai Clungup.

Area pantai ini sebenarnya menyatu dengan Pantai Gatra yang memiliki keunikan lain berupa hamparan karang-karang yang unik di sebelah selatan. Dalam kondisi air laut yang surut, pengunjung bisa “mampir” ke Pantai Gatra melalui hamparan pasir Pantai Clungup. Hamparan pasir hasil surutnya air laut ini yang memisahkan Pantai Clungup bagian barat dan bagian timur.

Pengunjung dilarang menuju Pantai Clungup bagian barat yang juga menjadi pintu gerbang menuju Pantai Mbangsong dan Tiga Warna tanpa seizin petugas. Pengunjung wajib didampingi oleh petugas, karena di kawasan itu terdapat area konservasi lainnya, seperti penyu dan terumbu karang.

Pengunjung yang hendak camping, juga tak boleh sembarangan mendirikan tenda. Mereka hanya diperbolehkan mendirikan tempat bermalam di area sekitar Pantai Clungup dan Pantai Gatra.

Akses jalan ke pantai ini, sebenarnya cukup mudah, namun diperlukan kejelian untuk melihat petujuk jalannya. Dari arah Jalur Lintas Selatan Malang, ikuti pertigaan ke kanan arah Pantai Goa China, setelah itu ikuti penanda arah Pantai Clungup di pertigaan pertama. Sesampainya di depan BRI Cabang Sumbermanjing Wetan, ada jalan kecil ke arah kanan yang masuk permukiman warga, sebagai salah satu pintu masuk.

Kabarnya, setiap Kamis (mulai September 2015), area konservasi Clungup ini mengagendakan libur kunjungan alias ditutup untuk umum. Di hari itu ada pembersihan kawasan pantai maupun perawatan mangrove. Jadi, pengunjung disarankan datang pada hari lain.

STAY CONNECTED

977FansSuka
196PengikutMengikuti
109PengikutMengikuti

POPULER